Kabar tentang perjalanan Thomas berikutnya tidak datang melalui orang lain.
Ia menyampaikannya sendiri pada kunjungan yang sudah disepakati dua hari setelah makan siang di rumah Wellington. Annalise sedang menunjukkan gambar yang telah diperbaiki ketika Thomas menjelaskan bahwa ia perlu pergi ke tanah milik keluarganya untuk beberapa hari.
"Urusan atap yang dibicarakan pengurus itu?" tanyanya.
Thomas mengangguk. Perbaikan telah dimulai, tetapi beberapa pilihan pekerjaan lanjutan lebih baik diputuskan setelah ia melihat keadaan di tempat. Ada pula urusan biasa yang belum diperiksa sejak perjalanan panjangnya berakhir.
"Bukan tugas kerajaan," tambahnya. "Aku memperkirakan tiga atau empat hari, bergantung perjalanan dan pekerjaan di sana."
Annalise merasakan kekecewaan kecil yang langsung membuatnya ingin bersikap sangat masuk akal.
"Tentu. Kau perlu pergi."
Thomas menatapnya. Ia tidak memperlakukan jawaban singkat itu sebagai tanda bahwa pembicaraan sudah selesai.
"Aku berangkat lusa. Aku ingin kau mengetahuinya sebelum kita membuat rencana lain."
***
Annalise menanyakan apakah Edith ikut. Thomas menggeleng. Ibunya mempunyai undangan serta urusan di London dan tidak merasa perlu mengawasi putranya memandang atap bocor.
Matthew akan ikut, antara lain untuk menemui orang yang menangani beberapa barang mereka di sana. Perjalanan itu tidak memerlukan rombongan besar.
"Aku akan menulis setelah tiba," kata Thomas.
"Kau tidak perlu menggambarkan setiap genting."
"Sayang sekali. Aku sudah memikirkan pembukaan yang mengesankan."
Annalise tertawa, tetapi perasaan aneh itu belum sepenuhnya hilang. Ia mengetahui Thomas mempunyai rumah dan tanggung jawab lain. Mengetahui ternyata berbeda dari mendengar hari keberangkatan yang sungguh akan membuatnya tidak berada di London.
Ia menutup buku gambar.
"Kau biasanya berapa lama tinggal di sana?"
Thomas menjawab bahwa sebelum perjalanan panjangnya, waktu terbagi menurut urusan keluarga, pengelolaan, dan pekerjaan yang tidak selalu dapat dipilihnya sendiri. Tidak ada susunan tetap yang dapat dijanjikan untuk semua tahun.
Jawaban tersebut lebih rumit daripada yang diinginkan Annalise, tetapi lebih berguna daripada kepastian yang dibuat hanya untuk menenangkannya.
Ia meminta Thomas memperlihatkan letaknya pada peta kecil yang tersimpan bersama buku ayahnya. Pria itu menunjukkan arah perjalanan, lalu menyebut sebuah persinggahan yang mempunyai hidangan kesukaan Edith.
"Mama akan tahu jika aku melewatinya tanpa membawa sesuatu pulang."
"Beliau mempunyai mata di sepanjang jalan?"
"Lebih buruk. Ia mempunyai ingatan yang baik dan keberanian bertanya."
Annalise tertawa. Garis pada peta mulai terasa lebih dekat setelah diisi tempat makan dan kebiasaan ibunya, bukan hanya jarak yang harus ditempuh.
***
Gresham meninggalkan pekerjaan jahit di pangkuannya dan menanyakan apakah jalan menuju kediaman itu cukup baik. Ia pernah melewati sebagian wilayah tersebut, tetapi tidak dalam waktu dekat.
Thomas menjelaskan rute yang biasa dipakai, termasuk tempat yang lebih masuk akal untuk berhenti jika tidak ingin menempuh perjalanan sekaligus.
Annalise mendengarkan dengan perhatian yang akhirnya membuat ibunya tersenyum kecil.
"Kau ingin melihatnya suatu hari?" tanya Thomas.
Gadis itu mengangkat wajah.
"Mungkin."
"Mama dapat mengundang kalian ketika ia juga berada di sana. Setelah pekerjaan yang berisik selesai."
Usulan tersebut membuat kemungkinan di dalam pikirannya memperoleh bentuk: kunjungan bersama keluarga, waktu yang dapat diatur, sebuah rumah yang boleh dilihat tanpa harus datang sebagai istri.
Namun, Thomas tidak mulai menentukan tanggal atau menjanjikan bahwa ia pasti menyukainya.
Annalise menghargai itu.
"Aku ingin mendengar bagaimana keadaannya dahulu," katanya.
"Akan kuceritakan."
***
Sesudah membahas perjalanan, Thomas meminta melihat bagian potret yang sudah bersedia ditunjukkan Annalise. Gadis itu membuka halaman dengan ragu.
Gambar tersebut belum menyerupainya sepenuhnya. Mata sebelah kiri sedikit terlalu tinggi, dan rambutnya tampak lebih teratur daripada kenyataan. Namun, sudut mulutnya menangkap sesuatu yang membuat Thomas tersenyum.
"Aku terlihat sedang merencanakan kejahatan."
"Berarti ada kemajuan dalam kemiripannya."
Gresham menggeleng sambil kembali mengambil jahitan. Annalise memperlihatkan garis yang akan diubah, lalu meminta Thomas tidak tersenyum dulu karena bentuk bibirnya menjadi berbeda.
"Permintaan yang sulit jika kau terus berbicara seperti itu."
Ia mendongak dan menemukan tatapan yang membuat jari-jarinya berhenti pada kertas.
Ciuman di teras belum menjadi sesuatu yang dapat dipikirkan tanpa rasa hangat. Thomas tampaknya mengetahui hal itu, tetapi cukup baik hati untuk kembali menghadap jendela sebelum gadis tersebut perlu menjelaskan mengapa ia lupa apa yang hendak diperbaiki.
***
Setelah kunjungan berakhir, Annalise menemukan dirinya memeriksa hari pada surat Henrieta. Pertemuan menggambar berikutnya jatuh ketika Thomas masih di luar London.
Itu seharusnya tidak berarti apa-apa.
Tetapi ia senang mempunyai sesuatu yang ingin dilakukan, bukan sekadar menghitung sampai sebuah kereta kembali.
Gresham memperhatikannya mengatur kertas di meja.
"Kau khawatir dia pergi?"
"Aku akan merindukannya. Rasanya agak memalukan karena hanya beberapa hari."
Ibunya meletakkan jahitan.
"Merindukan seseorang tidak harus menunggu perjalanan jauh. Yang perlu kauketahui adalah apakah hari-harimu sendiri tetap mempunyai isi ketika dia tidak ada."
Annalise mengangguk pelan. Ia mempunyai keluarga, pelajaran, buku, dan surat kepada Joanna yang belum selesai.
Namun, ada pertanyaan lain yang lebih sukar.
"Bagaimana Mama tahu berapa banyak hal yang harus dilakukan sendiri ketika Papa pergi?"
***
Gresham berpikir sebelum menjawab. Ia tidak menyampaikan gambaran seorang duchess yang sanggup menangani segala urusan tanpa pernah lelah atau keliru.
"Dengan bertanya, dengan salah memahami sesuatu lalu memperbaikinya, dan dengan mengetahui siapa yang perlu diajak bicara," katanya. "Papa tidak menikahiku karena aku sudah mengerti semua kebiasaan rumahnya."
Ia menceritakan sebuah jamuan pada awal pernikahan ketika dirinya salah memperkirakan jumlah tamu yang menginap. Kekacauan itu tidak berakhir sebagai kehancuran keluarga, meskipun pada malam tersebut Gresham merasa sebaliknya.
"Kepala pelayan jauh lebih tenang daripada Mama," tambahnya. "Itu membuatku kesal sebelum membuatku bersyukur."
Annalise tertawa.
Kemudian ia menanyakan apakah semua urusan duchess harus dikerjakan dengan cara yang sama seperti ibunya.
Gresham menggeleng. Ada kewajiban yang perlu dihormati, tetapi cara menjalani rumah tangga juga dibentuk oleh orang-orang yang tinggal di dalamnya.
"Kau tidak perlu menjadi diriku agar dapat menjalani hidupmu sendiri."
Annalise menunduk, menyimpan kalimat itu lebih hati-hati daripada saran mengenai undangan atau gaun.
***
Pada pagi keberangkatannya, Thomas mengirim catatan singkat. Kereta akan berangkat setelah sarapan; ia sudah menerima jawaban mengenai tempat tinggal selama pekerjaan berlangsung, sehingga tidak memperkirakan perubahan rute.
Di bagian bawah, ia menulis bahwa dirinya berharap Annalise tidak memperbaiki wajah dalam gambar sampai menjadi terlalu tampan untuk dikenali.
Gadis itu tertawa ketika membacanya.
Ia membalas sebelum pelayan pembawa surat pergi, mengatakan bahwa keajaiban semacam itu berada di luar kemampuan Mrs. Bell sekalipun. Kemudian ia menambahkan ucapan agar perjalanan berlangsung baik.
Thomas menerima jawaban tepat sebelum naik ke kereta.
Matthew melihat senyumnya dan memilih memeriksa tali barang sekali lagi.
Ketika roda mulai bergerak, Thomas menaruh surat itu bersama kertas pribadi. Ia mempunyai pekerjaan yang perlu dilakukan dan seseorang yang ingin diberi kabar setelahnya.
Untuk sekali ini, berangkat tidak terasa seperti menghilang dari kehidupan yang sedang dibangunnya.