Rumah Wellington di London menyambut Thomas dengan ketenangan yang terasa asing setelah perjalanan panjang.
Tidak ada suara rombongan teater, tidak ada Ruthbone yang datang membawa teguran, dan tidak ada kemungkinan bertemu Annalise hanya karena kedua ibu mereka sedang merencanakan minum teh bersama. Setiap ruangan tampak terlalu siap, seolah rumah tersebut tidak pernah merasakan ketidakhadirannya.
Edith segera menemukan sesuatu yang perlu dipindahkan di ruang duduk.
Thomas mulai merasa benar-benar pulang.
Matthew menyerahkan kabar mengenai pertemuan mereka esok pagi. Berkas yang dibawa sudah disusun, dan salinan yang dikirim lebih dahulu telah diterima. Setelah pembicaraan terakhir itu, perjalanan yang menghabiskan begitu banyak bulan dapat ditutup.
Thomas meletakkan sarung tangan.
"Kita periksa sekali lagi setelah makan. Lalu cukup."
Matthew memandangnya sebentar sebelum mengangguk. Biasanya kata terakhir itu masih dapat berubah menjadi pekerjaan tambahan sampai jauh malam.
Kali ini Thomas menepatinya.
Sesudah Matthew pergi, ia membuka beberapa surat rumah tangga yang disisihkan selama perjalanan. Ada pertanyaan mengenai perbaikan, biaya yang perlu diperiksa, serta permintaan jawaban atas urusan yang tidak dapat terus ditunda kepada orang lain.
Ia baru membaca dua lembar ketika menyadari telah mengambil pena lagi.
Thomas meletakkannya kembali.
Besok masih mempunyai cukup banyak jam untuk pekerjaan tersebut. Malam itu ia turun menemui Edith, yang tampak terkejut mendapati putranya datang tanpa diminta.
"Ada yang tertinggal di sini?"
"Aku ingin duduk, Mama."
"Permintaan yang luar biasa. Silakan."
Edith menceritakan sebuah perubahan kecil di rumah yang tidak pernah sempat dibahas lewat surat. Thomas mendengarkan, lalu bertanya mengapa kursi kesayangan ibunya berpindah dekat jendela.
"Karena aku suka cahayanya. Tidak semua perubahan memerlukan alasan yang rumit."
Ia menerima jawaban itu sambil tersenyum. Sepuluh menit kemudian, ketika teh datang, Thomas baru menyadari bahwa dirinya tidak lagi menghitung pekerjaan yang belum selesai di lantai atas.
***
Pertemuan berlangsung dalam ruangan yang hangat dan penuh kertas. Pejabat yang menerima mereka telah membaca laporan perjalanan, tetapi masih meminta penjelasan mengenai beberapa perbedaan keterangan dari kota-kota yang dikunjungi.
Thomas menjawab bagian yang dikerjakannya. Ketika pertanyaan beralih kepada jalur yang diperiksa Matthew, ia mempersilakan sepupunya menjelaskan sendiri.
Tidak ada tuduhan baru yang tiba-tiba muncul dari balik meja. Sebagian besar waktu justru dipakai memastikan bahwa laporan terdahulu, nama tempat, dan urutan kejadian sesuai. Pekerjaan yang berbahaya akhirnya berakhir dengan pertanyaan yang memerlukan ingatan teliti, bukan pedang.
Matthew mengoreksi satu catatan perjalanan. Thomas mendukung penjelasannya dan menyebutkan bahwa pengamatan sepupunya memungkinkan mereka membedakan gangguan yang berkaitan dari kejadian biasa di jalan.
Pejabat itu menambahkan catatan, lalu menutup berkas terakhir.
Masih mungkin ada pertanyaan melalui surat jika diperlukan. Namun, tidak ada perintah untuk berangkat lagi dalam waktu dekat.
Thomas menyadari bahwa dirinya menunggu kalimat tersebut dengan perhatian yang hampir memalukan.
***
Di luar, Matthew menarik napas panjang. Udara London tidak mendadak menjadi lebih segar, tetapi setidaknya ia dapat memikirkan sore tanpa membuka peta terlebih dahulu.
"Anda ingin langsung pulang?"
Thomas mengangguk, kemudian bertanya apakah ada kabar dari Joanna.
"Belum sejak mereka berangkat. Saya akan menulis hari ini."
"Kau punya waktu. Besok kita hanya perlu menyelesaikan urusan pengiriman barang pribadi."
Matthew menatapnya.
"Aku tidak sedang memberimu hadiah," tambah Thomas. "Pekerjaan hari ini memang selesai."
"Saya mengerti."
Ada senyum kecil yang akhirnya muncul. Tidak semuanya kembali seperti sebelum rahasia Joanna terbuka. Namun, Matthew kini mengetahui apa yang dikerjakan, kapan diperlukan, dan kapan dirinya dapat pergi tanpa menebak-nebak suasana hati sang master.
Ketika kereta mulai bergerak, Thomas menanyakan apakah laporan yang dibacakan tadi terlalu panjang.
"Bagian tentang jalan berlumpur, mungkin."
"Kau yang menulisnya."
"Anda yang meminta perinciannya."
Thomas tertawa. Matthew ikut tersenyum, kali ini tanpa perlu memikirkan apakah ia seharusnya masih marah.
***
Di rumah, Edith menyampaikan bahwa keluarga Berrow sudah menerima undangan acara musik yang sama dengan mereka. Thomas berhenti di ambang pintu, lalu melanjutkan berjalan seolah kabar itu hanya menyangkut cuaca.
Ibunya tidak tertipu.
"Kau boleh tampak senang, Thomas. Tidak ada orang yang akan menurunkan gelarmu karenanya."
"Mama sudah memilih tempat duduk?"
"Belum. Aku sedang belajar memberi kesempatan orang lain menggerakkan kaki sendiri."
Ia menerima sindiran itu dengan membungkuk kecil, lalu pergi menulis kepada Annalise. Catatannya memberitahukan bahwa ia telah tiba, pertemuan tugas selesai, dan ia berharap dapat berkunjung pada waktu yang disukainya.
Sebelum mengirim, ia membuka lipatan gambar tangan pemberian gadis itu. Garisnya tidak sempurna. Ada bagian yang terlalu tegas dan bagian lain hampir hilang.
Thomas meletakkannya kembali di antara kertas pribadi, terpisah dari laporan.
Ia tidak ingin gambar itu berakhir di hadapan seorang pejabat yang menanyakan mengapa tangan Duke of Wellington tidak mempunyai ukuran yang seimbang.
***
Jawaban Annalise datang keesokan hari. Ia menawarkan waktu kunjungan sebelum acara musik dan memberi peringatan bahwa Richard mungkin berada di rumah.
Thomas membacanya dua kali.
Kalimat berikutnya lebih buruk: kakaknya sudah berjanji bersikap sopan, tetapi janji itu belum diuji.
Matthew mendengar helaan napasnya.
"Ada masalah, Your Grace?"
"Earl of Westcliff."
Sepupunya berpikir sejenak. "Apakah saya perlu ikut?"
"Untuk urusan keluarga? Tidak."
"Saya lebih memikirkan bantuan sesudahnya."
Thomas memandangnya dengan tajam. Matthew menunduk menyembunyikan senyum dan kembali kepada surat di tangannya.
Anehnya, Thomas cukup senang mendengar keberanian itu kembali.
Ia menulis jawaban singkat bahwa waktu tersebut sesuai. Tidak ada usaha meminta Annalise memilih hari ketika kakaknya pergi. Duke of Berrow telah mendengar kebenaran yang lebih sulit daripada gurauan Richard; Thomas tidak akan menghindari pintu rumah hanya karena seseorang di dalamnya mempunyai alasan untuk tidak menyukainya.
***
Sore menjelang kunjungan, Thomas berdiri di ruang kecil tempat beberapa barang ayahnya masih disimpan. Ia datang mencari peta lama yang pernah disebutnya kepada Annalise, tetapi perhatiannya berhenti pada sarung tangan yang terletak dalam kotak.
Edith menemukannya di sana.
"Kau mencari sesuatu?"
"Peta."
Ia menunjukkan lembar yang akhirnya ditemukan. Edith mengangguk, lalu berdiri di sisinya tanpa terburu-buru merapikan kotak yang terbuka.
Thomas mengingat peringatan Duke of Berrow agar dirinya tidak meniru seluruh kesalahan Benyamin. Ia baru saja menyelesaikan perjalanan dan diperbolehkan tinggal. Mungkin ia dapat memanfaatkan waktu itu tanpa merasa harus menunggu bahaya berikutnya untuk membuktikan dirinya berguna.
"Punggungmu?" tanya ibunya.
"Jauh lebih baik. Ruthbone memeriksanya sebelum aku berangkat."
"Bagus. Aku bosan menanyakan kepada orang lain apakah putraku masih utuh."
Thomas menutup kotak dengan pelan. "Mama boleh bertanya kepadaku."
Edith menatapnya sebelum mengangguk.
Ia tidak mengatakan bahwa dahulu pertanyaan itu jarang mendapat jawaban yang memuaskan.
Thomas mengambil peta, lalu mempersilakan ibunya keluar lebih dahulu. Besok ia akan mengunjungi seorang wanita yang mungkin belum ingin menikah dengannya.
Untuk hari itu, kemungkinan mendapat kesempatan duduk dan berbicara sudah cukup membuatnya menantikan pagi.