Benda pertama yang diminta untuk digambar Annalise adalah sebuah cangkir putih.
Ia memandangnya cukup lama, lalu hampir tertawa.
Setelah seluruh keberanian yang dikumpulkan sejak pagi, setelah mempertimbangkan apakah hasil pekerjaannya akan mempermalukan Henrieta, ternyata dirinya kembali berhadapan dengan benda yang paling sering dilihat di ruang duduk.
Pengajar yang dipanggil Mrs. Bell itu meletakkan cangkir dekat jendela. Dua wanita lain sudah duduk dengan kertas masing-masing. Tidak ada yang tampak ingin menghakimi pendatang baru, meskipun Annalise tetap merasakan ujung jarinya dingin.
"Kita mulai dari bentuk yang sederhana," ujar Mrs. Bell. "Jangan terburu-buru menggambar pegangannya sebelum badan cangkirnya mempunyai tempat."
Henrieta duduk di samping adiknya dan mengambil pensil.
"Aku belum datang selama beberapa waktu," bisiknya. "Kau boleh menertawakan pekerjaanku nanti."
Annalise tersenyum kecil, lalu menarik garis pertama.
Garis itu langsung terlalu panjang.
Oh dear. Cangkir bahkan belum sempat melakukan sesuatu yang menyulitkan.
***
Mrs. Bell tidak memperbaiki kertasnya dengan mengambil alih pensil. Ia menunjuk bagian yang perlu dibandingkan, meminta Annalise melihat benda aslinya lagi, lalu meninggalkannya mencoba.
Itu lebih sukar daripada menerima sebuah contoh yang sudah benar.
Annalise beberapa kali ingin mengatakan bahwa dirinya tidak pandai. Kalimat tersebut terasa seperti perlindungan yang dapat disiapkan sebelum seseorang menemukan kesalahannya.
Namun, wanita di seberangnya ternyata juga membuat pegangan terlalu besar. Henrieta menghapus satu sisi cangkir sampai kertasnya tampak lebih lelah daripada pemiliknya.
Tidak ada yang mengumumkan kegagalan.
Mereka hanya mencoba lagi.
Menjelang pertengahan pertemuan, Annalise mulai melupakan surat Thomas yang diterima pagi itu. Pria tersebut meminta maaf sekali lagi dengan singkat dan mengatakan akan menunggu kabar mengenai waktu kunjungan berikutnya.
Ia belum menjawab.
Untuk saat ini, cangkir yang terlalu lebar lebih memerlukan perhatian daripada seorang duke yang sudah mengetahui kesalahannya.
***
Ketika mereka berhenti untuk minum, Annalise berdiri perlahan dan meregangkan jari. Mrs. Bell menanyakan apakah kursinya cukup nyaman. Ia menjawab bahwa punggungnya mulai lelah, lalu meminta bantal yang terlihat di kursi dekat pintu.
Permintaan itu dipenuhi tanpa percakapan panjang mengenai penyakit.
Annalise merasa lega.
Henrieta mengajaknya melihat beberapa gambar yang diletakkan tuan rumah di atas meja. Ada pemandangan, lipatan kain, dan kepala seekor kuda yang membuat Annalise ingin memeriksa hidungnya dari dekat.
"Aku tidak tahu bagaimana orang membuatnya tampak hidup," katanya.
"Dengan banyak gambar yang tidak mereka perlihatkan kepada tamu," jawab Mrs. Bell dari belakang.
Annalise menoleh. Wanita itu tersenyum, kemudian menunjukkan lembar percobaan yang disisipkan di bawah gambar lain. Garis-garisnya saling menimpa, beberapa bagian dicoret, dan hasilnya jauh dari anggun.
Gadis itu menatapnya dengan rasa ingin tahu yang menggantikan sebagian ketakutan.
Barangkali halaman buruk memang tidak harus disembunyikan seolah merupakan aib keluarga.
Salah seorang peserta menanyakan apakah gambar percobaan sebaiknya dibuang setelah hasil yang lebih baik selesai. Mrs. Bell mengatakan ia biasa menyimpan beberapa untuk mengetahui bagian mana yang terus menyulitkannya.
Annalise teringat burung yang ditertawakan Richard. Ia belum berniat memperlihatkannya di pertemuan itu, tetapi kini mempunyai keinginan mencoba menggambarnya lagi. Mungkin kali berikutnya ia akan memperhatikan tubuh burung lebih lama sebelum memutuskan bahwa semua sayap dapat dibuat dari dua garis yang terburu-buru.
***
Pada akhir pertemuan, cangkir Annalise masih sedikit miring. Namun, bayangan di bawahnya membuat benda itu tampak berdiri di atas meja, bukan melayang seperti percobaan pertamanya.
Mrs. Bell menanyakan apakah ia ingin datang lagi.
"Aku ingin mencoba," jawab Annalise. "Tetapi mungkin tidak dapat setiap kali."
"Kalau begitu, datanglah ketika memungkinkan. Bawa hasil latihanmu jika ingin dibahas."
Tidak ada tuntutan agar ia membuktikan kesungguhan dengan mengabaikan keadaan tubuhnya.
Di kereta, Henrieta memeriksa gambarnya sendiri dan mendesah.
"Cangkirku tampak ingin menjadi teko."
Annalise tertawa, lalu menunjukkan pekerjaannya. Mereka membandingkan kesalahan dengan kesenangan yang tidak terduga. Gadis itu mulai membayangkan benda-benda yang dapat digambar di rumah: sarung tangan, buku terbuka, mungkin sepatu Richard yang selalu diletakkan dengan sudut menjengkelkan.
Ia belum menjadi seniman yang pandai.
Tetapi ia ingin kembali mengambil pensil besok, dan untuk hari itu keinginan tersebut sudah cukup.
***
Henrieta menanyakan Thomas ketika perjalanan hampir berakhir. Annalise sudah menceritakan keterlambatannya sebelum berangkat, tetapi tidak membahasnya lagi selama pertemuan.
"Kau masih kesal?"
"Sedikit."
"Kau ingin menemuinya?"
Annalise memandang gambar dalam pangkuan.
"Ya. Itu bagian yang membuatku kesal kepada diri sendiri."
Henrieta menggeleng pelan. "Kau boleh kecewa dan tetap ingin berbicara dengannya. Tidak ada yang mengharuskanmu memilih satu perasaan untuk dipakai sepanjang hari."
Gadis itu tersenyum. Ia sudah pernah mendengar sesuatu yang serupa dari ibunya mengenai Hugo. Rupanya pengetahuan yang berguna tetap perlu dipelajari lagi ketika orang yang dipikirkan berbeda.
Ia tidak ingin menunda jawaban hanya untuk membuat Thomas merasakan penantian yang sama. Namun, dirinya juga belum ingin berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Aku akan mengundangnya datang setelah hari istirahatku," katanya akhirnya.
Henrieta mengangguk dan membicarakan hal lain.
Annalise bersyukur kakaknya tidak tampak menganggap keputusan tersebut sebagai kemenangan bagi siapa pun.
***
Sementara itu, Matthew sedang membaca bagian terakhir surat Joanna untuk kedua kalinya.
Adiknya menceritakan perjalanan rombongan, seorang pemain yang mengeluh tempat tidur terlalu pendek, serta Mrs. Hudson yang memilih tidur di atas kain yang sedang dibutuhkan orang lain. Tidak ada permintaan diselamatkan. Tidak ada kabar yang mengharuskannya segera mencari kuda.
Hanya kehidupan yang ingin dibagikan.
Thomas masuk setelah mengetuk pintu ruang kerja kecil yang sedang dipakai sepupunya. Ia membawa satu surat balasan mengenai berkas perjalanan, dengan pertanyaan yang dapat dijawab tanpa mengubah rencana hari itu.
"Joanna baik-baik saja?"
"Ya. Ia mengatakan kucingnya lebih dihormati daripada beberapa anggota rombongan."
"Aku tidak terkejut."
Matthew menaruh surat pribadi di sisi meja, kemudian menjelaskan bagian laporan yang ditanyakan. Thomas mendengarkan, mencatat jawabannya, dan tidak meminta dirinya segera menulis seluruh balasan.
"Selesaikan suratmu dahulu. Kita bisa mengirim yang ini besok pagi."
Matthew mengangguk. Kali ini ia tidak merasa perlu mencari maksud tersembunyi di balik kalimat tersebut.
***
Annalise menulis kepada Thomas setelah beristirahat. Ia mengatakan pertemuan menggambar menyenangkan, hasil cangkirnya masih membutuhkan bantuan, dan dirinya dapat menerima kunjungan dua hari lagi pada sore yang ditentukan.
Ia menambahkan bahwa ia ingin membicarakan rencana mereka, bukan hanya buku yang ditinggalkan.
Kalimat itu dibiarkannya tetap ada meskipun terdengar kurang ramah dibandingkan bagian lainnya.
Thomas menerima surat menjelang malam. Ia membacanya di ruang duduk, dan Edith segera mengetahui bahwa kabar tersebut bukan mengenai perbaikan atap.
"Kau akan datang?"
"Ya."
"Tepat waktu?"
Thomas menatap ibunya.
Edith mengangkat alis, sama sekali tidak menyesal.
Ia akhirnya tersenyum kecil. "Itu rencananya."
Surat balasannya tidak menjanjikan bahwa dirinya tak akan pernah mengecewakan Annalise lagi. Ia hanya menyatakan waktu yang disebutkan sesuai dan dirinya ingin mendengarkan.
Lalu Thomas memindahkan sebuah pertemuan lain dari sore itu, sebelum ada pekerjaan yang dapat dijadikannya alasan.