Thomas, tidak semua perjalanan membutuhkan tujuan yang dapat kaucatat sebagai keberhasilan.
Duke of Gordon ke-X.
***
Annalise memilih toko buku sebelum Thomas selesai menawarkan dua kemungkinan tempat berjalan. Ia telah mendengar ada kiriman baru yang menarik, dan kebetulan Wilda juga ingin membeli keperluan kecil di jalan yang sama.
"Jadi aku hanya mengikuti rencana yang sudah dibuat?" tanya Thomas.
"Kau mengundangku memilih. Ini akibatnya."
Ia tertawa, lalu mempersilakannya menentukan waktu keberangkatan. Perjalanan dilakukan tanpa tergesa-gesa, dengan kesempatan duduk jika Annalise merasa perlu.
Wilda mengikuti mereka dengan wajah yang jauh lebih tenang dibandingkan ketika majikannya berada di atas pohon. Tidak ada kucing dalam keranjang, tidak ada janji hanya akan mengambil sesuatu sebentar yang berakhir dengan gaun tersangkut di dahan.
Thomas menanyakan hal yang membuatnya tampak begitu lega. Pelayan itu hanya menunduk sopan, tetapi Annalise langsung memahami arah pembicaraan.
"Kalian tidak boleh terus membicarakan pohon itu."
"Aku belum menyebut pohon," jawab Thomas.
"Wajahmu sudah."
Wilda tersenyum sebelum berhasil menyembunyikannya.
***
Toko tersebut tidak terlalu luas. Ada tumpukan yang membuat pemiliknya terus meminta pengunjung menjaga langkah, dan aroma kertas yang segera membuat Annalise lupa bahwa dirinya semula ingin bersikap sedikit lebih dingin kepada Thomas.
Ia berhenti pada buku dengan gambar tumbuhan. Thomas memperhatikan cara gadis itu membalik halaman, hati-hati tetapi penuh rasa ingin tahu.
"Kau tertarik pada tanaman?"
"Aku tertarik mengetahui apa yang kulihat. Tidak semuanya perlu berakhir sebagai ramuan yang menyuruhku menelan rasa pahit."
Ia memperlihatkan satu gambar daun. Bentuknya mengingatkan Annalise pada tanaman yang tumbuh dekat jendela rumahnya, meskipun dirinya belum yakin apakah benar sama.
Thomas melihat halaman tersebut dan mengakui tidak mempunyai jawaban.
Gadis itu mendongak dengan sangat cepat.
"Apa?" tanyanya.
"Aku tidak tahu."
"Bukan, aku mendengarnya. Aku hanya ingin memastikan tidak sedang bermimpi."
Thomas tertawa. Pemilik toko yang lewat menatap mereka dengan rasa ingin tahu, lalu mengarahkan Annalise kepada buku lain yang mungkin memuat gambar lebih jelas.
Ia berterima kasih dan melanjutkan pencarian. Tidak setiap pertanyaan harus dijawab oleh pria yang berdiri di sampingnya.
Anehnya, Thomas tidak merasa kehadirannya menjadi tidak diperlukan karenanya.
***
Annalise bercerita bahwa saat harus tinggal di dalam rumah karena sakit, ia sering menggambar benda yang terlihat dari jendela. Hasilnya tidak selalu bagus. Richard pernah mengatakan burung yang digambarnya lebih menyerupai seekor ayam yang sedang marah.
"Apakah memang demikian?"
"Sedikit," akunya dengan berat hati.
Thomas ingin melihatnya. Permintaan tersebut membuat Annalise tiba-tiba lebih malu daripada ketika membicarakan pertunangan di depan ayahnya.
Ia dapat menyiapkan sindiran untuk seorang duke yang arogan. Namun, seseorang yang sungguh ingin melihat gambar buruk buatannya merupakan persoalan berbeda.
"Mungkin nanti," katanya.
Thomas tidak meminta Wilda mencarinya diam-diam. Ia hanya mengangguk dan kembali memperhatikan buku yang sedang dipilih gadis itu.
Ketika waktunya membayar, Annalise menggunakan uang yang dibawanya sendiri. Thomas menawarkan membawa buku selama mereka berjalan, dan kali ini ia menerima tanpa merasa harus menolak setiap bantuan agar tetap mempunyai kemauan sendiri.
Sebelum mereka keluar, pemilik toko menemukan selembar kertas yang terselip di antara buku-buku pada meja. Seorang pengunjung rupanya meninggalkan daftar belanja di sana. Thomas mengambilnya agar tidak terinjak, kemudian menyerahkannya kembali.
Annalise sempat membaca satu baris dan tersenyum.
"Apa yang lucu?"
"Seseorang menulis tiga kali agar tidak melupakan pita. Wilda melakukan hal serupa jika aku berjanji akan mengingat sesuatu."
"Karena Anda kemudian melihat kucing, Milady," jawab Wilda dari belakang.
Thomas tampak sangat menikmati pembelaan itu. Annalise mengalihkan perhatian kepada buku di tangannya, tetapi ia pun akhirnya tertawa.
Di ambang pintu, mereka harus menunggu seorang perempuan tua melewati jalan sempit di antara tumpukan. Thomas bergeser, menjaga agar buku yang dibawanya tidak mengenai rak, dan untuk sesaat terlihat seperti pengunjung biasa yang terlalu tinggi bagi toko tersebut.
Annalise menyukai pemandangan itu. Tidak ada orang bergegas membuka jalan karena gelarnya, tidak ada pelayan menunggu perintah dengan wajah tegang. Hanya seorang pria yang diminta berhati-hati terhadap siku sendiri.
Buku itu tidak menjadi hadiah yang perlu dibalas.
Ia hanya cukup berat untuk membuat tangan lain berguna.
***
Mereka berhenti di tempat yang memungkinkan duduk dan menikmati udara. Wilda memilih posisi tidak jauh, membawa keperluannya sambil sesekali memeriksa apakah Annalise membutuhkan sesuatu.
Thomas menanyakan apakah gadis itu selalu tidak menyukai season atau hanya tidak ingin mengikuti yang sekarang.
Annalise mempertimbangkan jawabannya. Ia telah begitu lama menggunakan Hugo serta kesehatannya sebagai alasan sehingga kadang lupa memisahkan apa yang sungguh tidak disukainya.
"Aku tidak membenci dansa atau bertemu orang," katanya. "Aku membenci perasaan bahwa setiap pertemuan harus segera menghasilkan seseorang yang bisa dipilih atau menolakku."
Thomas memandangnya. "Aku memahami bagian itu."
"Kau justru melakukannya dengan sangat cepat."
Ia menerima teguran tersebut dengan anggukan kecil. "Aku tahu."
Gadis itu menghela napas dan mengatakan dirinya ingin dikenali di luar nama ayah, tubuh yang sering sakit, atau anggapan bahwa ia sudah terlalu lama menunda. Ia mempunyai hal yang ingin dipelajari dan kebiasaan yang mungkin tidak disukai seorang calon suami.
"Seperti menantang pria yang sedang terluka untuk mengaku bahwa ia terluka?"
"Seperti menolak pria yang meminum tehku tanpa bertanya."
Thomas tertawa. Percakapan tersebut seharusnya membuatnya ingin mempertahankan segala alasan mengapa dirinya pantas dipilih. Sebaliknya, ia justru ingin mendengar lebih banyak mengenai hal yang belum pernah ditanyakan kepada Annalise.
***
Saat kembali berjalan, langkah gadis itu melambat. Ia berhenti dan mengatakan ingin beristirahat sebentar lagi sebelum menuju kereta.
Tidak ada rasa malu yang harus disembunyikan melalui kemarahan. Thomas menyerahkan buku kepada Wilda untuk sesaat, lalu menawarkan lengan ketika Annalise merasa siap melanjutkan.
Gadis itu menerimanya. Jemarinya menyentuh kain di lengannya, dan kedekatan yang sangat sederhana tersebut membuat keduanya diam beberapa detik lebih lama.
Thomas tidak menariknya lebih dekat.
Annalise justru menyadari bahwa dirinya ingin tetap berjalan dengan tangan di sana meskipun jalan sudah rata dan tidak ada orang yang menghalangi.
Ia tidak menyukai betapa cepat pikirannya memperhatikan hal tersebut.
Oh dear. Membenci seorang duke yang selalu menyebalkan ternyata jauh lebih mudah daripada memahami duke yang mulai mendengarkan.
Di depan rumah, Thomas mengembalikan buku dan mengatakan ia menikmati sore itu. Annalise melihat wajahnya, mencoba menemukan senyum penuh kemenangan yang biasanya membuatnya ingin melawan.
Yang dilihatnya hanya rasa senang yang tidak meminta sesuatu sebagai balasan.
"Aku juga," katanya akhirnya.
Ia masuk bersama Wilda sebelum merasa perlu menambahkan alasan.
Sore itu tidak menghasilkan jawaban tentang pernikahan. Namun, untuk pertama kalinya Annalise dapat mengingat waktu bersama Thomas tanpa menempatkan sebuah perangkap di tengah setiap percakapan.