Thomas, jangan menawarkan masa depan seperti kamar yang sudah kauperlengkapi seluruhnya. Seseorang mungkin ingin membuka jendela yang berbeda.
Duke of Gordon ke-X.
***
Thomas pulang dengan debu perjalanan pada sepatu dan sebuah pertanyaan mengenai waktu kunjungan berikutnya.
Ia tidak mengirim pertanyaan itu sebelum berganti pakaian, makan, dan memastikan kabar kedatangannya sudah disampaikan kepada Edith. Ibunya menyambut penjelasan mengenai rumah, pengurus, serta perbaikan atap dengan perhatian yang cukup besar untuk membuat Thomas merasa bersalah karena dahulu sering menganggapnya hanya tertarik pada rencana pernikahan.
Baru setelah pembicaraan selesai, Edith menanyakan Annalise.
"Aku belum bertemu dengannya, Mama."
"Aku tahu. Kau baru datang."
Thomas menatapnya.
Sang dowager tersenyum tanpa rasa bersalah. "Aku masih boleh menikmati betapa mudahnya pertanyaan itu membuatmu berhenti berpikir."
Malam tersebut, Thomas menulis catatan singkat. Ia sudah kembali, berharap keadaan Annalise lebih nyaman, dan ingin berkunjung ketika waktunya sesuai.
Jawaban datang pagi berikutnya, menawarkan sore setelah acara minum teh kecil Gresham selesai. Annalise memperingatkan bahwa ruangan mungkin masih mempunyai terlalu banyak bunga.
Thomas langsung menantikannya.
***
Acara minum teh berlangsung tanpa sesuatu yang luar biasa, yang menurut Gresham justru merupakan tanda bahwa pengaturannya cukup baik.
Annalise tidak harus berdiri menyambut setiap orang sepanjang sore. Ia membantu sejak awal, kemudian duduk bersama tamu dan berbicara mengenai buku, musik, serta kabar kenalan mereka.
Wadah bunga yang dipilihnya memang rendah. Sayangnya, salah satu tangkai condong ke arah piring kue dan perlu dipindahkan sebelum seorang tamu menyadarinya.
Gadis itu melakukannya sambil tetap mengikuti percakapan.
Tidak ada yang memberi tepuk tangan.
Ia senang tidak perlu menerimanya.
Ketika tamu terakhir pulang, Annalise berdiri di dekat meja dan memeriksa susunan yang kini sedikit berantakan. Ada cangkir berpindah, serbet terlipat tidak rata, serta remah yang membuat segala upaya menciptakan ruang sempurna terasa agak lucu.
Gresham mengucapkan terima kasih atas bantuannya.
"Bunganya hampir memakan kue," kata Annalise.
"Tetapi berhasil dihentikan tepat waktu."
Keduanya tertawa sebelum pelayan mulai membereskan.
***
Thomas datang setelah Annalise sempat beristirahat sebentar. Ia berdiri ketika pria itu memasuki ruang duduk, lalu menyadari bahwa dirinya tersenyum lebih cepat daripada yang direncanakan.
Thomas membalasnya.
Beberapa hari rupanya cukup untuk membuat sapaan biasa terasa berbeda.
"Kau selamat dari genting?" tanyanya.
"Nyaris tidak. Ada kursi yang hampir mengalahkanku."
Ia menceritakan kejadian dengan pelayan dan kursi. Annalise tertawa sampai meminta dirinya berhenti menambahkan penjelasan yang justru membuat kebodohannya semakin jelas.
Gresham menyapa Thomas, mendengar kabar Edith, lalu kembali kepada pekerjaan di meja dekat pintu. Mereka dapat berbicara tanpa perlu memindahkan seluruh rumah agar sesuai dengan keinginan dua orang yang baru saling merindukan.
Thomas menanyakan acara tadi. Annalise bercerita tentang bunga dan piring kue, kemudian memperlihatkan tempat yang dipilih setelah saran pengurus rumah.
"Ternyata jalannya lebih baik di sini," katanya.
Thomas mengangguk. "Aku mulai mengetahui betapa seringnya aku berdiri di jalan orang lain."
***
Annalise mengambil buku gambarnya setelah teh datang. Ia tidak membukanya pada halaman pertama, melainkan pada potret yang dikerjakan kembali selama dua sore singkat.
"Aku ingin memperlihatkan ini sebelum berubah pikiran."
Thomas menerima buku yang disodorkan.
Wajah dalam gambar belum sempurna. Beberapa garis terlalu keras, dan bagian rambut masih tampak seperti pekerjaan yang menunggu kesabaran tambahan. Namun, ia mengenali dirinya sendiri dalam pandangan mata yang sedikit menyipit dan mulut yang seolah baru menahan senyum.
Thomas tidak langsung berbicara.
"Jangan diam terlalu lama," ujar Annalise. "Itu membuatku ingin mengambilnya."
"Aku sedang melihat diriku melalui perhatianmu. Rupanya aku belum mempunyai jawaban yang cukup cepat untuk itu."
Gadis itu menunduk, lalu mengatakan dirinya masih perlu belajar banyak.
"Tentu," jawabnya. "Tetapi aku menyukai ini sekarang, bukan hanya karena mungkin akan lebih baik kelak."
Annalise mengangkat wajah. Pujian tersebut tidak berusaha menyebut hasilnya sempurna, dan justru karena itu ia dapat mempercayainya.
Ia mengatakan Thomas boleh menyimpannya setelah dirinya merapikan bagian yang belum selesai.
***
Pembicaraan tentang rumah di luar London muncul sesudahnya. Thomas menjelaskan bagian perbaikan yang sudah selesai dan pekerjaan yang masih berlanjut. Edith akan menentukan waktu kunjungan setelah menerima kabar bahwa rumah cukup nyaman bagi tamu.
Ia menggambarkan taman, jalan pendek, serta ruangan yang memperoleh cahaya sore.
Annalise mendengarkan, kemudian menanyakan hal yang tidak diperkirakannya.
"Jika aku datang, apakah semua orang akan mengira aku sudah menyetujui sesuatu?"
Thomas meletakkan cangkir.
"Undangan untukmu dan keluargamu. Bukan pengumuman."
"Aku tahu maksudmu. Aku menanyakan apa yang mungkin diharapkan orang di sana."
Ia memikirkan jawabannya lebih lama. Ada pegawai yang mengenal kebiasaan ibunya, ada keluarga yang telah lama terkait dengan rumah, dan mungkin ada orang yang akan segera menarik kesimpulan.
"Mungkin mereka akan menduga," katanya jujur. "Aku bisa memastikan tidak ada persiapan yang memperlakukanmu sebagai seseorang yang sudah menerima lamaran. Tetapi aku tidak bisa menjanjikan semua orang berhenti berpikir."
Annalise mengangguk. Itu jawaban yang dapat digunakannya.
***
"Aku ingin melihatnya," katanya. "Aku hanya tidak ingin kunjungan itu berubah menjadi pemeriksaan apakah aku cukup pantas menjadi duchess."
Thomas menatapnya dengan perhatian penuh.
Ia ingin berkata bahwa dirinya pasti pantas. Namun, Annalise tidak sedang meminta pujian. Ia sedang menanyakan ruang yang akan tersedia jika kehidupan mereka benar-benar bertemu.
"Aku ingin kau mengenal rumahku," jawabnya. "Dan memberitahuku jika ada bagian yang tidak kausukai. Aku tidak akan mengundangmu untuk dinilai oleh pengurus atau tamu lain."
"Termasuk jika aku tidak ingin menghadiri jamuan setiap malam?"
"Aku akan lega jika tidak perlu menghadiri jamuan setiap malam."
Annalise tertawa, lalu menambahkan bahwa ada hari ketika dirinya tidak ingin menemui siapa pun. Bukan karena marah, bukan untuk membuat orang mencarinya, tetapi karena ia membutuhkan waktu sendiri atau istirahat.
Thomas mengangguk.
"Aku mungkin perlu diingatkan agar tidak selalu menganggap sesuatu harus diperbaiki," katanya. "Tetapi aku ingin mengetahuinya darimu."
***
Gresham mendekat ketika pembicaraan beralih kepada kemungkinan perjalanan. Thomas menyampaikan usulan Edith secara lengkap, tanpa menentukan tanggal sebelum tuan rumah mengetahui kapan pekerjaan selesai.
Sang duchess mengatakan akan membicarakannya dengan suaminya. Mereka juga perlu mempertimbangkan kegiatan Annalise dan waktu istirahat dalam perjalanan.
Tidak ada kegembiraan berlebihan yang membuat gadis itu merasa jawaban keluarganya sudah diberikan atas namanya.
Ia mengucapkan terima kasih kepada ibunya ketika Thomas berpaling untuk meletakkan buku.
Gresham hanya menyentuh bahunya singkat.
Sebelum pulang, Thomas berdiri bersamanya di dekat pintu. Kali ini ia tidak mencium Annalise, meskipun keduanya tampak mengingat kemungkinan itu pada saat yang sama.
Ia hanya menggenggam tangan yang diulurkan gadis tersebut.
"Aku merindukanmu," katanya pelan.
Annalise merasakan pipinya menghangat.
"Aku juga."
Thomas tersenyum, dan untuk beberapa detik rumah itu terasa jauh lebih tenang daripada sebelumnya.
***
Sesudah ia pergi, Annalise kembali melihat potret di atas meja. Gambar itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus diperbaiki sebelum berhak diperlihatkan.
Ia masih ingin menyelesaikannya. Namun, ia dapat menyukai hasil yang belum sepenuhnya sesuai keinginan.
Pikiran tersebut membuatnya duduk, mengambil pensil, kemudian berhenti untuk memandang ruang di sekelilingnya.
Bunga yang rendah. Kursi ibunya. Jalan yang cukup lebar bagi pelayan membawa nampan. Hal-hal kecil yang menjadikan sebuah rumah lebih daripada nama keluarga di pintu depan.
Jika kelak ia memilih kehidupan bersama Thomas, ia ingin menjadi bagian yang ikut menentukan bentuknya.
Belum ada jawaban hari itu.
Tetapi ketika Annalise menambahkan satu garis pada sudut senyum dalam gambar, masa depan tidak lagi hanya tampak sebagai pertanyaan tentang apakah dirinya akan dipilih.
Ia pun sedang memilih.