Thomas tidak menganggap dirinya pria yang sulit menerima kabar melalui surat.
Pendapat itu bertahan sampai ia membaca bahwa Annalise terlalu lelah untuk menghadiri pelajaran.
Ia membaca bagian tersebut lagi, kemudian memandang jendela seolah jarak ke London dapat diperkecil dengan cara yang sama seperti menghadapi pintu yang lambat dibuka.
Matthew sedang menata jawaban yang akan dibawa ke kantor pengurus. Ia melihat Thomas meletakkan surat, mengambilnya kembali, lalu berdiri.
"Ada kabar buruk?"
"Annalise melewatkan pertemuan menggambarnya. Ia perlu beristirahat."
Matthew menunggu penjelasan berikutnya.
Thomas tidak mempunyai penjelasan lain yang lebih mengerikan. Gadis itu menulis dengan tangannya sendiri, menceritakan hari berikutnya, dan tidak meminta bantuan mendesak.
Ia duduk kembali dengan wajah kesal kepada pikirannya sendiri.
"Kau tampak ingin mengatakan sesuatu."
"Saya sedang menunggu Anda selesai membaca suratnya, Your Grace."
Thomas melirik kertas di tangan. Masih ada setengah halaman yang belum dibacanya dengan sungguh-sungguh.
Ia kembali kepada kalimat berikutnya.
***
Annalise telah menulis mengenai Henrieta, gambar kain, serta bunga yang terlalu tinggi. Ada keluhan yang tidak berubah menjadi keputusasaan. Ada humor yang dikenalnya, bahkan pada bagian yang jelas tidak menyenangkan bagi gadis itu.
Thomas akhirnya mengembuskan napas.
Ia ingin mengetahui bahwa Annalise baik. Keinginan tersebut sangat mudah berubah menjadi dorongan meminta semua orang di sekelilingnya memberikan laporan tambahan.
Tetapi gadis itu sudah bercerita.
Jika jawaban pertamanya adalah mengabaikan cerita tersebut dan menanyai orang lain, bagaimana Annalise dapat percaya bahwa surat jujur tidak akan diikuti keributan yang membuatnya menyesal menulis?
Thomas mengambil kertas balasan. Ia mengatakan dirinya menyesal pelajaran itu terlewat, lalu menanyakan apakah contoh kain dari Mrs. Bell lebih sulit daripada sepatu Richard.
Ia menambahkan bahwa Annalise boleh terus memberitahukan hari yang kurang menyenangkan. Ia lebih suka mengetahui daripada menerima kabar yang sengaja dibuat ringan demi dirinya.
Sesudah itu barulah ia menceritakan harinya sendiri.
***
Tanah milik keluarganya tidak menyambut kepulangan Thomas dengan satu persoalan besar yang dapat diselesaikan melalui keputusan berani.
Ada banyak persoalan kecil yang perlu didengar sampai selesai.
Pada pagi itu, ia berjalan bersama pengurus memeriksa bagian rumah yang sedang diperbaiki. Seorang pekerja menjelaskan mengapa satu sambungan perlu dibuka kembali meskipun dari bawah tampak sudah rapi.
Thomas mengajukan pertanyaan, menerima jawabannya, lalu meminta perkiraan waktu yang masuk akal tanpa memaksa pria tersebut menjanjikan cuaca cerah.
Di ruang penyimpanan, pengurus rumah memperlihatkan barang yang dipindahkan agar terhindar dari debu. Urutan pemindahan itu membuat Thomas menyadari bahwa banyak keputusan sudah diambil sebelum dirinya datang, dan sebagian besar dilakukan dengan baik.
Ia tidak perlu mengubahnya hanya agar kedatangannya terasa berguna.
Ketika seorang pelayan muda meminta izin memindahkan kursi lagi untuk membuka jalan, Thomas segera bergeser.
"Saya memerlukan kursinya, Your Grace. Bukan hanya tempat Anda berdiri."
Matthew memalingkan wajah.
Thomas menyerahkan kursi tersebut dengan kehormatan yang tersisa.
***
Setelah makan siang, pengurus membawa catatan mengenai beberapa pekerjaan di bangunan lain. Thomas membandingkan biaya, menanyakan urutan yang disarankan, dan menyetujui hal yang dapat dimulai tanpa menunggu dirinya kembali dari London.
Dahulu ia mungkin menganggap setiap pertanyaan harus menemukan jawabannya di meja sendiri. Kini tumpukan pekerjaan yang menyebabkan keterlambatannya kepada Annalise terasa seperti bukti bahwa cara itu tidak selalu menghasilkan ketelitian.
Kadang hanya menghasilkan orang-orang yang harus menunggu.
Ia menentukan perkara mana yang perlu dikirim kepadanya dan mana yang dapat diputuskan pengurus dalam pengaturan yang sudah dibicarakan.
Tidak ada perombakan besar. Pria itu telah lama mengetahui pekerjaannya. Thomas hanya berhenti menarik kembali keputusan yang seharusnya sudah dapat dilanjutkan.
Ketika pertemuan selesai, waktu belum habis.
Ia memandang halaman di luar dan mendapati dirinya dapat berjalan sebentar tanpa membawa map.
Perasaan tersebut hampir membuatnya curiga bahwa ada sesuatu yang terlupakan.
***
Edith pernah mengatakan taman di sisi timur lebih menyenangkan pada sore hari. Thomas jarang memperhatikan alasannya.
Sekarang ia melihat cahaya yang jatuh dari samping, tempat duduk terlindung, serta jalur pendek yang kembali ke rumah tanpa perlu mengitari seluruh halaman.
Ia membayangkan Annalise duduk membawa buku gambar.
Pikiran berikutnya datang terlalu cepat: kursi mana yang harus dipindahkan, ruang mana yang akan disukainya, bagaimana ia dapat membuat semuanya nyaman sebelum gadis itu datang.
Thomas berhenti di tengah jalan.
Ia belum mengetahui apakah Annalise menyukai pemandangan tersebut. Belum pula menanyakan bagian rumah yang ingin dilihatnya. Ia sedang membuat keputusan untuk seorang tamu yang bahkan belum menerima undangan.
Thomas tertawa pendek kepada dirinya sendiri.
Barangkali kebiasaan lama tidak hilang hanya karena seseorang berhasil mengenalinya sekali.
Ia mencatat apa yang dapat dijelaskan, lalu membiarkan kursi tetap berada di tempatnya.
Di ujung jalan, seorang tukang kebun sedang membersihkan ranting. Thomas menanyakan tanaman yang tumbuh dekat bangku, kemudian mengulang namanya agar tidak lupa. Ia sudah dapat membayangkan kesenangan Annalise jika kelak dirinya menunjuk daun yang salah lagi.
***
Malam itu, Matthew menerima kabar singkat dari orang yang membantu meneruskan surat rombongan: kiriman untuk Joanna telah diteruskan sesuai tujuan. Tidak ada surat baru dari adiknya, tetapi ia tampak puas mengetahui jalannya tetap terbuka.
Thomas menanyakan apakah ada rencana bertemu ketika rombongan kelak berada lebih dekat dengan London.
"Kami sedang membicarakannya," jawab Matthew. "Belum ada waktu yang pasti."
"Beritahukan jika sudah ada. Kita dapat mengatur urusan rumah lebih dahulu."
Matthew mengangguk, lalu menatapnya beberapa saat.
"Anda juga bisa memberi tahu pengurus kapan tidak ingin diganggu."
Thomas mengangkat alis.
"Bukan hanya untuk berkunjung kepada Lady Annalise," tambahnya. "Kadang untuk makan malam."
Sang duke memandang piring yang mulai dingin di dekat surat.
"Kau semakin berani."
"Saya sudah cukup lama bekerja dengan Anda untuk mengetahui bahwa makanan tidak menjadi lebih hangat jika ditatap."
Thomas tertawa dan akhirnya menarik kursinya mendekat ke meja makan.
***
Pada hari keempat, pemeriksaan yang perlu dihadiri Thomas selesai. Ia mengirim kabar mengenai keberangkatan pulang, menyebutkan waktu perkiraan tiba, serta meminta agar Annalise tidak mengubah rencananya untuk menerima kunjungan mendadak.
Ia akan menulis lagi dari London.
Sebelum berangkat, Thomas berbicara dengan pengurus rumah mengenai kemungkinan Edith mengundang beberapa tamu setelah pekerjaan selesai. Ia meminta kabar jika masih ada bagian yang bising atau tidak nyaman, tanpa memerintahkan kamar tertentu disiapkan untuk Annalise.
Pilihan itu dapat dibicarakan jika undangan diterima.
Di kereta, ia membuka surat gadis tersebut sekali lagi. Kali ini bagian yang paling lama diperhatikannya bukan kabar tentang kelelahan, melainkan kalimat mengenai kursi dan nampan pelayan.
Annalise sedang belajar melihat sebuah rumah dari sisi yang berbeda.
Rupanya dirinya pun demikian.
Ketika Matthew menanyakan apakah mereka perlu berhenti di tempat yang sama seperti perjalanan datang, Thomas mengangguk.
Ia ingin segera tiba di London.
Namun, untuk pertama kalinya, keinginan pulang tidak membuatnya merasa seluruh jalan harus tunduk kepada ketergesaan sendiri.