"Perkataanmu membuatku terluka, My Lady."
Annalise mendengkus dengan tidak anggun. "Katakan saja atau kesepakatan kita batal."
Thomas memiringkan kepalanya. "Tepatnya, kesepakatan apa yang akan kita lakukan?"
"Aku yang menjadi tunanganmu dan kau yang membantuku untuk tidak mengikuti season," jawab Annalise jengkel. Ia lalu berhenti untuk kembali menarik napas panjang dan memejamkan matanya sebentar. Ia memiliki kecenderungan untuk menangis ketika sudah berada di puncak kemarahannya. Dan ia hampir mencapainya saat ini!
Ya Tuhan!
"Jika aku tidak salah menangkap maksudmu, dan aku sangat jarang salah," Annalise menjeda ucapannya. "Kau sangat membutuhkan seorang tunangan saat ini. Karena itulah kau mengancamku untuk menjadi tunanganmu-"
"Kau merasa terancam?" gumam Thomas berpura-pura bingung. "Kupikir sebelumnya aku mendengar kata kesepakatan."
"Baiklah. Kesepakatan!" bentak Annalise lagi. "Jika aku sepakat denganmu menjadi tunanganmu untuk beberapa waktu-" Annalise kembali berhenti dan berpikir. "Berapa lama kau menginginkanku menjadi tunanganmu?"
Thomas tertawa. Merasa geli dan terhibur ketika melihat wajah marah di depannya berubah menjadi bingung dalam sekejap mata. Oh, wajah cantik itu begitu ekspresif. Dan benak Thomas langsung dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai ekspresi Annalise ketika dia berada di atas ranjangnya. Bukankah dia sangat menarik?
"Apa kau tidak tertarik kepadaku untuk meneruskan hubungan pertunangan kita, My Lady?"
Annalise mengeratkan rahangnya. Menatap Thomas –yang sedang tersenyum dengan manis– dengan sengit. Sosok yang ada di hadapannya bukan lagi pria mengagumkan yang telah menyelamatkan nyawanya. Namun, pria di hadapannya adalah seseorang yang telah terbiasa mendapatkan segala yang ia inginkan. Dan Annalise membenci jenis pria seperti itu.
Tetapi dia telah menyelamatkanmu, Annalise! Sudah menjadi tugasmu untuk membantunya.
Membantunya, bukan berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada pria sombong itu!
Kau selalu bisa memutus pertunanganmu dengannya kapan saja! Dan itu tidak akan menjadi skandal kecuali terjadi hal sebaliknya. Kau tidak akan rugi.
Yah, dan kita lihat apakah kau bisa melepaskan diri semudah itu dari orang seperti Thomas.
Ingatlah Katherine. Bukankah istri dari sepupumu berhasil melakukannya? Mengapa kau tidak bisa?
Karena kau berbeda dengan Katherine! Kau adalah pribadi yang lain.
"Aku rasa jawabannya adalah bahwa aku memang tidak semenarik itu di matamu," jawab Thomas terhadap pertanyaan yang ia ajukan kepada Annalise. Thomas lalu menunduk. Tersenyum kecut dan menyadari bahwa caranya untuk mendapatkan duchess untuk dirinya sendiri barangkali bukanlah cara yang biasa dilakukan pria gentleman di luar sana. Namun Thomas barangkali memang tidak memiliki romantisme di dalam darahnya. Ia tidak bisa menjanjikan cintanya ketika dirinya tidak memilikinya saat ini.
Tapi kemungkinan selalu ada, bukan? Bisa saja beberapa waktu kebersamaan mereka memunculkan cinta di antara keduanya.
"Baiklah, aku mengerti. Dan mengenai pertunangan itu, kau bisa melupakannya," tambah Thomas.
"Apakah begitu caranya ketika kau melamar Lady Katherine, dulu?" tukas Annalise cepat ketika melihat tubuh Thomas yang lagi-lagi akan bangkit dari kursi yang ia duduki.
Thomas menggeleng. Tersenyum kecut dan matanya tampak menerawang. "Kate, gadis yang manis dan aku cukup yakin bahwa diriku cukup untuknya. Aku melamarnya dengan pantas di hadapan kedua orang tuanya." Ketika Thomas mengatakannya, ia lalu tersenyum meminta maaf kepada Annalise. "Yah, kau tidak pantas mendapatkan tunangan dengan ancaman seperti yang sedang kulakukan. Aku benar-benar menyesal karena tidak memahami hati lembutmu," ucap Thomas dengan tulus.
"Well," ujar Annalise lantang. "Aku senang karena kau melamarku sebagai tunanganmu dengan cara yang berbeda dari Kate." Annalise menekankan nama 'Kate' dengan tidak suka. Ia merasa terganggu ketika Thomas mengucapkan mantan tunangannya dengan nama kecilnya.
Apakah Thomas menyesal karena melepaskan Katherine? Pikirnya kesal. Dan saat ini, ia malah meminta gadis lain untuk menggantikan posisi Katherine. Ya Tuhan!
"Beberapa orang memang tidak menyukai cara yang biasa. Dan meskipun aku belum tahu tujuanmu membutuhkan status pertunangan di antara kita, bukan berarti aku akan diam dan menerima semuanya dengan mata tertutup, Thomas."
Thomas memiringkan kepalanya. Menunggu umpan yang sudah ia siapkan dengan sangat rapi, termakan oleh gadis muda naif yang mengira dirinya sangat cerdas.
"Jadi, kau adalah tunanganku. Apa kau membawa cincin berlian yang pantas untuk kukenakan?" tanya Annalise mencemooh.
Thomas mengeluarkan senyum mempesonanya. Merogoh kantung di belakang rompinya dan mengeluarkan sebuah cincin dengan mata berlian terindah yang pernah Annalise lihat sepanjang hidupnya. Cincin itu hampir menyerupai tiara dengan bentuk mahkota yang meruncing dengan sebuah mata berlian yang menjadi pusatnya. Cahaya lampu membuatnya bersinar dan ia sangat tergoda untuk menyentuh cincin tersebut.
Kemudian, ketika Annalise mendongakkan kepalanya dan melihat wajah Thomas yang terlihat puas, ia tahu bahwa ia telah masuk ke dalam perangkap yang Thomas buat.
Satu kosong untuk Thomas. Benar-benar sial!