Thomas, jangan mencoba mengalahkan seluruh keluarga di ruang duduk. Kau datang untuk berkunjung, bukan mengambil alih rumah.
Duke of Gordon ke-X.
***
Richard benar-benar berada di rumah ketika Thomas datang.
Lebih buruk lagi, Arthur juga ada.
Annalise melihat keduanya duduk dengan begitu tenang sampai ia mencurigai mereka telah berlatih sebelum dirinya turun. Ayahnya berada di dekat rak buku, membaca surat, sementara Gresham memberi petunjuk mengenai teh seolah ruang duduk tersebut tidak sedang dipenuhi niat yang meragukan.
Thomas menyapa setiap orang dengan sopan. Ia tidak membawa bunga sebesar semak atau hadiah yang memerlukan penjelasan. Hanya sebuah gulungan peta yang diserahkan kepada pelayan bersama sarung tangannya sampai Annalise menanyakan benda itu.
"Peta yang pernah kuceritakan. Jika kau masih ingin melihatnya."
"Tentu."
Richard memandang adiknya, lalu Thomas.
"Kau mulai tertarik pada perjalanan, Elise?"
"Aku selalu tertarik. Hanya biasanya seseorang segera menyuruhku duduk."
Arthur menyembunyikan senyum di balik cangkir. Duke of Berrow tidak mengangkat wajah, tetapi halaman suratnya berhenti bergerak.
Thomas mulai memahami bahwa dirinya bukan satu-satunya orang yang pernah menerima teguran di rumah tersebut.
***
Mereka membuka peta di meja setelah teh dipindahkan. Annalise memperhatikan nama-nama tempat, sementara Thomas menunjukkan perjalanan yang dapat dibicarakan tanpa menyentuh urusan tugas.
Richard menanyakan sebuah jalan yang juga pernah dilaluinya. Dalam beberapa menit, keduanya sudah berbeda pendapat mengenai penginapan, jarak, serta apakah makanan buruk dapat dimaafkan jika kudanya dirawat dengan baik.
"Aku lebih suka tidak harus memilih," kata Annalise.
"Pilihan yang bijaksana," ujar Arthur.
Thomas menunjuk sebuah persimpangan. Richard mengoreksi letaknya, kemudian menyadari bahwa peta tersebut lebih tua daripada perubahan jalan yang diingatnya.
Annalise menikmati keheningan pendek yang menyusul.
"Kau boleh meminta maaf kepada peta itu, Richard."
"Aku sedang mempertimbangkannya."
Thomas tertawa tanpa berusaha memperpanjang kemenangan kecil tersebut. Richard meliriknya, lalu ikut tersenyum dengan enggan.
Percakapan menjadi lebih mudah sesudah itu. Tidak semua pertanyaan ditujukan untuk memeriksa kelayakan seorang calon suami yang bahkan belum menjadi calon lagi. Ada pengalaman perjalanan yang dapat dibandingkan dan cuaca yang sama-sama dibenci.
Annalise menemukan bahwa melihat Thomas bersama saudara-saudaranya tidak selalu membuatnya ingin mencari jalan keluar melalui jendela.
Ia menunjuk kota yang pernah diceritakan Richard dan meminta kedua pria itu menjelaskan hal paling menarik yang mereka lihat di sana. Richard memilih pemandangan dari jalan tinggi. Thomas memilih sebuah pasar yang membuatnya tersesat karena terlalu yakin sudah mengenali arah.
"Kau mengaku tersesat?" tanya Annalise.
"Matthew berada cukup dekat untuk memperbaiki ceritanya jika aku berbohong."
Arthur tertawa lebih dahulu. Richard menambahkan pengalaman serupa yang biasanya tidak diceritakannya ketika sedang membanggakan perjalanan. Annalise mendengarkan sambil menandai nama tempat dengan jari. Peta itu mulai berisi lebih banyak suara manusia daripada garis jalan.
***
Namun, ketika Gresham mengajak Annalise memilih selendang untuk acara musik, Richard memperoleh kesempatan yang rupanya memang ditunggu.
"Aku tahu Papa sudah berbicara denganmu," katanya kepada Thomas.
Arthur menoleh, tetapi tidak menyela. Duke of Berrow meletakkan surat dan tetap berada di dekat mereka.
Thomas mengangguk. "Ya."
"Aku tidak berniat mengulang semua pertanyaannya. Aku hanya ingin kau mengerti bahwa adikku sering menghabiskan lebih banyak tenaga untuk tampak baik-baik saja daripada yang disadari orang."
"Aku mulai memahaminya."
"Jangan membuatnya perlu melakukan itu demi menghindari kemarahanmu."
Thomas menerima tatapan tersebut tanpa mencoba berlindung di balik gelar atau pekerjaan. Ada hal yang dapat dibantah jika ia ingin menjaga harga diri. Namun, Richard tidak sedang menciptakan tuduhan dari udara kosong.
"Aku pernah memberinya alasan untuk takut mengatakan tidak," jawabnya. "Aku tidak ingin mengulanginya."
Richard diam. Jawaban langsung itu tampaknya tidak cocok dengan beberapa kalimat yang sudah disiapkannya.
Arthur akhirnya berbicara.
"Kalau begitu, biarkan ia memutuskan apakah ia ingin berada dalam percakapan semacam ini."
Di ambang pintu, Annalise berdiri membawa dua selendang.
"Aku memilih yang itu," katanya. "Percakapan yang melibatkanku."
***
Tidak ada yang dapat mengaku tidak mengetahui maksudnya.
Richard menggeser kursi untuk adiknya. Annalise duduk, meletakkan selendang di pangkuan, dan mengatakan dirinya memahami bahwa kakaknya masih kesal.
"Aku juga pernah sangat kesal. Kau boleh menanyakan apa yang terjadi kepadaku. Jangan membicarakanku seperti aku barang yang sementara ditinggalkan di kamar lain."
Thomas menunduk, bukan untuk menyembunyikan senyum kali ini. Ia tidak mempunyai alasan merasa menang karena Richard sedang ditegur; beberapa minggu lalu teguran yang sama layak diarahkan kepadanya.
Richard meminta maaf dengan singkat. Tidak ada perdebatan panjang mengenai niat baik.
Annalise kemudian menatap Thomas.
"Dan kau tidak perlu menjawab semua pertanyaan tentang diriku hanya karena mereka bertanya."
"Akan kuingat."
"Bagus. Sekarang seseorang boleh mengatakan selendang mana yang lebih cocok. Mama menganggap keduanya sesuai, jadi beliau tidak membantu."
Arthur memilih yang paling dekat dengannya. Richard memilih yang lain hanya untuk membuatnya kesal. Thomas memandang warna gaun Annalise sebelum memberikan jawaban.
Gadis itu akhirnya memilih sendiri.
Duke of Berrow kembali mengambil surat dengan wajah yang jauh lebih puas daripada sebelumnya.
***
Sesudah kedua kakaknya meninggalkan ruangan untuk urusan masing-masing, suasana menjadi lebih tenang. Gresham berada di meja dekat jendela, dan Thomas membantu Annalise menggulung kembali peta.
"Kau menyesal datang?" tanyanya.
"Belum. Aku belum dilempar keluar."
"Richard biasanya menggunakan kata-kata dahulu."
"Sangat melegakan."
Annalise tersenyum. Ia meminta maaf karena kunjungan tersebut menjadi lebih berat daripada yang diharapkan, tetapi Thomas menggeleng. Ia tidak perlu meminta maaf karena mempunyai saudara yang peduli atau karena menjelaskan bagaimana dirinya ingin diperlakukan.
Kemudian ia berhenti, menyadari bahwa kalimatnya mulai terdengar terlalu serius bagi gadis yang sedang memegang gulungan peta seperti senjata.
"Namun, aku akan berterima kasih jika benda itu tidak dipakai memukulku. Usianya cukup tua."
Annalise menurunkan peta sambil tertawa.
Ketegangan yang masih tertinggal akhirnya pecah. Thomas menyukai suara itu, terlebih karena kali ini dirinya tidak perlu merebutnya dari kemarahan.
***
Sebelum berpamitan, ia menanyakan acara musik yang akan dihadiri mereka. Annalise menyebutkan waktu kedatangan dan mengatakan Henrieta mungkin ikut jika urusannya selesai.
Thomas tidak mencoba meminta tempat di sisinya sejak sekarang. Ia hanya mengatakan akan senang mendengarkan pendapatnya tentang pertunjukan sesudahnya.
"Kau akan benar-benar memperhatikan musik kali ini?"
Ia langsung mengingat malam terakhir di Bath.
"Aku akan mencoba."
"Jawaban yang kurang meyakinkan, Your Grace."
"Aku tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum tentu berhasil."
Annalise menatapnya beberapa saat lebih lama. Gresham membetulkan letak surat di meja, memberi peringatan halus bahwa ruangan itu masih mempunyai penghuni lain.
Thomas membungkuk sebelum pergi. Di pintu depan ia bertemu Richard, yang berhenti sejenak lalu mengulurkan tangan.
Jabat tangan mereka singkat.
Tidak ada persahabatan yang mendadak tumbuh. Namun, Thomas keluar melalui pintu yang sama dengan tempat ia masuk, membawa peta yang masih utuh.
Untuk kunjungan pertama di London, ia bersedia menyebutnya hasil yang baik.