Thomas, keberanian bukan selalu berarti mampu terus berdiri. Kadang kau memerlukannya untuk mengakui bahwa sudah waktunya duduk.
Duke of Gordon ke-X.
***
Annalise berhasil bertahan sampai pertunjukan berakhir dan tepuk tangan memenuhi ruangan. Ia ikut tersenyum ketika Joanna membungkuk bersama para pemain lain, lalu berdiri terlalu cepat saat Lady Gresham mulai merapikan selendangnya.
Suara di sekeliling mendadak terasa jauh.
Ia memegang sandaran kursi dan menunggu sampai pandangannya kembali jelas. Tidak ada tubuh yang jatuh, tidak ada pekikan yang membuat seluruh gedung berhenti. Hanya napas yang perlu diatur dan rasa kesal karena dirinya terlalu cepat menganggap semuanya baik.
Thomas berada paling dekat.
"Kau ingin duduk kembali?"
Annalise mengangguk. Ia duduk, menerima air, dan mengatakan tidak ingin berjalan melalui kerumunan sekarang. Lady Gresham langsung membungkuk di sampingnya, sementara Edith memberi ruang tanpa memanggil setengah gedung untuk membantu.
"Kita menunggu sampai jalan lebih lengang," kata Thomas.
Gadis itu menatapnya, sedikit lega karena kalimat tersebut tidak terdengar seperti putusan bahwa dirinya tidak boleh keluar rumah lagi.
Wilda datang setelah diminta pelayan dan memastikan selendang Annalise tidak tertinggal. Matthew mengurus kereta agar mereka tidak perlu berdiri terlalu lama di luar.
Joanna belum sempat ditemui. Annalise meminta pesannya disampaikan: pertunjukan itu indah, dan ia akan berkunjung pada waktu lain.
Ia membenci kekecewaan kecil yang terasa lebih besar karena tubuhnya tidak bekerja sesuai keinginan.
Namun, malam itu ia mengatakannya sebelum memaksakan langkah berikutnya.
***
Ruthbone datang pada pagi berikutnya setelah menerima kabar dari Lady Gresham. Hugo ikut membawa keperluan sang dokter, sementara Annalise sudah duduk dengan wajah yang jelas menyiapkan bantahan.
"Aku belum mengatakan apa pun," ujar Ruthbone.
"Wajahmu sudah."
"Kebetulan wajahku selalu seperti ini."
Hugo menunduk menyembunyikan senyum. Annalise melihatnya, lalu hampir tersenyum juga sebelum mengingat bahwa dirinya sedang kesal kepada seluruh keadaan.
Dokter itu menanyakan apa yang terjadi, apa yang dirasakan sebelumnya, dan berapa lama sampai Annalise merasa lebih baik setelah duduk. Ia mendengarkan langsung, bukan hanya membiarkan ibunya memberikan cerita yang tentu akan dipenuhi kekhawatiran.
Tidak ada pengumuman bahwa semua keluhan hanyalah akal untuk menghindari season. Riwayat tubuhnya yang mudah sakit tetap memerlukan perhatian. Akan tetapi, satu malam yang melelahkan juga tidak langsung memberi jawaban untuk seluruh pertanyaan mengenai kesehatannya.
Ruthbone ingin mengamati keadaannya lebih lanjut sebelum membuat perubahan pada perawatan. Annalise harus menyampaikan keluhan sebagaimana dialami, termasuk ketika merasa baik, agar ceritanya tidak hanya berisi saat-saat ibunya ketakutan.
"Jadi aku tidak harus tetap berbaring sampai rambutku memutih?"
"Tidak, kecuali kau berencana memanjat perabot untuk membuktikan pendapatmu."
Annalise mendengus. Hugo kembali berpaling, dan kali ini ia tahu pemuda itu tertawa.
***
Ketika pemeriksaan selesai, Lady Gresham bertanya apakah Annalise sungguh dapat menghadapi tuntutan kehidupan setelah menikah. Ia tidak menyebutkan semuanya, tetapi tatapannya membuat gadis itu memahami bahwa pikiran ibunya sudah bergerak kepada rumah, kewajiban sosial, dan anak-anak.
Annalise merasakan wajahnya memanas.
"Mama, aku masih berada di ruangan ini."
Sang duchess terdiam, kemudian meraih tangannya. "Tentu, Sayang. Mama tidak bermaksud membicarakanmu seolah kau tidak ada."
Ruthbone mengatakan ia tidak akan memberikan janji mengenai tahun-tahun berikutnya berdasarkan satu kunjungan. Yang dapat dilakukan sekarang adalah memahami keadaan Annalise dengan lebih baik dan menyesuaikan kegiatan agar ia tidak terus memaksakan diri lalu menyembunyikan akibatnya.
Edith, yang sejak tadi berada dekat jendela, tidak menyela dengan pembicaraan mengenai tubuh yang pantas melahirkan. Ia memperhatikan tangan Annalise yang mengepal pelan di pangkuan, lalu mengingat kata-katanya sendiri ketika pertama datang.
Setelah dokter berpamitan, sang dowager duduk di sebelah gadis itu.
"Aku pernah mengatakan hal yang tidak sopan tentang tubuhmu," katanya.
Annalise mendongak, terkejut.
"Aku tidak akan membenarkannya hanya karena aku menginginkan cucu. Kau bukan janji yang boleh kutagih kepada Thomas."
Lady Gresham memandang temannya tanpa berkomentar. Barangkali untuk sekali ini Edith tidak membutuhkan gangguan agar menyelesaikan sesuatu dengan baik.
Annalise mengangguk pelan. Permintaan maaf tersebut tidak membuatnya melupakan rasa tidak nyaman, tetapi ia menghargai bahwa sang dowager menyebut bagian yang memang pernah dikatakannya.
***
Thomas datang siang hari dengan buku yang menurutnya mungkin disukai Annalise. Ia sudah meminta pelayan memastikan apakah gadis itu bersedia menerima kunjungan, sehingga kedatangannya tidak menjadi keputusan baru yang harus ditanggung orang lain.
Annalise melihat buku, lalu wajahnya.
"Tidak ada kisah mengenai perempuan yang harus mematuhi tunangannya di dalamnya?"
"Aku belum memeriksa seluruh halaman. Jika ada, kau boleh mengeluh."
"Aku akan menandainya."
Thomas tersenyum dan mengambil tempat setelah dipersilakan. Lady Gresham duduk tidak jauh, sementara Wilda mengurus minuman.
Gadis itu menanyakan apakah Joanna marah karena mereka tidak sempat bertemu. Thomas mengatakan temannya justru meminta Annalise tidak memikirkan kunjungan sampai merasa cukup baik. Matthew telah menyampaikan pujian atas pertunjukan itu.
Annalise tampak lega, kemudian bertanya apakah Thomas menyesal mengajak mereka.
"Tidak. Aku menyesal kita baru mengetahui kau perlu berhenti setelah kau terlanjur tidak nyaman."
"Aku juga baru menyadarinya."
"Kalau begitu, lain kali kita bisa merencanakan kesempatan beristirahat lebih awal. Jika kau masih ingin pergi."
Gadis itu memandangnya cukup lama. Ia sudah menyiapkan pembelaan terhadap kemungkinan larangan, tetapi ternyata tidak perlu menggunakannya.
***
Setelah minuman disajikan, Annalise menjelaskan bahwa teh herbal di rumah merupakan bagian dari kebiasaan yang dibicarakan dengan dokter, bukan minuman rahasia untuk membuat semua orang percaya dirinya sakit. Hugo memang pernah dimintanya membantu menunda keputusan tentang season, tetapi ia tidak ingin terus mencampurkan kedua urusan tersebut.
Thomas mengingat rasa berbeda dari gelas yang diminumnya pada malam pertunangan. Ia tidak pernah menanyakan isinya kepada pemilik gelas sebelum mengambilnya.
"Aku seharusnya meminta minumanku sendiri," katanya.
"Kau seharusnya melakukan banyak hal dengan lebih baik malam itu."
Thomas mengangguk. "Benar."
Jawaban tersebut membuat Annalise kehilangan kesempatan melanjutkan kemarahan dengan mudah. Ia membuka buku, memeriksa halaman pertama, kemudian menutupnya lagi.
"Tetapi yang ini pilihan bagus," katanya.
Sang duke tersenyum tanpa menjadikan pujian kecil itu sebagai kemenangan atas seluruh sore.
Di luar jendela, Bath tetap bergerak. Annalise ingin menjadi bagian dari kehidupan tersebut, tetapi mungkin tidak harus mengejarnya dengan cara yang selalu membuat tubuhnya tertinggal.
Untuk pertama kalinya, memikirkan langkah yang lebih lambat tidak terasa sama dengan menyerah.
Sesudah Thomas pulang, ia membaca beberapa halaman sebelum merasa ingin berhenti. Buku ditutup dengan penanda pada tempat yang tepat, bukan dilempar karena kesal terhadap dirinya sendiri.
Wilda menanyakan apakah ia ingin ditemani berjalan sebentar di bagian rumah yang lebih sejuk. Annalise menyetujuinya. Mereka tidak berbicara tentang suami, season, atau ukuran tubuh yang disukai seorang ibu mertua.
Gadis itu justru menceritakan adegan Joanna yang paling disukainya. Wilda mendengarkan, sesekali bertanya, sampai Annalise kembali tertawa.
Malam sebelumnya tidak hanya meninggalkan rasa lelah. Ia juga membawa pulang sesuatu yang sungguh ingin diingat.