Thomas, diperlukan keberanian yang besar bagi seorang pria untuk mengubah keputusannya.
Duke of Gordon ke-X.
***
Annalise menelan ludahnya susah payah. Jantungnya berdetak cepat dan dirinya tahu ada yang salah pada tubuhnya. Dengan cepat, ia memutari meja makan. Menarik kursi tepat di hadapan Thomas. Merebut gelasnya –yang berada di genggaman Thomas– dan menghabiskan isinya dalam satu kali teguk.
Perlahan ia menarik napas panjang. Menstabilkan udara yang memasuki paru-parunya dan mulai menatap manik mata Thomas dengan tajam. Dirinya, Annalise Collins, bukanlah salah satu orang yang bisa Thomas perdayai.
"Bagaimana bisa menjadi tunanganmu bisa membuatku terhindar dari tuntutan season?"
Thomas mengernyit. Menyadari saat sekejap tadi ada yang aneh dari Annalise. Wajahnya terlihat memucat untuk satu tarikan napas dan setelah ia duduk, meminum air yang rasanya sedikit berbeda dari dugaan Thomas, berangsur-angsur rona merah muda kembali lagi menjalari pipinya.
"Your Grace!"
Thomas mengerjap. Menatap lurus kepada Annalise yang menatapnya penuh dengan tuntutan. "Aku akan berada di kota ini, setidaknya selama setengah periode season berlangsung. Dan aku tidak akan membiarkan tunanganku menjadi mangsa di setiap pesta dansa yang mungkin dia hadiri," jawab Thomas enteng.
"Dan setengah season berikutnya?"
Thomas mengedik. "Tergantung keadaan yang tepat. Tidak ada yang bisa memaksaku untuk melakukan hal yang tidak kuinginkan."
"Begitu pula denganku, Your Grace. Tidak ada seorang pun yang bisa memaksaku untuk melakukan hal yang tidak kuinginkan."
Thomas menyeringai. "Kecuali ibumu." Ia lalu membuat ekspresi berpikir keras. Menjentikkan jarinya ke udara dan berdiri dengan cepat. "Kalau begitu, aku akan mengatakan pesan dari dokter Ruthbone yang terkenal bahwa kau sudah siap menghadapi season."
"Jangan berani-"
"Atau apa, My Lady?" tanya Thomas dengan nada malas yang dibuat-buat. "Apa yang bisa putri dari seorang duke, lakukan kepada seorang duke lainnya?"
Annalise mendengkus kesal. Ia berusaha mengulur waktu sedemikian lamanya berharap bahwa ada secercah ide yang memasuki kepalanya.
"Ah. Kuharap para ibu cukup sibuk menggosipkan seluruh ton di negara ini untuk bisa terlelap secepat ini."
Annalise menipiskan bibirnya. Ia tidak bisa menerima ide pertunangan ini begitu saja. Tujuannya tidak mengikuti season adalah agar dirinya bisa menghindari lamaran yang mungkin datang. Dan ide dari duke arogan di depannya adalah sebuah anomali untuk tujuan utamanya.
Tetapi setidaknya kau masih bisa berada di kota ini sedikit lebih lama.
Dan apa gunanya?
Mungkin kau bisa mengubah keputusan Hugo?
Itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Hugo dan kekeraskepalaan ada sahabat karib, Annalise. Jangan bodoh!
Tetapi setidaknya kau sudah berusaha. Dan jika gagal...
Jika pun gagal. Kau mendapatan seorang duke untuk menjadi tunanganmu. Dia adalah tangkapan yang sulit untuk dilepaskan.
Seperti kau peduli kepada gelarnya, Annalise! Kau bahkan sudah hidup lebih dari cukup selama ini. Pikirkan dengan matang sebelum kau membuat keputusan!
"Dan jawabannya adalah, kau menolakku. Aku pun tidak akan merasa bersalah jika membantumu sedikit lebih cepat kembali ke London," ujar Thomas dengan malas bersamaan dengan tangannya yang sudah menyentuh pintu dan hendak membukanya.
Annalise menjerit. Berdiri dan berderap –setengah berlari– untuk menghentikan apa yang sedang Thomas lakukan. Ia lalu bernapas dengan terengah. Tidak menyadari bahwa posisinya saat ini seolah sedang memeluk Thomas dengan sebelah tangan yang berada di atas tangan Thomas yang lebih besar darinya.
Ia lalu mendongak –masih dengan napas terengah– dan tatapan tajam yang sama. "Mari kita bicara sedikit lebih lama, Your Grace!" tegas Annalise dengan berjalan mundur. Ia lalu berbalik, membuat gaun kuning kenarinya berdesir dan semakin membuat aroma jeruk dan madu milik Annalise berpendar di sekeliling Thomas.
Thomas menelan ludahnya susah payah. Mengamati pinggang Annalise yang melenggang di hadapannya. Oh Tuhan! Ia hampir melupakan bahwa gadis itu bisa dengan mudahnya membuat hasratnya terbakar!
Menggelengkan kepalanya cepat, Thomas lalu duduk di tempatnya semula. Di depan Annalise yang sedang menunduk sambil menarik napas dalam.
"Apa yang kau inginkan, Your Grace?" Annalise mengangkat wajahnya. Matanya masih memancarkan ketajaman yang sama yang membuat Thomas terkesima. "Aku tidak bodoh untuk berpikir bahwa kau akan menolongku dengan suka rela."
Thomas menyeringai lebar. Ia menyukai gadis pintar yang dapat mengerti dirinya. Namun bukan kewajibannya untuk menjawab pertanyaan Annalise. Dan sebagai pria yang dilahirkan untuk memimpin, dia jarang mengatakan apa tujuan yang ingin ia capai kepada orang lain.