Thomas, ayahmu adalah orang paling mengagumkan yang pernah kujumpai sepanjang hidupku. Semua yang dia lakukan sampai saat ini adalah berkat kebijaksaannya yang tidak terbatas. Kau harus mengingat itu.
Duke of Gordon ke-X.
***
Edith Hardy, meskipun bukan seorang ibu yang selalu berada di sisi Thomas saat putranya tumbuh dewasa, namun dirinya selalu mengawasi Thomas. Edith selalu mencoba menyelami pikiran putra semata wayangnya melalui surat-surat yang Alaric Rees kirimkan ketika Thomas berada dalam pengawasannya. Dan hal tersebut, sempat membuat Benyamim Hardy cemburu karenanya.
Edith hanya tertawa melihat kecemburuan tidak masuk akal dari sang suami. Bukankah sebelumnya, Edith telah menolak dengan ide gila sang suami yang menyerahkan pengawasan sang putra kepada sahabatnya, alih-alih seharusnya mereka lah yang membimbing tumbuh kembang Thomas. Namun Benyamin meyakini bahwa ada beberapa alasan yang masuk akal, mengapa Thomas harus belajar dari sosok Alaric Rees.
"Kau hanya merendah suamiku! Kau hanya ingin sahabatmu tidak terlalu sedih atas kematian putra dan istrinya, bukan?" tanya Edith dengan gemas kala itu.
Benyamin berdeham. Memilih menunduk untuk membaca berkas kasus yang akan ia usut untuk sang ratu. "Itu salah satunya, tetapi ada hal-hal lainnya yang memang Thomas butuhkan untuk kehidupannya kelak."
"Dan apa kau tidak bisa memberikannya, Suamiku?" tanya Edith lagi.
Benyamin akhirnya mendongak. Menarik napas panjang dan berjalan menghampiri istrinya yang keras kepala. Kedua tangan besar, hangat, dan terasa sedikit kasar itu menangkup wajah rupawan Edith. "Aku dan kau adalah orang tua terbaik dari yang terbaik, yang bisa Thomas miliki, Sayang. Hanya saja, beberapa tahun ke depan, akan sangat berbahaya bagi dirinya jika dia tetap di sini. Kau tahu itu," jelas Benyamin sembari menatap mata Edith dengan dalam.
"Kau sedang menghadapi-"
Benyamin menggeleng. "Meskipun tidak berbahaya, namun peluang dari musuh-musuhku akan tetap ada. Apalagi dengan keadaan Alaric yang sedang tidak bertugas karena ketidakstabilan emosinya. Alasan lain mengapa aku mengirim Thomas kepadanya, adalah karena aku percaya bahwa anak kita bisa mengubah Alaric seperti Alaric bisa mengubah Thomas menjadi lebih baik."
Mereka saling bertatapan selama sepuluh detak jantung. Tidak ada yang berbicara sedikit pun dan keheningan itu mengantarkan Edith kepada kekalahan. Dirinya memang tidak akan menang dari suaminya yang sangat baik hati dan bodoh ini!
"Baiklah, Suamiku," ujar Edith sembari berjalan ke belakang. Secara otomatis melepaskan rangkuman tangan Benyamin di wajahnya. "Namun aku akan tetap mengawasi Thomas dan Alaric harus mengirimkan surat kepadaku, setiap hari!"
Benyamin hampir membuka mulutnya ketika melihat setitik air mata di sudut mata istrinya. Ia lalu menggeram. Menarik tubuh Edith ke dalam pelukannya dan mengizinkan Edith melakukan apapun yang ia inginkan. Bahkan untuk merongrong Alaric agar mengirimkannya surat mengenai tumbuh kembang Thomas sehari sekali. Meskipun dalam prosesnya, Alaric hanya mengirimi Edith surat-suratnya selama seminggu sekali. Namun Edith telah merasa cukup. Setidaknya Edith bisa membayangkan Thomas di setiap untaian kata yang Alaric tuangkan dalam suratnya.
Ketika Edith secara rutin berkirim surat dengan Alaric, Edith merasakan ada suatu kejanggalan dalam diri Alaric. Ia tidak tahu apakah kejanggalan itu, namun firasatnya sebagai seorang ibu mulai takut jika kelak putra tunggalnya akan lebih mirip dengan Alaric dibandingkan dengan Benyamin.
Kemudian tibalah hari ketika Benyamin meninggal dalam tugas, bersamaan dengan Alaric yang merasa cukup untuk mendidik Thomas. Edith hanya bisa menatap peti mati Benyamin dengan nanar. Teringat ucapan suaminya bahwa kematiannya akan tiba cepat atau lambat. Ben terlalu bersinar di antara para penjahat yang telah ia ringkus. Dan Edith curiga bahwa Benyamin memang mengorbankan dirinya untuk menjadi seseorang yang bersinar itu, agar rekan-rekannya terhindar dari segala bahaya.