Pada pagi ketiga setelah mengembalikan cincin, Annalise menemukan bahwa berita dapat berlari lebih cepat daripada kereta terbaik milik ayahnya.
Lady Gresham baru saja menerima kunjungan seorang kenalan ketika pertanyaan itu muncul. Wanita tersebut datang membawa kabar tentang penjahit, tetapi rupanya keadaan sebuah pertunangan jauh lebih menarik daripada panjang lengan gaun.
"Aku mendengar ada perubahan rencana, Duchess. Semoga bukan karena kesehatan Lady Annalise."
Annalise menurunkan cangkir. Jemarinya yang kosong tampak jelas di atas pangkuan. Selama dua hari ia sudah merasa lebih ringan tanpa cincin; sekarang ia mendadak sadar bahwa orang lain juga dapat melihat ketiadaannya.
Ibunya tidak buru-buru menjawab.
"Kami memutuskan tidak meneruskan pertunangan," kata Annalise. "Keputusan mengenai pernikahan kami belum sejalan."
Tamu itu berkedip, seolah jawaban yang disampaikan langsung oleh orang bersangkutan telah merusak kesempatan mengumpulkan dugaan.
"Tentu. Orang muda kadang terlalu cepat menentukan hati."
"Kadang orang yang lebih tua juga terlalu cepat menentukannya untuk mereka," ujar Gresham sambil menawarkan kue.
Annalise menatap ibunya.
Lady Gresham tampak sepenuhnya sibuk memilih penjepit perak.
***
Kunjungan tersebut tidak berlangsung lama setelah itu. Meskipun demikian, Annalise tetap memeriksa jendela ketika kereta tamu menjauh. Ada rasa tidak nyaman yang tidak dapat diusir hanya dengan mengetahui dirinya sudah melakukan pilihan yang tepat.
"Mama yakin aku harus datang sore ini?"
Mereka mempunyai undangan minum teh yang diterima sebelum pembatalan. Beberapa keluarga akan hadir, termasuk Edith. Annalise semula menantikan musik yang dijanjikan tuan rumah. Sekarang ia membayangkan setiap orang menghitung jarak antara dirinya dan Thomas meskipun pria itu belum tentu datang.
"Kau boleh tinggal jika lelah," jawab ibunya. "Tetapi jangan memberi orang tadi kekuasaan menentukan apakah kau masih menyukai musik."
Itu terdengar masuk akal. Sayangnya, sesuatu yang masuk akal tidak selalu membuat perut berhenti terasa aneh.
Annalise meminta Wilda menyiapkan gaun biru.
"Yang tidak terlalu pucat," tambahnya.
"Supaya mereka tidak menanyakan kesehatan Anda?"
"Supaya aku sendiri senang melihatnya."
Wilda mengangguk dengan senyum kecil. Jawaban tersebut ternyata membuat Annalise sedikit lebih berani daripada seluruh pembelaan yang disiapkannya sejak pagi.
***
Thomas menerima undangan yang sama. Ia berdiri di depan meja ruang kerja ketika Edith memberitahukan bahwa keluarga Berrow tetap akan hadir.
"Jangan membuat wajah seperti hendak menghadiri pemeriksaan," ujar ibunya.
"Mama baru saja memberiku kabar seolah aku harus menyiapkan pembelaan."
"Aku hanya tidak ingin kau datang dan bertingkah terlalu terkejut."
Thomas melipat surat yang sedang dibaca. Ia belum mengunjungi Annalise sejak pengembalian cincin. Sebuah catatan singkat telah dikirim untuk menanyakan apakah buku tanaman itu menjawab rasa ingin tahunya. Balasannya datang kemarin: daun yang dimaksud ternyata berbeda, dan gambar dalam buku tidak dapat disalahkan atas ketidakmampuan Thomas mengenali tumbuhan.
Ia sudah membaca jawaban itu lebih sering daripada yang pantas diakui.
"Apa aku perlu menyapanya seperti biasa?" tanyanya.
Edith menatap putranya.
"Jika kau perlu bertanya kepada ibumu bagaimana menyapa seorang wanita, barangkali ada bagian pendidikan Alaric yang benar-benar gagal."
Thomas mendesah. Ibunya pergi dengan wajah puas, meninggalkannya bersama persoalan yang tidak dapat diselesaikan melalui surat resmi.
***
Annalise sedang berbicara dengan istri seorang kenalan ayahnya ketika Thomas masuk. Ia melihat pria itu melalui celah di antara dua tamu dan langsung berharap dirinya tidak terlihat sedang memperhatikan pintu.
Harapan itu terlambat.
Thomas membungkuk dari kejauhan. Annalise membalas anggukan, lalu kembali kepada pembicaraan tentang pertunjukan teater. Tidak terjadi apa pun yang luar biasa. Langit-langit tidak runtuh karena dua orang yang batal menikah berada di ruangan yang sama.
Namun, beberapa menit kemudian seorang pria menyambut Thomas dengan senyum yang terlalu lebar.
"Wellington, Bath rupanya tidak berhasil menahanmu seperti yang kami kira."
Annalise masih cukup dekat untuk mendengar. Ia menegakkan punggung, membenci kenyataan bahwa tubuhnya bereaksi lebih dahulu daripada pikirannya.
Thomas mengambil gelas yang ditawarkan pelayan.
"Bath memberiku banyak alasan untuk menyukainya. Tentang pertunangan itu, keluarga kami sudah menyampaikan yang perlu diketahui."
"Ah, tentu, tentu. Aku tidak bermaksud—"
"Bagaimana perjalananmu dari London?"
Nada Thomas tetap ramah. Justru itulah yang membuat pergantian pembicaraan tersebut tidak menyediakan tempat untuk perlawanan.
Annalise menunduk menyembunyikan senyum. Pria menyebalkan itu memang sangat terampil mengakhiri sesuatu ketika menginginkannya.
***
Musik dimulai tidak lama sesudahnya. Annalise memperoleh kursi dekat ibunya, sementara Thomas duduk lebih jauh. Ia tidak mengatur agar seseorang bertukar tempat. Tidak pula mengirim tatapan muram kepada pria yang kebetulan duduk di sisi lain Annalise.
Setidaknya, tidak sampai pria itu membungkuk terlalu lama untuk mengomentari permainan piano.
Thomas mengalihkan pandangan kepada pemusik.
Edith, yang duduk di dekatnya, mengipasi wajah dengan kecepatan yang mencurigakan.
"Jangan tertawa," gumamnya.
"Aku sedang menikmati musik."
"Tentu."
Di seberang ruangan, Annalise tidak mendengar percakapan tersebut. Ia justru mulai menikmati sore itu. Ada pertanyaan tentang teater, gurauan mengenai cuaca, serta seorang wanita yang meminta nama toko buku tanpa sekali pun memandang tangan kirinya.
Tidak semua orang menunggunya merasa malu.
Wanita yang menanyakan toko buku itu kemudian mengeluarkan kipas dengan rusuk yang patah. Ia mengeluh telah mendudukinya sendiri sebelum berangkat dan kini harus berpura-pura benda tersebut masih dapat dipakai.
Annalise membantu melipat bagian yang tersangkut. Selama beberapa menit mereka sama-sama sibuk menyelamatkan sutra tipis dari ujung kayu, tanpa pembicaraan mengenai duke atau cincin.
"Suamiku mengatakan aku seharusnya membawa yang lain," kata wanita itu.
"Nasihat yang sangat berguna sesudah Anda tiba."
Mereka tertawa bersama. Ketika kipas akhirnya dapat ditutup, Annalise menyadari bahunya sudah tidak sekaku tadi. Ia bahkan lupa memeriksa apakah Thomas sedang memandang ke arahnya.
Kesadaran itu lebih berharga daripada jawaban cerdas yang semula disiapkan untuk setiap kemungkinan hinaan.
***
Ketika keluarga Berrow hendak pulang, Thomas mendekat setelah menyapa sang duke. Annalise sedang mengenakan sarung tangan dan mengalami kesulitan pada salah satu kancing.
"Kau tampak ingin menghukum benda itu," katanya.
"Benda ini lebih keras kepala daripada beberapa orang yang kukenal."
"Perbandingan yang kejam bagi sarung tangan."
Annalise tertawa. Wilda datang membantu, dan Thomas menunggu sampai urusan kecil itu selesai sebelum menanyakan apakah ia bersedia menerima kunjungan dua hari lagi.
"Sore hari," jawab Annalise. "Papa ingin berjalan denganku besok."
"Aku akan datang sore hari."
Ia tidak menambahkan alasan mengapa hari berikutnya akan lebih baik baginya. Annalise menyadarinya, lalu merasa kesal kepada diri sendiri karena kini memperhatikan begitu banyak hal kecil.
Di dalam kereta, Gresham menanyakan apakah musiknya menyenangkan.
"Sangat."
"Dan percakapannya?"
Annalise memandang jalan melalui jendela. "Sebagian."
Ibunya tidak mendesak. Ketika kereta berbelok, gadis itu masih dapat melihat Thomas berdiri di depan rumah, berbicara dengan Edith.
Ia sempat datang dengan keinginan membuktikan bahwa dirinya tidak hancur oleh pembatalan pertunangan.
Ia pulang dengan persoalan yang jauh lebih menjengkelkan.
Dua hari ternyata terasa cukup lama.