Matthew belum pernah menonton Joanna bekerja.
Kenyataan tersebut terasa semakin mengganggu ketika ia berdiri di sisi ruang latihan dan melihat adiknya mengulang satu kalimat sampai orang di ujung ruangan dapat mendengarnya dengan jelas. Suara yang dikenalnya sejak kecil mempunyai jangkauan serta ketegasan yang tidak pernah diperhatikan sebelumnya.
Joanna tidak tampak sedang menunggu diselamatkan.
Ia sedang kesal karena sebuah kursi diletakkan pada sisi yang salah.
"Jika kursinya tetap di sana, aku harus menabraknya setiap kali keluar," katanya.
Salah satu rekan menggeser kursi, kemudian meminta ia mencoba lagi. Joanna berjalan, berhenti pada tempat yang ditentukan, dan mengulangi gerakan tanpa keluhan tambahan.
Matthew mengamati sampai Alaric mendekat. Pria yang oleh semua orang di ruangan dipanggil Tuan Rayleigh itu berdiri bersamanya beberapa saat sebelum berbicara.
"Kau boleh duduk. Tidak ada serangan yang sedang direncanakan di balik tirai."
"Saya tidak sedang menunggu serangan."
Alaric melirik cara tangannya ditempatkan, lalu memilih tidak membantah.
Matthew akhirnya mengambil kursi yang tidak digunakan. Ia tidak akan memahami kehidupan adiknya jika seluruh waktu dihabiskan menilai jalan keluar.
***
Joanna menemuinya saat jeda. Ia membawa air dan duduk dengan hati-hati agar pakaian latihannya tidak tersangkut.
"Kau terlihat menderita."
"Aku sedang mempelajari sesuatu."
"Itu sering terlihat sama pada wajahmu."
Matthew hampir tersenyum. Beberapa kebiasaan ternyata tidak hilang setelah perpisahan, meskipun mereka tidak dapat berpura-pura semuanya kembali seperti dahulu.
Ia menanyakan apakah Joanna sungguh ingin tetap bersama rombongan setelah kunjungan di Bath selesai. Adiknya menjawab ya, kemudian menjelaskan pekerjaan serta orang-orang yang menjadi bagian hidupnya. Ia tidak meminta persetujuan untuk terus bernapas, tetapi menginginkan kakaknya mengetahui ke mana surat dapat dikirim dan kapan mereka mungkin bertemu lagi.
Matthew menerima alamat penghubung dan jadwal perjalanan yang memang sudah diputuskan rombongan. Tidak ada perantara yang akan memilih bagian mana boleh sampai kepadanya.
"Aku masih marah," katanya.
"Aku tahu."
"Bukan kepadamu karena bekerja."
Joanna menatapnya, lalu senyumnya melembut. Ia mengatakan mereka dapat berbicara lebih banyak setelah pertunjukan pertama selesai. Untuk sekarang, ia masih perlu mengulang adegan dan memastikan Mrs. Hudson tidak tidur di atas pakaian pemain.
Matthew mengangguk.
Membiarkannya kembali bekerja terasa berbeda daripada ditinggalkan tanpa kabar.
***
Pada malam pertunjukan, Annalise tiba bersama Lady Gresham dan Edith. Thomas menyambut mereka dengan kesopanan yang membuat ibunya terlihat terlalu puas.
Gadis itu mengenakan gaun yang tidak mengganggu geraknya dan membawa selendang atas saran Wilda. Ia sempat khawatir semua orang akan melihat cincin sebelum wajahnya, tetapi suasana ramai membuat perhatian terpecah ke banyak arah.
Tetap saja, beberapa pandangan mengikuti mereka ketika Thomas menawarkan lengan.
Annalise menerimanya karena memang ingin dibantu melewati kerumunan, bukan karena sang duke sudah meraihnya lebih dahulu. Ia menyadari perbedaan tersebut dan menduga Thomas pun sengaja membiarkan pilihan berada padanya.
Di dalam bilik, Lady Gresham memastikan tempat duduk putrinya nyaman. Edith justru menanyakan apakah dirinya masih dapat melihat seluruh panggung dari tempat yang dipilih.
"Aku datang untuk menonton, Gresham, bukan menghitung orang yang memperhatikan kita."
"Aku tidak menghitung siapa pun."
"Bagus. Berarti kau bisa berhenti menoleh."
Annalise menutup mulut, menahan tawa. Thomas melihatnya dan merasa malam tersebut sudah memberikan sesuatu yang lebih menarik daripada seluruh perjalanan menuju gedung.
Ia tidak mengatakan pikiran itu. Untuk sekali ini ia cukup duduk dan membiarkan gadis tersebut menikmati sesuatu tanpa menjadi pusatnya.
Dari tempatnya, Annalise dapat melihat bagian tirai yang bergerak sedikit sebelum pertunjukan dimulai. Seseorang di belakangnya mungkin sedang memastikan semua siap. Ia teringat suara Joanna ketika membicarakan jahitan gaun dan letak kursi, lalu menyadari berapa banyak pekerjaan yang tidak akan dilihat penonton.
Udara membawa aroma lilin, kain, dan kayu yang telah lama dipakai. Suara orang-orang bercakap menurun sedikit demi sedikit ketika musik terdengar. Annalise melipat tangan di pangkuan dan tidak lagi memikirkan apakah Lady Gresham sedang menghitung siapa yang melihat cincin.
Untuk malam itu, ia ingin menjadi penonton yang baik bagi temannya.
Thomas melihat perhatian tersebut dengan rasa ingin tahu. Gadis yang dapat menyerangnya dengan tiga pertanyaan sebelum teh disajikan ternyata sanggup duduk begitu tenang ketika sesuatu sungguh menarik hatinya.
Ia mulai menyadari bahwa mengenal Annalise tidak sama dengan menemukan cara tercepat mendapatkan reaksinya.
Kadang ia hanya perlu melihat apa yang diperhatikan gadis itu ketika tidak sedang berusaha melawan dirinya.
Di sisi lain, Edith membetulkan letak sarung tangan dan memberi senyum singkat kepada Gresham. Kedua wanita itu akhirnya menghadap panggung pada saat yang sama, membiarkan penampilan para pemain menjadi satu-satunya perdebatan yang ditunda sampai tirai turun.
***
Joanna muncul setelah adegan pembuka. Di atas panggung ia bukan wanita yang memeluk kucing di ruang penginapan, melainkan seseorang yang dapat membuat seluruh ruangan memperhatikan satu perubahan nada.
Annalise mencondongkan tubuh sedikit, lalu segera membetulkan duduk ketika Lady Gresham menyentuh lengannya. Edith tertawa pelan, tetapi matanya tetap berada pada panggung.
Thomas sesekali memandang ke sisi tempat Matthew menonton. Sepupunya tidak mempunyai wajah seorang penjaga yang hanya mengikuti tugas. Ia terlihat terkejut, bangga, dan sedikit kehilangan tempat untuk menyimpan semuanya sekaligus.
Thomas merasakan rasa bersalah datang tanpa diundang.
Ia tidak menyingkirkannya dengan mengatakan bahwa pertemuan ini adalah hasil rencananya. Beberapa hal dapat terjadi lebih cepat jika sejak awal ia tidak terlalu yakin mengetahui apa yang terbaik untuk semua orang.
Di sela pertunjukan, Annalise memandangnya.
"Kau tidak memperhatikan?"
"Aku memperhatikan."
"Wajahmu seperti sedang menyusun perintah untuk menahan seseorang."
Thomas mengangkat alis. "Apakah wajahku selalu seburuk itu?"
"Tidak selalu. Kadang lebih buruk."
Ia tertawa pelan, dan Lady Gresham memberi tatapan yang membuat keduanya segera kembali menghadap panggung.
***
Ketika jeda dimulai, Edith mengatakan dirinya ingin mengucapkan selamat kepada Joanna setelah pertunjukan benar-benar selesai. Bukan hanya untuk penampilan, melainkan karena ada ucapan terima kasih yang ingin disampaikan mengenai nama seekor kucing.
Annalise memandangnya dengan ingin tahu.
Edith menjelaskan singkat bahwa cerita tersebut dahulu juga diketahui Alaric. Keponakannya telah menceritakannya kepada ayahnya, lalu bertahun-tahun kemudian kisah itu sampai kepada Joanna.
"Tidak ada orang yang kembali dari kematian, Sayang," katanya lebih pelan. "Tetapi rupanya mereka dapat meninggalkan lebih banyak hal daripada yang kita ingat."
Annalise menyentuh tangan sang dowager sebentar. Edith menerima sentuhan tersebut, lalu kembali membetulkan sarung tangan seolah tidak baru saja mengucapkan sesuatu yang membuat mata keduanya terasa hangat.
Di bawah, tanda pertunjukan akan dilanjutkan terdengar. Para penonton kembali duduk, suara percakapan merendah, dan panggung sekali lagi menjadi pusat ruangan.
Annalise menarik napas, menyandarkan punggung, lalu bersiap melihat temannya melanjutkan cerita.
Ia tidak menyadari bahwa Thomas sudah memindahkan gelas air sedikit lebih dekat agar dapat dijangkaunya tanpa perlu meminta.
Tidak semua perhatian harus didahului perintah.
Malam itu, sang duke sedang mempelajari caranya.