Thomas, jangan terlalu cepat merasa mengenal sebuah tempat. Orang yang datang pertama kali mungkin melihat sesuatu yang selama ini kaulewati.
Duke of Gordon ke-X.
***
Anjing tua itu ternyata mempunyai pendapat yang sangat buruk tentang rencana berjalan pagi.
Ia berbaring tepat di depan pintu taman, membuka satu mata ketika Thomas mendekat, kemudian menutupnya kembali seolah Duke of Wellington tidak mempunyai urusan yang layak diperhatikan.
Annalise menahan tawa.
"Kau perlu meminta izin?"
"Aku sedang mempertimbangkan perundingan."
Edith, yang berdiri bersama Gresham di belakang mereka, memanggil anjing itu. Suaranya membuat telinga hewan tersebut bergerak tetapi tidak mengubah sikapnya. Akhirnya seorang pelayan mengajaknya menuju pintu lain dengan janji yang rupanya lebih dapat dipercaya daripada seluruh gelar dalam ruangan.
"Ada pelajaran berharga di sana," ujar Gresham.
Thomas memilih tidak bertanya kepada siapa pelajaran itu ditujukan.
Mereka keluar bersama setelah sarapan. Annalise merasa lebih segar sesudah tidur cukup, dan jalan pendek yang dijelaskan Thomas memungkinkan kembali ke rumah tanpa harus menyelesaikan seluruh taman.
Ia membawa buku gambar, tetapi belum berjanji akan menggunakan pensil.
***
Thomas memperlihatkan tanaman dekat bangku dengan keyakinan yang cukup mencurigakan. Annalise memeriksanya, lalu menanyakan apakah tukang kebun sudah membantu menyiapkan jawaban.
"Aku memang bertanya kepadanya."
"Kemajuan besar. Kau mengakui mempunyai sumber."
"Sumber yang jauh lebih sabar daripada guruku menggambar."
Annalise menyikut lengannya pelan dengan buku tertutup. Edith melihat gerakan itu dan meneruskan percakapan bersama Gresham tanpa komentar.
Di sisi jalan, beberapa bagian tanah masih basah oleh hujan malam sebelumnya. Thomas hendak mengarahkan Annalise ke jalur yang lebih kering, tetapi gadis itu sudah melihatnya sendiri dan memilih tempat pijakan.
Ia menawarkan lengan ketika diperlukan.
Mereka berjalan cukup dekat sehingga Annalise dapat mendengar suaranya tanpa harus mengangkat wajah terus-menerus. Thomas menanyakan hal yang ingin dilihatnya berikutnya, dan gadis itu menunjuk bagian rumah dengan jendela tinggi.
"Ruangan apa itu?"
"Tempat yang jarang kupakai. Kau ingin masuk setelah kita kembali?"
"Jika tidak penuh genting."
Ia tertawa. "Aku sudah menyembunyikan koleksinya."
***
Ruangan itu ternyata bukan tempat istimewa dalam cerita keluarga. Letaknya menghadap taman samping dan pernah digunakan untuk menerima tamu pada musim yang lebih hangat. Sekarang beberapa kursi ditutupi kain, sementara meja kecil dipindahkan ke dinding.
Annalise berdiri dekat jendela, memperhatikan cahaya yang jatuh di lantai.
"Aku menyukai ini."
Thomas hampir mengatakan ia dapat menyiapkannya sebagai ruang menggambar. Kalimat tersebut terasa begitu mudah, begitu memuaskan, hingga ia berhenti sesaat untuk memahami apa yang sebenarnya diminta gadis itu.
Belum ada permintaan apa pun.
"Bagian cahayanya?" tanyanya.
Annalise mengangguk. "Dan aku bisa melihat pohon itu tanpa hanya memperoleh bagian atasnya."
Ia teringat gambar jendela dari tempat tidur. Thomas membuka satu penutup kursi setelah meminta bantuan pelayan, lalu menanyakan apakah Annalise ingin duduk sebentar.
Gadis itu menerima, mengeluarkan buku, dan mulai mencoba garis cabang.
Tidak ada pengumuman bahwa ruangan telah menjadi miliknya. Hanya sebuah kursi yang dapat digunakan sore ini jika ia menyukainya.
***
Edith serta Gresham meninggalkan mereka bersama Wilda untuk melihat kain yang baru dipindahkan. Pintu tetap terbuka, dan sesekali suara kedua ibu terdengar dari ruangan bersebelahan.
Thomas duduk dekat meja, berusaha tidak mengganggu Annalise yang sedang memandang pohon bergantian dengan kertas.
Usaha tersebut bertahan kurang dari lima menit.
"Apakah cabangnya memang sebesar itu?"
Gadis itu mengangkat wajah.
"Kau ingin mengambil pensilnya?"
"Tidak. Aku ingin mempertahankan persahabatan kita."
Annalise tertawa dan memperlihatkan bahwa garis tadi hanya penanda awal. Ia tidak selalu mengetahui hasil akhirnya ketika mulai menggambar.
Thomas memikirkan hal itu sambil melihat kertas yang belum tampak seperti sesuatu.
Ia terbiasa menginginkan bentuk akhir sebelum pekerjaan dimulai. Barangkali itulah sebabnya dirinya sangat buruk menunggu sesuatu tumbuh tanpa campur tangan terus-menerus.
Di sampingnya, Wilda menggeser keranjang agar jalan ke pintu tetap terbuka. Annalise kembali bekerja, sama sekali tidak mengetahui bahwa sebuah cabang telah membuat tuan rumah berpikir terlalu jauh.
***
Sesudah makan siang, Duke of Berrow meminta Thomas menemaninya melihat bagian luar rumah. Annalise memilih beristirahat, sementara kedua ibu meneruskan pembicaraan yang tampaknya tidak akan kehabisan bahan sebelum malam.
Kedua pria itu berjalan tanpa rombongan. Duke of Berrow menanyakan beberapa urusan tanah dan mendengar jawaban Thomas sebelum beralih kepada putrinya.
"Ia tampak menikmati berada di sini."
"Aku senang mendengarnya."
"Kau tidak perlu memperoleh jawaban darinya selama kunjungan ini."
Thomas berhenti memandangi pagar dan menoleh.
"Aku tidak menyiapkan lamaran, jika itu yang Anda khawatirkan."
Sang duke mengangguk. Ia tidak mengatakan dirinya melarang masa depan tersebut. Ia hanya mengenal betapa mudahnya beberapa hari yang menyenangkan diperlakukan sebagai kesempatan yang tidak boleh terlewat.
Thomas mengakui ia memang memikirkan pernikahan.
Menyebutnya kepada ayah Annalise terasa berbeda dari memikirkan cincin yang masih disimpan di London.
"Tetapi aku belum menanyakan apakah kehidupan yang kubayangkan sama dengan yang diinginkannya," tambahnya.
***
Duke of Berrow tidak menawarkan jawaban atas nama putrinya.
Ia justru mengatakan bahwa Annalise dapat tampak berani ketika menentang larangan, tetapi kadang lebih sulit menyatakan keinginannya jika takut mengecewakan orang yang disukai.
Thomas memikirkan kegembiraannya setiap kali gadis itu menyetujui kunjungan. Ia tidak ingin kegembiraan tersebut berubah menjadi sesuatu yang harus dijaga Annalise dengan mengorbankan jawaban sendiri.
"Aku perlu memastikan ia bisa mengatakan tidak kepadaku," katanya.
"Dan tidak hanya sekali."
Kalimat itu disampaikan tanpa ancaman. Duke of Berrow kemudian beralih menanyakan anjing yang dilihat saat sarapan, seolah mereka tidak baru saja membicarakan hal yang akan menetap dalam pikiran Thomas sepanjang hari.
Sang duke muda menjelaskan bahwa hewan tersebut sudah terlalu lama mengetahui kelemahan semua penghuni rumah.
"Termasuk dirimu?"
"Terutama makanan di tanganku."
Duke of Berrow tertawa. Mereka kembali dengan percakapan yang lebih ringan, tetapi Thomas tidak melupakan bagian sebelumnya.
***
Malam itu Annalise menunjukkan gambar cabang yang belum selesai. Ia tidak meminta penilaian panjang, hanya ingin mengetahui apakah Thomas mengenali pohon yang dimaksud.
"Aku mengenalinya," katanya. "Tetapi kurasa pohon aslinya kurang menghargai betapa baiknya kau memperlakukan dia."
"Kau mulai belajar memuji tanpa memahami gambar."
"Aku mempunyai alasan yang kuat untuk berlatih."
Annalise menatapnya, kemudian menutup buku sambil tersenyum.
Di dekat perapian, ayahnya sedang membaca surat. Edith dan Gresham berdebat kecil mengenai tempat sebuah vas. Semua suara itu bercampur menjadi sesuatu yang hangat dan tidak memerlukan penampilan sempurna.
Thomas memandang gadis di sampingnya dan menyadari bahwa ia tidak hanya ingin mengulangi malam seperti ini.
Ia ingin mengetahui bagaimana Annalise tetap dapat menjadi dirinya sendiri pada malam yang jauh kurang menyenangkan.
Pertanyaan tersebut belum mempunyai jawaban lengkap.
Namun, kali ini Thomas tidak merasa perlu berpura-pura sudah memilikinya.