Thomas, suatu hari kau akan mengetahui bahwa orang yang mengajarimu pun dapat melakukan kesalahan. Jangan jadikan pengetahuan itu alasan untuk berhenti berpikir.
Duke of Gordon ke-X.
***
Ruangan itu lebih menyerupai tempat penyimpanan daripada perpustakaan tempat Thomas dahulu menerima pelajaran. Ada kursi yang tidak seragam, potongan kain, dan meja yang dipenuhi catatan pertunjukan.
Namun, ketika pria di dekat jendela berbalik, jarak bertahun-tahun tidak menghalangi Thomas mengenali cara bahunya ditegakkan.
"Kau terlambat," kata Ronnie Rayleigh.
Thomas berhenti satu langkah setelah masuk.
"Aku menduga kau tetap akan mengatakan hal yang sama seandainya aku datang kemarin."
Senyum tipis muncul pada wajah pria tersebut. Rambutnya lebih beruban daripada dalam ingatan Thomas. Pakaiannya juga jauh lebih sederhana daripada yang pantas dikenakan seseorang dengan kedudukannya.
Tetapi mata itu tetap sama.
Thomas menutup pintu setelah Matthew dan Joanna masuk.
"Selamat pagi, Alaric."
Matthew menoleh tajam. Ia pernah berada di bawah pengawasan sang duke melalui akademi, tetapi nama Ronnie Rayleigh dan penampilan yang dilihat sekilas selama mengurus pertunjukan tidak menyiapkannya untuk pertemuan ini.
Pria tersebut mengangguk tanpa membantah.
Ronnie Rayleigh, pemimpin Puppets Theater yang dicari Thomas, adalah Alaric Rees, Duke of Gordon ke-X.
Untuk beberapa saat tidak terdengar apa pun selain kegiatan orang-orang di luar ruangan.
***
"Aku berharap mendapat sambutan yang sedikit lebih hangat dari bekas muridku," ujar Alaric.
"Aku berharap tidak perlu membeli tiket teater untuk menemui guruku. Rupanya kita sama-sama kecewa."
Joanna menarik kursi dan duduk. "Kalau kalian sudah selesai membuktikan siapa yang lebih pandai menyindir, Matthew berhak memperoleh penjelasan."
Alaric memandangnya, lalu mengangguk. Thomas menyadari bahwa wanita itu tidak terdengar seperti seseorang yang harus memohon agar diperhatikan di ruangan tersebut.
Ia mempunyai tempat di sana.
Pria yang lebih tua menjelaskan bahwa dirinya menjalankan rombongan dengan nama berbeda karena menginginkan kehidupan yang tidak setiap geraknya dibaca sebagai kehendak seorang duke. Akan tetapi, ia tidak menuntut mereka menganggap pilihan itu otomatis membenarkan semua hal yang dilakukan untuk mempertahankannya.
Joanna bergabung dengan kehendaknya sendiri dan menggunakan nama panggung untuk pekerjaannya. Thomas mengetahui tempatnya lebih dahulu daripada Matthew, lalu memilih membatasi keterangan yang diteruskan kepada sepupunya.
"Aku menyetujui agar keberadaan rombongan tidak dibicarakan sembarangan," kata Alaric. "Aku tidak dapat berpura-pura tidak mempunyai bagian ketika keputusan itu membuat seorang kakak kehilangan kesempatan menemui adiknya."
Matthew memandang keduanya dengan rahang mengeras.
"Kalian menyebutnya keputusan. Saya yang menjalani akibatnya."
Tidak ada jawaban cepat yang cukup baik untuk kalimat tersebut.
Alaric meminta maaf. Thomas tidak menyela untuk membela gurunya atau mengurangi bagian kesalahannya sendiri. Ia tahu pertemuan ini baru memberikan nama pada hal-hal yang selama ini dipendam, bukan menyelesaikannya dalam satu pagi.
***
Ketika Matthew meminta berbicara lebih jauh dengan Joanna di ruang sebelah, Alaric mempersilakan. Mereka akan kembali setelah pertanyaan yang paling pribadi selesai dibicarakan.
Thomas tetap duduk. Untuk beberapa saat ia hanya memandang bekas gurunya, melihat tangan yang dahulu membetulkan cara memegang pedang kini menyentuh daftar perlengkapan panggung.
"Kau terlihat sehat."
"Kau terlihat seperti seseorang yang kembali mengabaikan luka."
Thomas menipiskan bibir. Tentu saja Joanna atau Ruthbone telah menyampaikan sesuatu. Ia tidak perlu menanyakan siapa untuk mengetahui bahwa menyembunyikan rasa sakit dari Alaric tetap merupakan pekerjaan yang sulit.
"Aku sudah mendapatkan perawatan."
"Bagus. Semoga kali ini kau mengikuti sisanya."
Pria muda itu menghela napas. Ada bagian dirinya yang ingin kembali menjadi murid dan membiarkan seseorang yang lebih tua mengetahui apa yang harus dilakukan.
Namun, terlalu banyak keputusan sudah dibuat atas nama orang lain agar ia dapat berlindung di tempat itu lagi.
Thomas menjelaskan bahwa Edith berada di Bath dan telah menemui Joanna. Nama Mrs. Hudson membuat ibunya mengingat keponakan yang meninggal.
Alaric memejamkan mata sebentar.
"Cerita lama rupanya berjalan lebih jauh daripada yang kita kira," katanya.
Thomas menatapnya. "Kau mengetahui asal nama itu."
"Ya. Dan ibumu berhak mendapatkan penjelasan dariku. Bukan dari wanita muda yang hanya mendengar cerita itu bertahun-tahun kemudian."
Alaric tidak menyatakan bahwa orang yang telah meninggal ternyata berada di antara anggota rombongan. Ia justru mengingatkan bahwa kenangan dapat berpindah melalui orang yang masih hidup. Tidak ada alasan membiarkan Edith berharap kepada sesuatu yang tidak mungkin kembali.
Thomas mengangguk, lega sekaligus semakin sadar berapa banyak percakapan yang telah ditunda terlalu lama.
Alaric mengambil surat yang belum selesai ditulis dari sudut meja. Ia tidak menyerahkannya kepada Thomas, hanya mengatakan bahwa dirinya akan meminta waktu bertemu Edith setelah sang dowager bersedia.
"Kau tidak akan mengundangnya menonton lalu membuat kejutan dari panggung?" tanya Thomas.
Pria yang lebih tua memandangnya tajam. "Apakah itu sesuatu yang akan kaulakukan?"
Thomas tidak menjawab cukup cepat.
Alaric mendesah, kemudian tertawa pendek tanpa kebanggaan. "Rupanya ada pelajaran yang seharusnya kuajarkan dengan lebih baik."
"Kau mengajarkanku untuk selalu berada satu langkah di depan."
"Aku juga pernah salah memilih arah. Jangan memakai seluruh kesalahanku sebagai petunjuk."
Thomas memandang wajah yang dahulu dianggapnya mempunyai jawaban untuk hampir semua hal. Ada kehangatan lama di sana, tetapi juga penyesalan yang tidak disembunyikan melalui kewibawaan.
Ia belum mengetahui seluruh alasan gurunya memilih menjadi Ronnie Rayleigh. Namun, ia mulai memahami bahwa pembicaraan berikutnya tidak akan selesai hanya dengan membuka nama asli di depan orang lain.
Yang harus dihadapi adalah tahun-tahun serta keputusan di balik nama itu.
***
Di kediaman Berrow, Annalise menerima pesan bahwa Thomas tidak dapat datang pada waktu yang semula dibicarakan. Pesan itu singkat, menyebut urusan keluarga yang memerlukan perhatian dan meminta waktu lain, bukan memerintahkannya menunggu tanpa penjelasan.
Gadis itu membacanya dua kali.
Wilda memandangnya dengan hati-hati. "Apakah Anda kecewa, Milady?"
"Tentu tidak. Aku mempunyai banyak hal untuk dilakukan."
"Tentu, Milady."
Annalise menyipit. Nada yang terlalu patuh tersebut tidak membantu sama sekali.
Ia duduk di meja kecil dan menulis balasan. Thomas boleh mengusulkan waktu baru setelah urusannya selesai. Akan tetapi, ia ingin berbicara mengenai Joanna, karena tidak berniat terus menjadi satu-satunya orang yang tidak mengetahui mengapa temannya dan tunangannya saling membuat wajah berubah.
Setelah surat dilipat, ia menatap cincin di tangan kirinya.
Ia belum mencintai Thomas. Ia masih marah atas cara pertunangan mereka dimulai, masih belajar melepaskan harapan mengenai Hugo, dan masih mempunyai banyak alasan untuk berhati-hati.
Namun, kenyataan bahwa sang duke kini menulis untuk menjelaskan ketidakhadiran, alih-alih menganggapnya akan menerima apa pun, membuat perasaannya tidak sesederhana kemarin.
Annalise menyerahkan surat kepada pelayan untuk dikirim, kemudian mengambil buku yang belum selesai dibacanya.
Sore itu ia tidak akan menghabiskan waktu hanya untuk menunggu Thomas.
Jika pria itu ingin benar-benar menjadi bagian hidupnya, ia perlu belajar datang tanpa mengambil seluruh ruang di dalamnya.