Tiga hari setelah kunjungan itu, hujan membatalkan kemungkinan berjalan sebelum Thomas sempat meninggalkan rumah.
Kali ini Annalise yang mengirim pesan lebih dahulu. Ia tidak ingin menghabiskan sore di kereta hanya untuk menatap taman basah. Namun, jika Thomas masih mempunyai waktu, keluarga Berrow akan senang menerimanya untuk minum teh.
Thomas membaca bagian terakhir dua kali.
Edith memandangnya dari seberang meja makan.
"Hujan ternyata membuatmu gembira."
"Aku selalu menghargai perubahan cuaca yang berguna."
"Kau dahulu mengeluh jika sepatumu basah."
"Aku akan berusaha tidak melibatkan sepatuku dalam percakapan."
Edith tertawa dan kembali kepada suratnya. Thomas menyelesaikan satu urusan yang sudah ditentukan untuk pagi itu, kemudian menutup meja kerja sebelum pekerjaan lain mulai terasa wajib diselesaikan.
Kereta berangkat dengan cukup waktu.
Tidak ada petualangan dalam keberhasilan tersebut. Matthew bahkan tidak perlu mengingatkannya.
Thomas menemukan bahwa dirinya menyukai keadaan itu lebih daripada yang pernah diduga.
***
Ruang duduk Berrow lebih ramai daripada perkiraannya. Henrieta sedang berkunjung, Arthur membawa surat untuk ayahnya, dan Richard baru saja menemukan gambar sepatu yang membuatnya merasa perlu mengajukan keberatan.
"Mengapa yang kaupilih justru sepatu ini?"
Annalise menerima kembali kertasnya. "Karena ia diam lebih lama daripada dirimu."
"Bentuknya tampak sombong."
"Kemiripan yang luar biasa," ujar Arthur.
Thomas masuk tepat ketika tawa memenuhi ruangan. Ia menyapa keluarga tersebut, lalu duduk di kursi yang ditawarkan tanpa membuat Annalise perlu memisahkan diri dari percakapan.
Henrieta memperlihatkan hasil latihan barunya. Thomas mengakui dirinya tidak cukup pandai memberikan penilaian, tetapi dapat membedakan cangkir itu dari teko.
"Kemajuan besar," jawab Henrieta dengan sungguh-sungguh.
Annalise tertawa dan menjelaskan lelucon tersebut. Sore yang semula direncanakan untuk berjalan berubah menjadi sesuatu yang tidak kalah menyenangkan: beberapa orang di sekitar meja, hujan pada jendela, dan sebuah buku gambar yang berpindah tangan dengan izin pemiliknya.
***
Richard dan Arthur kemudian dipanggil ayah mereka untuk membicarakan surat yang dibawa. Henrieta menemani Gresham memeriksa kain di meja sebelah, meninggalkan Annalise dan Thomas dalam percakapan yang masih dapat didengar jika suara mereka dinaikkan.
"Kau menggambar lebih banyak," kata Thomas.
"Aku menghapus lebih banyak juga."
"Apakah itu bagian pelajarannya?"
"Rupanya. Richard berpendapat sepatunya tidak memerlukan perbaikan."
Thomas melihat gambar itu lagi. Ada garis yang lebih yakin daripada gambar kendi yang diperlihatkan dahulu. Ia mengatakan bagian yang disukainya tanpa mencoba terdengar seperti seorang pengajar.
Annalise menerima pujian tersebut dengan lebih mudah kali ini.
Ia kemudian menanyakan apakah Matthew mendapat surat lain dari Joanna. Thomas menjawab belum, tetapi sepupunya sudah mengirim balasan dan tampak mempunyai cukup banyak hal untuk diceritakan.
"Aku juga akan menulis kepadanya," kata Annalise. "Dia perlu mengetahui bahwa Mrs. Hudson sudah mempunyai saingan sebagai model yang sulit."
"Richard?"
"Sepatunya. Richard jauh di luar kemampuanku."
***
Hujan berhenti menjelang akhir sore. Cahaya yang muncul membuat jendela taman tampak lebih terang, dan Gresham meminta pelayan membuka pintu agar ruangan memperoleh udara segar.
Annalise berdiri untuk melihat tanaman yang basah. Ada bunga yang tertunduk oleh air, serta genangan kecil di dekat jalan setapak.
Thomas mendekat setelah memastikan gadis itu tidak keberatan ditemani. Mereka tetap berada di ambang pintu, di bawah bagian atap yang melindungi teras. Dari tempat itu, meja tempat Gresham dan Henrieta duduk masih terlihat.
"Setidaknya kita berhasil melihat taman," ujar Annalise.
"Undanganku akhirnya terlaksana sebagian."
"Jangan meminta penghargaan terlalu cepat."
Thomas tersenyum. Ia menyukai cara gadis itu berdiri santai di sampingnya, tidak lagi tampak selalu menunggu alasan untuk mundur atau melawan.
Annalise melihat air menetes dari ujung daun. Kemudian ia berkata bahwa dirinya telah memikirkan percakapan mereka sebelumnya.
Thomas menoleh, segera lebih serius.
***
"Aku masih bisa merasa kesal kepadamu," katanya.
"Aku sudah mempunyai cukup banyak bukti."
"Aku belum selesai."
Thomas mengangkat tangan sedikit sebagai tanda menyerah.
Annalise memandangnya. Ada keberanian yang terasa berbeda dari keberanian menantang seorang duke untuk menyediakan cincin. Kali ini ia tidak mempunyai kemarahan untuk menyembunyikan rasa takut ditertawakan.
"Tetapi aku tidak lagi menemuimu hanya untuk mengetahui apakah aku bisa berhenti kesal. Aku ingin menemuimu karena aku menyukaimu."
Thomas diam.
Gadis itu hampir menambahkan penjelasan panjang tentang betapa kalimat tersebut tidak berarti segala hal sudah diputuskan. Namun, ia menahan diri. Thomas sudah mengetahui bahwa ia belum menjanjikan pernikahan.
Untuk sekali ini, ia ingin perkataan yang menyenangkan dibiarkan menjadi sesuatu yang menyenangkan.
"Aku senang mendengarnya," jawab pria itu akhirnya.
"Kau tampak seperti sedang kehilangan kemampuan berbicara."
"Barangkali aku perlu memberimu penghargaan untuk itu."
Tawa kecil Annalise bergetar pada bagian akhir. Thomas memperhatikannya, dan senyumnya perlahan melembut.
***
"Aku juga menyukaimu," katanya. "Bukan hanya ketika kau membuat orang lain kehilangan jawaban."
"Sayang sekali. Itu salah satu bakat terbaikku."
"Aku menyukai saat kau lupa sedang diperhatikan karena terlalu sibuk menjelaskan sesuatu. Dan saat kau tertawa sebelum berhasil memutuskan apakah ingin tetap marah."
Annalise menunduk sebentar. Pujian itu lebih sulit diterima dengan tenang daripada komentar mengenai gaun atau warna rambut.
Ketika mengangkat wajah, ia mendapati Thomas masih memandangnya.
Jarak di antara mereka tidak berubah, tetapi terasa jauh lebih kecil.
"Annalise," katanya pelan. "Bolehkah aku menciummu?"
Gadis itu mendengar suara halaman dibalik dari dalam ruangan. Kehadiran keluarganya masih nyata, begitu pula kesempatan untuk menjawab tidak dan kembali kepada teh.
Ia tidak ingin kembali kepada teh.
"Boleh," jawabnya.
Thomas mendekat perlahan. Ciuman itu singkat dan lembut, cukup untuk membuat Annalise lupa pada bunga yang tertunduk, sepatu Richard, bahkan kalimat cerdas yang mungkin seharusnya diucapkan sesudahnya.
***
Ketika Thomas menjauh, gadis itu tetap diam beberapa saat. Wajahnya terasa hangat meskipun udara sesudah hujan cukup dingin.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Annalise mengangguk, lalu tersenyum sebelum dirinya sempat menyembunyikannya.
"Aku sedang mencoba mengingat apa yang tadi ingin kukatakan."
Thomas tertawa pelan. Ia tidak mengambil keheningan itu sebagai izin untuk mendekat lagi. Tangannya hanya menerima jemari Annalise ketika gadis tersebut mengulurkannya sebentar.
Dari dalam, Henrieta menanyakan apakah mereka ingin teh ditambah.
Nada suaranya terdengar sangat biasa.
Terlalu biasa.
Annalise menoleh dengan cepat, sementara Thomas menunduk untuk menyembunyikan senyum. Mereka kembali ke ruang duduk, dan tidak ada seorang pun mengumumkan apa yang mungkin baru dilihat.
Gresham memberikan cangkir kepada putrinya. Tangannya berhenti sebentar di atas tangan Annalise, lalu ditarik kembali tanpa pertanyaan.
Gadis itu bersyukur, meskipun tetap merasa tidak mampu memandang Henrieta terlalu lama.
***
Thomas berpamitan ketika sore mulai berakhir. Tidak ada lamaran baru yang mengikuti ciuman tersebut. Ia hanya mengatakan akan menulis, dan Annalise menjawab bahwa ia ingin menerima suratnya.
Sesudah pintu tertutup, Henrieta mengambil gambar sepatu dari meja.
"Kurasa Richard benar tentang satu hal."
Annalise menatap kakaknya dengan waspada.
"Sepatunya memang tampak sombong."
Tawa gadis itu keluar begitu lega hingga Henrieta ikut tertawa. Gresham menggeleng sambil memanggil pelayan untuk membereskan teh.
Malam itu Annalise membuka halaman kosong yang disiapkan sesudah kunjungan terakhir Thomas. Ia mencoba menggambar bentuk wajah, lalu berhenti karena garisnya belum sesuai.
Tidak apa-apa.
Ia kini mempunyai alasan lain untuk memperhatikan pria itu ketika mereka bertemu lagi.
Di rumah Wellington, Thomas meletakkan sarung tangan dan duduk beberapa saat tanpa membuka satu pun berkas.
Untuk pertama kalinya sepanjang hari, ia tidak sedang merencanakan sesuatu.
Ia hanya mengingat sebuah jawaban yang diberikan tanpa dipaksa, dan tersenyum.