Thomas, jika kau ingin dipercaya, mulailah dengan jawaban yang tidak memerlukan kebohongan lain untuk melindunginya.
Duke of Gordon ke-X.
***
Annalise menerima Thomas di taman setelah memastikan ibunya mengetahui kunjungan tersebut. Wilda duduk cukup jauh untuk memberi ruang percakapan, tetapi cukup dekat untuk dipanggil jika diperlukan.
Gadis itu membawa surat dari ayahnya dan wajah seseorang yang telah memutuskan tidak akan dialihkan dengan pujian.
Thomas mengakui bahwa pujian yang sempat disiapkannya barangkali tidak akan membantu.
"Kau ingin menanyakan Joanna."
"Aku juga ingin tahu mengapa semua orang selalu menganggap aku akan lebih senang jika diberi keterangan paling sedikit."
"Aku tidak datang untuk memberimu keterangan paling sedikit."
Annalise mengangkat alis. "Sungguh hari yang langka. Silakan duduk."
Thomas menurut sambil menahan senyum. Ia telah mendapat persetujuan Joanna untuk menjelaskan hubungan keluarga kepada Annalise. Hal-hal yang masih menjadi percakapan pribadi dengan Matthew tidak akan disampaikannya seolah merupakan miliknya untuk dibagikan.
Ia mengatakan bahwa Jennifer Winter bernama Joanna Scott, adik Matthew. Keduanya baru bertemu kembali setelah perpisahan yang turut disebabkan keputusan Thomas menahan kabar tentang tempat tinggalnya.
Annalise terdiam.
"Kau tahu betapa ia merindukan kakaknya?"
"Aku tahu mereka perlu bertemu."
"Itu bukan pertanyaanku."
Thomas memandangnya. Tidak ada kemarahan yang meledak, tetapi kekecewaan di wajah gadis itu jauh lebih sulit disangkal.
***
Ia menjelaskan bahwa dirinya semula ingin mencegah Matthew meninggalkan tugas untuk mencari adiknya dan kemudian membawa Joanna pulang sebelum keinginannya didengar. Ia juga mengetahui penyamaran Alaric akan terbuka ketika tempat Joanna tinggal diketahui.
Alasan-alasan itu dahulu terasa cukup ketika hanya dibicarakan di dalam kepalanya sendiri.
Sekarang, di hadapan Annalise, ia mendengar betapa banyak keinginan orang lain telah dilipat menjadi satu keputusan miliknya.
"Kau menganggap menahan keterangan akan melindungi semua orang," kata gadis itu.
"Ya."
"Padahal kau tidak bertanya."
Thomas mengangguk setelah jeda singkat.
Annalise menatap cincin di tangannya. Ia tidak menanggalkannya, tetapi gerakan tersebut cukup membuat Thomas memahami ke mana pikirannya berjalan.
"Aku tidak akan mengatakan kau aman mempercayaiku hanya karena aku memintanya," ujarnya. "Aku mengerti mengapa kau ragu."
"Bagus. Karena aku memang ragu."
Kalimat itu tajam, tetapi bukan akhir percakapan. Annalise menanyakan apa yang sekarang dilakukan Thomas untuk memperbaiki akibatnya. Ia menjelaskan pertemuan yang telah berlangsung, keterangan yang diberikan kepada Matthew, serta keputusan membiarkan kakak dan adik menentukan cara melanjutkan hubungan mereka sendiri.
Tidak ada pengampunan yang diperoleh hanya karena ia telah membuka pintu yang dahulu ditutupnya.
Annalise mendengarkan sampai selesai. Ia tidak ingin meniru kesalahan Thomas dengan memutuskan apa yang seharusnya Joanna rasakan setelah bertemu kakaknya. Namun, ia akan menanyakan keadaan temannya secara langsung ketika mereka mempunyai waktu.
Thomas menyetujuinya tanpa berusaha berada di tengah percakapan itu.
***
Surat dari Duke of Berrow dibuka sesudahnya. Ayah Annalise telah menerima kabar dari putrinya, dan jawaban yang dikirim tidak memuat perintah untuk segera pulang atau tanggal pernikahan yang telah ditetapkan.
Ia ingin menemui Thomas dan mendengar niat keduanya secara langsung. Urusan di London menahannya untuk beberapa waktu, tetapi setelah itu ia berencana datang ke Bath.
Thomas membaca bagian yang diizinkan Annalise, kemudian menyerahkan surat kembali.
"Ayahmu cukup ramah."
"Dalam surat."
Ia melihat senyum kecil muncul di wajah gadis itu.
"Kau menikmati pikiranku tentang pertemuan tersebut."
"Sedikit. Aku tidak mempunyai banyak kesempatan melihatmu kehabisan jawaban."
Thomas tertawa. Lalu ia mengatakan akan menemui ayahnya tanpa menganggap hubungan kerja terdahulu sebagai jaminan persetujuan mengenai putrinya.
Annalise mengangguk, menaruh surat di pangkuan. Untuk pertama kalinya, ia merasa Thomas memikirkan pertemuan itu sebagai sesuatu yang perlu dihadapi, bukan sekadar pintu yang dapat dibuka dengan gelar.
Ia kemudian menanyakan apakah mereka masih akan menonton pertunjukan bersama.
Pertanyaan tersebut mengejutkannya lebih daripada semua teguran sebelumnya.
"Jika kau masih ingin."
"Aku ingin melihat Joanna tampil. Jangan terlihat begitu puas, Your Grace."
"Aku sedang berusaha terlihat biasa."
"Kau kurang berhasil."
Annalise memutar sedikit cincin di jarinya, kemudian menanyakan mengapa Thomas sudah membawa benda itu ketika datang pada malam pertama. Pertanyaan tersebut rupanya masih menunggu kesempatan sejak ia menyadari betapa rapi perangkap yang disiapkan untuknya.
Thomas melihat cincin itu sebelum menjawab. Edith memberikannya agar ia tidak terus memakai ketidaksiapan sebagai alasan menghindari pembicaraan mengenai calon istri. Ia membawanya dalam perjalanan, tetapi tidak menentukan kepada siapa benda tersebut akan diberikan sebelum sampai di Bath.
"Itu bukan cincin yang pernah kuberikan kepada Katherine," tambahnya ketika melihat wajah Annalise berubah.
Gadis itu menegakkan dagu. "Aku belum menanyakannya."
"Wajahmu sudah mempunyai pertanyaan."
Annalise hampir tersenyum, lalu menahan diri. Ia tidak ingin kilau berlian membuatnya melupakan pembicaraan yang lebih penting. Memiliki cincin yang berbeda dari milik seorang wanita lain tidak menjamin dirinya akan diperlakukan lebih baik.
Thomas tampaknya membaca bagian tersebut dari keheningannya, karena ia tidak melanjutkan dengan pujian atau janji yang berlebihan.
"Aku tahu cincin itu tidak menyelesaikan cara kita memulai," katanya.
Annalise mengangguk. Untuk sekarang, ia cukup menghargai bahwa jawaban tersebut tidak mengharuskannya berpura-pura seluruh awal mereka terasa menyenangkan.
***
Angin membuat ujung surat terangkat. Annalise menahannya dengan telapak tangan, lalu mengambil napas lebih panjang daripada sebelumnya. Thomas memperhatikan, tetapi tidak langsung memanggil pelayan atau mengakhiri kunjungan.
"Kau ingin duduk di dalam?" tanyanya.
Gadis itu mempertimbangkan sebelum mengangguk. Mereka berpindah ke ruang yang lebih tenang bersama Wilda. Thomas berjalan mengikuti kecepatannya, bukan menarik lengan seolah tahu tubuhnya lebih baik daripada dirinya sendiri.
Sesudah air diberikan, Annalise mengatakan kadang dirinya memerlukan jeda meskipun pagi terasa baik. Ruthbone telah mendengarkan keluhannya dan masih mengawasi keadaan. Ia tidak ingin menganggap kesehatan sebagai alasan berbohong, tetapi juga tidak bersedia dinyatakan kuat hanya karena mampu tertawa atau memanjat sesuatu dengan bodoh.
Thomas hampir tersenyum pada bagian terakhir, lalu menahannya.
"Aku pernah menyembunyikan demam dari Matthew sampai perlu mencari Ruthbone sendiri," katanya.
Annalise menatapnya. "Jadi kita sama-sama mempunyai bakat menyusahkan orang yang menjaga kita."
"Kau mengatakannya dengan sangat tidak romantis."
"Aku sedang mengatakan yang benar. Kau baru saja menyarankan kebiasaan itu."
Tawa Thomas muncul sebelum sempat ditahan. Annalise ikut tersenyum, dan untuk beberapa saat tidak ada tuntutan agar senyum tersebut berarti lebih daripada rasa geli yang memang dirasakan.
Ketika waktunya pulang, Thomas meminta kabar jika Annalise memutuskan tidak jadi menonton. Ia akan memastikan tidak ada keributan mengenai satu tempat yang kosong.
Gadis itu mengangguk dan mengantarnya sampai pintu ruang duduk.
"Thomas."
Ia berhenti.
"Terima kasih karena menjawab. Aku masih tidak menyukai sebagian jawabannya."
"Aku juga tidak menyukai beberapa hal yang telah kulakukan."
Annalise memandangnya sejenak, lalu membiarkannya pergi.
Kepercayaan belum kembali utuh. Namun, setidaknya sore itu ia tidak harus menebak kebenaran dari senyum yang terlalu sempurna.