Thomas, jangan menjanjikan hari tanpa kesalahan. Berikan seseorang alasan untuk mempercayai apa yang kaulakukan sesudahnya.
Duke of Gordon ke-X.
***
Thomas tiba beberapa menit sebelum waktu yang disepakati.
Annalise mengetahui hal itu karena Wilda sedang merapikan meja ketika pelayan menyampaikan kedatangannya. Ia hampir tersenyum, kemudian mengingatkan diri sendiri bahwa datang tepat waktu bukan pertunjukan luar biasa yang perlu diberi tepuk tangan.
Namun, dirinya tetap senang.
Thomas menunggu di ruang depan sampai Annalise siap menerima. Ia membawa buku yang dipinjam dari George untuk dikembalikan melalui keluarga Berrow sesuai permintaan sepupunya, bukan hadiah besar yang mungkin membuat percakapan terasa lebih sulit.
Gresham duduk bersama mereka beberapa saat sebelum berpindah ke meja surat yang masih berada dalam ruangan.
"Bagaimana cangkirmu?" tanya Thomas.
"Masih miring. Tetapi Mrs. Bell mengatakan bayangannya membaik."
"Aku merasa harus lebih berhati-hati menerima teh sekarang. Kau mungkin sedang menilai bentuk wadahnya."
Annalise tertawa pendek. Kemudian ia meletakkan tangan di pangkuan dan menyampaikan hal yang sejak kemarin ingin dikatakannya.
***
"Aku tidak mengharapkan kau meninggalkan semua pekerjaan untuk datang kepadaku."
Thomas mengangguk. Ia membiarkannya menyelesaikan penjelasan tanpa menyela dengan permintaan maaf yang sudah disampaikan.
Annalise mengatakan bahwa dirinya dapat menerima perubahan rencana jika diberi tahu. Ia juga mengetahui beberapa keadaan mungkin benar-benar mendesak. Yang membuatnya kecewa adalah mengetahui Thomas terus memilih satu pekerjaan lagi sementara dirinya tidak mempunyai kabar untuk menentukan sore sendiri.
"Aku tidak selalu bisa mengganti waktu yang sudah kusiapkan," katanya. "Kadang aku perlu beristirahat sebelum datang ke suatu tempat. Kadang setelahnya. Itu bagian hidupku, meskipun aku tidak ingin membicarakannya setiap saat."
"Aku melihat akibatnya setelah terlambat," jawab Thomas. "Aku seharusnya memikirkannya sebelum itu."
Ia menceritakan kebiasaannya menyelesaikan persoalan segera karena selama perjalanan pekerjaan yang ditinggalkan sering berarti kesulitan lebih besar pada hari berikutnya. Kebiasaan itu berguna dalam beberapa keadaan, tetapi ia membawanya pulang tanpa membedakan mana yang benar-benar tidak dapat menunggu.
Annalise mendengarkan. Penjelasan tersebut membantu, meskipun tidak mengubah apa yang terjadi.
***
"Aku juga tidak ingin mengubah setiap pertemuan menjadi pemeriksaan," katanya. "Aku tidak ingin duduk menghitung kesalahanmu."
Thomas tersenyum tipis. "Daftarnya bisa menghabiskan beberapa buku."
"Jangan membantuku memperpanjangnya."
"Aku akan berusaha."
Keduanya terdiam sebentar, kemudian Annalise mengatakan bahwa ia menerima permintaan maafnya. Ia masih menginginkan waktu bersama, asalkan Thomas tidak menganggap keinginannya akan selalu menyediakan tempat kosong dalam hari-harinya.
Thomas menyetujuinya. Mereka tidak menyusun aturan panjang. Untuk kunjungan berikutnya, ia akan memilih waktu yang sungguh dapat dijaga dan mengirim kabar segera setelah mengetahui rencana harus berubah.
Annalise juga akan mengatakan jika tubuhnya tidak memungkinkan, tanpa memaksakan diri demi membalas kesungguhannya.
"Itu bukan pembatalan yang perlu kauanggap sebagai penolakan terhadap dirimu," tambahnya.
Thomas mengangkat wajah. Ia belum memikirkan bahwa dirinya pun dapat salah membaca perubahan tersebut.
"Baiklah," katanya.
Kesepakatan kecil itu terasa lebih berguna daripada seluruh janji manis yang semula ingin disiapkannya.
***
Sesudah percakapan yang sulit selesai, Annalise memperlihatkan gambar cangkir. Thomas memeriksanya dengan cukup serius sampai gadis itu bertanya apakah ia sedang menyiapkan penghinaan.
"Aku mencoba menemukan bagian yang kaukatakan miring."
"Yang ini."
Ia menunjuk. Thomas mengangguk, lalu bertanya apakah ia menikmati belajar bersama orang lain.
Annalise mulai bercerita. Tentang kertas Henrieta, tentang gambar kuda, dan tentang rasa lega mengetahui bahwa orang yang pandai pun mempunyai halaman yang buruk.
Thomas mendengarkan dengan senang. Ia hampir menawarkan membeli gambar kuda yang disukai gadis tersebut, lalu menyadari bahwa Annalise sedang membicarakan kegembiraan belajar melihat, bukan kebutuhan memiliki segala benda yang menarik perhatiannya.
"Aku ingin datang lagi," katanya. "Mungkin tidak setiap pertemuan, tetapi cukup sering untuk mengetahui apakah cangkirku akhirnya dapat berdiri tegak."
"Kalau berhasil, aku akan membawa gambar jendelaku untuk diselamatkan."
"Aku tidak menjanjikan keajaiban."
Gresham tertawa kecil dari meja surat. Keduanya menoleh, lalu ikut tersenyum.
Annalise menutup buku sebelum terlalu sibuk menjelaskan setiap halaman. Ia menawarkan teh lagi, dan Thomas menggeser cangkir agar jauh dari kertas. Kehati-hatian kecil itu membuatnya ingin segera memperlihatkan gambar berikutnya, meskipun ia menahannya untuk kunjungan lain.
***
Pembicaraan beralih ketika Annalise menanyakan apakah Thomas sudah mempunyai waktu untuk sesuatu selain pekerjaan sejak pulang.
Ia hampir menjawab dengan gurauan. Namun, gambar di meja membuatnya merasa gadis itu sudah memperlihatkan bagian hidup yang tidak digunakan untuk mengesankan siapa pun.
Thomas mengatakan bahwa ia belum terbiasa tidak mengetahui kapan perjalanan berikutnya akan dimulai.
"Kau justru tidak menyukai menunggu?"
"Aku menyukai berada di sini. Kadang aku tetap merasa harus siap meninggalkannya."
Annalise tidak segera menjawab.
Thomas memandang jendela. Ia menceritakan secukupnya tentang kepulangan tanpa ayahnya dahulu, dan bagaimana urusan yang terus dikerjakan lebih mudah dihadapi daripada rumah yang terasa kehilangan suara.
Tidak ada rincian tugas yang dibuka. Hanya ingatan seorang putra yang terlalu cepat harus menjadi duke.
"Aku tidak selalu tahu cara berhenti tanpa merasa sedang mengabaikan sesuatu," katanya.
Kalimat itu keluar lebih pelan daripada yang dimaksudkannya.
***
Annalise meletakkan pensil yang sejak tadi diputar di antara jari.
Ia tidak mengatakan memahami seluruh kehilangan itu. Ayahnya masih dapat ditemui di ruang kerja, dan ia tidak ingin memakai kedekatan mereka untuk berpura-pura mengetahui sesuatu yang belum dialami.
"Aku senang kau menceritakannya," katanya.
Thomas mengangguk. Ada rasa ingin segera meringankan suasana, tetapi Annalise tidak tampak takut kepada keheningan yang datang.
Setelah beberapa saat, ia menanyakan sesuatu yang sederhana tentang Benyamin: apakah ayahnya juga menggambar jendela dengan buruk.
Thomas tertawa, terkejut oleh pertanyaan tersebut.
"Aku tidak pernah melihatnya mencoba. Ia jauh lebih pandai memberitahuku apa yang salah dengan pekerjaanku."
"Kalau begitu, setidaknya satu kebiasaanmu dapat dijelaskan."
Thomas memandangnya dengan pura-pura tersinggung, lalu menceritakan sebuah sore ketika dirinya bersikeras peta buatannya lebih tepat daripada milik ayahnya. Kesalahannya baru diketahui setelah mereka berputar kembali ke tempat semula.
Annalise tertawa, dan untuk pertama kalinya sore itu nama Benyamin hadir tanpa hanya membawa hari kematiannya.
***
Kunjungan berakhir pada waktu yang tidak membuat Annalise terlalu lelah. Thomas mengembalikan gambar ke dalam buku dan bertanya apakah dirinya boleh menulis lagi mengenai jalan yang belum sempat mereka tempuh.
"Boleh," jawabnya. "Setelah aku mengetahui jadwal pertemuan berikutnya."
Ia mengangguk, lalu berdiri. Tidak ada kebutuhan membuat rencana baru sebelum keluar dari ruangan agar dirinya merasa sudah dimaafkan.
Di dekat pintu, Annalise memanggil namanya.
"Aku senang kau datang hari ini."
Thomas menoleh. "Aku juga."
Jawaban itu sederhana, tetapi kali ini ia pulang tanpa merasa harus menyiapkan sesuatu yang lebih mengesankan.
Annalise kembali kepada buku gambarnya. Di antara cangkir dan garis latihan, ia menyisipkan selembar kertas kosong.
Suatu hari ia mungkin akan mencoba menggambar wajah Thomas.
Untuk sekarang, ia masih belajar memperhatikan bagian-bagian yang tidak segera terlihat ketika pria itu memasuki ruangan.