Thomas, keluarga seorang wanita mungkin menyambutmu dengan ramah. Jangan keliru menganggap mereka belum mendengar apa-apa.
Duke of Gordon ke-X.
***
Richard menyambut adiknya dengan memeriksa pohon yang tumbuh di dekat halaman depan.
"Terlalu rendah," katanya.
Annalise baru saja turun dari kereta. Ia menatap kakaknya, kemudian pohon tersebut, dan langsung mengetahui bahwa kepulangannya tidak akan berlangsung dengan tenang.
"Papa menceritakannya?"
"Tidak seluruhnya. Aku masih menunggu penjelasan mengapa seekor kucing membutuhkan seorang duke."
"Kucingnya tidak membutuhkan duke."
"Ah. Jadi kaulah yang membutuhkan—"
"Richard," tegur Gresham.
Earl of Westcliff segera menawarkan lengan kepada ibunya dengan wajah tanpa dosa. Arthur, yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengambil buku dari tangan Annalise dan menyambutnya dengan ciuman singkat di kening.
"Selamat pulang. Jangan menjawabnya sebelum makan. Ia sudah menyiapkan pertanyaan sejak kemarin."
Annalise tertawa meskipun perjalanan membuat bahunya berat. Rumah London mereka terasa akrab melalui hal-hal yang paling menjengkelkan: suara Richard, ketenangan Arthur, dan cara ayahnya mendesah sebelum menyuruh semua orang masuk.
***
Henrieta datang pada sore berikutnya, ketika peti sudah dibuka dan Annalise selesai beristirahat. Ia memeluk adiknya, memeriksa wajahnya sebentar, lalu memilih menanyakan perjalanan sebelum hal lain.
Annalise bersyukur atas urutan tersebut.
Ia bercerita tentang persinggahan, hidangan yang terlalu asin, serta Wilda yang menemukan pensil terselip dalam sarung tangan. Henrieta mendengarkan sampai Annalise sendiri menyebut teater dan Joanna.
"Dan Wellington?"
Tentu saja nama itu akhirnya muncul.
"Apa yang ingin kauketahui?"
"Bagian yang ingin kauceritakan. Richard mempunyai banyak pendapat, tetapi sangat sedikit keterangan."
Annalise menunduk memandangi selimut tipis di lututnya. Ia menjelaskan bahwa pertunangan sudah dibatalkan, kedua keluarga mengetahui alasannya, dan Thomas masih boleh berkunjung. Mengucapkan ketiga hal itu berurutan membuatnya terdengar lebih rumit daripada ketika dijalani.
Henrieta tidak tampak terkejut.
"Kau menyukainya?"
"Aku mulai menyukai beberapa hal tentangnya."
"Kalau begitu, kau boleh mulai dari sana. Tidak perlu menjawab pertanyaan yang belum ditanyakannya lagi."
Annalise mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sejak tiba, pembicaraan mengenai Thomas tidak terasa seperti pemeriksaan atas sebuah keputusan yang harus dipertahankannya.
Henrieta kemudian meminta melihat buku yang dibelinya di Bath. Annalise menyerahkan buku tumbuhan, tetapi kakaknya menunjuk sampul lain yang terlihat dari tas.
"Yang itu juga, jika boleh."
Annalise membuka buku gambar pada halaman kendi. Henrieta memiringkan kepala, memperhatikan, lalu mengatakan bahwa bayangannya lebih baik daripada gambar terakhir yang pernah dilihatnya.
"Kau masih mengingat gambar yang lama?"
"Aku menyimpannya. Kau memberikannya kepadaku."
Gadis itu mendadak malu. Ia selama ini mengira pemberian tersebut hanya diterima karena seorang kakak tidak ingin menyakiti perasaan adiknya.
Henrieta tidak memuji setiap halaman. Ia justru bertanya mengapa beberapa bagian ditinggalkan sebelum selesai, dan Annalise menemukan dirinya menjelaskan tentang cahaya yang berubah serta kesabaran yang habis. Percakapan itu bertahan sampai teh menjadi dingin. Untuk beberapa saat, nama Thomas tidak perlu disebut lagi.
***
Richard kurang pandai memberikan ketenangan serupa.
Saat makan malam, ia menanyakan apakah Wellington akan mengunjungi mereka. Annalise menjawab bahwa pria itu masih di Bath dan akan memberi kabar sesudah tiba di London.
"Ia meminta izin kepadamu langsung?"
"Ya."
"Perubahan yang menarik."
Annalise meletakkan sendok. Ia memahami kemarahan kakaknya, tetapi tidak ingin seluruh percakapan mendatang berhenti pada malam ketika Thomas bertindak paling buruk.
"Aku tidak meminta kalian melupakan awalnya," katanya. "Aku hanya ingin kalian mendengarkan juga ketika aku mengatakan ada hal yang berubah."
Richard menatapnya. Gurauan yang sudah siap di bibirnya tidak jadi keluar.
Arthur menanyakan apakah perubahan tersebut membuatnya merasa nyaman menerima kunjungan. Annalise mengangguk. Itu belum berarti ia sudah mempunyai jawaban mengenai pernikahan.
"Baiklah," ujar Arthur.
Richard menyandarkan punggung dan mengembuskan napas.
"Aku bisa bersikap sopan."
"Papa sebaiknya mencatatnya," kata Annalise.
Duke of Berrow mengambil gelas. "Aku lebih suka melihat pelaksanaannya."
Tawa kembali muncul di meja. Persoalan itu tidak selesai seluruhnya, tetapi setidaknya Annalise tidak lagi merasa harus membela Thomas agar suaranya sendiri dapat didengar.
***
Di Bath, Thomas menghabiskan hari terakhir dengan pekerjaan yang tidak mempunyai sedikit pun kemiripan dengan petualangan. Ada barang yang perlu dikirim, surat mengenai rumah yang perlu dijawab, serta daftar yang harus diperiksa bersama Matthew sebelum mereka berangkat.
Edith menganggap putranya terlalu sering melihat jam.
"Kita tidak akan tiba lebih cepat hanya karena kau membuat benda itu malu."
"Aku memeriksa waktu keberangkatan barang."
"Tentu. Barangmu pasti sangat merindukan London."
Thomas mengabaikan sindiran tersebut dan kembali kepada daftar. Di antara surat yang akan dikirim pagi itu terdapat catatan untuk Annalise. Ia menyebut hari keberangkatan mereka dan mengatakan akan mengirim kabar lagi setelah mengetahui waktu pertemuan terakhir mengenai pekerjaannya.
Ia sempat ingin menambahkan bahwa dirinya berharap Annalise tidak terlalu sibuk menerima tamu.
Kalimat itu dicoret sebelum tinta mengering.
Sebagai gantinya, Thomas menanyakan apakah pohon di depan rumah cukup menarik perhatian Mrs. Hudson seandainya kucing itu berkunjung ke London.
Ia menduga jawabannya akan berisi penghinaan.
Anehnya, ia menantikannya.
***
Surat tersebut tiba ketika Annalise sedang memilih undangan bersama Gresham. Ada acara musik kecil, jamuan yang akan dihadiri terlalu banyak orang, dan pesta dansa yang membuat ibunya berhenti lebih lama sebelum menyerahkannya.
Annalise membaca semuanya. Ia memilih acara musik terlebih dahulu, lalu meminta agar pesta dansa tidak langsung ditolak.
"Kita lihat setelah kau cukup beristirahat," kata Gresham.
Tidak ada janji harus bertahan sampai larut. Tidak pula keharusan menunjukkan dirinya lebih kuat daripada keadaan sebenarnya.
Pelayan membawa surat Thomas beberapa saat kemudian. Annalise mengenali tulisannya sebelum membuka lipatan, dan Gresham dengan murah hati berpura-pura sibuk memeriksa undangan lain.
Kabar itu sederhana. Tidak ada pujian berlebihan, tidak ada pertanyaan tentang pria yang mungkin ditemuinya. Hanya rencana perjalanan dan satu kalimat mengenai kucing yang tidak mempunyai alasan berada di London.
Annalise tertawa sendiri.
"Ada kabar baik?" tanya ibunya.
"Ada seseorang yang perlu diberi tahu bahwa pohon kami bukan urusannya."
***
Malamnya, ia menulis balasan setelah rumah lebih tenang. Ia menyampaikan bahwa perjalanan berlangsung baik dan Richard telah mengambil tugas mengawasi segala urusan pohon di halaman.
Lalu ia berhenti.
Ada banyak hal yang dapat diceritakan: Henrieta, musik, suasana rumah. Ia memilih satu kisah kecil tentang Arthur yang tanpa sengaja membawa buku gambarnya ke ruang kerja karena mengira itu milik ayah mereka.
Thomas mungkin tidak akan menganggapnya penting.
Namun, Annalise ingin menceritakannya.
Ia menambahkan bahwa dirinya menunggu kabar kedatangannya, kemudian segera melipat kertas sebelum keberanian tersebut berubah pikiran.
Wilda mengambil surat untuk diserahkan kepada pelayan yang bertugas. Ia tidak tersenyum terlalu lebar, sesuatu yang sangat dihargai Annalise.
Sesudah pintu tertutup, gadis itu memandang jendela yang menghadap jalan London.
Ia telah pulang kepada keluarganya.
Kini ada seseorang di luar rumah ini yang juga ingin dimasukkannya ke dalam cerita sehari-hari.