Thomas, jika seorang wanita memperlihatkan sesuatu yang disukainya, jangan terburu-buru menunjukkan betapa pandainya dirimu.
Duke of Gordon ke-X.
***
Annalise menyesali keputusan mengeluarkan buku gambarnya hampir seketika setelah Thomas duduk.
Benda itu terlihat tidak berbahaya ketika berada di kamar. Di ruang duduk, dengan seorang duke memperhatikan sampulnya, buku tersebut mendadak terasa seperti kumpulan kesalahan yang sengaja diikat menjadi satu.
"Kau tidak wajib memperlihatkannya," kata Thomas.
"Aku tahu. Jangan membuatku tampak begitu gugup."
"Aku belum mengatakan kau gugup."
"Wajahmu sudah."
Thomas tersenyum. Ia mengingat tuduhan yang sama di toko buku dan memutuskan bahwa wajahnya rupanya mempunyai kebiasaan berbicara tanpa izin.
Lady Gresham sedang menyelesaikan surat di meja dekat jendela. Wilda datang membawa teh, kemudian menaruh bantal kecil di kursi Annalise. Kehadiran mereka membuat pertemuan itu terasa biasa, meskipun jantung gadis tersebut jelas tidak bekerja sama.
Akhirnya ia membuka halaman pertama yang sudah dipilih.
"Jika kau tertawa, aku akan mengambilnya kembali."
"Aku akan berusaha mempertahankan kehormatanku."
"Aku tidak terlalu mengandalkan kehormatanmu dalam urusan ini."
***
Gambar pertama memperlihatkan kendi dan dua buah pir. Salah satu pir tampak lebih besar daripada kendi, tetapi Thomas tidak menyebutkannya. Ia memperhatikan garis yang dihapus dan digambar kembali, bekas kesabaran yang tidak pernah dibayangkannya dimiliki gadis yang memanjat pohon demi seekor kucing.
"Berapa lama kau mengerjakannya?"
"Sampai Wilda mengambil buahnya untuk dimakan."
Dari dekat pintu terdengar suara batuk kecil.
"Buahnya mulai terlalu matang, Milady."
"Itulah alasan resmi yang diberikan kepadaku."
Thomas tertawa, lalu membalik halaman setelah memperoleh izin. Ada jendela, lipatan tirai, tangan Gresham yang belum selesai, dan seekor burung yang bentuk tubuhnya memang menimbulkan pertanyaan.
Annalise segera berusaha menutup buku.
Terlambat.
"Aku memahami pendapat Richard," ujar Thomas.
"Kau berjanji tidak tertawa."
"Aku belum tertawa."
"Itu lebih buruk. Kau sedang menderita menahannya."
Thomas menyerah. Tawanya membuat Gresham mengangkat wajah, kemudian ikut tersenyum setelah mengetahui halaman mana yang sedang dibahas.
Annalise menarik buku ke pangkuan, tetapi kemarahannya tidak berhasil bertahan. Ia pun tertawa, terutama ketika Wilda mengatakan bahwa burung aslinya mungkin sedang mengalami hari yang sulit.
***
Pada halaman berikutnya, Thomas menemukan gambar yang tidak lucu sama sekali.
Sebuah jendela dilihat dari tempat tidur. Bagian bingkainya digambar berulang kali, sementara taman di luar hanya terlihat sedikit. Di sudut kertas ada ujung selimut dan tangan yang terbaring di atasnya.
Annalise memperhatikan perubahan wajahnya.
"Itu dibuat ketika aku tidak boleh turun selama beberapa hari," katanya. "Aku bosan menggambar kendi."
Thomas tidak menyampaikan betapa menyedihkannya keadaan tersebut. Ia bertanya apa yang ingin dilihatnya jika jendelanya lebih rendah.
"Jalan setapak dekat pagar. Aku mendengar orang lewat, tetapi hanya dapat melihat bagian atas topi mereka. Aku pernah membuat daftar pengunjung berdasarkan topinya."
"Apakah berhasil?"
"Papa memakai topi Richard sekali. Seluruh pekerjaanku menjadi tidak berguna."
Thomas memandang gambar itu lagi. Ada kehidupan yang terus berlangsung di luar pandangan Annalise, dan gadis tersebut telah menghabiskan banyak waktu mencoba menebaknya.
Ia kini sedikit lebih memahami mengapa larangan sederhana dapat terdengar seperti pintu yang kembali dikunci.
"Apakah kau masih menggambar jendela yang sama?"
"Kadang. Tetapi di sini aku lebih sering menggambar apa yang bisa kudatangi."
Annalise membuka halaman dengan pot tanaman di ruang depan. Salah satu sisinya belum selesai karena Gresham memindahkannya untuk memberi jalan kepada tamu. Gadis itu pernah mengeluh selama makan malam, lalu diminta menggambar sesuatu yang lebih mudah dibawa ke kamar.
"Mama menawarkan vas bunga," katanya.
"Kedengarannya cukup masuk akal."
"Bunganya diganti keesokan pagi."
Thomas tersenyum. Di meja dekat jendela, Gresham mengangkat tangan seolah mengakui kesalahan tanpa ingin menghentikan suratnya. Annalise membalas gerakan itu dengan senyum, dan Thomas merasa lega mendapati kisah tentang hari-hari yang sulit masih menyisakan ruang bagi gurauan kecil dalam keluarga tersebut.
***
Annalise memindahkan buku sebelum suasana menjadi terlalu serius. Ia menanyakan apakah Thomas mempunyai kebiasaan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan atau membuat orang menuruti kehendaknya.
"Itu dua hal yang berbeda?"
"Bagi orang lain, ya."
Thomas menerima sindiran tersebut. Ia mengaku dahulu suka menelusuri peta perjalanan, membayangkan tempat yang belum dilihatnya. Setelah benar-benar harus melakukan banyak perjalanan, kesenangan itu berubah menjadi perhitungan jalan, cuaca, serta waktu tiba.
"Kedengarannya kau berhasil merusak kesenanganmu sendiri," ujar Annalise.
"Aku cukup berbakat."
Ia meminta selembar kertas, lalu menggambar bentuk jendela yang baru dilihat. Hasilnya begitu miring hingga Annalise mendekat tanpa sadar.
"Apakah rumahmu sedang roboh?"
"Itu sudut pandang."
"Sudut pandang siapa? Orang yang jatuh dari kuda?"
Thomas memandang hasil pekerjaannya dan tertawa. Tinta kecil melekat di sisi jarinya karena ia mengambil pena terlalu cepat. Annalise memberinya kain sebelum noda itu berpindah ke lengan kursi ibunya.
Jemari mereka bersentuhan sebentar.
Gadis itu kembali duduk dengan perhatian berlebihan kepada letak buku di pangkuan.
***
Thomas seharusnya menyerahkan kertas tersebut dan menganggap kebodohannya selesai. Namun, Annalise mulai menunjukkan cara memperhatikan jarak antara sisi bingkai. Ia berbicara dengan kesungguhan yang menyenangkan untuk didengar.
Ia memperbaiki satu garis. Kemudian garis lain.
Ketika akhirnya mengangkat wajah, Thomas ternyata tidak sedang memperhatikan gambar.
"Apa?"
"Kau mempunyai noda di sini."
Ia menunjuk pipinya sendiri. Annalise mengusap sisi yang salah. Thomas hampir mengulurkan tangan, lalu berhenti dan menyerahkan kain bersih dari meja.
Gadis itu mengambilnya. Kali ini ia menghapus noda dengan benar, dibantu Wilda yang menahan senyum.
"Kalian semua sangat menikmati kesialanku."
"Aku terutama menikmati pelajarannya," ujar Thomas.
Gresham membalik halaman surat dengan bunyi sedikit lebih keras. Thomas kembali melihat gambar, sementara Annalise menemukan bahwa pipinya terasa hangat meskipun seluruh noda sudah hilang.
Oh dear. Membahas garis jendela rupanya dapat menjadi kegiatan yang berbahaya.
***
Kunjungan berakhir ketika Annalise mulai mengubah posisi duduk untuk ketiga kalinya. Thomas mengenali bahwa gadis itu lelah sebelum ia perlu memberikan alasan panjang. Ia menutup wadah tinta dan mengembalikan pena.
"Aku sudah cukup merusak kertasmu hari ini."
Annalise ingin membantah, tetapi bahunya memang mulai berat. Ia mengizinkan pria itu berpamitan, lalu terkejut ketika Thomas menanyakan apakah gambar jendelanya boleh dibawa pulang.
"Yang kubuat?"
"Yang kubuat. Aku belum berani meminta hasil pekerjaan guruku."
Ia tertawa dan menyerahkan kertas tersebut. Thomas melipatnya hati-hati, seolah rumah miring itu layak disimpan bersama surat penting.
Sesudah tamunya pergi, Annalise mendapati selembar kertas kosong tertinggal di meja. Ia mengambil pensil dan mencoba menggambar tangan yang memegang pena.
Bukan tangan sendiri kali ini.
Wilda melihat dari samping, lalu memilih membereskan cangkir tanpa berkomentar.
Annalise menghentikan pensil ketika menyadari siapa yang sedang digambarnya. Untuk beberapa saat ia hanya memandangi garis jari yang belum selesai.
Kemudian ia melanjutkan.
Tidak setiap hal yang mulai disukainya perlu segera diumumkan kepada seluruh rumah.