Annalise membawa buku kecil ketika datang ke taman. Thomas melihat benda itu dan langsung bertanya apakah dirinya akan diperintahkan duduk diam seperti Mrs. Hudson.
"Belum kuputuskan. Kau mungkin lebih sulit diatur."
"Aku tidak mencakar orang yang menggeser kursiku."
"Itu pernyataan yang perlu dibuktikan."
Wilda berjalan di belakang mereka sambil membawa selendang. Udara cukup bersahabat, dan Annalise telah memilih jalan yang memungkinkan berhenti sebelum terlalu jauh dari kereta. Tidak ada keinginan membuktikan bahwa dirinya dapat mengikuti langkah Thomas selama apa pun.
Pria itu menyesuaikan kecepatan tanpa membicarakannya.
Mereka melewati pagar rendah dan berhenti melihat deretan tanaman yang namanya masih diperdebatkan Annalise dengan buku miliknya. Thomas kali ini menunjuk satu daun dengan keyakinan yang cukup mencurigakan.
"Kau sudah mencari tahu," tuduhnya.
"Aku tidak ingin dipermalukan dua kali oleh semak yang sama."
Annalise tertawa. Penjelasan itu jauh lebih menyenangkan daripada jawaban seorang duke yang berpura-pura selalu mengetahui segala hal.
***
Kepulangan menjadi pembicaraan ketika mereka duduk. Keluarga Berrow akan berangkat dua hari lagi, dengan waktu istirahat dalam perjalanan yang sudah dibicarakan bersama Ruthbone. Thomas dan Edith akan menyusul setelah urusan rumah di Bath selesai.
"London akan lebih ramai," kata Annalise.
"Biasanya."
"Aku tidak sedang membahas jumlah kereta."
Thomas menoleh. Gadis itu memandang halaman bukunya yang belum terbuka. Ia mengatakan dirinya bersedia menghadiri beberapa undangan, tetapi belum ingin membiarkan seluruh harinya diisi untuk menunjukkan bahwa kesehatan maupun masa depannya baik-baik saja.
"Mama sudah setuju kita memilih sedikit dahulu. Papa juga."
"Apa yang ingin kauhadiri?"
Pertanyaan itu membuatnya terdiam sejenak. Ia sudah menyiapkan alasan menolak begitu banyak hal sampai lupa bahwa dirinya boleh mempunyai keinginan datang.
"Musik. Mungkin satu pesta dansa, jika keadaanku memungkinkan. Dan aku ingin menemui Henrieta."
Thomas mengangguk. Ia menahan pertanyaan tentang siapa yang akan meminta dansa pertama.
Menahan pertanyaan ternyata jauh lebih mudah daripada tidak membayangkan jawabannya.
Annalise memperhatikan wajahnya dan memiringkan kepala.
"Kau mendadak diam."
"Aku sedang memikirkan pesta dansa."
"Pemandangan yang mengerikan bagi seorang duke?"
"Tergantung siapa yang harus kutemui."
"Mama mengatakan kau pandai berdansa."
Thomas menoleh lebih cepat daripada yang diinginkannya. Annalise tampak menikmati hal itu, tetapi pandangannya kemudian turun kepada ujung sepatu sendiri.
"Aku masih mengingat langkahnya," tambahnya. "Hanya belum tahu apakah aku akan merasa nyaman di antara begitu banyak orang."
Thomas mengatakan bahwa dirinya akan senang diminta menemaninya satu dansa. Ia tidak meminta jawaban saat itu juga. Annalise mengangguk, lalu membuka buku dengan senyum yang berusaha disembunyikan di balik sampul.
***
Annalise membuka buku kecil dan memperlihatkan selembar gambar yang diselipkan di dalam. Thomas mengenali tangannya sendiri sebelum gadis itu menjelaskan.
Pena dalam gambar berada di antara jari. Ada sedikit noda di sisi telapak dan garis lengan baju yang sengaja dibiarkan tidak selesai.
"Aku belum pandai menggambar wajah," katanya. "Jadi jangan berharap sesuatu yang terlalu besar."
Thomas menerima kertas itu setelah memastikan memang diberikan kepadanya. Untuk beberapa saat ia tidak mengatakan apa pun.
Annalise mulai menyesal.
"Jarinya mungkin terlalu panjang."
"Aku sedang mencoba memikirkan jawaban yang tidak membuatmu merebutnya kembali."
Ia menatap pria itu. Thomas tidak tersenyum mengejek. Ia memperhatikan kertas dengan kesungguhan yang membuat Annalise mendadak sadar bahwa selama menggambar, dirinya telah mengingat tangan tersebut lebih jelas daripada yang seharusnya.
"Terima kasih," katanya akhirnya. "Aku menyukainya."
Gadis itu melepaskan napas yang tidak disadari sedang ditahan.
Tidak ada janji yang disematkan pada pemberian itu. Namun, melihat Thomas menyimpannya dengan hati-hati membuat dadanya terasa penuh dengan cara yang sama sekali tidak berkaitan dengan ketakutan terhadap season.
***
Mereka melanjutkan perjalanan sebentar. Pada bagian jalan yang sedikit tidak rata, Annalise menerima lengan Thomas tanpa harus menunggu penawaran kedua.
Ia mengetahui pria itu akan kembali sibuk di London. Tugas yang membawanya melalui banyak kota belum selesai sebelum laporan akhir disampaikan, dan sesudahnya mungkin akan ada pekerjaan lain.
"Jika kau harus pergi, kau akan memberitahuku?" tanyanya.
Thomas memandangnya. "Jika kau ingin menerima kabar dariku."
"Aku tidak ingin menebak apakah kau bosan berkunjung atau sedang berada di kota lain."
"Aku akan memberitahumu. Ada bagian pekerjaan yang tidak dapat kuceritakan, tetapi aku bisa mengatakan kapan rencanaku berubah sejauh yang kuketahui."
Annalise mengangguk. Ia tidak meminta rahasia kerajaan. Ia hanya ingin mengetahui bahwa keheningan tidak akan sengaja digunakan untuk membuatnya menunggu.
Thomas kemudian bertanya apakah dirinya boleh mengunjunginya di London.
"Kau sudah menanyakan hal serupa di Bath."
"London kota lain. Aku sedang bersikap teliti."
Annalise menoleh untuk menyembunyikan senyum.
"Boleh. Kirim kabar lebih dahulu."
***
Di dekat kereta, mereka berhenti sementara Wilda memeriksa selendang yang hampir terjatuh. Thomas mengembalikan buku kecil, tetapi menyimpan gambar pemberian Annalise.
"Aku akan menantikan suratmu," katanya.
"Aku belum menjanjikan surat."
"Kalau begitu, aku akan mengirim surat dan berharap jawabannya tidak hanya berisi kritik terhadap pengetahuanku mengenai tanaman."
"Aku tidak dapat menjanjikan itu."
Thomas tertawa. Angin menggerakkan pita di dekat wajah Annalise, dan gadis itu mengangkat tangan untuk merapikannya. Ia tiba-tiba menyadari betapa dekat mereka berdiri.
Tidak ada cincin di tangannya. Tidak ada panggilan yang membuatnya merasa sudah dimiliki. Justru karena itu, ketika Thomas membungkuk dan meminta izin mencium punggung tangannya sebelum berpisah, Annalise mendengar dirinya menjawab tanpa rasa ingin melawan.
Sentuhan itu singkat, melalui sarung tangan, dan cukup pantas untuk tidak membuat Wilda kehilangan ketenangan.
Sayangnya, kepantasan tidak membantu jantung Annalise sama sekali.
Ia naik ke kereta dengan pipi hangat dan menemukan bahwa Thomas pun tidak segera mengalihkan pandangan.
***
Dua hari berikutnya dipenuhi peti, lipatan pakaian, dan permintaan Gresham agar semua orang memeriksa barang yang sebenarnya sudah diperiksa. Ruthbone datang menyampaikan pesan terakhir mengenai perjalanan tanpa mengubah perpisahan menjadi kuliah panjang.
Hugo mengantar buku yang tertinggal di klinik. Annalise menerima sambil menanyakan pelajarannya, lalu mengucapkan selamat tinggal tanpa mencari alasan untuk memperpanjang percakapan.
Ia masih akan merindukannya. Namun, ketika Hugo pergi, ia tidak merasa seluruh masa depannya ikut meninggalkan ruangan.
Edith datang bersama Thomas sebelum keluarga Berrow berangkat. Kedua ibu berbicara mengenai London, sementara ayah Annalise memastikan perjalanan mereka tidak dimulai terlalu tergesa-gesa.
Thomas hanya sempat berdiri di dekat kereta beberapa menit.
"Jangan menggambar selama jalan berguncang," katanya.
"Kau takut hasilnya menyerupai jendelamu?"
"Aku takut keahlianku tidak lagi terasa istimewa."
Annalise tertawa, lalu menerima bantuan ayahnya untuk naik. Ketika kereta bergerak, ia menoleh sekali. Thomas masih berdiri di samping Edith, dengan tangan terangkat sebagai salam.
Bath perlahan tertinggal di belakang mereka.
Di dalam tas kecil Annalise terdapat buku, pensil, serta ruang yang sengaja dibiarkan untuk surat yang belum datang.
Ia berangkat tanpa pertunangan.
Untuk pertama kalinya, perjalanan menuju London tidak terasa seperti perjalanan menuju sesuatu yang harus dihindari.