Thomas, kau boleh menyiapkan jawaban untuk seorang duke. Untuk seorang ayah, siapkan kebenaran.
Duke of Gordon ke-X.
***
Thomas pernah duduk di hadapan Duke of Berrow untuk membahas pekerjaan yang tidak dapat dipercayakan kepada sembarang orang. Ia mengingat ketenangan pria itu, kemampuannya menemukan bagian yang sengaja dilewatkan, serta kebiasaan menunggu tanpa menolong lawan bicara mengisi keheningan.
Semua hal tersebut mendadak terasa kurang menyenangkan ketika Annalise berdiri di antara mereka.
"Papa datang lebih cepat," kata gadis itu sambil masih memegang lengan ayahnya.
"Rupanya kau tidak keberatan."
"Tentu tidak."
Sang duke tersenyum kepada putrinya. Ia menanyakan keadaan perjalanan kecilnya di Bath, lalu mendengarkan jawaban tentang teater, kucing, dan buku yang baru dibaca. Annalise berbicara lebih cepat daripada biasanya sampai Lady Gresham mengingatkannya agar memberi kesempatan ayahnya duduk.
Thomas mundur sedikit untuk memberikan jalan. Ia baru menyadari betapa menyenangkan suara tawa gadis itu ketika tidak sedang digunakan untuk membuatnya kesal.
Sayangnya, sang ayah juga cukup cepat menyadari arah perhatiannya.
"Wellington, silakan bergabung. Aku tidak ingin membuatmu berdiri seperti tamu yang datang pada hari yang salah."
Thomas membungkuk singkat. "Terima kasih."
Edith, yang sejak tadi berada di dekat jendela, menatap putranya dengan senyum yang sangat ingin diabaikannya.
Rupanya tidak seorang pun berniat membuat pertemuan ini lebih mudah baginya.
***
Percakapan pertama berlangsung mengenai perjalanan dan keadaan London. Duke of Berrow menyampaikan kabar singkat keluarga, termasuk bahwa Richard serta Arthur mengetahui adik bungsu mereka sedang mempunyai banyak hal untuk dijelaskan.
Annalise langsung meringis.
"Mama menulis kepada mereka?"
"Mama menulis kepada ayahmu," jawab Gresham. "Ayahmu mempunyai hak membaca surat di dekat putra-putranya."
"Mereka membaca dari balik bahu Papa, bukan?"
Sang duke mengambil teh tanpa menjawab terlalu cepat. "Saudara-saudaramu mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi."
Thomas menunduk sedikit untuk menyembunyikan senyum. Annalise melihatnya dan memberikan tatapan yang jelas menjanjikan pembalasan.
Namun, ketika sang ayah bertanya mengenai kesehatannya, wajah gadis itu berubah lebih serius. Ia menceritakan rasa pusing setelah pertunjukan dan kunjungan Ruthbone keesokan harinya. Tidak semuanya disampaikan oleh ibunya, dan tidak ada upaya mengubah malam tersebut menjadi bukti bahwa ia harus kembali dikurung dalam rumah.
Duke of Berrow mendengarkan langsung dari putrinya, lalu menanyakan apa yang saat ini membuatnya nyaman. Annalise menjelaskan bahwa ia masih dapat beraktivitas, tetapi perlu berhenti ketika tubuhnya meminta jeda.
Pria itu mengangguk. Ia tidak menjanjikan akan mengabaikan kekhawatiran, hanya mengatakan akan menemui Ruthbone untuk mendengar bagian yang boleh dibicarakan bersama keluarga.
Thomas menyadari bahwa tidak sekali pun sang duke memakai kelemahan tubuh Annalise sebagai alasan mengambil seluruh percakapan dari tangannya.
Barangkali ada lebih banyak hal yang dapat dipelajarinya dalam ruang duduk tersebut daripada di banyak pertemuan resmi.
***
Setelah tamu memperoleh kesempatan berpamitan, Duke of Berrow meminta waktu berbicara dengan putrinya. Thomas menyetujui pertemuan tersendiri pada pagi berikutnya, lalu pulang bersama Edith.
Di kereta, ibunya menanyakan apakah ia menikmati teh.
"Mama mengetahui bahwa bukan tehnya yang sedang kupikirkan."
"Tentu. Tetapi aku belum memutuskan apakah ingin membuatmu lebih gugup."
Thomas menatap jalan di luar. Edith tertawa kecil dan untuk sekali ini membiarkannya berpikir tanpa menambahkan nasihat yang dibungkus godaan.
Sementara itu, Annalise duduk bersama ayah serta ibunya. Cincin di tangan terasa lebih berat daripada saat pertama diterima. Ia sudah menulis kabar pertunangan, tetapi belum pernah menceritakan dengan lengkap bagaimana keputusan tersebut terjadi.
Ayahnya tidak memulai dari apakah ia mencintai Thomas.
"Ceritakan bagaimana kau sampai mengenakan cincin itu."
Annalise menarik napas. Ia memulai dari pohon, Mrs. Hudson, luka, dan nama yang disembunyikan. Kemudian ia bercerita mengenai kedatangan Thomas pada malam hari, cara pria itu mengaku mereka mempunyai hubungan, serta tawaran agar ia tidak perlu mengikuti season.
Lady Gresham menegakkan punggung pada bagian terakhir.
"Elise."
Gadis itu menunduk. "Aku tahu, Mama. Aku seharusnya mengatakan lebih banyak saat Mama bertanya."
Ia tidak menghapus ancaman Thomas mengenai keterangan Ruthbone. Ia juga tidak menyembunyikan bahwa akhirnya dirinya menantang pria itu untuk menyediakan cincin karena tidak ingin tampak kalah.
Kebenaran tersebut jauh kurang anggun daripada kisah yang mula-mula dibayangkan ibunya.
***
Lady Gresham terlihat terluka karena pernah mempercayai penjelasan yang tidak lengkap. Namun, ketika hendak berbicara, suaminya menyentuh tangannya pelan dan meminta Annalise menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu.
Gadis itu menjelaskan percakapan-percakapan berikutnya. Thomas kini bersedia membahas pengumuman dan pernikahan bersama, mengakui beberapa kesalahannya, serta tidak lagi menggunakan kesehatan sebagai ancaman. Annalise belum mengetahui apakah perubahan tersebut cukup untuk membuatnya ingin menikah.
"Aku tidak ingin Papa mengira aku datang meminta orang lain memutuskan semuanya," katanya. "Tetapi aku juga tidak ingin mempertahankan sesuatu hanya karena sudah telanjur memakainya di depan orang."
Duke of Berrow memandang cincin itu sebelum kembali menatap putrinya.
"Gelar ayahmu seharusnya tidak menjadi sesuatu yang membuatmu takut pulang membawa keputusan yang tidak nyaman," katanya. "Jika kau ingin menghentikannya, katakan. Jika kau masih ingin berpikir, katakan juga."
Annalise merasakan tenggorokannya mengencang.
"Bagaimana dengan orang-orang?"
"Mereka akan berbicara. Mereka juga berbicara ketika tidak diberi alasan. Aku lebih mementingkan apakah putriku dapat menjelaskan kepada dirinya sendiri mengapa ia memilih."
Lady Gresham mengusap tangan Annalise. Ia masih sedih, tetapi tidak lagi melihat cincin itu sebagai janji yang harus diselamatkan dengan segala cara.
Malam tersebut berakhir tanpa keputusan mengenai tanggal atau pembatalan. Ayahnya akan berbicara dengan Thomas, lalu Annalise akan mendapat waktu mempertimbangkan apa yang sungguh diinginkannya.
Ketika akhirnya sendirian, gadis itu melepaskan cincin sebentar dan meletakkannya di meja.
Wilda masuk membawa air hangat dan mendapati majikannya memandangi meja. Biasanya Annalise segera meminta bantuan melepas kait gaun, lalu mengeluhkan sesuatu yang terjadi sepanjang hari. Malam itu ia justru menanyakan apakah ada surat dari Henrieta.
"Belum ada yang baru, Milady."
"Besok ingatkan aku menulis kepadanya. Surat yang benar, bukan sekadar kabar bahwa udara Bath menyenangkan."
Wilda mengangguk, kemudian menunggu di belakang kursi. Annalise menyadari pelayan itu melihat cincin, tetapi cukup bijaksana untuk tidak menanyakannya.
"Kau pasti mengira aku merepotkan."
"Malam ini Anda belum mencoba keluar melalui jendela. Saya cukup bersyukur."
Annalise tertawa kecil. Suara itu membuat ketegangan di bahunya sedikit berkurang. Ia berdiri agar Wilda dapat membantunya berganti pakaian, lalu meminta buku yang kemarin ditinggalkan di dekat tempat tidur.
Untuk beberapa saat, kehidupan kembali terdiri atas hal-hal sederhana: kait yang sukar dilepas, rambut yang perlu disisir, dan halaman yang belum selesai dibaca. Ia tidak harus menentukan seluruh masa depannya sebelum lilin dipadamkan.
Sesudah Wilda pergi, Annalise kembali melirik meja.
Kilau berlian tidak berubah.
Yang berubah adalah kenyataan bahwa ia kini tahu tangannya boleh dibiarkan kosong.