Thomas, nasihat yang paling sulit diikuti biasanya terdengar sangat sederhana ketika kauberikan kepada orang lain.
Duke of Gordon ke-X.
***
Alaric menerima Thomas di penginapan ketika sebagian barang rombongan sudah dimuat. Tanpa pakaian panggung dan suara orang memanggil Ronnie dari segala arah, ia lebih menyerupai pria yang dahulu berdiri di halaman latihan dengan kesabaran mengerikan.
Thomas tidak merindukan kesabaran tersebut.
"Kau terlihat seperti hendak menyampaikan laporan," ujar Alaric.
"Aku datang berpamitan."
"Itu biasanya membutuhkan lebih sedikit kerutan."
Thomas duduk. Dari jendela terlihat Matthew berbicara dengan Joanna di dekat kereta. Mrs. Hudson berada dalam keranjang yang aman, menyampaikan ketidaksetujuan melalui suara sesekali.
Alaric mengikuti pandangannya.
"Mereka sudah mempunyai cara berkirim kabar. Aku akan memastikan perubahan perjalanan diberitahukan."
"Kepada Matthew langsung."
"Ya. Kepada Matthew langsung."
Thomas mengangguk. Tidak ada sindiran dalam pengulangan itu. Keduanya sudah cukup lama menggunakan alasan melindungi orang lain untuk menyadari bahwa janji yang sederhana dapat terasa lebih berat daripada rencana yang rumit.
***
Alaric menuang teh sebelum menanyakan Annalise. Thomas menjawab bahwa gadis tersebut akan kembali ke London bersama keluarganya beberapa hari lagi.
"Dan pertunanganmu?"
"Sudah berakhir."
Tangan pria tua itu berhenti sebentar di dekat cangkir. Kemudian ia meletakkan teko tanpa mengeluarkan komentar mengenai wanita yang sulit dipahami.
"Ia yang memintanya?"
"Ya."
"Kau menerimanya?"
Thomas menatap mentornya. "Apakah semua orang harus tampak terkejut ketika aku melakukan satu hal dengan benar?"
Alaric tersenyum kecil.
"Kau ingin jawaban jujur?"
Thomas mengambil teh. Ia menceritakan secukupnya, termasuk tawaran Annalise untuk tetap saling mengenal. Mengucapkannya di hadapan Alaric membuat harapan itu terdengar lebih rapuh daripada ketika disimpan sendiri.
Ia menunggu nasihat mengenai cara memanfaatkan kesempatan tersebut. Anehnya, Alaric justru bertanya apa yang disukai Thomas dari gadis itu ketika tidak sedang menentangnya.
Thomas membuka mulut, lalu menutupnya kembali.
Bukan karena tidak mempunyai jawaban.
Karena ternyata jawabannya kini cukup banyak.
***
Ia menyebut cara Annalise memperhatikan benda kecil, kesungguhan saat menggambar, serta kemampuannya menertawakan diri sendiri sesudah terlebih dahulu berusaha menyalahkan orang lain. Ia menyukai percakapan mereka ketika tidak ada satu pun yang perlu menang.
Alaric mendengarkan tanpa menyela.
"Dan kau sudah mengatakannya?"
"Tidak dengan susunan seperti itu."
"Barangkali itu dapat dilakukan sebelum kau kembali merancang masa depannya."
Thomas memandang teh dengan wajah kesal. Nasihat tersebut sangat sederhana. Lebih menjengkelkan lagi, ia tidak menemukan alasan yang baik untuk membantahnya.
Alaric menyandarkan punggung. Ia mengakui bahwa sebagian nasihatnya dahulu terlalu mudah memperlakukan pernikahan seperti persoalan yang dapat dimenangkan dengan kecerdikan.
"Aku mengingat banyak kalimatmu," ujar Thomas.
"Aku khawatir demikian."
Mereka terdiam sejenak. Di luar, seorang anggota rombongan meminta bantuan memeriksa tali peti. Alaric mengangkat tangan untuk menunjukkan akan segera datang, tetapi tidak mengakhiri pembicaraan dengan terburu-buru.
"Aku tidak ingin kau belajar terlalu terlambat bahwa ditemani berbeda dari berhasil menahan seseorang," katanya.
Kali ini Thomas tidak mencari jawaban yang cerdas.
***
Edith datang beberapa saat kemudian. Ia membawa sesuatu yang dibungkus kain untuk perjalanan, lalu langsung mengatakan bahwa pemberian tersebut tidak boleh dibiarkan tertindih barang panggung.
Alaric membuka sudut kain dan menemukan kue.
"Kau mengira kami tidak makan?"
"Aku mengira kalian mungkin terlalu sibuk berpura-pura tidak membutuhkan bantuan. Aku mengenal beberapa orang dengan kebiasaan itu."
Thomas merasa pandangan ibunya singgah terlalu lama kepadanya.
Edith dan Alaric berbicara mengenai kemungkinan bertemu ketika rombongan kelak berada cukup dekat dengan London. Tidak ada tuntutan agar pria itu meninggalkan pekerjaan dan kembali menjadi sosok yang dikenal sebelum kehilangan keluarganya.
Namun, ketika Edith meminta alamat yang dapat dipakai untuk surat pribadi, Alaric menuliskannya tanpa mengelak.
"Kabar singkat pun cukup," katanya.
"Aku akan menulis."
Edith mengangguk, lalu merapikan sudut kain seolah itu urusan terpenting di dunia. Thomas melihat tangan ibunya berhenti sebentar di atas meja sebelum ditarik kembali.
Ia memberi mereka waktu dengan keluar lebih dahulu.
***
Matthew dan Joanna sedang menyelesaikan perpisahan yang keduanya berusaha buat tampak biasa.
"Jangan menunggu sesuatu yang penting untuk menulis," ujar Joanna.
"Kau mungkin bosan membaca kabar tentang perjalanan."
"Kau mungkin bosan membaca kabar tentang sepatu yang hilang. Kita dapat menanggungnya bersama."
Matthew tertawa, lalu memeluk adiknya. Tidak ada permintaan terakhir agar ia berubah pikiran dan ikut pulang. Ketika Joanna melepaskan pelukan, ia tampak sedih, tetapi tidak perlu memilih antara kesedihan kakaknya dan pekerjaan sendiri.
Thomas menunggu sampai keduanya selesai sebelum mengucapkan selamat jalan.
Joanna memandangnya dengan ketegasan yang tidak kalah dari Matthew.
"Tolong jangan membuat suratku tersesat lagi, Your Grace."
"Tidak akan."
Ia tidak menambahkan alasan tentang masa lalu. Joanna menerima jawaban itu dengan anggukan, kemudian naik ke kereta setelah memastikan keranjang Mrs. Hudson ditempatkan dengan baik.
Rombongan bergerak tidak lama kemudian. Matthew berdiri sampai kereta terakhir melewati tikungan.
Thomas tetap di sisinya tanpa memaksanya berbicara.
Sesudah jalan kembali lengang, Matthew memasukkan tangan ke saku dan mengeluarkan sepotong pita yang dipakai Joanna untuk mengikat kertas alamat.
"Ia menyuruh saya menyimpannya agar tidak kehilangan surat pertama," katanya.
Thomas memandang pita itu. "Apakah kau sering kehilangan surat?"
"Menurutnya, saya pernah kehilangan daftar barang belanja. Rupanya satu kejadian cukup untuk diingat seumur hidup."
Thomas hampir bertanya kapan kejadian tersebut berlangsung, lalu membiarkan Matthew melanjutkan sendiri. Sepupunya bercerita tentang roti yang terlupakan dan kemarahan Joanna karena harus kembali berjalan ke toko. Ceritanya singkat, tetapi Thomas belum pernah mendengarnya.
Ketika mereka akhirnya bergerak menuju kereta, Matthew tidak lagi memegang pita itu terlalu erat. Ia menyimpannya bersama alamat, kemudian menanyakan waktu yang telah ditentukan untuk menemui pengurus rumah.
Pekerjaan masih menunggu. Untuk sekali ini, pekerjaan tidak terasa seperti sesuatu yang harus menelan semua percakapan lain sampai tidak tersisa.
***
Sore itu, Thomas menulis kepada Annalise. Dua lembar kertas menjadi korban sebelum dirinya berhenti mencoba membuat undangan terdengar kebetulan.
Ia akhirnya mengatakan bahwa ia ingin berjalan bersamanya sebelum mereka meninggalkan Bath. Ada taman yang belum sempat dikunjungi, tetapi tempat lain pun akan menyenangkan jika Annalise lebih menyukainya.
Kemudian ia menambahkan satu kalimat mengenai gambar kucing untuk Joanna: ia menyukai cara Annalise membuat sesuatu yang diperhatikan sahabatnya setiap hari menjadi pemberian yang dapat dibawa pergi.
Thomas membaca kalimat tersebut beberapa kali.
Terlalu panjang, mungkin. Terlalu mudah memperlihatkan bahwa ia memperhatikan.
Ia membiarkannya tetap ada.
Balasan tiba keesokan pagi. Annalise memilih taman, setelah makan siang, dengan Wilda menemani. Pada bagian bawah surat, gadis itu menambahkan bahwa Mrs. Hudson merupakan model yang buruk dan terlalu sering menolak mempertahankan posisi.
Thomas tersenyum sendiri di depan meja.
Matthew masuk membawa surat lain, melihat wajahnya, lalu memutuskan bahwa untuk sekali ini pekerjaan boleh menunggu beberapa detik.