Thomas, jangan mengira sebuah rumah hanya berjalan ketika tuannya hadir. Kadang kepulanganmu justru mengganggu susunan yang sudah baik.
Duke of Gordon ke-X.
***
Pada pagi pertemuan menggambar, Annalise bangun dengan tubuh yang terasa belum selesai beristirahat.
Ia tidak pusing. Tidak ada rasa sakit baru yang dapat dijadikan alasan dramatis. Hanya kelelahan yang membuat kegiatan sederhana terasa lebih berat daripada kemarin, dan keinginan kembali berbaring setelah Wilda membuka tirai.
Gadis itu duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi pakaian yang sudah disiapkan.
Ia sungguh ingin pergi.
Justru karena itu, mengatakan dirinya perlu tinggal menjadi jauh lebih menjengkelkan.
Wilda menawarkan agar mereka menunggu sebentar sebelum berpakaian. Annalise hampir menyetujuinya dengan harapan tubuhnya akan berubah pikiran dalam beberapa menit, lalu mengingat bahwa Henrieta juga sedang menyiapkan perjalanan.
"Kirim kabar kepada kakakku," katanya akhirnya. "Aku tidak ikut hari ini."
Kalimat itu terdengar kecil.
Namun, sesudah mengucapkannya, Annalise merasa seperti telah menutup pintu pada sore yang sudah dibayangkan sejak beberapa hari lalu.
***
Gresham datang setelah menerima kabar dari Wilda. Ia menanyakan apa yang dirasakan putrinya, mendengarkan jawabannya, lalu membantu mengubah rencana hari itu tanpa menganggap semua kegiatan Annalise perlu dihentikan seterusnya.
Mereka akan melihat bagaimana keadaannya sesudah makan dan beristirahat. Jika ada perubahan yang mengkhawatirkan, bantuan akan dipanggil seperti biasa.
Annalise mengangguk, tetapi wajahnya tetap muram.
"Mama tidak perlu mengatakan aku sudah melakukan pilihan yang bijaksana. Aku belum ingin merasa bijaksana."
Gresham duduk di sisi tempat tidur.
"Baiklah. Kau boleh merasa kesal dahulu."
Jawaban itu membuat gadis tersebut hampir tertawa. Ia menyandarkan kepala pada bantal, lalu mengakui bahwa dirinya takut Mrs. Bell akan mengira ia tidak sungguh berminat.
"Kau sudah mengatakan ingin datang lagi. Satu hari tidak menghapusnya."
Annalise mengetahui itu benar. Ia hanya belum pandai mempercayainya ketika semua orang lain tampak dapat berangkat tanpa berunding dengan tubuh sendiri.
***
Henrieta tidak membatalkan kehadirannya. Ia mengirim balasan hangat, berjanji menyampaikan pesan kepada Mrs. Bell, dan mengatakan akan datang membawa ceritanya sesudah selesai jika Annalise ingin menerima.
Gadis itu merasa lega sekaligus sedikit iri.
Perasaan kedua membuatnya malu, tetapi ia tidak menuliskannya sebagai tuntutan agar kakaknya tinggal. Henrieta boleh menikmati pertemuan yang sama-sama mereka nantikan.
Annalise meminta Wilda mengambil surat Joanna yang belum selesai. Ia menambahkan beberapa kalimat tentang London dan gambar Mrs. Hudson, kemudian berhenti karena tangannya belum ingin bekerja terlalu lama.
Di meja ada potret Thomas yang masih setengah jadi.
Ia memandangnya dengan sebal.
"Kau beruntung tidak ada di sini," gumamnya.
Wilda, yang sedang menata cangkir, mengangkat wajah.
"Saya tidak bermaksud kepadamu."
"Saya berharap demikian, Milady. Saya belum melakukan sesuatu yang pantas dimarahi pagi ini."
Annalise akhirnya tertawa, dan kamar itu terasa sedikit kurang menyerupai tempat menunggu hukuman selesai.
***
Sore hari, sesudah beristirahat, ia cukup nyaman untuk menerima Henrieta di ruang duduk kecil. Kakaknya membawa gambar baru, pesan dari Mrs. Bell, dan kisah tentang peserta lain yang menumpahkan air tepat ketika ingin memperlihatkan betapa rapi pekerjaannya.
Annalise tertawa pada bagian tersebut, lalu meminta melihat gambar.
Pelajaran kali itu menggunakan kain yang dilipat. Henrieta menunjukkan bagaimana bayangan membuat bagian tertentu tampak lebih dalam, kemudian mengeluarkan selembar contoh sederhana yang diizinkan Mrs. Bell untuk dipinjam.
"Tidak perlu dikerjakan hari ini," katanya sebelum Annalise sempat meraih pensil. "Beliau mengatakan kau boleh membawanya kembali ketika datang."
Gadis itu menyentuh tepi kertas.
Tidak ada teguran tersembunyi. Tidak ada tugas yang perlu diselesaikan sebagai hukuman karena absen.
Ia belum dapat mengikuti semua hal yang diinginkannya. Tetapi ada orang yang bersedia membiarkan sebuah tempat tetap tersedia tanpa membuatnya merasa sedang berutang kesembuhan.
Annalise meminta Henrieta menceritakan bagian pelajaran sekali lagi.
Kali ini ia mendengarkan tanpa meraih pensil. Kakaknya menunjukkan arah cahaya dengan telapak tangan, dan Annalise menggeser contoh gambar agar lebih mudah melihatnya. Belajar rupanya masih mungkin dilakukan sambil bersandar, meskipun berbeda dari sore yang semula direncanakan.
***
Ketika kakaknya pulang, Gresham membawa sebuah daftar kecil. Seorang kenalan akan datang minum teh pekan berikutnya, dan ia ingin mengetahui apakah Annalise bersedia membantu memilih beberapa hal sederhana untuk ruang duduk.
Gadis itu menatap ibunya dengan curiga.
"Mama sedang mencarikan pekerjaan agar aku tidak muram?"
"Sebagian. Aku juga sungguh ingin pendapatmu mengenai bunga, karena yang dipilih terakhir membuatku sulit melihat tamu di seberang meja."
Kejujuran itu lebih menyenangkan daripada upaya membuat tugas kecil terdengar seperti kepercayaan besar yang menentukan nasib rumah.
Annalise melihat daftar. Ia menyarankan wadah lebih rendah dan bertanya apakah meja perlu dipindahkan agar kursi di dekat jendela tetap mudah digunakan.
Gresham mempertimbangkannya, lalu memanggil pengurus rumah untuk membicarakan kemungkinan pengaturan.
Wanita itu menjelaskan bahwa satu tempat yang dipilih Annalise akan menghalangi pelayan lewat membawa nampan.
Gadis tersebut segera mengubah sarannya.
Ternyata mempunyai pendapat tidak berarti orang lain harus berhenti mengetahui pekerjaannya.
***
Surat Thomas tiba pada pagi berikutnya.
Ia sudah sampai dan menemukan bahwa suara palu memang sama sekali tidak cocok dengan gagasan istirahat di pedesaan. Kamar yang biasa dipakainya aman, tetapi ia lebih banyak bekerja di ruangan lain karena percakapan selalu terpotong bunyi dari atas.
Ada cerita tentang Matthew yang menemukan barang yang selama ini dituduhkan hilang dalam perjalanan. Barang itu ternyata disimpan Thomas sendiri di tempat yang dianggap sangat masuk akal enam bulan lalu.
Annalise tersenyum, kemudian membaca bagian yang menyebut pekerjaan dan perkiraan pulang. Thomas tidak menjanjikan tanggal yang belum pasti. Ia akan memberi kabar setelah mengetahui apakah pemeriksaan terakhir dapat selesai sesuai rencana.
Pada akhir surat, ia menanyakan pelajaran Annalise.
Gadis itu mengambil kertas balasan dan sempat menulis bahwa semuanya baik.
Ia berhenti, membaca kembali, lalu mencoret dua kata tersebut.
***
Ia mengatakan bahwa dirinya tidak datang karena perlu beristirahat. Ia juga mengakui kecewa, menceritakan kunjungan Henrieta, dan menambahkan bahwa lipatan kain rupanya lebih rumit daripada membuat seorang duke terlihat cukup masuk akal dalam gambar.
Tidak ada permintaan agar Thomas pulang lebih cepat.
Namun, ia tidak ingin menggunakan surat untuk memperlihatkan kehidupan yang selalu menyenangkan, seolah ketertarikannya hanya pantas dipertahankan jika dirinya tidak pernah mengalami hari yang buruk.
Setelah surat selesai, Annalise membacanya sekali lagi. Ia hampir menghapus bagian tentang kelelahan, lalu teringat percakapan mereka mengenai perubahan rencana.
Thomas telah mengatakan ingin mengetahui.
Kini ia perlu memberinya kesempatan sungguh mendengar.
Gadis itu melipat kertas, menyerahkannya untuk dikirim, kemudian kembali kepada daftar bunga di meja.
Hari kemarin tidak berjalan seperti yang diinginkan. Hari ini pun mungkin tidak akan menghasilkan gambar yang bagus.
Tetapi ada surat yang sudah ditulis dengan jujur, sebuah kursi yang dapat dipindahkan sedikit, dan sore yang belum habis.
Untuk sementara, ia akan memulai dari sana.