Izin pergi jalan – jalan untuk mengiyakan ajakan Kiana, itulah yang Maryam katakan kepada Adler sebelum laki – laki itu berangkat bekerja. Namun, saat itu Adler ternyata pulang lebih awal, dia merasa menyesal sudah memberikan Maryam izin pergi jalan – jalan, karena dirumah dia hanya diam tanpa ada Maryam atau Bilqis yang bisa dia ajak becanda.
“Ad …”
Adler, langsung menoleh kearah pintu saat dia mendengar suara Alexa memanggilnya dari luar pintu kamar, kemudian dia melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Selama beberapa saat mereka sama – sama terdiam, terlebih saat itu Adler memperhatikan Alexa yang tanpa kaget saat melihat dirinya membuka pintu.
“Sekarang aku kaget liat kamu hanya menggunakan celana pendek dengan kaos seperti ini, karena aku sudah lama tidak melihat kamu berpenampilan seperti ini di hadapan ku Ad, padahal dulu kamu sering berpenampilan naked dihad … hmm” Alexa langsung berdehem saat dia menyadari topik pembahasannya.
Baik Adler maupun Alexa sama – sama salah tingkah ketika tanpa sengaja Alexa membahas tentang hubungan mereka yang memang sudah sampai sejauh itu. Karena kini, Adler sudah mempunyai kehidupan baru bersama Maryam, jadi mereka sama – sama tidak enak jika harus membahas hal terdahulu terlebih tentang hubungan mereka yang sangat – sangat dekat.
“Ada apa Al ? ada yang kamu butuhkan dan aku bisa bantu ?” tanya Adler, berusaha mengalihkan pembicaraan dan mencairkan suasana yang terasa canggung selama beberapa menit terakhir.
“Itu Ad, aku sangat ingin pergi makan di restoran tempat dulu kita sering makan bersama dan sangat ingin pergi ke sana bersama mu, bisakah kamu mengantarkan aku, aku mohon, aku sudah sagat menginginkannya sejak dua hari lalu, aku juga sudah berusaha untuk melupakan keinginan ku yang satu itu, tapi semakin hari bukannya lupa justru aku semakin menginginkannya” ujar Alexa, sambil menatap Adler dengan tatapan yang terlihat ragu – ragu.
Sesaat Adler terdiam, dia melirik jam yang ada didalam kamarnya, kemudian dia kembali mengalihkan tatapan matanya kepada Alexa. Sejujurnya, saat itu Adler ingin sekali menolak ajakan Alexa, karena dia tidak ingin kebaikannya lagi – lagi akan membuat Alexa semakin berharap kepadanya. Namun, mengingat saat itu Adler pikir jika Alexa sedang ngidam jadi dia berniat menghubungi Maryam, baru setelah itu memutuskan.
“Aku telepon dulu Maryam ya Al, gak enak aku kalau gak bilang dulu sama dia, kamu tunggu aja di ruang keluarga, nanti aku kasih tahu lagi” ujar Adler, yang langsung diangguki oleh Alexa dengan senyuman yang terlukis dari bibirnya.
Setelah itu, Adler kembali masuk ke dalam kamarnya, bersamaan dengan itu senyuman di wajah Alexa perlahan memudar berganti menjadi raut wajah yang terlihat dingin dan datar. Kemudian, dia berlalu menuju ruang tamu seperti yang Adler katakan.
Saat itu, ada perasaan tidak suka yang masih kerap kali Alexa miliki saat kini apapun yang hendak Adler lakukan harus mendapat persetujuan Maryam. Di satu sisi hatinya sedih karena dulu Adler pernah melakukan hal itu tapi kini dia tidak pernah melakukannya lagi, disisi lain dia merasa iri pada posisi Maryam, pernikahan yang bahagia, suami yang sangat menyayangi dan mencintainya, anak yang baik dan cantik, perempuan mana yang tidak memimpikan kehidupan Maryam.
“Maryamnya tidak bisa dihubungi, ayo kita berangkat saja, tadi aku sudah mengirim dia pesan juga” ajak Adler, yang saat itu tiba – tiba muncul dengan pakaiannya yang sudah terlihat rapih tanpa menghilangkan gaya santainya.
Senyuman kembali merekah dari bibir Alexa saat mendengar perkataan Adler, dengan cepat dia langsung bangkit kemudian menyambar tangan Adler untuk dia gandeng. Hanya saja, dengan pelan tanpa bernyakiti perasaan Alexa, Adler langsung melepaskan tautan tangan Alexa dan hal itu berhasil membuat Alexa terdiam sambil menoleh kearah belakang karena saat itu dia sudah berjalan lebih dulu.
“Maaf Al, tapi mari kita sama – sama menjaga batasan kita, karena hubungan kita kini enggak sama lagi seperti dulu, terlebih sekarang aku sudah punya istri jadi aku harus menjaga perasaannya” ujar Adler, sambil mengelus pundak Alexa kemudian berjalan melewati Alexa.
Alexa, menghembuskan nafas beratnya lagi saat lagi – lagi gelombang api kecemburuan kembali menggerogoti hatinya. Hatinya merasa terluka saat laki – laki yang dulu begitu mencintainya, menyayanginya, bahkan mengagunggungkannya kini seakan selalu menciptakan benteng antara dia dan dirinya.
“Lihatlah apa yang bisa aku lakukan hingga kesabaran dalam diriku sudah benar – benar habis” batin Alexa, sambil tersenyum kecut saat tiba – tiba otaknya menemukan sebuah jalan untuk bisa kembali pada posisinya yang dulu.
***
Maryam menatap kearah Kiana dan sosok yang saat itu sedang duduk tidak jauh darinya secara bergantian dengan tatapan yang sulit didefinisikan. Selama beberapa saat, Maryam terdiam menatap sosok yang sedang duduk diatas kursi roda di dorong oleh Kiano dibelakangnya. Kemudian, dia langsung berbalik hendak pergi meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan apapun. Namun, tangan Kiana yang saat itu mencekal tangannya seakan mengisyaratkan kepada Maryam untuk jangan pergi hingga membuat perempuan yang sedang menggendong bayi itu menoleh kearah Kiana.
“Jangan pergi, tunggu dan dengar penjelasan Kakak sebentar” ujar Kiana, sambil menatap kearah Maryam.
“Aku gak mau ketemu Kak Hasan lagi Kak, jika ini tujuan Kakak mengajak aku dan Bilqis jalan – jalan, maka sekarang aku ingin membatalkannya” ujar Maryam, sambil menatap mata Kiana dengan tatapan yang sulit didefinisikan.
“Kakak minta maaf Maryam, tapi Kakak gak punya cara lain untuk bisa mengajak kamu keluar selain dengan cara ini” ujar Kiana, sambil mengelus pundak Maryam.
Sesaat Maryam terdiam, saat itu dia masih tidak bisa mengerti atau lebih tepatnya tidak pernah ingin mengerti tentang alasan apa yang membuat Kiana mempertemukan dia dengan Hasan. Sosok yang hingga detik ini masih berusaha Maryam perjuangkan agar bisa secepatnya dia lupakan, dan membatasi pertemuan serta hubungan adalah cara yang Maryam gunakan untuk bisa segera melupakannya meskipun belum berakhir hingga sekarang.
“Tolong, biarkan Kak Hasan bertemu dengan Bilqis, selama ini dia sudah cukup tersiksa dengan semua keadaan yang harus dia hadapi, Kakak mengerti bagaimana perasaan kamu, tapi disini kita juga harus paham jika yang terluka bukan hanya kamu tapi juga Kak Hasan” ujar Kiana, sambil menatap Maryam yang saat itu belum menolehkan wajahnya kearah Kiana lagi.
“Kak Hasan memang pernah membuat kamu terluka, dan Kakek adalah tokoh yang membuat kamu semakin terluka, tapi tanpa sadar kamu juga sudah menorehkan luka yang tidak kalah besarnya di hati Kak Hasan” ujar Kiana, berusaha membujuk Maryam.
Sesaat Maryam terdiam mendengar perkataan Kiana, karena tanpa sadar saat itu Maryam mengakui jika dia sudah menciptakan luka dihati Hasan ketika dia memutuskan untuk pergi menjauh saat laki – laki itu memutuskan akan berjuang untuknya. Terlebih, keputusan untuk tidak akan mempertemukan Hasan bersama Bilqis tentu akan menjadi bagian paling menyakitkan bagi Hasan.
Kemudian, Maryam memeluk anaknya yang saat itu sedang dia gendong, tanpa sadar matanya meneteskan air mata. Karena, pada kenyataannya Maryam tidak ingin dan tidak suka berada dalam keadaannya sekarang, dia hanya ingin semuanya membaik, tapi saat itu Maryam merasa keadaan memaksanya untuk seperti ini.
“Tolong, berikan kesempatan kepada Kak Hasan untuk bertemu dan memeluk putri mu walaupun sebentar, aku bicara begini karena aku tahu seberapa menderitanya Kak Hasan saat dia tidak bisa bertemu putri mu” ujar Kiana, sambil mengelus punggung Maryam.
Hingga akhirnya, tanpa mengalihkan tatapan matanya, Maryam menyerahkan Bilqis yang sejak tadi dia gendong dalam keadaan tidur kepada Kiana dengan penuh kehati – hatian, dan bayi itu masih tetap terlihat lelap hingga akhirnya Kiana membawanya pada Hasan yang saat itu masih duduk tenang menatap Maryam yang masih berdiri membelakanginya.
“Aku merasa semakin dia besar semakin mirip dengan mu Kak” ujar Kiana, sambil menyerahkan Bilqis pada Hasan.
Tidak ada jawaban dari Hasan, dia hanya diam sambil tersenyum dan menerima Bilqis kedalam gendongannya. Selama beberapa saat, Hasan memandang wajah damai putrinya, kemudian dia mendaratkan satu kecupan hangat didahi Bilqis dalam jeda yang cukup lama, saat itu Hasan seakan sedang mencurahkan semua kerinduan yang selama ini dia tahan pada putrinya. Hingga akhirnya, membuat mata Bilqis yang beberapa saat lalu terpejam akhirnya terbuka kemudian tersenyum menatap kearah Hasan.
“Ko gue ngerasa Kak Hasan sama Bilqis lebih sosweet dari pada liat elo sama pacar – pacar lo yang lebay itu ya, Kak” ujar Kiana, sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Kiano.
Tidak ada tanggapan apapun yang Kiano berikan sekalipun saat itu Kiana sempat meledeknya, karena saat itu Kiano merasa apa yang kembarannya katakan memang benar, pertemuan Hasan dan Bilqis terlihat begitu romantis. Mereka berdua yang selama ini menjadi saksi betapa Hasan sangat merindukan Bilqis, dan hanya bisa menatap wajah putrinya dalam sebuah bingkai foto, kini dia bisa menatap wajah putrinya dalam kenyataan, dia yang selama ini hanya bisa memeluk foto Bilqis bisa memeluk tubuh putrunya dengan nyata. Semua itu, benar – benar terasa romantis dimata Kiano dan Kiana.
“Bisa tolong antar gue samperin Maryam, ada yang mau gue bicarain sama dia” ujar Hasan, setelah dia merasa puas bermain – masin sebentar bersama Bilqis yang saat itu sudah terbangun dalam gendongannya.
Kiano langsung menganggukan kepalanya, kemudian dia mendorong kursi roda yang sedang diduduki Hasan mendekati Maryam yang saat itu sedang duduk termenung di sebuah bangku taman sendirian. Setelah itu, Kiana dan Kiano pergi meninggalkan Maryam dan Hasan, karena mereka tidak ingin ikut campur terlalu jauh mengenai hubungan Hasan dan Maryam.
“Maafkan Kiana dan Kiano ya, karena mereka semua sudah merencanakan hal ini untuk kita, meskipun Kakak tidak tahu tentang rencana pertemuan ini tapi Kakak senang bisa bertemu kamu dan Bilqis” ujar Hasan, sambil tersenyum tulus menatap kearah Maryam yang saat itu masih terlihat lurus menatap kearah depan.
“Maaf juga karena Kakak masih sering merindukan Bilqis dibelakang kamu, habisnya dia sangat lucu” ujar Hasan, sambil terkekeh diakhir kalimatnya.
“Tapi Kakak janji ko, sekangen – kangennya Kakak sama Bilqis, Kakak akan tahan, Kakak gak akan maksa kamu untuk mengizinkan Kakak bertemu Bilqis setiap Kakak ingin bertemu, Kakak hanya akan datang menemui Bilqis saat kamu ataupun Adler memang memperbolehkan Kakak bertemu Bilqis, tapi jika tidak tidak papa, Kakak masih bisa melepas rindu Bilqis lewat do’a, cukup jaga dia dengan baik saja itu sudah cukup” ujar Hasan, yang tidak tahu kenapa berhasil menyentil setitik rasa sakit didalam hati Maryam.
Maryam merasa jika setiap kata yang Hasan ucapkan mengandung luka yang mendalam meskipun ada senyuman yang terbit dari bibirnya. Dalam waktu bersamaan, Maryam sadar jika Hasan pandai menyembunyikan perasaannya, jadi Maryam merasa senyuman yang dia tunjukan hanya untuk memanipulasi semua sakitnya.
“Jadi ini yang kamu sebut mengajak Bilqis jalan – jalan bersama Kiana, aku rasa lebih tepatnya ini disebut sebagai acara quality time bersama,” nada suara dengan bahasa Jerman yang terdengar begitu kental berhasil membuat Maryam dan Hasan sama – sama menoleh, dan disanalah mereka melihat Adler yang sedang berdiri bersama Alexa dibelakangnya.
“Tidak Kak, tolong dengar penjelasan ku dulu, jangan menyimpulkannya sendirian, apa yang Kakak lihat semuanya tidak benar” ujar Maryam, sambil bangkit dari posisi duduknya menatap kearah Adler.
Sesaat Adler terdiam sambil memandang Hasan dengan tatapan yang sulit didefinisikan, kemudian dia mengalihkan tatapan matanya kepada Maryam yang saat itu sedang mematap Adler dengan mata yang sudah terlihat berkaca – kaca.
“Kamu ko gitu sih Maryam, padahal Adler hanya mau keluar sebentar antar aku kelestoran aja sampai telepon kamu dulu, dan saat kamu gak angkat teleponnya dia kirim kamu pesan, tapi kenapa ko kamu kaya ginisih sama Adler” ujar Alexa, sambil menatap Maryam tidak suka.
“Jangan menyalahkan Maryam untuk hal ini Adler, karena di sini aku yang salah, aku yang sudah memaksanya datang bahkan mengancam dia akan langsung datang ke rumah kalian jika dia tidak mau menemui ku di sini” ujar Hasan, berhasil membuat Maryam langsung menoleh karena apa yang Hasan katakan tidak sesuai dengan kenyataan.
Adler tersenyum kecut mendengar perkataan Hasan, kemudian dengan penuh kehati – hatian dia mengambil alih Bilqis yang saat itu masih terlihat tenang berada dalam gendongan Hasan dan menyerahkannya pada Maryam. Bahkan, Adler terlihat tidak peduli saat Bilqis menangis ketika dia mengambilnya dari gendongan Hasan.
“Jangan pernah mengusik istri dan anak ku lagi” ujar Adler, sambil menunduk tepat didepan wajah Hasan, kemudian dia mendorong pelan kursi roda Hasan setelah melepas rem kursi roda pada bagian bannya lebih dulu, hingga membuat kursi roda itu meluncur dan menabrak sebuah pohon sehingga membuat Hasan terjatuh.
“Terserah kamu mau tetap di sini atau pulang, yang jelas jangan menemui ku hingga dua hari ke depan” ujar Adler, sambil berlalu diikuti Alexa yang berjalan dibelakangnya.
Melihat masih ada api kemarahan di mata Adler, perempuan itu berusaha untuk mengejarnya sambil berusaha menenangkan Bilqis yang saat itu masih menangis. Namun, saat itu Adler sudah lebih dulu pergi menggunakan mobilnya.
“Maryam, kamu tenang ya, aku yakin Adler pasti akan menerima penjelasan kamu nanti, sini Bilqis biar aku bantu untuk tenangkan” ujar Hasan, yang akhirnya bisa menyusul Maryam setelah bersusah payah kembali menaiki kursi rodanya.
Mendengar Hasan yang sudah berada didekatnya, Maryam langsung berbalik dan menatap Hasan dengan tatapan yang terlihat dingin tapi air mata sudah membanjiri pipinya bahkan hingga membasahi cadar berwarna hitam yang saat itu dia gunakan.
“Berhenti berusaha mendekati aku ataupun Bilqis Kak, aku gak mau ketemu Kakak lagi, aku gak mau kehidupan baru ku bersama Kak Adler diusik lagi, pergi yang jauh dan jangan pernah muncul dihadapan ku dan Bilqis lagi, jika perlu tinggalkan negara ini agar kita tidak pernah bertemu lagi selamanya” ujar Maryam, sambil berbalik kemudian pergi menggunakan sebuah taksi yang kebetulan saat itu lewat.
Sakit itulah yang Hasan rasakan, karena nyatanya sekuat – kuatnya Hasan berusaha bertahan, hatinya pasti akan selalu melemah setiap kali dia mendengar Maryam mengatakan jika dia ingin Hasan pergi menjauh darinya. Karena, nyatanya tinggal di negara dan kota yang sama bersama Maryam dan Bilqis, masih sering membuat Hasan dilanda rasa rindu, jadi Hasan tidak bisa membayangkan jika dia harus benar – benar pergi meninggalkan negara Jerman yang sebenarnya banyak memberikan serpihan kesakitan dalam hidup Hasan, tapi juga banyak memberikan obat dari serpihan setiap luka yang dia rasakan.