Thomas, optimisme adalah candu terbaik untuk tubuhmu.
Duke of Gordon ke-X.
***
Annalise membuka matanya dan mendengar suara Mrs. Hudson yang sedang bermain-main dengan korden kamarnya. Suara lonceng kecil yang melingkari leher Mrs. Hudson seperti suara kepakan sayap peri kecil dan Annalise sangat senang mendengarnya ketika ia terbangun.
Meregangkan tubuhnya, Annalise kemudian merasakan sebuah rasa asing di tangan kirinya. Ia tersentak. Menyadari bahwa semalam ia telah resmi menjadi tunangan dari Thomas William, Duke od Wellington.
Oh dear...
Ia masih mengutuki sosok Thomas. Berharap jika dirinya tidak pernah bertemu dengannya –sosok yang sangat berbahaya baginya. Namun nasi sudah menjadi bubur sehingga Annalise hanya bisa meracik bubur itu menjadi lebih lezat dari dugaan awalnya.
Wilda lalu memasuki kamarnya. Tahu dengan baik kebiasaan bangun pagi dari nona mudanya. Ia lalu membantu sang nona muda berganti pakaian dengan gaun ringan berwarna toska yang membalut tubuhnya dengan indah.
"Anda akan melakukannya sendiri?" tanya Wilda memastikan tentang olahraga pagi yang biasanya Annalise lakukan. "Maksud saya, ada ibu Anda dan biasanya ketika Her Grace di sini, Her Grace menemani Anda untuk sesi pagi."
"Aku sangsi ibuku sudah terbangun," gumam Annalise. Ia menduga hal apa saja yang bisa ibunya dan temannya, sang Dowager Duchess of Wellington bicarakan semalam suntuk. Dan mengingat sikap dari sang dowager, ia sangat yakin bahwa penampilan ibunya bisa saja bertambah seperti sepuluh tahun lebih tua dari semestinya.
Ia lalu meminum teh herbal yang Wilda bawa. Rutinitasnya yang biasa untuk membuat tubuhnya tetap sehat. Setelahnya, ia memasuki ruangan hijau tempat ia melakukan olahraga paginya.
Annalise terpekik karena terkejut, saat melihat tubuh seseorang yang meliuk dengan luwes di depannya sedang melakukan gerakan yoga yang aneh. Sebelah kakinya terangkat dan membentuk angka empat dengan kedua tangan yang ditangkupkan di atas kepalanya.
Sang dowager, yang mendengar pekikan terkejut di belakangnya lalu berbalik. Melihat Annalise yang sepertinya akan memulai sesi olahraga paginya juga. Ia lalu tersenyum kepadanya sebelum menyapanya.
"Well, selamat pagi. Elise."
Annalise mengangguk. Menatap ke sudut tempat lilin aroma terapi beraroma melati yang sudah menyala.
"Kau tidak marah jika aku menggunakan ruanganmu, bukan?"
Annalise menggeleng. "Cukup banyak ruang untuk kita berdua, Your Grace," ujarnya.
"Oh. Panggil aku Edith, Sayang."
Annalise terkejut sekali lagi. Menatap sang dowager dengan tidak percaya. Namun dirinya tahu bahwa berdebat pun akan kalah sehingga ia memilih mengangguk dan sebisa mungkin tidak menyebutkan nama dari orang di sebelahnya.
Edith lalu kembali bergerak. Gaun putih ringannya bergerak ketika dirinya melakukan pose dengan sebelah kaki –yang lagi-lagi terangkat– namun kali ini terangkat ke arah belakang. Kedua tangannya terentang ke samping dan ia seperti burung besar yang eksotik.
Annalise terpesona dengan apa yang sang dowager lakukan. Berhitung dalam hati seberapa lama ia bisa bertahan dengan posisi seperti itu. Dan setelah dua menit berlangsung, Edith mengganti kakinya dan kembali melakukan gerakan itu.
"Ini adalah olahraga yang kudapatkan di India. Dan melakukannya, terbukti membuatku bisa berpikir lebih tenang dan tubuhku terasa lebih ringan," ujar sang dowager tanpa menatap Annalise.
"Ya. Kupikir begitu karena aku tidak pernah melihat gerakan eksotik semacam itu." Ia lalu berdeham. Memulai proses olah napas yang pernah Hugo ajarkan kepadanya. Hugo mengatakan bahwa hal ini, ia pelajari dari seni bela diri China dan baik untuk seseorang dengan tubuh lemah seperti Annalise.
Beberapa saat kemudian, sang dowager yang telah selesai mulai mengamati Annalise. Bagaimana gadis muda di depannya telah bertransformasi dari seseorang anak yang lemah dan tidak memiliki vitalitas hidup menjadi sebaliknya. Annalise jelas telah berusaha dengan keras mengalahkan sakit yang sering menderanya ketika ia kecil.
Annalise, walaupun terlihat kurus namun dalam balutan gaun ringan ini ternyata menyimpan lekuk tubuh yang proporsional. Sehingga sang dowager sepertinya harus menarik kata-katanya semalam. Dan pinggulnya... oh pinggul yang bagus untuk melahirkan anak-anak yang sehat. Pilihan yang tepat untuk membuatnya sebagai Duchess of Wellington.
Dan setelah Thomas menancapkan tandanya kepada gadis muda ini, tidak ada yang bisa menghalangi segala keinginan Thomas. Apalagi jika dirinya –sebagai ibunya– ikut membantu mewujudkan apa yang Thomas inginkan.
Gresham adalah orang pertama yang harus Edith takhlukan. Dan sepertinya, semalam dengan sesi beberapa jam bujukan persuasif yang Edith tanamkan, berhasil membuat Gresham setuju dengan kemungkinan yang ada.
Dengan adanya cincin yang melingkar di jari manis Annalise... Oh Thomas tidak menunggu waktu tertalu lama. Itulah yang Edith paling sukai dari putranya.
Wilda lalu datang. Memberi salam kepada sang dowager dan menuang ulang teh herbal yang sama untuk kedua wanita di depannya. Edith akhirnya beranjak. Memilih untuk menikmati pagi dan pemandangan Annalise yang sedang melakukan olah napasnya dengan secangkir teh.
Annalise lalu bergabung dengan Edith tiga puluh menit kemudian. Berdeham ketika tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka.
"Apakah tidurmu nyaman?"
Edith menoleh. Menatap Annalise dengan bingung karena lamunannya disela dan tertawa lepas kemudian. Oh dear... Gadis ini benar-benar menggemaskan. Biasanya tidak ada yang berani mengganggunya ketika dia memang tidak ingin bercakap-cakap. Namun menyadari bahwa Annalise hanya bersikap sesopan mungkin kepada orang tua sepertinya, membuat Edith semakin menyukainya.
Annalise hanya menipiskan bibirnya melihat Edith yang tertawa. Dirinya tidak tahu apa yang salah dengan ucapannya sehingga membuatnya tertawa seperti itu.
Edith menyadari rasa kesal Annalise. Tapi dirinya tidak bisa dan tidak berniat untuk berhenti tertawa. Kemudian Edith merasa sesuatu menyentuh kakinya dan ketika ia menunduk kemudian melihat Mrs. Hudson, ia menjerit senang.
"Ya ampun! Benar-benar kucing yang menggemaskan!" sang dowager lalu mengangkatnya. Memeluk Mrs.Hudson seolah mereka adalah teman lama.