Thomas, jangan mengira seseorang tidak mengetahui kedatanganmu hanya karena ia belum menoleh.
Duke of Gordon ke-X.
***
Mrs. Hudson menolak masuk ke dalam keranjang dengan keteguhan yang pantas memperoleh gelar kebangsawanan.
Annalise menahan penutupnya sementara Wilda berusaha menyelamatkan ujung pita yang telah disambar cakar. Di dekat mereka, Edith menonton dengan kegembiraan yang sama sekali tidak membantu.
"Mungkin dia ingin duduk di kereta tanpa dikurung."
"Mungkin dia ingin menghancurkan rumah Mama sebelum pergi," jawab Annalise.
Lady Gresham, yang kebetulan mendengar dari pintu, mengatakan kemungkinan kedua tidak membutuhkan pembuktian tambahan.
Kabar kedatangan Puppets Theater diterima pagi itu. Annalise sudah mengirim pesan kepada Joanna dan memperoleh waktu untuk berkunjung setelah rombongan sempat menurunkan barang. Edith mengingat janjinya dengan ketepatan yang membuat Annalise tidak mungkin berpura-pura lupa.
Mereka akan mengembalikan Mrs. Hudson dan berkenalan.
Setidaknya itulah yang tertulis pada pesan.
Gadis itu masih memikirkan wajah Thomas ketika nama Jennifer Winter disebut. Ia tidak mendapat kesempatan menanyakan lebih jauh, tetapi tidak berniat melupakan perubahan yang begitu jelas.
Mrs. Hudson akhirnya masuk setelah Edith memanggilnya dengan suara lembut. Annalise memandang kucing itu dengan perasaan dikhianati.
Sungguh. Bahkan binatang berbulu pun tampaknya lebih menyukai orang yang paling sulit ditebak.
***
Penginapan tempat rombongan tinggal tampak sibuk ketika kereta mereka berhenti. Peti-peti dibawa masuk, beberapa orang bertukar panggilan mengenai barang yang harus dipisahkan, dan seorang pelayan menunjukkan jalan kepada tamu yang kebingungan.
Annalise meminta Joanna melalui nama panggungnya. Mereka dipersilakan menunggu di ruang depan yang tidak terlalu luas, bersama Wilda dan keranjang yang sesekali mengeluarkan bunyi protes.
Edith mengamati sekeliling tanpa memperlihatkan ketidaksenangan terhadap tempat yang jauh lebih sederhana daripada kediaman bangsawan. Ia bahkan membantu menarik keranjang sedikit ketika seorang pekerja membawa peti terlalu dekat.
Joanna datang beberapa menit kemudian.
"Anna!"
Senyumnya lebar ketika melihat Annalise, tetapi langkahnya melambat saat menyadari siapa yang duduk di sebelah gadis itu. Perubahannya hanya sesaat. Cukup singkat untuk terlewat oleh orang yang sedang sibuk membuka keranjang.
Edith tidak sedang sibuk membuka keranjang.
"Jennifer Winter," kata Annalise dengan bangga. "Dan ini Lady Edith Hardy, Dowager Duchess of Wellington."
Joanna membungkuk dengan sopan. "Suatu kehormatan, Your Grace."
Suaranya tetap mantap. Namun, ketika Mrs. Hudson keluar dan langsung menggesekkan tubuh ke roknya, wanita itu tampak bersyukur memperoleh sesuatu untuk dilihat selain wajah Edith.
Annalise menceritakan kelakuan kucing tersebut selama dititipkan, termasuk peristiwa di pohon. Joanna mengangkat wajah dengan terkejut dan langsung memastikan ia tidak terluka.
"Aku ditolong seseorang yang kemudian ternyata sangat merepotkan," jawab Annalise.
Edith tertawa dengan penuh pengertian.
Seorang wanita dari rombongan membawa dua gaun melewati pintu yang terbuka. Joanna meminta salah satunya tidak dikembalikan ke peti karena jahitan di dekat lengan masih perlu diperiksa. Suaranya berubah menjadi lebih tegas, dan orang tersebut menjawab tanpa tampak tersinggung.
Annalise memperhatikan pertukaran singkat itu dengan tertarik. Ia terbiasa melihat Joanna bercerita mengenai pertunjukan, tetapi tidak sering menyaksikan semua urusan kecil yang diperlukan sebelum seorang aktris dapat berdiri di bawah cahaya panggung.
"Kau mengurus pakaian juga?"
"Aku mengurus agar tidak kehilangan lengan gaun ketika harus mengangkat tangan. Penonton sebaiknya memperhatikan ucapanku."
Annalise tertawa. Edith ikut tersenyum, lalu menanyakan apakah perjalanan membuat banyak perlengkapan perlu diperbaiki.
Joanna menjawab dengan lebih leluasa. Ada peti yang harus diatur ulang, kain yang kusut, serta seorang pemain yang selalu yakin barangnya tertinggal padahal berada tepat di sebelahnya. Rombongan itu terdengar seperti keluarga yang terlalu sering bepergian bersama untuk tetap menjaga sopan santun setiap saat.
Mrs. Hudson mencoba melompat ke salah satu gaun dan segera diangkat kembali oleh Joanna.
"Kau sudah menyusahkan seorang lady sampai jatuh dari pohon. Hari ini cukup duduk dan bersikap cantik."
Edith tertawa lebih keras. Untuk beberapa menit, keinginan mencari jawaban kalah oleh kesenangan melihat seekor kucing menerima teguran yang jelas tidak berniat dipatuhinya.
***
Mereka duduk setelah minuman disediakan. Joanna menjelaskan bahwa latihan akan dimulai setelah sebagian perlengkapan dipastikan lengkap. Ia mempunyai waktu, tetapi tidak cukup lama untuk berjalan-jalan sebelum tugasnya selesai.
Annalise menanyakan perjalanan, peran yang akan dimainkan, serta apakah Mrs. Hudson boleh dikunjungi nanti. Untuk beberapa saat, suasana terasa sama seperti pertemuan mereka sebelumnya.
Kemudian Edith menyebut nama kucing itu.
"Nama yang sangat khusus untuk seekor makhluk yang tidak tampak pernah menikah."
Joanna tersenyum. "Saya hanya memilih nama yang terdengar pantas untuk keangkuhannya."
"Apakah kau mengenal seorang Mrs. Hudson?"
Wanita itu membelai kepala kucing sebelum menjawab. "Tidak secara langsung, Your Grace. Saya pernah mendengar sebuah cerita."
Edith meletakkan cangkir. "Dari siapa?"
Annalise menoleh. Pertanyaan tersebut terdengar ringan, tetapi seluruh perhatian sang dowager kini berada pada jawabannya.
Joanna tidak langsung menyebut nama. Ia mengatakan cerita itu berasal dari seseorang dalam lingkungan rombongan, dan barangkali telah diceritakan berkali-kali sebelum sampai kepadanya.
Edith mengangguk, tetapi wajahnya berubah. Ia tidak melihat keponakan yang pernah disayanginya hidup kembali di hadapan wanita itu. Yang mengusiknya justru kemungkinan bahwa suatu lelucon yang dianggap telah terkubur bersama kenangan ternyata pernah mencapai telinga orang lain.
"Aku pernah mendengar cerita yang serupa," katanya akhirnya. "Orang yang menceritakannya kepadaku sudah tidak ada."
Joanna menatapnya dengan lebih lembut. "Saya turut berduka, Your Grace."
Tidak ada pengakuan yang dipaksa keluar. Namun, Annalise melihat tangan temannya tetap bertahan di bulu Mrs. Hudson, seolah sentuhan itu membantu menahan sesuatu agar tidak terlihat pada wajahnya.
***
Percakapan berakhir ketika seorang anggota rombongan memanggil Joanna mengenai latihan. Annalise segera berdiri agar tidak menghalangi pekerjaan, tetapi sebelum berpamitan, Joanna sempat melihat cincin di jarinya.
"Anna?"
Gadis itu merasakan pipinya panas. Menjelaskan pertunangan mendadak kepada seseorang yang mengetahui betapa lama ia menghindari season ternyata tidak termasuk hal yang menyenangkan.
"Ada yang belum sempat kuceritakan."
Edith tersenyum, jelas tidak berniat menolongnya menghindar.
Annalise menyebut nama Thomas. Joanna tidak menjatuhkan kucing atau mengeluarkan pekikan. Ia hanya menjadi terlalu diam.
"Duke of Wellington?"
"Ya. Kau mengenalnya?"
"Aku pernah mendengar tentangnya."
Jawaban itu datang cepat, lebih cepat daripada ketika ditanyakan nama Mrs. Hudson. Annalise memiringkan kepala, tetapi Joanna sudah mengucapkan selamat dan meminta maaf karena benar-benar harus pergi.
Mereka meninggalkan penginapan setelah menyepakati kunjungan berikutnya. Di dalam kereta, Edith memandang jendela selama beberapa saat sebelum berbicara.
"Temanmu pandai menjaga wajah."
"Dia seorang aktris."
"Benar."
Hanya satu kata. Namun, Annalise tidak merasa sang dowager sedang membicarakan panggung.
Pada saat kereta mereka meninggalkan jalan penginapan, Joanna berdiri di dekat pintu dalam sambil memeluk Mrs. Hudson. Senyum yang digunakannya selama menerima tamu sudah hilang.
Ia meminta seorang rekan menyampaikan kepada Ronnie Rayleigh bahwa Thomas Hardy berada di Bath.
Balasan datang lebih cepat daripada yang diharapkan.
Tuan Rayleigh sudah mengetahuinya.