Undangan Edith datang bersama kabar bahwa para pekerja sudah tidak membangunkan penghuni rumah dengan palu di atas kepala.
Annalise membaca kalimat itu keras-keras, kemudian menatap ibunya.
"Itu ukuran kenyamanan yang agak rendah."
"Edith sedang berusaha tidak terdengar terlalu bersemangat," jawab Gresham.
Usaha tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Surat itu menyebut kamar yang tersedia, kemungkinan tinggal beberapa malam, serta harapan agar Duke of Berrow dapat meninggalkan London sebentar. Tidak ada pesta besar. Hanya keluarga dan satu makan malam kecil dengan beberapa tetangga yang sudah lama dikenal.
Ayah Annalise membaca surat setelah sarapan. Ia mempunyai waktu pada pekan yang diusulkan, tetapi menanyakan kepada putrinya lebih dahulu apakah ia sungguh ingin pergi.
Gadis itu mengangguk.
"Aku ingin melihat rumahnya."
Richard, yang datang membawa kabar mengenai urusan lain, mengangkat alis.
"Atapnya, terutama?"
"Jika kau terus bertanya, aku akan membawakan gambar genting untukmu."
Duke of Berrow menandai tanggal sambil tersenyum.
***
Mereka tidak berangkat keesokan paginya. Ada waktu untuk menyesuaikan undangan lain, memberi kabar kepada Henrieta, dan memastikan perjalanan tidak dilakukan setelah hari yang melelahkan.
Annalise menghadiri satu pertemuan menggambar sebelum pergi. Mrs. Bell memperhatikan potretnya, lalu mengatakan bahwa bagian mata lebih hidup daripada percobaan sebelumnya.
"Kau terlalu banyak memperbaiki mulutnya," tambahnya.
Annalise menatap halaman dengan sedikit malu.
Tentu saja bagian itulah yang sulit diselesaikan.
Henrieta berdiri di sampingnya dengan wajah sangat tenang, tetapi tidak membantu sama sekali ketika bertanya apakah sang model mempunyai kebiasaan tersenyum yang menyulitkan.
"Dia mempunyai banyak kebiasaan yang menyulitkan," jawab Annalise.
Mrs. Bell tertawa dan menyarankan agar ia menyimpan sebagian garis yang pertama dibuat. Tidak setiap bagian menjadi lebih baik karena dikerjakan terus-menerus.
Annalise membawa nasihat itu pulang, bersama kertas yang kini diputuskan akan diberikan kepada Thomas.
Sebelum berubah pikiran, ia membungkusnya dan meminta Wilda menaruhnya di antara barang yang akan dibawa.
Henrieta membantu memilih kertas pembungkus, lalu menyelipkan lembar tambahan agar permukaan gambar tidak bergesekan dengan barang lain.
"Kau tidak perlu mengantarnya seolah membawa barang pecah belah," katanya ketika melihat wajah adiknya.
"Yang kukhawatirkan bukan kertasnya."
Henrieta berhenti merapikan lipatan dan menyentuh lengannya sebentar. Ia tidak menjanjikan bagaimana Thomas akan bereaksi. Ia hanya mengatakan bahwa pemberian tersebut sudah menunjukkan sesuatu yang tidak dapat dibeli di toko mana pun: perhatian Annalise sendiri.
***
Perjalanan bersama orang tuanya berlangsung dengan persinggahan yang telah direncanakan. Duke of Berrow tidak menganggap berhenti sebagai gangguan, sehingga Annalise tidak merasa harus meminta maaf setiap kali turun untuk beristirahat.
Di salah satu tempat, Gresham menemukan hidangan yang disebut Thomas dalam surat.
"Kita perlu membawakan Edith sesuatu," katanya.
Ayah Annalise memandang bungkusan yang kemudian disiapkan.
"Kurasa ia sudah mempunyai makanan di rumah."
"Tentu. Itu tidak berarti dia akan menolak yang ini."
Annalise tertawa. Ia membayangkan Thomas memperoleh teguran jika pulang tanpa buah tangan, lalu merasa sedikit lebih akrab dengan jalan yang belum pernah ditempuhnya itu.
Sesudah melanjutkan perjalanan, ia tidur sebentar di kereta. Ketika terbangun, bangunan-bangunan rapat sudah berganti hamparan yang lebih terbuka. Ia tidak mengetahui bagian mana yang termasuk tanah keluarga Wellington sampai ayahnya menunjuk jalan yang mulai berbelok menuju pepohonan.
Jantungnya mendadak bekerja lebih cepat.
Ia menyalahkan jalan yang berguncang.
***
Thomas menunggu di depan rumah bersama Edith. Dari jendela kereta, Annalise melihat bahwa pria itu berusaha tampak tidak sedang menunggu sejak lama.
Usaha yang tidak lebih berhasil daripada surat ibunya.
Rumah tersebut besar, tetapi hal pertama yang diperhatikan Annalise justru seekor anjing tua yang duduk dekat anak tangga dan tidak bersedia berdiri menyambut siapa pun.
"Ia menilai tamu berdasarkan makanan," jelas Edith ketika Gresham menanyakannya. "Gelar tidak terlalu berguna."
Duke of Berrow menatap bungkusan di tangan pelayan, lalu istrinya.
"Rupanya kau sudah menyiapkan sambutan yang tepat."
Thomas membantu Annalise turun setelah ayahnya memberi jalan. Sentuhan tangan mereka berlangsung singkat, tetapi gadis itu segera mengetahui bahwa seluruh rasa gugup di kereta tidak semata-mata disebabkan jalan.
"Selamat datang," katanya.
"Terima kasih. Atapnya tampak masih ada."
Thomas tersenyum lebar. "Aku berharap itu bukan satu-satunya hal yang kausukai."
***
Pengurus rumah mengantar mereka ke kamar setelah sapaan singkat di ruang depan. Edith tidak memulai perjalanan mengelilingi seluruh bangunan pada sore kedatangan, meskipun tampaknya mempunyai banyak hal yang ingin diperlihatkan.
Annalise mendapat kamar dekat tempat orang tuanya tinggal. Wilda memeriksa barang dan membuka tirai secukupnya. Dari jendela terlihat bagian taman, tetapi gadis itu lebih tertarik kepada kursi yang menunggu tanpa perlu diminta.
Ia duduk dan melepaskan napas panjang.
"Terlalu lelah, Milady?"
"Cukup lelah untuk tidak ingin terlihat berani selama beberapa waktu."
Wilda tersenyum dan membantunya berganti pakaian yang lebih nyaman. Tidak ada pesan agar segera turun memenuhi kewajiban sebagai tamu. Teh dapat dibawa ke kamar jika diinginkan, dan makan malam keluarga tidak akan dimulai terlalu cepat.
Annalise memandang bungkusan potret di atas peti.
Untuk sore itu, benda tersebut dapat menunggu.
Ia memejamkan mata dengan rasa lega yang tidak perlu disembunyikan dari siapa pun.
***
Ketika turun untuk makan malam, Annalise menemukan Thomas sedang berbicara dengan ayahnya. Keduanya membahas perjalanan sebelum Duke of Berrow menanyakan pekerjaan perbaikan.
Thomas menjawab tanpa menjadikan rumah itu pameran keberhasilan pribadi. Ia menyebut pengurus dan pekerja yang telah menyelesaikan sebagian besar urusan sebelum dirinya datang.
Annalise duduk di dekat Gresham, lalu menerima sapaan Edith yang menanyakan apakah kamarnya cukup hangat.
"Sangat nyaman."
"Jika kursinya tidak cocok, katakan. Jangan mempertahankannya hanya karena seseorang sudah meletakkannya di sana."
Thomas memandang ibunya, seolah baru mendengar kalimat yang seharusnya sederhana.
Annalise tersenyum kepadanya sebelum menjawab Edith.
"Aku akan mengingatnya."
Makan malam tidak berlangsung terlalu lama. Percakapan berpindah dari London kepada tetangga, lalu kepada seekor anjing yang tampaknya pernah mencuri hidangan lebih banyak daripada yang ingin diakui pengurus rumah.
Annalise mulai merasa bahwa dirinya benar-benar sedang berkunjung, bukan diam-diam datang menghadiri pemeriksaan.
***
Sebelum naik ke kamar, ia menyerahkan bungkusan kecil kepada Thomas di ruang duduk.
"Sudah selesai?" tanyanya.
"Sudah berhenti kuperbaiki. Itu mungkin berbeda."
Ia membuka kertas pelindung dan melihat potret tersebut. Ada beberapa perubahan dari gambar yang pernah diperlihatkan, tetapi senyum yang dikenalnya masih berada di sana.
Thomas mengangkat wajah.
"Terima kasih, Annalise."
Gadis itu mengangguk, mendadak kesulitan menyiapkan gurauan.
"Jangan letakkan di ruangan yang terlalu gelap. Aku sudah cukup bersusah payah pada matanya."
"Aku akan mencari tempat yang baik."
Edith memanggil dari pintu untuk mengingatkan bahwa tamu mereka perlu beristirahat. Thomas tidak menahannya dengan janji menunjukkan sesuatu yang hanya akan memerlukan satu menit.
Annalise berpamitan dan mengikuti ibunya menaiki tangga.
Di bawah, Thomas masih memegang gambar itu.
Untuk pertama kalinya malam tersebut, rumah yang sudah dikenalnya sepanjang hidup terasa menyimpan sesuatu yang sama sekali baru.