Saat Edith akhirnya bertemu dengan Thomas, satu ketakutan lagi muncul di benaknya bahwa putranya akan membenci sang ayah. Namun syukurlah itu tidak terjadi karena di balik wajah tegar yang Thomas tampilkan, Edith tahu bahwa setiap malam selama setahun berikutnya, Thomas selalu menyendiri bersama dengan lukisan Ben di galeri pribadi rumahnya.
Dan saat ini...
"Mama berasumsi bahwa kau memiliki suatu hubungan dengan Elise. Benar begitu, Thomas?"
Thomas tersenyum dengan penuh percaya diri kepada sang ibu. Menggenggam dengan erat tangan Annalise yang terasa pas di tangannya.
"Benar, Mama. Kami memang memiliki suatu hubungan," tambah Thomas dan semakin erat menggenggam jemari Annalise. Gadis mungil itu terasa memberontak dalam genggamannya. Thomas pun tidak bisa mengabaikan tatapan tajam Annalise kepadanya dan kenyataan...
Elise.
Ibunya memanggil gadis itu sebagai Elise!
"Ya Thomas, Mama mengenal Elise dengan baik seperti Mama mengenal Gresham," ujarnya seraya menepuk lengan Lady Gresham.
"Ya, tentu saja," balas Thomas.
Lady Gresham lalu berdeham. Dengan sedikit panik melihat tautan kedua tangan di depannya yang belum terlepas. Tampak bahwa putrinya ingin melepaskan dirinya dari Thomas namun entah mengapa, sesuatu dalam diri Thomas berhasil menahan Annalise.
Demi Tuhan! Menahan Annalise! Putrinya yang pembangkang!
"Nah, bukankah ini saatnya kita mengkahiri sesi malam ini. Bukan begitu, Gresham?" tukas Lady Edith.
"Apa maksud-"
"Aku lelah Gresham, dan kupikir kau bersedia berbagi kamar denganku karena pelayanmu bisa saja baru menyiapkan satu kamar hanya untukmu. Maukah kau menemaniku beristirahat, Gresham?" tuntut Edith lagi.
Lady Gresham menatap bolak balik ketiga orang di sekitarnya. Melihat tidak yakin kepada Annalise yang masih belum bersuara sejak kedatangan Thomas.
"Gresham," ujar Edith lagi dengan nada lelah yang meyakinkan. Gresham lalu menatap kepada Annalise sekali lagi dan melihat putri kecilnya mengangguk meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja. Kemudian Gresham menghela napas panjang. Menurut ketika Edith menuntunnya keluar dan meninggalkan anak-anak mereka sendirian.
Edith harus menjelaskan segalanya! Pikir Lady Gresham kesal.
Begitu pintu ruangan makan tertutup, Annalise menyentak genggaman Thomas. Menendang tulang kering Thomas hingga membuat Thomas mengaduh karena tidak menyangka akan mendapat hal tersebut.
"Untuk apa itu tadi?" protes Thomas.
"Seharusnya akulah yang bertanya, Your Grace! Permainan macam apa yang sedang kau mainkan saat ini!" jawab Annalise garang.
Thomas hanya mengedikkan bahunya. Mendorong salah satu kursi makan dan meneguk air dari gelas milik Annalise seolah itu adalah hal paling wajar yang terjadi di hidupnya.
"Kupikir kau membutuhkan bantuanku."
"Aku tidak-"
"Ya. Kau membutuhkan bantuanku untuk tidak mengikuti season tahun ini. Benar begitu, kan?" Thomas memiringkan kepalanya. Menyipit menatap Annalise yang masih menggunakan gaun kuning kenarinya. Wajahnya yang terlihat memerah menahan amarah, membuat Thomas tersenyum lebar.
"Aku bisa membantumu jika kau membantuku, My Lady."
Annalise mendongakkan dagunya. Menatap sangsi kepada sosok di depannya.
"Bagaimana cara kau membantuku?"
Senyum Thomas semakin melebar. Ia menjentikkan jarinya di gelas milik Annalise dan berkata dengan yakin, "Jadilah tunanganku, My Lady."