Thomas, jika kau tahu sebesar apa cinta seorang ibu kepada anak-nya, kau akan rela memberikan nyawamu untuknya. Begitulah Thomas, se-orang ibu adalah manusia mulia yang seperti itu.
Duke of Gordon ke-X.
***
Annalise dan Wilda sampai salah satu townhouse Berrow yang berada di kota Bath. Sebuah rumah mungil bergaya paladin yang sangat disukai oleh Annalise. Oleh sebab itulah, ketika ibunya mengirim dirinya untuk pergi ke kota Bath, Annalise dengan senang hati menerimanya. Walau tanpa Annalise sadari, tujuan utama sang ibu mengirimnya ke sini adalah untuk bertemu dengan dokter Ruthbone yang terkenal dan mendapatkan mengobatan darinya.
Namun Annalise juga tidak bodoh untuk tidak memanfaatkan situasi karena ia langsung menyeret Hugo untuk ikut bersamanya. Hugo adalah teman baiknya, putra dari kepala pelayan di Mansion Berrow yang sangat cerdas dan pandai dalam bidang farmasi. Dia berguru kepada siapa pun. Selalu ikut dalam rombongan ke mana pun Annalise memperoleh pengobatan dan belajar dari tabib maupun dokter yang saat itu merawat Annalise.
Para guru Hugo sangat mengapresiasi semangat dan kecerdasan Hugo, dan selama ini bahkan beberapa orang tersebut ingin menjadikan Hugo sebagai muridnya. Namun Hugo tetap diam, menolak kesempatan tersebut sampai akhirnya ia bertemu dengan dokter Ruthbone dan ia mengutarakan keinginannya kepada Annalise, untuk menjadi murid sang dokter. Saat ini, Annalise tahu bahwa mimpi Hugo semakin dekat dengannya. Dan jika dirinya tidak mendukungnya untuk melepaskan hubungan yang tidak pernah terjadi di antara mereka, maka Hugo akan menyesali kehidupannya kelak.
"Putriku!" Seru sang duchess ketika melihat Annalise datang kepadanya. Lady Gresham bangkit dan segera memeluk putri bungsunya dengan sayang.
"Mama," bisik Annalise dengan memeluk sang ibu erat. Barangkali, pelukan dari ibunya yang hangat bisa meredakan rasa sakit setelah Hugo dengan terang-terangan menyuruhnya mencari seorang suami. Padahal dirinya tahu, bahwa seumur hidupnya, Annalise telah mencintai pria itu. Namun siapa yang bisa Annalise salahkan jika takdir memang tidak akan bisa berpihak kepada mereka?
"Kau terlihat..." Lady Gresham mengernyit melihat raut wajah Annalise yang tampak mendung. Meskipun tubuhnya terlihat sehat dan bugar, namun tanpa senyum di wajahnya, membuat perasaan sang ibu turut menjadi mendung.
Lady Gresham lalu melihat Wilda yang mengikuti Annalise dan tidak melihat Hugo di mana pun. Kemudian, sebuah pemahaman bahwa inilah saatnya mereka menjalani takdirnya masing-masing, tertanam di pikiran sang lady. Yah, memang sudah saatnya mengakhiri semuanya bukan? Dan memang semakin cepat, maka akan semakin baik.
Lady Gresham membelai pipi Annalise yang bersemu kemerahan, menatapnya dengan penuh pengertian seorang ibu yang tidak tertandingi. Annalise hampir saja meneteskan air mata jika saja di belakang mereka tidak terdengar suara mendeham dari seseorang.
"Oh, maafkan aku," ujar Lady Gresham seraya mengusap setitik air mata di sudut matanya. Ia lalu berbalik, tersenyum kepada seorang lady yang memiliki penampilan eksotik dengan kulit cokelat keemasan, rambut emas gelap yang berkilau, mata biru terang dan setelan berwarna merah menyala.
“Dia adalah temanku, Sayang. Edith Hardy, Dowager Duchess of Wellington," ujar ibunya.
Untuk sesaat Annalise terpesona dengan penampilan sang lady. Edith Hardy yang memiliki wajah oval dan rahang tajam yang terkesan galak lalu tersenyum kepada Annalise. Membuat wajahnya bersinar cerah dan terlihat sangat cantik untuk wanita yang memiliki usia lebih dari setengah abad sama seperti ibunya. Dan yang terpenting, sang dowager duchess terlihat bahagia dengan wajah yang berseri-seri. Annalise lalu mengerjap. Sedikit membungkuk untuk memperkenalkan dirinya kepada sang dowager.
"Aku tidak menyangka kau sudah sebesar ini, Elise."
Annalise tersenyum sembari berusaha mengingat-ingat kapan dirinya pernah bertemu dengan sang dowager yang eksotik ini. "Kau tidak melihatku saat itu. Kau terkena demam saat aku dan suamiku datang berkunjung. Aku yang memaksa untuk melihatmu di kamarmu karena ibumu terus menerus menangis. Kukira kau benar-benar sekarat sehingga ibumu terlalu berlebihan." Sang dowager berhenti untuk sejenak sebelum menambahkan, "namun aku lupa bahwa dirinya memang selalu berlebihan," ujarnya lagi dengan tawa berderai.
"Edith!" Tegur Lady Gresham dengan wajah memerah malu. Kedua ibu itu lalu saling berbalas kata dan Annalise langsung paham bahwa mereka berteman baik.
"Oh, selamat atas kelahiran putra dari keponakanmu. Kudengar bahwa keponakanmu mendapatkan putra kembar?"
"Ya! Mereka benar-benar menakjubkan! Malaikat-malaikat itu, oh...." Ujar Lady Gresham dengan mata berbinar. "Namanya adalah Rafe dan Steve," tambahnya dengan menggebu.
"Aku iri sekali denganmu Gresham! Jika saja Katherine tidak membatalkan pertunangannya dan menikahi anakku, saat ini bisa dipastikan akulah yang akan menjadi seorang nenek! Sedangkan kau, Gresham, sudah memiliki banyak cucu!" Cibir dowager dengan raut wajah tidak suka.
Annalise melihat keduanya dan mendengarkan. Duduk di depan mereka dengan Wilda yang baru saja memberikan teh untuk Annalise. Lady Gresham lalu tertawa. "Kau tahu aku tidak akan membiarkannya, bukan?"
Lady Edith mengangguk lalu tertawa, "Yah, anak itu memang benar-benar nakal! Aku merasa sudah gagal dalam mendidiknya!" gumam sang lady kesal. "Tapi aku bersyukur bahwa pada akhirnya Kate menemukan kebahagiannya dengan keponakanmu. Jika Kate tetap meneruskan pertunangannya, kurasa tidak akan ada yang berubah dari anakku."
"Apa maksudmu, Edith?"
Lady Edith mengendikkan bahunya. "Kate bukan lawan yang tepat untuk anakku. Sebaliknya, aku menginginkan seseorang yang tangguh yang bisa mengusik egonya."