Edith mengenali tulisan pada surat itu sebelum pelayan selesai menyebutkan siapa yang mengantarkannya.
Ia tidak langsung mengambil cangkir yang sudah diulurkan Lady Gresham. Matanya berhenti pada nama di bagian akhir, kemudian bergerak kembali ke awal seolah ada satu kalimat yang mungkin berubah jika dibaca dua kali.
"Kabar buruk?" tanya tuan rumahnya.
"Kabar dari seseorang yang rupanya masih mengingat cara menggunakan pena."
Gresham mengangkat alis. Itu bukan jawaban, tetapi cukup menjelaskan suasana hati temannya.
Alaric Rees meminta waktu bertemu di kediaman Ruthbone. Ia menyebut Mrs. Hudson, Joanna, dan alasan mengapa pertemuan tersebut sebaiknya berlangsung tanpa mereka yang tidak berkaitan. Tidak ada permintaan agar Edith datang seorang diri tanpa diketahui siapa pun. Ia justru memberi kesempatan sang dowager menentukan waktunya.
Edith meletakkan surat dengan sangat rapi.
"Aku akan menemui seorang kawan lama."
"Apakah kawan lama itu perlu diperingatkan?"
Edith akhirnya mengambil teh. "Seharusnya ia sudah cukup mengenalku."
***
Ruthbone menerima kedatangannya dengan wajah yang berusaha tidak memperlihatkan bahwa dirinya telah menyiapkan diri menghadapi badai. Isabel berada di dekat pintu, tetapi untuk sekali ini suaminya berhasil mengirimnya ke urusan lain sebelum pertanyaan pertama muncul.
Alaric berdiri ketika Edith memasuki ruang duduk.
Wanita itu berhenti. Ia memandang pakaian sederhana, rambut yang semakin beruban, dan wajah yang dahulu begitu dikenalnya melalui kunjungan serta surat-surat mengenai Thomas.
"Ronnie Rayleigh," katanya.
Alaric tersenyum tipis. "Nama itu mempunyai kegunaan."
"Rupanya kegunaan utamanya membuat orang lain terlihat bodoh."
Senyum tersebut menghilang.
Edith duduk tanpa menunggu dipersilakan. Ia tidak langsung membicarakan gelar, rombongan, atau Thomas. Pertanyaan pertamanya jauh lebih pelan daripada yang diperkirakan Ruthbone.
"Mengapa seorang aktris menamai kucingnya dengan lelucon yang kubuat bersama putramu?"
Alaric menunduk sebentar, lalu menjelaskan bahwa anak itu pernah menceritakannya kepadanya. Mrs. Hudson merupakan kenalan Edith yang gemar menentukan tempat duduk orang lain, bahkan ketika bukan dirinya yang menjadi tuan rumah. Keponakannya dahulu mengatakan bahwa seorang wanita seperti itu pasti akan tetap memerintah seandainya terlahir sebagai kucing.
Edith mengeluarkan tawa pendek yang hampir pecah di tengah.
"Ia berjanji tidak mengulanginya di depan orang lain."
"Ia tidak menganggap ayahnya sebagai orang lain."
Keheningan setelahnya terasa berbeda. Edith memandang sarung tangan di pangkuannya, mengingat seorang anak yang telah terlalu lama hanya hadir melalui cerita.
Alaric mengatakan dirinya mengulang lelucon tersebut ketika Joanna menemukan kucing hitam putih yang dengan tenang mengambil kursi terbaik di ruang latihan. Nama itu melekat tanpa Joanna mengetahui seluruh hubungan keluarga di belakangnya.
Tidak ada kabar bahwa orang yang meninggal ternyata hidup. Hanya satu kenangan kecil yang disimpan lebih dari satu orang, lalu diberi tempat dalam kehidupan berikutnya.
***
Edith menerima saputangan dari Ruthbone setelah menolak berpura-pura matanya tidak basah.
"Kau seharusnya mengatakannya ketika tahu aku berada di Bath."
"Ya."
"Dan tidak membiarkan gadis itu menghadapi pertanyaanku tanpa memahami mengapa aku bertanya."
Alaric kembali mengangguk. "Aku akan meminta maaf kepadanya."
Untuk beberapa saat Edith tidak berbicara. Ruthbone membiarkan mereka duduk tanpa mengisi setiap jeda dengan usaha membuat suasana lebih menyenangkan.
Pada akhirnya sang dowager mengangkat wajah.
"Sekarang jelaskan mengapa Duke of Gordon mengurus peti pakaian dan jadwal pertunjukan."
Alaric tersenyum samar. Jawabannya dimulai dari rumah yang menjadi terlalu sepi setelah istri dan putranya meninggal. Ketika Thomas datang untuk belajar, ia kembali mempunyai alasan bangun, mengajar, dan memerhatikan kehidupan selain dirinya sendiri.
Namun, sesudah muridnya pulang mengambil kedudukan ayahnya, kesepian itu tidak hilang hanya karena ia seorang duke yang masih mempunyai tanah serta tanggung jawab.
Ia tetap menerima laporan pengurus estat dan mengurus keputusan yang perlu diambil. Akan tetapi, dalam perjalanan ia mulai membantu sebuah rombongan pertunjukan. Mula-mula urusan uang dan tempat, kemudian naskah, orang-orang, serta kehidupan yang tidak menunggunya menjadi sosok berduka setiap kali memasuki ruangan.
Nama Ronnie Rayleigh membuatnya dapat bekerja tanpa setiap keputusan dinilai sebagai kegemaran aneh seorang bangsawan.
"Aku merasa berguna," katanya. "Lalu aku membiarkan kemudahan itu menjadi alasan menunda penjelasan kepada orang yang seharusnya tahu."
Edith memandangnya dengan wajah yang tidak lagi hanya marah.
"Berguna dan bersembunyi ternyata bisa dilakukan pada waktu yang sama."
"Aku mengetahuinya sekarang."
"Kurasa kau sudah mengetahuinya jauh sebelum sekarang."
Alaric tidak membantah.
Edith teringat surat-surat mengenai Thomas yang dahulu ditunggunya dengan tidak sabar. Alaric selalu menulis tentang pelajaran, kemajuan, atau kenakalan kecil yang menurutnya tidak perlu membuat seorang ibu cemas. Jarang sekali ia menulis mengenai dirinya sendiri.
"Aku juga pernah membiarkanmu bersembunyi di balik kabar tentang putraku," katanya.
Alaric menggeleng. "Kau baru kehilangan Benyamin. Aku tidak akan menyebut dukamu sebagai kelalaian terhadapku."
Edith memandangnya, kemudian menunduk pada sarung tangan yang sudah terlalu sering diremas pagi itu. Ia masih dapat mengingat betapa sulitnya membaca surat ketika setiap keterangan tentang Thomas membuatnya sekaligus lega dan takut kehilangan lagi.
Ruthbone menambahkan air hangat ke cangkir mereka tanpa meminta percakapan berlanjut lebih cepat.
Setelah beberapa saat, Edith mengembalikan perhatian kepada Alaric. Mereka tidak dapat memperbaiki tahun-tahun tersebut dengan saling mengambil kesalahan yang bukan miliknya. Namun, ia ingin surat berikutnya tidak hanya datang ketika rahasia hampir terbuka.
"Kau boleh mengatakan bahwa kau senang bekerja dengan rombongan," ujarnya. "Aku mungkin akan mempunyai komentar, tetapi itu berbeda dari tidak ingin mendengar."
Alaric tersenyum tipis. Ia tampaknya tidak pernah meragukan bagian tentang komentar.
***
Ketika percakapan beralih kepada Joanna, Edith memperoleh kepastian bahwa wanita itu adalah adik Matthew dan telah memilih kehidupan panggung sebagai orang dewasa. Thomas mengetahui keberadaannya, lalu membuat keputusan yang menahan keterangan tersebut dari sang kakak.
Edith memejamkan mata sebentar.
"Putraku mengira setiap persoalan dapat diselesaikan dengan menentukan tempat orang lain."
Alaric menatapnya. "Aku memberinya terlalu banyak contoh tentang itu."
"Jangan mengambil seluruh kesalahannya. Ia cukup dewasa untuk mempunyai bagian sendiri."
Sang duke tertawa kecil, pahit sekaligus hangat. Edith masih mempunyai kemampuan memarahinya dan membela batas tanggung jawabnya dalam kalimat yang sama.
Mereka menyepakati pertemuan dengan Joanna agar penjelasan dapat diberikan langsung. Edith tidak akan mengumumkan nama Alaric di tengah penonton hanya untuk membalas ketidaksenangan. Namun, ia juga tidak berjanji membantu menyembunyikan setiap hal yang sang duke belum berani hadapi.
Saat hendak pergi, ia berhenti di dekat pintu.
"Aku akan menonton pertunjukanmu."
Alaric mengangkat wajah. "Aku akan menyiapkan tempat."
"Thomas sudah menyiapkannya. Kau hanya perlu memastikan aku tidak harus menonton seorang aktris berhenti di tengah adegan karena pemimpin rombongannya sibuk melarikan diri dari keluarga."
Ruthbone terbatuk, kali ini benar-benar kesulitan menahan tawa.
Edith meninggalkan mereka setelah mengambil suratnya. Di dalam kereta, ia masih memikirkan keponakannya. Namun, kenangan tentang anak itu kini tidak hanya berakhir pada hari kehilangannya.
Ada seekor kucing yang membuat Joanna mengeluh di ruang latihan.
Entah bagaimana, anak itu pasti akan sangat menyukainya.