Matthew kembali ke kediaman Hardy pada sore setelah menemani Joanna memeriksa jadwal perjalanan berikutnya. Ia membawa salinan alamat yang dapat digunakan untuk mengirim surat dan menyimpannya di tempat yang tidak bergantung pada ingatan orang lain.
Thomas berada di ruang kerja ketika ia masuk.
"Apakah ada yang perlu kutangani untuk rombongan?" tanya sang duke.
"Jika ada, Joanna akan menyampaikannya melalui orang yang bertanggung jawab. Untuk sekarang, tidak."
Thomas menerima jawaban itu. Beberapa minggu sebelumnya, ia mungkin akan menganggap nada Matthew sebagai tantangan yang perlu segera dipatahkan. Kini ia tahu ada kemarahan yang tidak bisa diselesaikan dengan mengingatkan siapa yang memiliki gelar.
Sepupunya tetap bekerja. Ia masih mengurus keperluan yang menjadi bagiannya, tetapi tidak lagi membiarkan pertanyaan mengenai keluarganya berlalu hanya karena sang master memilih diam.
"Aku ingin kembali membicarakan alasanku," kata Thomas.
Matthew duduk setelah beberapa saat. "Saya ingin mendengarnya. Tetapi saya tidak berjanji akan menyukainya."
Kalimat itu mengingatkan Thomas kepada Annalise. Rupanya ada cukup banyak orang yang mulai kehilangan selera terhadap jawaban yang dibuat agar nyaman bagi dirinya.
***
Thomas menjelaskan bahwa ia khawatir Matthew akan meninggalkan tugas untuk mencari Joanna begitu mengetahui adiknya bergabung dengan rombongan. Ia juga mengira pertemuan mendadak akan berakhir dengan upaya membawa Joanna pulang, sementara Alaric belum bersedia membuka penyamarannya.
Alih-alih mempertemukan kebutuhan yang berbeda tersebut, Thomas memilih menahan kabar dan mengatakan cukup banyak agar Matthew berhenti bertanya untuk sementara.
Sementara itu berubah menjadi terlalu lama.
"Kau memerlukan aku tetap berada di sampingmu," kata Matthew, untuk sekali ini meninggalkan jarak dalam sapaannya.
Thomas memandangnya. "Ya."
"Dan kau menggunakan kekhawatiranku sendiri untuk memastikan itu terjadi."
Ia tidak segera menjawab. Bagian tersebut merupakan kebenaran yang paling tidak ingin dilihatnya dengan utuh.
"Ya," katanya akhirnya.
Matthew menyandarkan punggung dan menutup mata sebentar. Ketika membukanya kembali, amarahnya tidak berkurang, tetapi setidaknya tidak lagi perlu mencari nama untuk sesuatu yang selama ini terasa salah.
Thomas meminta maaf tanpa menambahkan bahwa dirinya pernah menyelamatkan nyawa sepupunya atau menanggung luka dalam perjalanan. Hal-hal itu tidak dapat digunakan sebagai pembayaran untuk kesempatan menemui keluarga.
Ia juga menyatakan akan membicarakan penugasan berikutnya dengan lebih jelas, termasuk waktu yang diperlukan Matthew untuk urusan pribadi. Kesetiaan kepada sang ratu tidak membuat semua keputusan pribadi Thomas menjadi perintah yang harus diterima tanpa pertanyaan.
Matthew mendengarkan. Ia belum memaafkan seluruhnya, tetapi ia ingin melihat apakah kata-kata tersebut sungguh mengubah cara mereka bekerja.
Keputusannya tinggal bukan berarti pintu untuk menuntut jawaban telah ditutup.
Matthew kemudian menyebut waktu yang ingin dipakainya menemui Joanna sebelum latihan berikutnya. Ia tidak mengajukannya sebagai permintaan untuk meninggalkan tugas selamanya, hanya sebagai bagian hidup yang memerlukan tempat dalam jadwal.
Thomas memeriksa pekerjaan yang harus selesai dan mengusulkan pembagian yang memungkinkan. Ada satu kunjungan yang dapat ditanganinya sendiri. Ada surat yang bisa disiapkan Matthew sebelum berangkat, tanpa membuat adiknya menunggu sampai malam.
Mereka menyepakatinya dengan beberapa kalimat sederhana.
Matthew tidak mengucapkan terima kasih seolah baru menerima hadiah besar. Thomas pun tidak menunggu ucapan tersebut. Kedua pria itu mengetahui bahwa perubahan pertama harus dapat terlihat pada sesuatu yang dilakukan hari itu, bukan hanya pada janji mengenai masa depan yang belum datang.
***
Laporan perjalanan mereka kemudian dibuka. Tugas dari sang ratu sepanjang tahun terakhir berkaitan dengan penelusuran gangguan pada jalur pembawa laporan dan kiriman yang digunakan untuk urusan kerajaan. Sebagian kunjungan menghasilkan keterangan yang perlu dibandingkan di kota berikutnya; sebagian lainnya mempertemukan mereka dengan orang yang tidak ingin pekerjaannya diperiksa.
Pertemuan dengan perampok sebelum mencapai Bath bukan seluruh tujuan perjalanan, tetapi menjadi salah satu bahaya nyata yang ditemui di jalurnya. Luka di punggung Thomas tidak lahir dari perkelahian yang sengaja dicari demi hiburan.
Meskipun begitu, ia mengakui telah memancing kemarahan lawan lebih jauh daripada yang diperlukan.
Matthew menatapnya datar. "Saya mengingatnya dengan cukup baik."
Thomas menerima sindiran itu.
Sebagian besar keterangan yang diperlukan telah dikirim melalui jalur tugas mereka. Laporan akhir masih harus dirapikan dan disampaikan ketika kembali ke London. Bath memberi mereka kesempatan beristirahat serta menyelesaikan urusan pribadi sebelum tugas perjalanan benar-benar ditutup.
Puppets Theater bukan rombongan penjahat yang diperintahkan ratu untuk ditangkap. Cara Thomas menyebut akan menangkap kawan lama kepada Matthew dahulu kini terdengar seperti kesombongan yang menutupi perkara jauh lebih pribadi.
"Aku seharusnya menjelaskannya sebelum kita datang," katanya.
Matthew mengangguk. "Itu permulaan yang baik untuk diingat pada perjalanan berikutnya."
Mereka kembali membaca laporan. Tidak ada rekonsiliasi yang selesai dalam satu sore, tetapi pekerjaan tersebut untuk pertama kalinya terasa seperti sesuatu yang dilihat dari sisi meja yang sama.
***
Beberapa hari kemudian, Thomas mengunjungi Annalise pada waktu yang telah disepakati. Gadis itu sudah merasa lebih baik dan memilih duduk di ruang yang menghadap taman, dengan buku pemberiannya di dekat siku.
Ia menunjukkan satu bagian yang membuatnya tertawa. Thomas membaca, lalu berdebat mengenai tokoh yang menurut Annalise terlalu yakin bahwa semua orang akan menyukai rencananya.
"Kau sengaja memilih bagian ini," katanya.
"Tentu. Aku mulai memahami kegunaan membaca bersama."
Thomas tertawa. Lady Gresham yang berada di sisi lain ruangan mengangkat pandangan, kemudian kembali kepada pekerjaannya setelah memastikan tidak ada yang sedang bertengkar sungguhan.
Annalise menanyakan kabar Matthew. Thomas mengatakan sepupunya mulai menghabiskan waktu bersama Joanna, dan dirinya tidak akan mengatur setiap pertemuan tersebut.
Gadis itu mengangguk. Ia sudah menerima pesan dari temannya yang terdengar lebih ringan daripada sebelumnya.
Kemudian ia menatap cincin dan mengatakan bahwa dirinya masih belum mengetahui akhir pertunangan mereka.
"Aku tahu," jawab Thomas.
"Aku tidak ingin kau menyebut setiap pertemuan sebagai alasan bahwa aku sudah menjanjikan lebih banyak."
Sang duke memandangnya dengan serius. "Aku ingin kau memilihku. Tetapi aku tidak dapat membuat pilihanmu hanya dengan menghitung berapa kali aku datang."
Annalise terdiam. Ia menyukai jawaban itu, dan kenyataan tersebut membuatnya perlu berhati-hati terhadap senyumnya sendiri.
***
Mereka belum sempat berpindah kepada percakapan lain ketika seorang pelayan masuk dan membungkuk kepada Lady Gresham. Sang duchess menerima kabar, lalu segera berdiri dengan wajah yang membuat Annalise ikut bangkit.
Duke of Berrow telah tiba lebih awal daripada perkiraan perjalanan terakhirnya.
Annalise langsung berjalan menuju pintu, lupa sejenak bahwa ia sedang berusaha terlihat sangat dewasa di depan tunangannya. Thomas berdiri lebih lambat, merapikan manset yang sebenarnya sudah sempurna.
Di ambang pintu ia mendengar suara seorang ayah menyambut putrinya, lalu tawa Annalise yang terdengar lebih lepas daripada beberapa hari sebelumnya.
Sesudahnya terdengar jeda.
Pandangan Duke of Berrow beralih dari cincin di tangan putrinya kepada Thomas yang berdiri di belakang.
"Wellington," sapanya dengan tenang. "Sepertinya kita mempunyai banyak hal untuk dibicarakan."
Thomas membungkuk hormat.
Untuk sekali ini, ia tidak meragukan sepatah kata pun.