Thomas, wanita adalah makhluk yang berbahaya. Dia bisa membuat kita melupakan segala hal di dunia dan hanya memikirkan dirinya untuk waktu yang tidak terbatas. Karena itulah, kau harus selalu berhati-hati.
Duke of Gordon ke-X.
***
Mata Isabel seperti ingin keluar ketika siang itu, ia membuka pintu rumahnya dan melihat dua orang yang dikenalnya –yang entah bagaimana bisa bertemu– sedang bergenggaman tangan dengan erat. Satu pikiran yang langsung terbesit dalam otak yang penuh dengan dramanya adalah bahwa pada akhirnya, salah satu gadis kesayangannya telah menemukan tambatan hatinya. Dan, oh! Siapa yang akan menolak jika pria itu adalah seorang duke seperti Thomas!
Mereka memang sangat serasi. Apalagi dengan latar keluarga bangsawan yang mengalir di nadi mereka dan reputasi tanpa cela yang sama. Oh! Betapa berita ini akan menggembirakan seluruh lapisan masyarakat Inggris. Tentu saja mereka menyayangi duke muda yang tampan dan pemberani itu. Well, siapa yang tidak?
Walaupun pertunangannya dengan Lady Katherine Wood gagal setahun yang lalu dan sempat menimbulkan gosip bahwa sang duke memiliki orientasi yang menyimpang. Namun mata jeli Isabel tentu dengan mudah menilai kebenaran berita itu. Tentu saja, tidak ada satu inci pun bagian tubuh sang duke muda yang menggambarkan bahwa dirinya penyuka sesama jenis. Dan kini, di depannya, berdiri dirinya dengan Lady Annalise Collins! Ya ampun...
Isabel segera mengingat-ngingat kapan ia mendapatkan undangan minum teh dengan para sahabat atau kerabatnya. Ya Tuhan, dirinya benar-benar tidak sabar untuk menyebarkan kabar ini!
"Apa dokter Ruthbone ada?" tanya Annalise langsung. Ia tidak memedulikan wajah Isabel yang terlihat puas dan bangga alih-alih menerobos kediaman keluarga Albern seperti rumahnya sendiri.
Thomas yang masih diseret oleh Annalise hanya mengangkat sebelah alisnya. Menunggu Isabel yang cerewet dan penuh drama bersuara.
"Your-"
Thomas memberikan tatapan penuh peringatan kepada Isabel. Tatapan yang sering kali diberikan Thomas kepada pelayan maupun bawahannya agar mereka diam. Tatapan yang penuh dengan kemutlakan dan kearoganan seorang duke yang berkuasa.
"Isabel, aku harus segera bertemu dengan Ruthbone!" pekik Annalise frustrasi. Ia sudah mengedarkan tatapannya menyapu sekeliling. Menyadari bahwa pada jam seperti ini, Ruthbone bisa ada di mana saja. Akan lebih mudah jika saja Isabel tidak terlalu lama terdiam karena takjub karena barangkali, terlalu terpesona kepada pria yang ia seret-seret ke mari.
Annalise tidak akan berbohong bahwa pria yang ia gandeng ke sana ke mari benar-benar tampan dan memiliki kharisma seperti ayahnya. Tatapannya juga sangat tajam dan jika saja Annalise tidak terbiasa ditatap seperti itu oleh ayah dan saudara laki-lakinya, ia pasti akan ketakutan dan memilih tidak pernah berhubungan dengan Thomas.
Seakan menyadari sesuatu, Annalise lalu berhenti bergerak. Dengan perlahan, oh sangat perlahan, ia menunduk ke bawah. Menemukan tangan mereka yang bertaut dengan erat. Kemudian, seolah dirinya baru saja terkena serangan dari kilat bertenaga ribuat mega watt, ia segera melepaskannya. Wajahnya langsung memanas dan ia bisa membayangkan bahwa dirinya sudah serupa dengan tomat.
Ya Tuhan! Apa yang dia lakukan!
Pantas saja Isabel melihatnya dengan puas dan bangga. Ia harus berbicara dengan Isabel setelah ini dan menjelaskan dengan sebaik-sebaiknya bahwa pria yang sudah ia seret seharian ini hanyalah kenalan yang menolongnya dan terluka karenanya. Atau jika tidak...
Annalise mengerang dalam hati. Mengutuki kebodohannya karena Isabel yang baik hati ini adalah salah satu penggosip yang luar biasa di kota Bath. Ya Tuhan.
Jika ibunya tahu mengenai gosip itu, ibunya akan langsung datang kemari. Memaksanya mengenalkan pria itu kepadanya dan ia yakin, ibunya yang memiliki ambisi untuk segera menikahkannya akan dengan senang hati membantu persiapan agar lonceng pernikahan untuknya segera berbunyi.
“Ya Tuhan! Bagaimana jika pria itu sudah menikah?” Pikirnya cepat.
Dengan cepat, Annalise kembali meraih tangan kiri Thomas. Melihat jari manisnya dan tidak menemukan cincin apapun di sana. Itu berarti pria yang ia seret bukanlah suami orang lain, atau bahkan tunangan orang lain.
Apa itu berarti ia mau dinikahkan dengan pria itu?
Pikiran menakutkan itu lalu mendera Annalise. Ia menggeleng dengan kuat. Membuat Thomas yang sedari tadi mengamati tingkah aneh namun ajaibnya, terasa menarik untuk ia lihat.
Sementara dirinya, sudah menegaskan kepada Isabel agar mengunci bibirnya dengan rapat melalui sorot matanya. Yang dengan –untungnya, Ya Tuhan– mudah dipatuhi oleh Isabel. Jadi, sekarang hanyalah Ruthbone yang perlu ia beri pengertian sebelum ia membuka mulut besarnya.
Tapi pertama-tama...
"Apa yang ingin kau lakukan dengan tanganku, Miss Annalise?" tanya Thomas dengan binar mata menggoda. Ia melirik ke arah Isabel yang sedang mengelus dadanya. Sepertinya ia terkejut dengan apa yang Thomas ucapkan ketika memanggil nama lady muda di depannya. Jelas-jelas mereka saling mengenal dan itu akan sangat mudah untuk mencari tahu informasi tentang lady di depannya.
Annalise mendongak. Terkejut dengan suara bariton lembut yang Thomas keluarkan. Ia dengan cepat melepas tangannya sembari matanya berusaha meneliti benda di dalam ruangan itu. Menolak menatap langsung pada iris biru Thomas.
"Aku, aku-" jawabnya bingung. Pikirannya masih mengembara dan tidak fokus atas apa yang baru saja ia lakukan. Seliar-liarnya dirinya, Annalise sungguh tahu batasannya. Biasanya, ia tidak akan bersikap sok akrab seperti ini kecuali dengan saudara atau sepupunya. Namun dengan Thomas... Annalise merasakan sesuatu yang berbeda.
Apalagi mengetahui bahwa pria itu telah menyelamatkan nyawanya dengan membiarkan tubuh Annalise terjatuh di atas tubuhnya. Dan sekilas tadi, ia bisa merasakan bahwa pria itu sengaja terjatuh dalam keadaan seperti itu semata-mata untuk melindunginya dari kerikil yang tersebar di sekitar pohon oak itu. Dan kemudian ada luka...
"Lukamu!" pekik Annalise lagi. Ia benar-benar sungguh bodoh. Bagaimana ia terus menerus melupakan tujuan utamanya dan melakukan hal-hal konyol yang sama sekali tidak membantu dalam penyembuhan luka Thomas.
"Isabel, tolong jawab aku. Di mana dokter Ruthbone?" tanya Annalise sekali lagi dengan penekanan di setiap patah katanya.
Thomas sekali lagi mengangkat sebelah alisnya. Mengamati dengan seksama bagaimana Isabel kemudian dengan patuh menjawabnya.
"Dia sedang melakukan kunjungan bersama Hugo. Aku tidak tahu kapan dia akan pulang."
Annalise mengerang. Berjalan bolak balik di depan Thomas sebelum akhirnya ia berhenti. Menatap sebuah kamar rawat yang sudah ia hapal dan menatap bergantian antara Isabel dan Thomas. Ia lalu kembali menyeret Thomas seraya meminta Isabel mengikuti mereka.
"Buka bajumu!"