Malam terakhir Puppets Theater di Bath membuat Joanna lebih sibuk daripada malam pembukaan.
Sisa masa kunjungan rombongan telah berlalu di antara latihan, pertunjukan, dan hari-hari ketika hujan membuat orang lebih senang tinggal di rumah. Annalise sempat bertemu Joanna dua kali lagi sebelum malam penutup, selalu dengan cukup banyak urusan yang belum selesai di sekeliling sahabatnya. Kini poster yang semula terlihat baru di dekat pintu mulai melengkung pada sudutnya.
Matthew menyadari perubahan itu ketika tiba. Ia pernah mengira satu bulan akan memberikan waktu yang cukup untuk mengatakan segala hal kepada adiknya. Ternyata beberapa percakapan baru dimulai ketika mereka sudah harus memikirkan perpisahan.
Namun, kali ini ia mengetahui ke mana Joanna pergi. Alamat di dalam sakunya bukan jawaban untuk seluruh tahun yang hilang, tetapi ia dapat membacanya kembali, menulis sendiri, dan menunggu kabar tanpa bertanya kepada Thomas.
Ia merapikan kertas itu sebelum masuk melalui pintu samping yang kini dikenalnya.
Ada peti yang mulai diberi tanda, pakaian yang harus dipisahkan dari barang panggung, dan seorang pemain yang yakin sepatunya telah dicuri. Sepatu itu akhirnya ditemukan di bawah bangku tempat ia sendiri tertidur siang tadi.
Matthew menyaksikan kekacauan tersebut dengan ekspresi yang biasanya disimpan untuk jalan berbahaya.
"Kalian melakukan ini setiap kali berpindah kota?"
Joanna mengikat pita di rambutnya tanpa melihat ke cermin.
"Biasanya ada lebih banyak teriakan. Kau datang pada hari yang baik."
Matthew tidak yakin apakah adiknya sedang bercanda. Di belakang mereka, seseorang memanggil Ronnie, lalu orang lain memanggil Jennifer. Joanna mengangkat tangan untuk menandakan bahwa ia mendengar, sementara Alaric lewat membawa gulungan kertas di bawah lengan.
Seorang duke yang dikejar pertanyaan tentang tali tirai merupakan pemandangan yang sulit disesuaikan dengan ingatan Matthew mengenai tempat latihan.
Alaric menangkap tatapannya.
"Jika kau berdiri di sana lebih lama, aku akan memberimu pekerjaan."
Matthew segera mengambil peti kecil yang ditunjukkan Joanna.
***
Keluarga Berrow datang sebelum pertunjukan dimulai. Annalise mengenakan gaun yang cukup nyaman untuk duduk lama dan membawa selendang yang dipilih sendiri. Ia sudah beristirahat pada siang hari, meskipun harus menolak keinginan menyelesaikan gambar yang belum tuntas.
Thomas menyapa mereka di dekat pintu. Malam itu ia tidak menawarkan diri menjadi pengawal tunggal Annalise. Ayah gadis tersebut ada di sana, dan Edith sudah memutuskan tempat duduk sebelum siapa pun sempat memperdebatkannya.
"Mama tampak sangat siap," kata Thomas.
"Aku pernah bepergian lebih jauh daripada dari kereta ke kursi teater."
"Aku tidak berani meragukannya."
Annalise tersenyum. Saat melewatinya, ia bertanya apakah rumah dalam gambar itu masih berdiri.
"Matthew menyarankan fondasinya diperbaiki."
"Matthew orang yang bijaksana."
Thomas memandang sepupunya yang kembali dari belakang panggung. Pria itu tampak tidak mengetahui bahwa dirinya baru saja dijadikan ahli bangunan.
Annalise memilih tidak menjelaskan.
***
Pertunjukan malam itu memuat bagian yang telah dilihat Annalise dalam latihan, tetapi hasil akhirnya tetap membuatnya terkejut. Joanna berubah begitu mudah ketika berdiri di bawah cahaya panggung. Gerakan kecil yang tadi terlihat biasa sekarang mempunyai maksud, dan suaranya membawa perhatian penonton tanpa perlu dipaksa.
Matthew duduk lebih tegak sejak kemunculan pertama adiknya.
Thomas sempat menoleh, lalu kembali kepada panggung. Ada kebanggaan yang tidak perlu dijelaskan di wajah sepupunya. Ia merasa lega karena tidak lagi menjadi orang yang menghalangi Matthew memperoleh malam seperti ini.
Di sebelah Gresham, Annalise tertawa pada kalimat yang sebenarnya sudah diketahui akan datang. Thomas mendengar tawanya di sela suara penonton dan menemukan bahwa sebagian perhatian kini sulit dikembalikan kepada cerita.
Ketika tirai turun untuk jeda, gadis itu menoleh.
"Kau melewatkan sesuatu yang lucu."
"Aku mendengarnya."
"Mendengar tidak sama dengan melihat."
Thomas hampir mengatakan bahwa dirinya sedang melihat hal lain yang disukai. Untunglah Edith meminta air sebelum kalimat itu keluar dan membuat ibunya mempunyai bahan godaan selama perjalanan pulang.
***
Pada akhir pertunjukan, tepuk tangan berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan Annalise. Joanna membungkuk bersama pemain lain. Alaric muncul sesudahnya, tetap sebagai Ronnie Rayleigh bagi sebagian besar orang dalam ruangan.
Edith bertepuk tangan. Ada sesuatu yang lembut pada wajahnya ketika melihat pria itu menerima penghargaan untuk pekerjaan yang dipilih setelah kehilangan begitu banyak hal.
Duke of Berrow menunduk untuk menanyakan apakah Annalise ingin segera pulang atau menyampaikan selamat terlebih dahulu. Gadis itu memeriksa keadaannya sendiri sebelum menjawab.
"Sebentar saja, Papa."
Tidak ada pusing malam itu, hanya lelah yang mulai terasa pada punggung. Mereka menunggu sampai kerumunan sedikit berkurang, lalu menemui Joanna di ruang yang dapat menerima beberapa tamu.
Mrs. Hudson sudah berada di atas kursi, sepenuhnya yakin bahwa malam tersebut diselenggarakan demi kenyamanannya.
Gresham menjaga jarak dari ekor yang bergerak malas.
"Setidaknya dia tidak memakai gaunku sebagai tempat tidur."
"Belum," ujar Edith.
Annalise menahan tawa dengan susah payah.
***
Joanna memeluk sahabatnya setelah meletakkan selendang. Wajahnya masih menyimpan sisa rias panggung, tetapi suaranya telah kembali menjadi suara yang dikenal Annalise.
"Kau akan menulis?"
"Jika kau menjanjikan alamat yang tidak berubah sebelum suratku tiba."
Joanna menunjukkan tempat pengiriman surat yang biasa dipakai rombongan. Matthew juga telah mencatatnya. Mereka membicarakan kota persinggahan berikutnya tanpa membuat janji bahwa setiap rencana akan berjalan tepat seperti yang tertulis.
Annalise memberikan selembar gambar yang disimpan di dalam bukunya. Gambar itu memperlihatkan Mrs. Hudson berbaring dengan satu kaki menjuntai.
Joanna memandangnya, lalu tertawa senang.
"Kau berhasil menangkap kesombongannya."
"Bagian itu paling mudah."
Thomas berdiri cukup dekat untuk melihat. Ia mengenali garis yang lebih sabar daripada gambar burung dalam buku Annalise. Gadis itu tampak malu menerima pujian, tetapi tidak merebut hasil pekerjaannya kembali.
Matthew menatap gambar tersebut, kemudian kucing aslinya.
"Kurasa ia perlu kursi sendiri dalam kereta."
"Ia sudah berpendapat begitu sejak lama," jawab Joanna.
***
Setelah keluarga Berrow berpamitan, Matthew tinggal untuk membantu menutup peti terakhir yang perlu disiapkan malam itu. Thomas memberi tahu bahwa dirinya akan pulang bersama Edith dan mengingatkan waktu pekerjaan esok hari tanpa menyisipkan tuntutan agar sepupunya segera menyusul.
Joanna memperhatikan pertukaran singkat tersebut.
"Kalian masih bertengkar?" tanyanya ketika hanya mereka berdua berada di dekat pintu.
Matthew mempertimbangkan jawabannya.
"Tidak setiap hari."
"Itu terdengar melelahkan."
"Ada beberapa hal yang belum selesai."
Joanna mengangguk. Ia tidak meminta kakaknya melupakan semuanya demi membuat pertemuan keluarga terasa lebih manis. Sebaliknya, ia menanyakan apakah Matthew dapat datang pagi sebelum rombongan berangkat.
"Aku sudah membicarakannya. Aku bisa."
Senyumnya membuat Matthew merasa jawaban sederhana tersebut lebih berguna daripada janji besar yang tak mungkin ditepati.
Di rumah, Annalise meletakkan buku gambarnya di meja dan menemukan tempat kosong bekas gambar kucing yang diberikan. Ia tidak menyesal melepaskannya.
Di halaman berikutnya masih ada gambar tangan yang belum selesai.
Untuk itu, ia belum siap memilih penerima.