Ketika pada akhirnya Thomas tidak lagi bersuara, Matthew mulai membuka mulutnya. Mengeluarkan pertanyaan yang selama ini mengendap di otaknya.
"Siapa yang akan kita tangkap kali ini, Your Grace?"
Thomas mendongak. Tatapan tajamnya berubah nyalang dan berbahaya secara bersamaan. Senyum lebar terukir di wajahnya dan itu membuat bulu kuduk Matthew sedikit meremang.
"Oh, hanya kawan lama, Matthew. Dan bonusnya, mungkin kita bisa mendapatkan duchess untukku." Matthew baru akan memprotes ketika sekali lagi Thomas menambahkan, "Urus semua mengenai pertunjukan mereka, Matthew. Dekati kru yang bisa kita ajak bekerja sama, dan satu lagi-"
Matthew menelan ludahnya susah payah. Barangkali Thomas akan memberikan tugas tidak masuk akal karena dirinya telah membongkar penyamaran sang master di depan Lady Annalise.
"Cari tahu mengenai seseorang bernama Hugo. Besok aku ingin semua detail mengenai orang itu, Matthew," tegas Thomas.
Dengan itu, Matthew mengangguk, meninggalkan Thomas yang kemudian mulai terpekur di kursi perpustakaan dokter Ruthbone. Ruthbone boleh saja bertingkah laku seenaknya di depan sang lady, namun ketika mereka berdua, Thomas tahu bahwa setiap patah kata yang keluar dari bibir sang dokter haruslah suatu kebenaran.
Setengah jam setelahnya, Thomas keluar dari perpustakan. Berjalan dengan ketenangan seorang prajurit menuju sang lady yang ia tahu berada di taman milik Isabel.
"Tolong bilang bahwa kau berbohong Wilda!" jerit Annalise frustrasi. Suara itu membuat langkah Thomas seketika berhenti. Ia lalu memutuskan untuk bersembunyi dan mengamati dua, bukan, tiga orang yang berada di taman tersebut.
Annalise dengan cepat membekap mulutnya. Berjalan mondar-mandir di antara semak mawar dengan kuncup-kuncup mawar yang mulai bermekaran. Pemandangan itu, sang lady dengan gaun berwarna kuning kenari, rambut keemasan, semak berwarna hijau dan kuncup mawar berwarna merah merupakan hal terindah, yang barangkali baru Thomas lihat atau sadari.
"Hugo. Bantu aku," pinta sang lady memelas. "Harapanku tinggal kau seorang setelah dokter Ruthbone menyatakan keadaanku kepada Duke of Wellington tadi."
Hugo menunduk. Tidak berani mengangkat wajahnya dan bertemu dengan wajah sang lady. "Maafkan saya, Milady. Saya sudah berjanji dengan dokter Ruthbone tidak akan memberikan Anda obat-"
"Sekali ini lagi, Hugo. Aku akan mengikuti season tahun depan. Tapi tidak tahun ini!"
"Milady. Tahun depan usia Anda sudah terlalu matang untuk mengikuti season dan bersaing dengan gadis-gadis muda!" ujar Wilda histeris. "Kumohon, Milady. Jika Anda tidak memikirkan diri Anda, setidaknya pikirkan mengenai kedua orang tua Anda."
"Hugo," lirih Annalise sembari menatap Hugo dengan penuh perasaan. Ada perasaan tercubit melihat gadis itu memohon seperti itu, dan kenyataan jika Annalise bisa saja memiliki perasaan kepada Hugo membuat Thomas meringis.
Jadi itu yang terjadi. Pikir Thomas masam.
"Kumohon, Milady. Ikutilah season kali ini. Carilah suami untukmu. Anda adalah orang yang baik dan cantik, dan lebih dari pantas untuk dicintai," ujar Hugo ketika akhirnya ia mengangkat wajahnya dan menatap wajah sang lady dengan ketegaran seorang petarung. "Saya akan kembali ke dalam. Pelajaranku belum berakhir dengan dokter Ruthbone, dan sebaiknya Anda segera kembali karena Her Grace sudah menunggu," ujarnya sebelum melangkah meninggalkan Annalise dan Wilda yang tampak cemas.
"Milady-" bisik Wilda pelan. "Her Grace sudah menunggu di rumah, dan Her Grace bersama dengan temannya, Dowager Duchess of Wellington."
Annalise menarik napas panjang. Berusaha menstabilkan emosinya sembari mengusap wajahnya. Ia tahu bahwa dirinya tidak akan bisa bersatu dengan cinta pertamanya apapun yang terjadi. Status di antara keduanya terlalu jauh dan cinta pertamanya, sudah sejak lama menyerah. Memberikan dan mendorong Annalise untuk bertemu dengan orang lain. Barangkali ini lah akhirnya. Dan mau tidak mau, ia harus menerima segala takdir yang telah digariskan untuknya.
Pada akhirnya, ia mengangguk. Menurut ketika Wilda membimbingnya ke kereta kuda yang sudah menunggu mereka menuju ke kediaman Berrow.
Sementara Thomas juga mendengar apa yang baru saja Wilda katakan. Ibunya benar-benar ada di kota ini, saat ini. Namun mungkin Thomas dapat memanfaatkan tiap kesempatan yang ada? Ia memiringkan kepalanya, mengamati sosok sang lady yang mulai menjauh dan ia juga harus segera bergegas. Sangat segera.
***