Thomas, membukakan pintu rumah tidak sama dengan memberi seseorang tempat di dalamnya. Perhatikan apakah ia berani memindahkan sebuah kursi.
Duke of Gordon ke-X.
***
Annalise telah menghabiskan hampir seperempat jam untuk memutuskan apakah dirinya perlu membawa buku gambar ke rumah Wellington.
Jika dibawa, ia mungkin tampak sudah merencanakan terlalu banyak hal. Jika ditinggalkan, ia mungkin menemukan sesuatu yang ingin digambar dan menyesal sepanjang sore. Wilda mendengarkan kedua kemungkinan itu sambil merapikan sarung tangannya sendiri.
"Buku itu muat di dalam tas, Milady."
"Bukan ukurannya yang sedang kupikirkan."
"Saya tahu. Tetapi ukurannya satu-satunya persoalan yang dapat saya bantu."
Annalise tertawa dan akhirnya memasukkan buku tersebut.
Undangan datang dari Edith untuk dirinya serta Gresham. Makan siang kecil, demikian kata surat itu, tanpa orang asing yang perlu disenangkan. Thomas menambahkan catatan bahwa ibunya menggunakan kata kecil dengan pengertian yang cukup luas jika menyangkut jumlah hidangan.
Annalise membaca catatan tersebut dua kali sebelum menyimpannya.
Ia belum bertemu Thomas sejak sore hujan itu. Bayangan tentang bagaimana mereka akan saling menyapa ternyata jauh lebih mengganggu daripada semua pilihan pita yang tersedia.
***
Thomas menyambut mereka bersama Edith. Ia membungkuk kepada Gresham, lalu memandang Annalise dengan senyum yang segera membuat usaha gadis itu menjaga ketenangan menjadi tidak berguna.
"Selamat datang."
"Terima kasih."
Hanya itu.
Tidak ada hal lain yang layak membuat wajahnya terasa hangat. Namun, ketika Thomas membantu ibunya melewati pintu dan kemudian memberi jalan kepadanya, Annalise tetap mengingat betapa dekat mereka berdiri beberapa hari lalu.
Edith memeriksa tamunya sekilas, lalu memilih membicarakan cuaca dengan Gresham.
Kemurahan hati para ibu mulai terasa seperti sesuatu yang sebaiknya tidak dipercaya terlalu lama.
Rumah tersebut lebih terang daripada yang dibayangkan Annalise. Ia semula mengira semua ruangan Thomas akan menyerupai tempat penyimpanan laporan. Kenyataannya, ada bunga, kursi yang tampak sering digunakan, serta sebuah meja kecil dengan sudut kain yang tidak sepenuhnya rapi.
Edith mengikuti pandangannya.
"Aku baru memindahkannya. Putraku belum mengajukan keberatan, jadi kurasa kita selamat."
"Aku tidak selalu mengajukan keberatan, Mama."
"Tentu. Kadang kau hanya berdiri dan menatap."
***
Sebelum makan, Edith menunjukkan ruang tempat ia biasa menerima tamu. Annalise tertarik pada sebuah gambar pemandangan dan menanyakan asalnya. Pembicaraan itu membawa mereka kepada perjalanan Edith, kemudian kepada cara ruangan berubah setelah ia pulang.
"Aku menyukai kursi dekat jendela," kata sang dowager. "Dahulu Ben lebih suka meja diletakkan di sana. Kami berdebat mengenai cahaya selama beberapa tahun."
"Siapa yang menang?" tanya Annalise.
"Bergantung siapa yang lebih dahulu memanggil pelayan untuk memindahkannya."
Gresham tertawa. Thomas memandang tempat yang dimaksud seolah baru mengingat perdebatan lama itu.
Annalise memperhatikan bahwa rumah tersebut bukan sekumpulan benda yang tidak boleh disentuh karena mempunyai sejarah. Ada ingatan di dalamnya, tetapi ada pula orang yang masih perlu duduk dengan nyaman hari ini.
Edith menawarkan kursi kepadanya sebelum melanjutkan cerita. Annalise menerimanya tanpa menganggap istirahat singkat itu akan merusak kesan yang ingin diberikan.
Thomas duduk di seberang, cukup dekat untuk mendengar ketika ia menanyakan sesuatu yang sejak tadi memenuhi pikirannya.
"Apakah semua urusan rumah ini dahulu ditangani sendiri oleh Anda?"
***
Edith menggeleng begitu cepat sampai antingnya bergerak.
"Jika demikian, aku mungkin tidak akan sempat makan. Ada orang yang mengetahui pekerjaannya jauh lebih baik daripada aku. Tugasku memastikan kami memahami apa yang diperlukan dan tidak membuat pekerjaan mereka sia-sia."
Ia menjelaskan tentang keputusan yang memang perlu dibicarakan bersama kepala pelayan atau pengurus rumah, tentang tamu, pengeluaran, serta kebiasaan yang berbeda antara kediaman London dan rumah di tanah milik keluarga.
Annalise mengetahui sebagian dari rumah sendiri. Namun, mendengarnya di rumah Thomas membuat semua itu terasa lebih dekat kepada sebuah kemungkinan yang belum berani diberi nama.
"Tidak setiap hari berisi jamuan," tambah Edith. "Syukurlah. Aku menyukai tamu, tetapi aku juga menyukai saat mereka pulang."
Gresham mengangguk dengan kesungguhan yang membuat putrinya tertawa.
Thomas memperhatikan Annalise. Ia ingin mengatakan bahwa gadis itu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Kalimat tersebut sudah hampir keluar sebelum ia menyadari bahwa semua pertanyaan tadi akan dijawabnya dengan janji yang tidak menjelaskan sesuatu.
Ia memilih diam dan mendengarkan pertanyaan berikutnya.
***
Makan siang berlangsung lebih santai daripada yang ditakutkan Annalise. Hidangannya memang terlalu banyak untuk disebut kecil, dan Thomas mendapat kesenangan tersendiri ketika gadis itu memandangnya seolah membenarkan catatan dalam surat.
Sesudahnya mereka kembali ke ruang duduk. Edith dan Gresham membicarakan kenalan lama, sementara Thomas menunjukkan letak gambar jendela buatannya.
Benda itu disimpan di antara beberapa kertas pribadi, bukan dibingkai secara berlebihan. Namun, Annalise terkejut melihat bahwa lipatannya sudah dirapikan.
"Mama benar-benar memintanya?"
"Ia menertawakannya selama hampir satu menit. Kemudian mengatakan aku harus menyimpannya."
"Nasihat yang bagus. Kelak kau bisa melihat apakah kemampuanmu membaik."
"Aku lebih mengharapkan kemampuan guruku."
Annalise tersenyum, lalu mengeluarkan buku dari tas. Ia memperlihatkan gambar pegangan teko yang baru dicoba. Thomas menanyakan kesulitannya, dan gadis itu mulai menjelaskan sampai lupa bahwa dirinya semula merasa terlalu gugup untuk membawa buku tersebut.
***
Di dekat jendela, cahaya jatuh tepat pada sisi wajah Thomas. Annalise berhenti berbicara di tengah kalimat, mengamati garis pelipis dan sudut rahangnya.
Thomas mengangkat alis.
"Ada tinta di wajahku?"
"Tidak. Aku sedang memikirkan gambar."
"Aku perlu bersikap takut?"
"Jika kau terus bergerak, mungkin."
Ia meminta izin mencoba beberapa garis, bukan sebuah potret yang sudah menjanjikan hasil. Thomas bersedia, tetapi setelah beberapa menit justru mulai bertanya apakah hidungnya menjadi persoalan.
"Seluruh wajahmu menjadi persoalan."
Edith mendengar kalimat itu dan tertawa. Thomas mengirim pandangan pasrah kepada ibunya, membuat Annalise harus memintanya kembali menghadap jendela.
Percobaan tersebut tidak berlangsung lama. Ia hanya memperoleh beberapa garis sebelum merasa tangannya membutuhkan istirahat. Namun, Thomas tidak meminta melihat halaman yang buru-buru ditutupnya.
"Nanti, kalau aku sudah cukup puas," kata Annalise.
"Aku akan menunggu."
***
Saat berpamitan, ia memandang ruang duduk sekali lagi. Ada bagian yang mulai dikenalnya: kursi Edith, meja yang dipindahkan, tempat Thomas menyimpan gambar yang buruk tanpa merasa perlu membuangnya.
Rumah itu tidak lagi terasa seperti bangunan yang hanya mempunyai nama sebuah gelar.
Di dalam kereta, Gresham menanyakan apakah kunjungannya menyenangkan.
Annalise mengangguk, lalu berkata bahwa ia masih ingin mengetahui lebih banyak mengenai kehidupan seorang duchess.
Ibunya tidak langsung tersenyum penuh kemenangan.
"Kau boleh bertanya kepadaku juga."
"Aku tahu. Hanya selama ini aku lebih sering melihat Mama sebagai Mama."
Gresham tertawa lembut dan merapikan tepi sarung tangannya.
"Itu pekerjaan yang paling sering kaurasakan akibatnya."
Annalise menyandarkan punggung. Ia belum mengambil keputusan, tetapi kini pertanyaannya tidak hanya mengenai apakah Thomas dapat membuatnya senang dalam satu sore.
Ia mulai ingin mengetahui hari-hari yang mungkin mereka jalani setelah para tamu pulang.