Thomas, kemenangan yang terlalu mudah biasanya berarti ada sesuatu yang belum kauperhitungkan.
Duke of Gordon ke-X.
***
Thomas tiba di kediaman Berrow ketika teh sore baru disiapkan. Ia membawa bunga untuk Lady Gresham, senyum yang telah dipilih dengan sangat cermat, dan keyakinan bahwa dirinya akan memperoleh sore yang menyenangkan.
Keyakinan terakhir itulah yang seharusnya ia tinggalkan di rumah.
Annalise menunggunya di ruang duduk dengan gaun biru pucat dan punggung yang tegak. Wilda berada tidak jauh dari pintu, sibuk merapikan sesuatu yang tampaknya sudah cukup rapi. Sementara Lady Gresham menerima bunga dengan keramahan yang membuat Thomas tahu bahwa dirinya sedang diawasi.
"Putriku ingin berbicara denganmu, Your Grace."
"Dan aku datang untuk menemuinya, Lady Gresham."
Annalise tersenyum manis. Terlalu manis.
Thomas mulai curiga.
Sang duchess berpindah ke ruang yang bersebelahan setelah meminta pintu penghubung tetap terbuka. Wilda tidak pergi. Rupanya, setelah kejutan malam sebelumnya, tidak seorang pun berniat menyerahkan seluruh sore kepada kemurahan hati Thomas.
Ia duduk di hadapan Annalise dan melirik cincin yang masih tersemat di jarinya.
"Kau tidak menanggalkannya, My Lady. Aku merasa tersanjung."
"Jangan terlalu cepat. Aku hanya belum memutuskan kepada siapa harus mengembalikannya jika kau bersikap menyebalkan."
Thomas tertawa. Ia menyukai ketajaman gadis itu bahkan ketika diarahkan kepadanya. Barangkali terutama ketika diarahkan kepadanya.
"Aku datang tepat waktu, membawa bunga, dan belum menyampaikan satu perintah pun."
"Sungguh kemajuan yang mengagumkan."
Wilda mengeluarkan suara kecil yang dengan sangat buruk disamarkan sebagai batuk.
Thomas memilih mengabaikannya.
***
Annalise menunggu sampai teh dituangkan sebelum meletakkan cangkirnya kembali. Ia sudah memikirkan percakapan ini sejak ibunya memeluknya pagi tadi. Rasa bersalah ternyata tidak mudah dihilangkan hanya dengan mengagumi kilau berlian.
Pada usianya yang telah genap dua puluh satu tahun, ia seharusnya mampu membuat keputusan tanpa membiarkan kemarahan mengucapkan jawabannya lebih dahulu.
Sayangnya, Thomas sangat berbakat membuatnya marah.
"Kau mengatakan akan berbicara kepada ayahku setelah kembali ke London," ujarnya.
"Benar."
"Maka kau tidak akan menetapkan tanggal pernikahan atau mengirim pengumuman tanpa membicarakannya denganku."
Thomas mengangkat sebelah alisnya. "Kau sudah memikirkan tanggal pernikahan?"
"Aku sedang memikirkan bagaimana mencegahmu memutuskan semuanya sebelum aku sempat duduk."
Senyumnya menipis sedikit. Gadis itu tidak sedang bermain dengan sindiran kali ini.
Annalise mengatakan ia telah mengakui pertunangan kepada ibunya, tetapi belum menjanjikan pernikahan yang tidak bisa dipertimbangkan kembali. Ia ingin tetap tinggal di Bath selama waktu yang memang disepakati keluarganya. Ia juga tidak bersedia membiarkan keadaan kesehatannya digunakan sebagai ancaman setiap kali mereka berbeda pendapat.
"Kau tidak ingin aku mengatakan yang benar kepada ibumu?"
"Aku tidak ingin kebenaran itu keluar hanya jika aku menolakmu. Ada perbedaan, Your Grace."
Thomas terdiam.
Ia dapat mematahkan kalimat tersebut dengan gurauan. Ia bahkan sudah mempunyai dua jawaban yang mungkin akan membuat pipi Annalise kembali memerah. Namun, untuk pertama kalinya sejak malam sebelumnya, ia melihat betapa sedikit yang sebenarnya diketahui gadis itu mengenai alasan dirinya berada di Bath.
Tidak mengherankan jika setiap senyumnya mulai tampak seperti perangkap.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Aku tidak akan menggunakan penolakanmu sebagai alasan mempermalukanmu di depan ibumu."
Annalise memandangnya dengan curiga. "Dan tanggal pernikahan?"
"Tidak akan kutetapkan sendiri."
"Pengumuman?"
"Kita akan membicarakannya. Apakah aku perlu meminta izin untuk meminum teh juga?"
"Hanya jika itu tehku."
Thomas melirik cangkirnya, kemudian tertawa. Satu kejadian semalam rupanya tidak akan dibiarkan berlalu tanpa hukuman.
***
Ada satu pertanyaan yang masih belum terjawab. Annalise menyandarkan punggung, menatap Thomas dengan kesabaran yang dipaksakan.
"Mengapa kau memerlukan tunangan?"
Thomas tidak langsung menjawab. Ia memandang cincin di tangan gadis itu, lalu wajah yang menunggu tanpa niat menolongnya keluar dari keheningan.
"Ibuku menginginkan aku menikah," katanya. "Aku telah bepergian selama setahun, dan kesabarannya bukan sesuatu yang akan bertahan selamanya. Jika kembali tanpa calon pilihanku, dia akan memilih untukku."
"Seperti Lady Katherine?"
"Aku menyetujui pertunangan itu. Aku tidak dapat menyalahkan ibuku atas seluruh keputusan yang pernah kubuat."
Jawaban tersebut mengejutkan Annalise. Ia sudah menyiapkan sindiran, tetapi mendadak kehilangan tempat untuk meletakkannya.
Thomas melanjutkan bahwa dirinya tidak ingin mengulangi hubungan yang diterima karena tampak cukup pantas, kemudian dibiarkan berjalan tanpa keinginan untuk sungguh mengenal orang di dalamnya.
"Dan kau memilih memulai yang berikutnya dengan membuatku kesal?"
"Sepertinya aku tidak memiliki bakat yang lebih baik."
Annalise mendengkus. Thomas tampak geli, tetapi kali ini ia tidak menyentuh tangannya atau mengambil kedekatan yang belum diberikan.
"Aku tertarik kepadamu," katanya. "Itu bagian yang tidak perlu kusembunyikan. Namun aku mengerti bahwa ketertarikanku bukan jawaban untukmu."
Gadis itu menunduk sesaat. Mendengarnya dikatakan terus terang ternyata lebih mengusik daripada semua panggilan My Love yang dipamerkan di depan ibu mereka.
Oh dear. Ia harus lebih berhati-hati.
Thomas melihat perubahan wajahnya dan hampir menganggap dirinya telah memperoleh kembali seluruh keuntungan. Lalu Annalise mengulurkan tangan ke arah piring kecil, mengambil sepotong kue, dan mematahkan anggapannya dengan satu pertanyaan.
"Apakah kau juga sudah memutuskan siapa yang akan menulis kepada ayahku?"
"Aku telah mengatakan akan menemuinya."
"Dan aku akan menulis sebagai putrinya. Dia tidak seharusnya mengetahui keputusanku hanya dari seorang pria yang baru dikenalkannya sebagai calon menantu."
Thomas mengangguk setelah jeda singkat. Ia mengenal Duke of Berrow melalui pekerjaan dan reputasinya. Menjadi tamu yang harus menjelaskan niat kepada putri bungsunya barangkali akan menjadi pengalaman yang sama sekali berbeda.
Annalise melihat jeda itu dan tersenyum puas untuk pertama kalinya sore tersebut.
"Kau takut kepada ayahku?"
"Aku menghormatinya."
"Kedengarannya mirip sekali jika diucapkan olehmu."
Thomas tertawa pendek. Wilda menunduk lebih dalam pada kain yang sedang dirapikannya. Seluruh rumah ini rupanya telah sepakat bahwa dirinya datang untuk menyediakan hiburan.
Namun, ketika Annalise mulai membicarakan hal-hal yang ingin disampaikan dalam surat, Thomas mendengarkan. Ia tidak mengambil pena atau mendiktekan kalimat yang akan menguntungkannya.
Satu sore tanpa mengatur semua orang ternyata tidak membunuhnya. Kenyataan itu cukup mengherankan untuk membuatnya tetap duduk ketika ia bisa saja mengakhiri percakapan dengan sopan dan pergi.
***
Lady Gresham kembali setelah menganggap mereka mendapat cukup waktu. Thomas berdiri, menerima kehadirannya dengan kesopanan yang membuat Annalise ingin bertanya ke mana pria itu menyimpan sopan santun yang sama semalam.
Ia mengundang mereka menonton Puppets Theater ketika pertunjukan dimulai. Satu bilik telah disiapkan, dan Edith tentu akan senang ikut bersama.
Annalise segera mengangkat wajah. "Joanna akan datang sebelum pertunjukan. Aku sudah berjanji memberi tahu ibumu jika Jennifer Winter tiba."
Gerakan Thomas berhenti sesaat.
"Ibuku ingin bertemu dengannya?"
"Ya. Sepertinya Mrs. Hudson membuatnya teringat seseorang."
Thomas meletakkan cangkir dengan sangat hati-hati.
Annalise memperhatikan perubahan kecil itu. Untuk pertama kalinya sore tersebut, bukan dirinya yang terlihat harus memilih jawaban dengan susah payah.
Dan, demi Tuhan, ia berniat mencari tahu mengapa.