Thomas datang tepat pada waktu yang disepakati. Ia tidak membawa bunga, tidak menyiapkan pujian mengenai kediaman Berrow, dan tidak berharap Duke of Berrow akan melupakan tujuan pertemuan hanya karena mereka pernah bekerja dalam urusan yang sama.
Pria itu menerimanya di ruang kerja.
"Putriku sudah bercerita," katanya setelah Thomas duduk.
Sang duke muda mengangguk. "Aku menduga demikian."
"Maka aku ingin mendengar apakah ada bagian yang menurutmu perlu dibantah."
Thomas dapat memilih kata-kata yang membuat tindakannya terdengar lebih ringan. Ia dapat menyebut pertukaran gurauan, kesalahpahaman, atau persetujuan yang akhirnya diberikan Annalise sendiri.
Namun, ia masih mengingat cara gadis itu berdiri menghentikannya pergi kepada ibunya.
"Aku menekannya dengan hal yang ingin ia hindari," jawabnya. "Dan aku memakai ketidaksukaannya merasa kalah untuk memperoleh persetujuan."
Duke of Berrow diam beberapa saat. Ia tampaknya sedang menilai apakah pengakuan tersebut lahir dari penyesalan atau sekadar kemampuan Thomas membaca ruangan.
Thomas tidak bisa menyalahkannya.
***
"Apakah kau akan menerima cara yang sama jika dilakukan seseorang terhadap keluargamu?"
"Tidak."
"Mengapa kau menganggapnya dapat dilakukan kepada putriku?"
Thomas menatap tangan yang diletakkannya di lutut. Pertanyaan sederhana tersebut tidak mempunyai jawaban yang dapat membuat dirinya tampak lebih baik.
Ia menjelaskan bahwa dirinya ingin memilih calon istri sebelum Edith melakukannya, tertarik kepada Annalise, dan terlalu yakin bahwa kesempatan mengenal satu sama lain akan membenarkan cara mereka memulai.
"Jadi kau mengambil keputusan mengenai akhir yang belum kalian jalani," ujar sang ayah.
"Ya."
Duke of Berrow berdiri dan berjalan ke dekat jendela. Ia mengenal pekerjaan Thomas, mengetahui keberanian serta kecerdasannya, dan menghormati jasa yang tidak semuanya dapat dibicarakan di ruang umum.
Namun, hal-hal tersebut bukan jawaban atas pertanyaannya hari itu.
"Aku tidak sedang mencari seorang pahlawan untuk dipamerkan sebagai menantu. Aku ingin putriku tidak perlu mempertahankan suaranya setiap kali seseorang merasa lebih tahu."
Thomas mengangkat wajah. Ia tidak mendengar ancaman mencabut kedudukannya atau menutup pintu semua rumah bangsawan. Kekecewaan yang tenang justru terasa lebih sulit dilawan.
"Aku ingin memperbaiki caraku memperlakukannya."
"Mulailah dengan menerima bahwa perbaikan itu belum tentu membuatnya memilihmu."
Kalimat tersebut menetap di antara mereka cukup lama.
***
Thomas kemudian menanyakan apakah Duke of Berrow meminta pertunangan dibatalkan. Ia tidak mengucapkannya sebagai tantangan, tetapi ingin memahami apa yang sedang diputuskan dalam ruangan tersebut.
Sang ayah menggeleng.
"Annalise yang harus menjawab mengenai dirinya. Aku akan melindungi kesempatan itu, bukan mengambilnya untuk menggantikan keputusanmu dengan keputusanku."
Thomas mengangguk perlahan. Ia tidak dapat meminta kepercayaan sambil merasa kecewa karena seorang ayah menolak memakai kewenangannya untuk mempertahankan cincin di tangan putrinya.
Mereka membahas hal yang lebih praktis. Tidak akan ada pengumuman baru atau persiapan pernikahan sebelum Annalise menentukan pilihannya. Pertemuan dapat tetap berlangsung dengan cara yang disetujui keluarga serta gadis itu sendiri. Thomas tidak akan menganggap izin berkunjung sebagai tanda bahwa seluruh persoalan telah dimaafkan.
"Aku menyetujui itu," katanya.
Duke of Berrow kembali duduk. Sesudah beberapa saat, ia menanyakan keadaan luka punggung Thomas. Pergantian pembicaraan membuat pria muda itu sedikit terkejut.
"Ruthbone menanganinya. Keadaannya membaik."
"Bagus. Jangan membuat Edith kehilangan seseorang lagi hanya karena kau menganggap mengaku sakit memalukan."
Thomas terdiam. Nama ayahnya tidak disebutkan, tetapi keduanya mengetahui ingatan yang baru saja memasuki ruangan.
Sang duke tua tidak menambahkan cerita yang tidak berhak dibagikan. Ia hanya mengatakan bahwa Benyamin pun pernah memerlukan orang lain untuk mengingatkannya berhenti, dan keberanian putranya tidak perlu dibuktikan dengan meniru seluruh kesalahan itu.
Untuk pertama kalinya sejak duduk, Thomas mengucapkan terima kasih tanpa terasa sedang menjaga tata krama.
***
Annalise menemuinya di ruang depan ketika pembicaraan selesai. Lady Gresham berada dekat mereka dan tidak berniat pergi terlalu jauh, tetapi memberi kesempatan keduanya saling menyapa.
Gadis itu masih mengenakan cincin. Thomas melihatnya sebelum memaksa perhatiannya kembali kepada wajah.
"Papa membuatmu ingin meninggalkan Bath?" tanyanya.
"Ayahmu memberiku banyak hal untuk dipikirkan."
"Itu kebiasaannya. Richard menyebutnya hukuman tanpa suara keras."
Thomas tersenyum sedikit. Annalise tidak langsung membalas. Ia menanyakan apakah Thomas marah karena dirinya menceritakan kejadian malam pertunangan dengan lengkap.
"Tidak," jawabnya.
Gadis itu tampak menilai apakah jawaban tersebut benar.
"Aku tidak ingin menyimpan versi berbeda untuk setiap orang," katanya. "Aku lelah mengingat bagian mana yang boleh disebut."
Thomas mengangguk. Ia cukup mengenal kelelahan tersebut, meskipun terlalu sering menyebutnya sebagai bagian kecerdikan yang diperlukan.
"Kau boleh mengatakan apa yang terjadi padamu. Aku tidak berhak meminta ceritanya diubah agar aku tampak lebih baik."
Annalise menunduk sesaat. Ada kelegaan yang tidak langsung berubah menjadi kegembiraan.
Mereka menyepakati berjalan sebentar pada hari yang dipilih setelah Annalise memastikan keadaan tubuhnya dan kegiatan keluarga. Bukan perayaan pertunangan, hanya kesempatan berbicara di luar ruangan yang beberapa hari terakhir terasa penuh pertanyaan.
Lady Gresham kemudian menanyakan apakah Edith akan makan malam bersama mereka. Thomas menjawab ibunya belum menyebutkan rencana lain, tetapi ia akan menyampaikan undangan itu.
"Mama dapat menanyakannya sendiri ketika beliau pulang," sela Annalise. "Kurasa mereka tidak akan berhasil melewati satu sore tanpa berbicara."
"Ada perkara rumah tangga yang perlu kami bahas," jawab ibunya.
"Apakah perkara itu mempunyai rambut gelap dan baru keluar dari ruang kerja Papa?"
Thomas mengangkat alis. Gresham menatap putrinya dengan teguran yang gagal menyembunyikan senyum.
"Kau mulai terlalu pandai menebak."
"Aku tinggal bersama Mama. Itu latihan yang panjang."
Percakapan ringan tersebut membuat Thomas teringat bahwa rumah ini tetap mempunyai kehidupan ketika dirinya tidak berada di dalamnya. Annalise mempunyai lelucon bersama ibunya, surat dari saudara, dan kebiasaan yang tidak menunggu dirinya datang untuk menjadi menarik. Ia ingin memperoleh tempat di antara semua itu. Keinginan tersebut terasa berbeda dari sekadar membawa pulang seorang duchess agar Edith berhenti mendesaknya.
Thomas berpamitan sebelum menganggap percakapan singkat itu sebagai izin tinggal lebih lama.
***
Matthew menunggu di luar. Ia melihat wajah sang master dan memilih tidak menanyakan apakah dirinya perlu menyiapkan perjalanan mendadak meninggalkan kota.
Thomas justru menanyakan urusan Joanna hari itu.
"Ia meminta saya menonton bagian akhir latihan," jawab Matthew. "Jika pekerjaan sudah selesai."
"Pergilah setelah surat terakhir disiapkan. Aku akan memeriksa sisanya."
Matthew mengangguk. Ia masih memperhatikan apakah perubahan kecil semacam itu akan bertahan ketika Thomas tidak sedang merasa bersalah.
Namun, hari itu ia tidak menolak kesempatan hanya karena kepercayaan belum pulih seluruhnya.
Thomas berjalan menuju kereta, kemudian berhenti sebentar untuk memandang rumah di belakangnya.
Ia datang sebagai seseorang yang terbiasa membawa pulang persetujuan.
Kali ini ia pulang dengan kemungkinan bahwa jawaban yang diinginkan tidak akan diberikan.
Dan jika ia sungguh ingin menjadi pria yang dapat dipercaya Annalise, kemungkinan tersebut harus dibiarkannya tetap ada.