Matthew menyerahkan keterangan mengenai Hugo sebelum Thomas sempat menanyakannya lagi.
Pemuda itu merupakan putra kepala pelayan keluarga Berrow, sebagaimana telah diketahui melalui hubungan keluarganya. Keinginannya mempelajari pengobatan juga bukan sesuatu yang disembunyikan. Ruthbone menerima bantuannya karena kemampuan dan kesungguhan yang dilihatnya, bukan karena sedang menjalankan pekerjaan rahasia untuk seseorang.
Thomas membaca catatan singkat tersebut dengan wajah datar.
"Tidak ada yang lain?"
"Ada banyak hal lain, Your Grace. Tetapi Anda meminta informasi, bukan alasan untuk tidak menyukainya."
Thomas mengangkat pandangan.
Matthew tetap berdiri tegak. Luka punggung sang master sudah membaik, sehingga barangkali ia tidak akan dituduh membuat keadaan pasien bertambah buruk hanya karena mengatakan sesuatu yang benar.
"Kau semakin berani."
"Saya belajar dari orang yang tidak pernah berhenti memberi contoh."
Thomas mendengus, tetapi menutup catatan. Ia tidak memerintahkan penyelidikan terhadap percakapan pribadi Hugo dengan Annalise. Ruthbone telah menutup satu pintu dengan cukup jelas, dan Thomas tidak berniat memasuki rumah yang sama melalui jendela hanya agar dapat berpura-pura tidak melanggar penolakan.
Setidaknya, tidak pagi itu.
Ia mempunyai hal lain yang jauh lebih sulit di hadapannya.
"Kita akan menemui Rayleigh," katanya.
Matthew mengangguk dan bersiap mengikuti. Sebelum mencapai pintu, Thomas memanggilnya lagi.
"Ada seseorang yang akan kau temui terlebih dahulu."
Nada tersebut membuat Matthew berhenti. Ia mengenal suara yang digunakan sebelum perintah berbahaya. Namun, yang didengarnya sekarang tidak sepenuhnya sama.
Thomas tampak sedang berusaha tidak memerintah sama sekali.
***
Pertemuan diatur di ruang kecil penginapan setelah pihak rombongan memastikan waktunya. Tidak ada penjaga yang ditempatkan untuk menghalangi pintu. Tidak ada kereta yang disiapkan untuk membawa seseorang pergi tanpa penjelasan.
Matthew melihat semua itu dan justru semakin waspada.
Thomas meminta seorang pelayan menyampaikan bahwa mereka telah tiba. Ia kemudian berdiri di dekat jendela, membiarkan sepupunya tetap berada di sisi pintu.
"Siapa yang kita tunggu?"
Sang duke memandangnya. Ada seribu cara untuk mengucapkan nama, dan seluruhnya mendadak terdengar seperti pembelaan yang terlambat.
"Adikmu."
Matthew tidak bergerak.
Langkah di lorong terdengar sebelum ia sempat menjawab. Pintu terbuka, dan wanita yang selama ini dikenal penonton sebagai Jennifer Winter masuk dengan gaun sederhana, rambut yang ditata untuk kegiatan sehari-hari, serta wajah yang membuat seluruh ruang menyempit dalam pandangan Matthew.
"Joanna."
Ia mengucapkannya nyaris tanpa suara.
Wanita itu berdiri beberapa langkah darinya. Ia tampak ingin tersenyum, tetapi bibirnya justru bergetar sebelum sempat melakukan apa pun.
Matthew memandangnya dengan cara seseorang memastikan bahwa yang dilihat bukan hanya ingatan. Ia tidak pernah menerima bukti kematian adiknya. Yang selama ini diterimanya adalah jarak, keterangan yang tidak lengkap, serta keyakinan bahwa keberadaannya sendiri mungkin tidak diinginkan.
Sekarang Joanna berdiri di hadapannya.
"Kau sungguh di sini," katanya.
Joanna mengangguk, lalu satu langkah yang sangat kecil membuat Matthew akhirnya mendekat. Ia berhenti cukup dekat untuk mengulurkan tangan. Adiknya menyambut, dan beberapa saat kemudian mereka berpelukan tanpa mampu mengatakan kalimat yang telah lama dibayangkan.
Thomas memalingkan wajah.
Untuk pertama kalinya, ia membenci betapa mudahnya dirinya dahulu menyebut jarak tersebut sebagai sesuatu yang diperlukan.
***
Ketika mereka duduk, Matthew masih memperhatikan wajah adiknya seolah takut kehilangan bagian yang berubah selama perpisahan.
Joanna tampak lebih mantap daripada gadis yang diingatnya. Ia mempunyai pekerjaan, nama panggung, dan orang-orang yang mengenalnya melalui kehidupan yang tidak pernah dilihat sang kakak.
"Kukira kau tidak ingin aku datang," kata Matthew.
Wanita itu menatapnya. "Aku tidak ingin dibawa pulang sebelum sempat menjelaskan. Itu berbeda dengan tidak ingin bertemu denganmu."
Mereka terdiam, kemudian sama-sama memandang Thomas.
Sang duke tidak mencoba tersenyum.
"Aku yang menahan keterangan mengenai tempatnya tinggal," katanya. "Aku memutuskan bahwa lebih baik kau tidak mencarinya saat itu."
Matthew berdiri begitu cepat sehingga kursinya bergeser.
"Lebih baik untuk siapa?"
Thomas menerima pertanyaan tersebut tanpa mengoreksi nada bicaranya. "Aku menganggapnya lebih aman."
"Itu tidak menjawab pertanyaan saya."
Joanna juga berdiri. Ia tidak mencoba menenangkan kakaknya dengan mengatakan semuanya telah selesai hanya karena mereka kini berada di ruang yang sama.
Thomas mengatakan ada hal mengenai peran Rayleigh yang perlu mereka bicarakan, tetapi keputusan memisahkan keterangan dari Matthew adalah keputusan dirinya sendiri. Ia tidak akan menyembunyikannya di belakang sang ratu, tugas, atau nama orang lain sebelum sepupunya memperoleh penjelasan.
"Aku datang untuk memperbaikinya," tambahnya.
Matthew tertawa pendek tanpa kegembiraan. "Maka mulailah dengan berhenti menentukan apa yang perlu saya ketahui."
Kalimat itu mengenai Thomas lebih keras daripada ancaman apa pun yang telah dipersiapkannya selama perjalanan.
Ia mengangguk.
***
Joanna meminta berbicara berdua dengan kakaknya sebelum mereka membahas urusan lain. Thomas tidak menyatakan bahwa waktu mereka terbatas. Ia keluar dan menutup pintu setelah memastikan mereka memang menginginkannya tertutup.
Di lorong, ia menemukan Mrs. Hudson sedang duduk di atas peti seolah merupakan pemilik seluruh bangunan. Kucing itu memandangnya dengan tatapan yang sama sekali tidak menawarkan pengampunan.
"Kau juga akan menghakimiku?" gumam Thomas.
Mrs. Hudson menjilat kaki depannya.
Sungguh luar biasa. Bahkan seekor kucing dapat membuatnya merasa diabaikan dengan sengaja.
Seorang anggota rombongan datang mempersilakannya ke ruangan lain. Tuan Rayleigh sudah menunggu, tetapi Thomas meminta disampaikan bahwa ia tidak akan memulai pembicaraan yang menyangkut Joanna sebelum wanita itu memperoleh kesempatan menjelaskan kepada Matthew.
Ia dapat menunggu.
Pernyataan tersebut terdengar begitu asing dari mulutnya sendiri sampai ia hampir menganggap orang lain yang mengucapkan.
Di dalam ruangan, Matthew mendengarkan kehidupan yang belum pernah dilihatnya. Joanna mengatakan bahwa dirinya, pada usia dua puluh empat tahun, telah bekerja cukup lama untuk menentukan apakah ia ingin tetap bersama rombongan.
Ia tidak meminta kakaknya menyukai semua pilihannya hari itu. Ia hanya memintanya mendengar sebelum memutuskan cara menyelamatkannya dari sesuatu yang belum tentu menjadi penjara.
Matthew menunduk. Keinginan membawa adiknya pulang masih sangat kuat. Namun, ia baru saja marah karena orang lain menentukan kehidupannya tanpa memberinya penjelasan.
Ia tidak ingin mengulangi hal yang sama terhadap Joanna.
"Aku ingin mendengar dari awal," katanya. "Setelah itu aku akan menentukan apa yang kupikirkan. Bukan sebelumnya."
Joanna mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak kakaknya datang, ia duduk tanpa terlihat sedang menyiapkan pembelaan sebelum pertanyaan selesai diucapkan.
Beberapa waktu kemudian, pintu terbuka. Matthew keluar dengan mata yang sedikit memerah dan wajah yang jauh lebih tenang, meskipun ketenangan itu tidak ditujukan untuk kenyamanan Thomas.
"Saya akan mendengar penjelasan Anda," katanya. "Tetapi jangan menganggap saya sudah memaafkan hanya karena saya masih berdiri di sini."
Thomas mengangguk. "Aku tidak menganggap begitu."
Joanna muncul di belakang kakaknya, lalu mengajak mereka mengikuti lorong menuju ruang latihan.
Di depan pintu, ia berhenti dan menatap sang duke.
"Tuan Rayleigh juga ingin berbicara tanpa permainan, Your Grace."
Thomas meletakkan tangan pada gagang pintu.
"Kalau begitu, untuk sekali ini kami menginginkan hal yang sama."