"Siapa namamu, Manis?"
"Mrs. Hudson," ujar Annalise menjawab pertanyaan Edith kepada kucing berwarna hitam dan putih itu.
Edith lalu memalingkan wajahnya kepada Annalise. Menyipitkan matanya sembari memastikan. "Mrs. Hudson?"
Annalise mengangguk. "Ya. Namanya adalah Mrs. Hudson."
Edith lalu tertawa. "Oh, apakah kau tahu bahwa aku mengenal seseorang bernama Mrs. Hudson yang sangat menyebalkan?"
Annalise meringis. "Mungkin saja namanya memang terinspirasi dari sana."
"Mungkin?" tanya Edith lagi. Otak cerdasnya langsung bereaksi dan merangkai sirkuit mengenai keadaannya kali ini. "Mrs. Hudson bukan milikmu?"
"Bukan. Dia milik temanku dan hanya dititipkan kepadaku. Dia milik Jo-, maksudku Jennifer Winter. Aktris teater terkenal itu!" ucap Annalise bangga.
Edith mengernyit. Jelas ia tidak mengenal nama itu karena beberapa tahun terakhir ini, ia lebih mengenal iklim tropis daripada aktris teater di daratan Inggris Raya.
"Dia akan datang kemari. Jika kau ingin bertemu dengannya, mungkin kita bisa melihat pertunjukannya dan mengembalikan Mrs. Hudson kepadanya."
Annalise mengernyitkan hidungnya ketika melihat Mrs. Hudson yang sepertinya bergelung manja kepada Lady Edith. Sebenarnya Mrs. Hudson tidak terlalu menyukai Annalise. Dan ini benar-benar menganggunya ketika melihat kedekatan kucing menyebalkan itu dengan orang yang jelas baru ia temui seperti Lady Edith dan Thomas.
"Aku khawatir bahwa saat itu aku sudah kembali ke London. Apakah kita tidak bisa menemuinya sebelum dia melakukan pentas?"
Annalise kembali mengernyit. Tertarik oleh sebab sang dowager terlihat sangat ingin bertemu dengan Joanna alias Jennifer Winter. "Apakah kau mengenalnya?"
"Tidak. Aku bahkan yakin bahwa dugaanku salah. Hanya saja, aku jadi mengingat keponakanku yang telah meninggal. Karena lelucon mengenai Mrs. Hudson hanya aku dan dia yang tahu," ujar Edith sambil menerawang jauh. Setitik air mata lalu membasahi sudut matanya dan dengan cepat ia menghapusnya.
"Maafkan aku. Beginilah orang tua ketika mengenang mereka, yang lebih muda dan telah meninggalkan dunia ini. Bukankah mereka sangat tidak sopan karena pergi terlebih dahulu?"
Annalise tersenyum. Merasa tersentuh atas perhatian yang sang dowager berikan kepada keponakannya. Sepertinya hubungan mereka cukup dekat dan itu wajar, jika kehilangannya mengakibatkan luka kepada Edith.
Mengenalkan Joanna kepada Edith juga tidak ada salahnya bagi Annalise. Mengingat sikap seenaknya kedua orang itu, Annalise yakin bahwa mereka akan menjadi sangat akrab dengan cepat.
"Aku akan mengabarimu begitu Jennifer Winter sampai di sini."
Edith mengangguk. Mengucapkan terima kasih sebelum teringat sesuatu. "Oh Elise! Kuharap kau tidak tersinggung karena tadi kutertawakan."
Annalise terdiam. Menunggu apa yang akan disampaikan Edith dengan sabar. "Hanya saja, kau sangat manis. Dan mengingat bahwa kau akan menjadi menantuku, anakku, itu membuatku sangat bahagia."
Annalise mengerjap. Dengan cepat membawa tangan kirinya yang tersemat cincin ke belakang tubuhnya.
"Apakah Thomas berkata bahwa hari ini ia akan datang? Karena jika tidak, maka aku yang akan mendatanginya dan memukul bokongnya dengan rotan."
Annalise terperanjat. Ya Tuhan! Tidak ada bangsawan yang mengatakan kata vulgar seperti b****g dengan lancarnya. Namun Annalise lupa, bahwa Edith adalah sebuah pengecualian. Dia adalah orang yang bebas. Dan orang yang bebas bertindak sesuai dengan keinginannya.
"Aku mendengar seseorang menyebutkan kata yang tidak pantas di rumahku. Dan sebagai tuan rumah yang baik, aku ingin kau memperbaiki ucapanmu, Edith!" tukas Lady Gresham dengan gaun berwarna peach yang membalut tubuhnya. Jelas gaun yang tidak dimaksudkan untuk berolahraga karena ia telah terlambat bangun.
"Temanku yang baik!" Edith lalu bangun. Masih memeluk Mrs. Hudson dan berniat mendekati Gresham.
"Jangan berani-berani kau mendatangiku dengan binatang berbulu itu, Edith!"
Edith tertawa nyaring. "Ini hanya seekor kucing yang manis, Gresham!"
Mrs. Hudson lalu mengeong. Seolah menegaskan bahwa dirinya adalah kucing manis yang selalu merusak gaun indah milik Lady Gresham.
"Jika kau maju selangkah lagi, aku tidak akan segan untuk melemparmu keluar dari kediamanku, Edith!"
Edith masih terkekeh. Namun khawatir bahwa ancaman itu nyata dan misi dirinya untuk membantu Thomas bisa digagalkan olehnya. Pada akhirnya, seolah kucing itu mengerti dengan jalan pikiran Edith, Mrs. Hudson lalu turun dari gendongan Edith.
"Baiklah. Sepertinya aku akan mandi dan berganti pakaian. Bukankah kau sudah berjanji menemaniku berkeliling kota Bath, Gresham?"
Lady Gresham menipiskan bibirnya. Tidak menjawab dan menatap sengit kepada Mrs. Hudson yang mulai mencakari permadani rumahnya yang indah.
"Dan Elise," ujar sang lady lagi. "Cincin yang bagus." Edith mengedipkan sebelah matanya. Meninggalkan mereka dengan Lady Gresham yang menatap tajam kepada putri bungsunya.
"Nah putriku. Ada yang ingin kau jelaskan kepadaku?"
Annalise menelan ludahnya susah payah. Mengatakan yang terjadi semalam sesuai dengan instruksi Thomas kepadanya. Bahwa mereka sudah saling mengenal dan ingin meresmikan statusnya. Thomas juga berpesan bahwa ia akan datang sore nanti dan ia jugalah yang akan menyampaikan mengenai dirinya kepada ayahnya, secepat ia bisa kembali ke London.
Lady Gresham hanya menghela napas. Tahu bahwa ada hal yang putrinya sembunyikan kepada dirinya.
"Kau tahu bahwa hal ini akan menjurus kepada pernikahan, bukan? Dan pernikahan bukanlah sebuah permainan."
Annalise mengangguk. "Mama hanya berharap bahwa kau tidak akan menyesali tindakanmu dan agar kau selalu bahagia. Mama tidak akan melarangnya karena semalaman, Mama telah diyakinkan oleh Edith sehingga merasa menyesal berbagi kamar dengannya."
Annalise tersenyum kecil. Melihat nada frustrasi dari sang ibu.
"Thomas adalah pria yang baik, dan ayahmu juga menyukainya. Tidak ada yang akan melarangmu," Lady Greshan menepuk lengan Annalise lembut. "Mama ingin kau bahagia. Hanya itulah yang Mama inginkan, putri kecilku." Ia lalu membawa Annalise ke dalam pelukannya. Membuat Annalise merasakan perasaan bersalah karena tujuannya dari pertunangan ini tidaklah seindah yang ibunya pikir.
Mungkinkah dirinya terlalu terburu-buru?