Hugo sedang memeriksa botol-botol di ruang kerja dokter Ruthbone ketika Annalise datang keesokan paginya. Wilda mengumumkan kehadiran mereka, lalu menunggu di dekat Isabel yang langsung mempunyai banyak pertanyaan mengenai cincin.
Annalise berharap pertanyaan tersebut dapat ditunda sampai dunia berakhir.
"Aku ingin berbicara dengan Hugo terlebih dahulu, Isabel."
Istri sang dokter memandangnya, kemudian menatap tangan kirinya. Senyumnya melebar dengan cara yang membuat Annalise merasa nama dirinya sedang disusun menjadi kalimat pembuka untuk pertemuan minum teh berikutnya.
"Tentu, Sayang. Tentu."
Hugo sudah mendengar langkah mereka. Ia menutup buku, menyeka tangannya, lalu memberi salam sebagaimana biasanya.
"Milady."
Sapaan itu terasa lebih jauh daripada yang diinginkan Annalise.
Ia duduk setelah dipersilakan. Pintu dibiarkan terbuka, dan suara Isabel yang berbicara dengan Wilda masih dapat terdengar dari ruangan sebelah. Tidak ada tempat untuk berpura-pura bahwa mereka berada dalam dunia yang hanya diisi berdua.
Barangkali memang tidak pernah ada.
***
Hugo melihat cincin tersebut ketika Annalise meletakkan tangan di pangkuan.
"Saya mendengar mengenai Duke of Wellington," katanya.
Annalise mengangguk. Ia tidak ingin memulai dengan membela keputusan yang dirinya sendiri masih berusaha pahami.
"Aku tidak datang untuk membicarakan Thomas."
Hugo menunggu.
"Aku ingin mengetahui apakah kau memang ingin tinggal dan belajar bersama dokter Ruthbone. Bukan karena aku membuatmu merasa harus menjauh."
Pemuda itu memandang buku di meja sebelum menjawab. Ia mengatakan kesempatan tersebut merupakan sesuatu yang telah lama diinginkannya. Mengikuti Annalise mendapatkan pengobatan mempertemukannya dengan banyak orang yang dapat mengajar, tetapi keinginannya belajar kini telah menjadi tujuan yang perlu dijalani sendiri.
Gadis itu menelan rasa pahit yang muncul.
"Dan tentang aku?"
Hugo menarik napas. "Saya menyayangi Anda dan ingin Anda baik-baik saja. Tetapi saya tidak ingin Anda terus menunda hidup untuk sesuatu yang tidak dapat saya janjikan."
"Tidak dapat atau tidak ingin?"
Kali ini Hugo tidak segera menjawab. Annalise menunggu meskipun bagian paling pengecut dalam dirinya ingin menarik pertanyaan tersebut.
"Saya memilih jalan ini, Milady. Saya tidak meminta Anda menunggu saya."
Ada kesedihan di wajahnya, tetapi bukan janji tersembunyi. Annalise akhirnya melihat betapa sering ia menambahkan harapan pada hal yang tidak pernah benar-benar dikatakan Hugo.
Ia mengangguk, lalu menunduk untuk merapikan lipatan gaun yang sama sekali tidak berantakan.
Tidak menangis di hadapannya terasa seperti pekerjaan paling berat pagi itu.
Di meja Hugo terdapat beberapa lembar catatan dengan tulisan yang dikenalnya. Dahulu Annalise pernah mengejek ukuran huruf tersebut karena seolah pemiliknya takut menghabiskan kertas. Sekarang halaman-halaman itu dipenuhi tambahan di tepi, tanda dari pelajaran yang terus berlanjut tanpa harus menunggu keinginannya.
"Tulisanmu masih mengerikan," katanya pelan.
Hugo memandang catatan, lalu tersenyum kecil. "Dokter Ruthbone mengatakan hal yang sama."
Annalise hampir tertawa. Untuk sesaat ia dapat melihat sahabat yang selama ini dikenalnya, bukan hanya orang yang tidak memberikan jawaban sesuai harapannya.
Ia tidak ingin kehilangan seluruh kebaikan tersebut dengan menjadikannya hukuman karena Hugo memilih masa depan sendiri.
Namun, ia juga belum sanggup langsung berbicara seperti tidak ada yang berubah.
"Aku mungkin akan lebih jarang mengganggumu untuk sementara," katanya.
Hugo mengangguk tanpa memohon agar ia segera bersikap biasa. Ia mengatakan Annalise tetap dapat meminta bantuan mengenai hal yang memang dapat dibantunya, tetapi pelajaran bersama sang dokter tidak akan ditinggalkannya setiap kali dipanggil.
Gadis itu menerima jawaban tersebut, meskipun rasanya belum menyenangkan.
***
"Aku marah kepadamu kemarin," katanya setelah beberapa saat.
"Saya tahu."
"Karena kau tidak memberiku apa yang kuinginkan. Itu bukan alasan yang baik."
Hugo menggeleng pelan. Ia tidak meminta Annalise merasa lebih baik dengan segera. Ia hanya mengatakan dirinya tidak ingin kembali membantu membuat keadaan kesehatannya tampak berbeda agar ia terhindar dari percakapan dengan keluarga.
Gadis itu mengangkat wajah. "Aku masih bisa merasa tidak sehat meskipun dokter menyuruhku kembali mengikuti season."
"Tentu. Karena itu keluhan Anda perlu disampaikan sebagaimana adanya, bukan dicampur dengan keinginan menunda sesuatu."
Annalise menghela napas. Ia tidak menyukai jawaban itu, tetapi mengenali perbedaannya. Tubuhnya yang sejak kecil mudah sakit bukan kebohongan. Menggunakannya untuk membuat orang lain tidak pernah mengajukan pertanyaan pun tidak akan membantunya selamanya.
Ketika Ruthbone masuk, Hugo berdiri dan memberikan catatan yang diminta. Dokter tersebut melihat wajah Annalise, tetapi tidak berkomentar mengenai mata yang sedikit merah.
Ia menanyakan keadaan napasnya, selera makan, dan apakah ia mengalami keluhan setelah beraktivitas. Annalise menjawab dengan lebih teliti daripada biasanya. Ia menyebut kejadian ketika dirinya perlu berhenti dan duduk, tanpa menambahkan keadaan yang tidak dialami.
Ruthbone mendengarkan, kemudian menjelaskan bahwa penilaiannya mengenai perbaikan kesehatan tidak berarti gadis itu harus mengabaikan tubuh atau mengikuti setiap hiburan sampai kelelahan.
"Aku mengatakan kau cukup baik untuk kembali menjalani hidupmu, bukan memenangi perlombaan menghadiri pesta," ujarnya.
Annalise hampir tersenyum.
"Ibuku perlu mendengar bagian terakhir itu."
"Begitu pula dirimu ketika memutuskan memanjat pohon."
Oh, sungguh tidak adil. Pohon itu rupanya akan mengejarnya untuk waktu yang lama.
***
Thomas datang ketika Annalise sedang mengambil sarung tangannya dari Wilda. Mereka saling memandang, dan gadis itu langsung menyadari bahwa sang duke melihat sesuatu yang berbeda pada wajahnya.
Ia mengangkat dagu lebih tinggi.
"Your Grace."
"Lady Annalise."
Thomas tidak menanyakan mengapa ia tampak baru menangis. Sikap itu begitu tidak sesuai dengan kebiasaannya menginginkan semua jawaban sehingga Annalise justru merasa sedikit lebih mudah bernapas.
Ia mengatakan hendak pulang bersama Wilda. Thomas menyingkir dari pintu dan membiarkannya lewat setelah menanyakan apakah kereta sudah tersedia.
Baru sesudah gadis itu pergi, ia masuk menemui Ruthbone.
"Kau terlihat ingin mengajukan pertanyaan yang tidak seharusnya kujawab," ujar dokter itu sebelum Thomas duduk.
Sang duke menyipit. "Kau selalu menyambut kawan dengan ramah, rupanya."
"Hanya kawan tertentu. Duduklah. Aku ingin melihat lukamu."
Thomas menurut dengan geraman kecil. Luka punggungnya mulai membaik, tetapi Ruthbone tetap tidak membiarkan dirinya menganggap rasa sakit sebagai sesuatu yang harus dikalahkan dengan berkuda lebih jauh.
Ketika pemeriksaan selesai, Thomas menanyakan apakah Annalise benar-benar dapat mengikuti kegiatan biasa.
Ruthbone memandangnya tajam. "Tanyakan kepadanya apa yang ingin ia ceritakan. Jika kau ingin menjadi suaminya, mulailah dari sana."
"Aku tunangannya."
"Itu bukan jabatan di bawah sang ratu yang memberimu akses kepada semua keteranganku."
Thomas menatap kawannya, lalu tertawa tanpa banyak kegembiraan. Ia tidak mendapat jawaban yang diinginkan, tetapi cukup cerdas untuk mengetahui kapan pintu benar-benar ditutup.
Ia mengenakan kembali kemejanya dan memutuskan tidak memaksa.
Di luar, Matthew sedang menunggu dengan kabar mengenai rombongan teater. Wajahnya lebih serius daripada ketika pergi mengurus tiket.
"Mereka sudah mengirim orang mendahului rombongan, Your Grace. Tuan Rayleigh menerima permintaan Anda untuk bertemu."
Thomas berhenti merapikan manset.
"Kapan?"
"Setelah mereka tiba. Sebelum latihan pertama."
Sang duke mengangguk perlahan. Kesempatan yang dicari akhirnya mendekat, dan untuk sekali ini ia tidak merasa kemenangan akan semudah yang dibayangkan.