Satu hari sudah berlalu setelah kejadian dimana Adler memergoki Maryam sedang duduk berduaan bersama Hasan di taman. Laki – laki itu tidak datang ke kamar mereka, dia lebih memilih tidur dikamar tamu. Adler juga berangkat sangat pagi – pagi, hal itu dia lakukan untuk menghindari pertemuan bersama Maryam dimeja makan, semua sikap Adler tentu berhasil menyentil satu titik hati Maryam.
Malam ini tepatnya malam kedua, Maryam memutuskan untuk menunggu Adler pulang, perempuan itu sengaja duduk diruang tamu agar bisa langsung membukakan pintu ketika Adler datang. Tepat saat jam sepuluh malam, Maryam mendengar suara mesin mobil Adler berhenti didepan rumah mereka, dengan cepat perempuan bercadar itu langsung membuka pintu menyambut kepulangan suaminya.
“Aku sudah membuatkan makanan kesukaan Kakak, Kakak mau makan dulu atau mandi dulu ?” tanya Maryam, sambil menyodorkan tangan hendak mencium punggung tangan Adler.
Namun, Adler berjalan begitu saja melewati Maryam seakan dia tidak melihat keberadaan Maryam yang menyambut kepulangannya didepan pintu. Hanya saja, Maryam tidak putus asa begitu saja, dia langsung berjalan mengikuti Adler dan kembali menanyakan apakah laki – laki itu akan makan atau mandi duluan.
“Aku ingin tidur Maryam, jadi berhenti bertanya kepada ku dan pergilah ke kamar mu” ujar Adler, sambil berbalik menatap kearah Maryam dengan tatapan yang terlihat datar.
Maryam langsung menundukkan kepalanya saat dia sadar sudah membuat Adler merasa tidak nyaman. Kemudian, Adler langsung masuk ke dalam kamar membuat Maryam akhirnya kembali mendongak, dengan helaan nafas berat yang terdengar dari mulutnya. Perlahan, tangannya menyentuh pintu kamar tamu yang baru saja tertutup itu, berharap pintu itu bisa kembali terbuka dan sosok didalamnya datang sambil tersenyum kemudian mengajak Maryam kembali ke kamar mereka.
“Adlernya nolak makan malam lagi ya ?” Maryam langsung menoleh saat dia mendengar suara Alexa yang saat itu tiba – tiba sudah ada dibelakangnya.
Hanya anggukan kepala lemah yang Maryam tunjukan kepada Alexa, membuat perempuan itu tersenyum sambil mengelus pundak Maryam sebagai bentuk semangat yang dia berikan untuk Maryam.
“Udah kamu istirahat aja, kamu capekan seharian bersihin rumah, masak, ngurusin Bilqis, Adler biar aku yang bujuk agar malam ini dia makan” ujar Alexa, sambil mengelus pundak Maryam dengan senyuman yang tidak lepas menghiasi wajahnya.
Saat itu, Maryam sudah membuka mulutnya hendak mengatakan jika Alexa tidak perlu melakukan hal itu, karena sebagai istrinya Maryam akan berusaha membujuk Adler agar laki – laki itu mau keluar lagi dan memakan makanan yang sudah dia buat khusus untuknya. Hanya saja, belum sempat Maryam bicara Alexa sudah lebih dulu mencela perkataannya.
“Percayalah suami mu pasti akan makan, sekarang kamu tidur, kamu bisa sakit jika tidak segera beristirahat, dengan begitu kamu akan membuat Adler khawatir, apa kamu mau ?” tanya Alexa, yang langsung mendapat gelengan kepala dari Maryam.
Akhirnya Maryam menganggukan kepala, kemudian berlalu pergi menuju kamarnya, mempercayakan urusan Adler makan kepada Alexa. Sementara Alexa, hanya mampu tersenyum kecut menatap kearah Maryam, karena dalam pandangan Alexa, Maryam terlalu polos dan penurut, sehingga sangat begitu mudah untuk dia bodohi.
Setelah itu, Alexa langsung bergegas pergi ke dapur, menyiapkan nasi untuk Adler dan langsung membawanya ke kamar tamu tepat dimana Adler menghabiskan malam untuk yang kedua kalinya. Tanpa mengetuk pintu Alexa masuk dan tidak menemukan Adler didalam kamar, hanya saja pintu yang menghubungkan kamar dengan pintu keluar terbuka dan Alexa yakin disanalah Adler sedang duduk menikmati malamnya.
“Aku yakin kamu pasti belum makankan dari pagi, karena seperti itulah kamu kalau sedang ada masalah, berusaha menyibukan diri dengan pekerjaan agar lupa semua masalah kamu” ujar Alexa, berhasil membuat Adler menoleh dan terlihat ada kekagetan yang terbit dari wajahnya.
“Makanlah dulu Ad, aku gak suka kamu mengabaikan kesehatan kamu, masalah akan selesai saat kamu mencari solusinya bukan melupakannya” ujar Alexa, sambil mendekatkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya, kemudian mendudukan tubuhnya dikursi yang bersampingan dengan Adler.
Sesaat Adler terdiam, kemudian dia mengambil nasi yang disodorkan oleh Alexa, karena saat itu Adler sadar apa yang perempuan itu katakan memang benar. Masalah ada untuk dicari solusinya agar pelan – pelan semua permasalahannya selesai, sedangkan masalah yang muncul kemudian berusaha untuk dilupakan, akan kembali diingat dan kembali memberikan tekanan berulang.
“Kenapa kamu masih bertahan pada kenangan lama kita Al, bukankah itu hanya akan membuat mu semakin terluka, lupakanlah semua itu dan …”
“Terima kasih atas kebahagiaan yang pernah kamu kasih sama aku dulu Ad, karena sekarang meskipun hanya dengan cara mengenang aku masih tetap bisa merasakan kebahagiaannya” potong Alexa, berhasil membuat Adler terdiam selama beberapa saat kemudian menoleh kearah Alexa.
Kenangan lama yang pernah dilalui bersama Alexa tiba – tiba berputar didalam kepala Adler. Semua kenangan tentang bagaimana dia selalu berusaha keras menghibur Alexa yang sedang bersedih, memaksimalkan keinginan yang Alexa pinta darinya, semua kenangan itu seakan kembali berputar, membuat Adler tersenyum sekaligus menyadari betapa gigihnya dia selalu berusaha membuat Alexa bahagia.
“Aku akan berusaha menjaga kebahagiaan mu Al, karena kamu adalah perempuan yang pernah aku cintai dengan ketulusan ku, dan kini meskipun rasa itu sudah memudar aku akan tetap menjaga dan mempertahankan kebahagiaan mu karena kamu adalah sabahat terbaik ku” ujar Adler berhasil membuat senyuman terbit dari bibir Alexa.
***
“Kak Adler ? Kakak sudah bangun ? aku masuk ya” ujar Maryam, saat dia sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak kunjung mendapat jawaban dari dalam.
Kemudian, Maryam memberanikan diri untuk membuka pintu kamar ruang tamu, hingga pintu itu benar – benar terbuka lebar. Selama beberapa saat, Maryam terdiam dengan tubuh kaku layaknya patung diambang pintu, tidak ada pergerakan apapun yang dia lakukan, karena saat itu Maryam benar – benar merasa keget dengan apa yang saat itu matanya lihat. Kemudian, tanpa aba – aba, matanya tiba – tiba mengeluarkan air mata, karena saat itu matanya lebih dulu bereaksi dari mada badan dan pikirannya.
“Apa yang Kak Adler lakukan ?” tanya Maryam, dengan suaranya yang terdengar bergetar tapi berhasil mengusik Adler yang saat itu sedang berbaring diatas ranjang.
“Kakak boleh marah pada ku, tapi Kakak tidak boleh melakukan hal ini dan membuat Allah marah pada ku” lanjut Maryam, yang perlahan sudah menguasai dirinya sendiri.
Mendengar suara Maryam untuk yang kedua kalinya, Adler langsung mengubah posisinya menjadi duduk, selama beberapa saat dia terdiam menatap kearah Maryam yang dia tahu sedang menangis sambil berdiri diambang pintu, kemudian dia menoleh kearah samping tepat dimana ada Alexa yang sedang berbaring masih dalam keadaan tidur nyenyak.
Kemudian, dengan cepat dia langsung keluar dari atas ranjang dan berjalan menghampiri Maryam, saat itu Adler berniat menjelaskan semuanya kepada Maryam, karena dia tidak ingin ada kesalahpahaman atas apa yang pagi itu Maryam lihat.
“Kamu dengarkan penjelasan Kakak dulu, dan jangan berasumsi sendiri, Kakak bisa menjelaskan semuanya, karena apa yang kamu lihat tidak sama dengan apa yang kamu pikirkan” ujar Adler, sambil menyentuh bahu Maryam yang saat itu masih menangis dalam diam.
Tidak ada yang Maryam katakan saat itu, karena tidak ada yang mampu dia lakukan selain menangis setelah melihat suaminya tidur berbaring bersebelahan bersama mantan pacarnya yang bahkan Maryam sadar hingga detik ini masih terang – terang mengakui jika dia mencintai Adler.
“Ad, kamu udah bangun ?” Maryam dan Adler dengan kompak langsung menoleh kearah kearah sumber suara, dan diatas ranjang mereka bisa melihat sosok Alexa yang baru saja bangun dari tidurnya dengan rambut yang masih terlihat berantakan, sambil menggisik matanya yang saat itu masih terasa lengket.
“Kakak lanjutkan saja kebersamaan Kakak bersama Kak Alexa, aku akan kembali ke kamar mengurus Bilqis, karena sepertinya dia sudah bangun” ujar Maryam, sambil menatap mata Adler dengan senyuman yang berusaha dia tunjukan dibalik cadarnya, kemudian melepaskan tangan Adler yang saat itu masih ada di pundaknya dengan lembut.
Adler hanya mampu menghela nafas berat saat dia melihat Maryam berlalu pergi meninggalkannya. Kemudian, Adler berbalik menatap kearah Alexa yang saat itu hanya diam sambil menatap Adler dengan wajah tanpa dosa. Terlihat ada gurat kekesalan yang terbit dari wajah Adler, karena saat itu Adler merasa sudah dijebak oleh Alexa untuk yang kesekian kalinya, dan saat ini Adler merasa benar – benar marah karena Alexa untuk yang kesekian kalinya kembali melakukan kesalahan yang sama dengan berupaya menghancurkan pernikahannya bersama Maryam.
“Apasih maksud kamu Al, kenapa kamu selalu kayak gini, kenapa saat aku menempatkan kamu sebagai perempuan yang patut dihargai tapi kamu malah merendahkan diri kamu dihadapan ku, kamu seakan w************n yang gak ada harganya sedikitpun dimata ku, kamu tahu dengan sikap kamu yang kaya gini aku semakin merasa kalau aku gak salah pernah memilih untuk meninggalkan kamu dan lebih memilih Maryam menjadi istriku, karena nyatanya dia memang jauh lebih terhormat dibandingkan kamu !” ujar Adler, dengan nada suaranya yang terdengar dingin dan tajam.
“Seharusnya, sebelum kamu melakukan semua ini, kamu berpikir dengan sebaik mungkin kalau sekarang kamu sedang mengandung, bagaimana jika anak yang sedang kamu kandung adalah perempuan dan menuruni sikap lacur kamu yang seperti ini Alexa” ujar Adler, sambil menatap Alexa masih dengan kekesalan yang terlihat begitu nyata.
Mendengar perkataan Adler, Alexa benar – benar terdiam seribu basa, kemudian perempuan itu berjalan menghampiri Adler dengan tatapan yang sulit untuk didefinisikan. Tepat saat dia sudah berdiri dihadapan Adler, saat itulah dia mendaratkan satu tamparan di pipi Adler dengan sangat kencang.
“Kamu boleh menghina ku, kamu boleh mengatakan aku perempuan apapun, tapi jangan pernah membawa – bawa anak ku, karena aku tidak suka kamu menjelekan anak ku yang bahkan tidak berdosa sedikitpun” ujar Alexa, sambil menatap Adler dengan tatapan kemarahan tapi ada air mata yang tanpa sadar sudah jatuh membasahi pipinya.
“Pergi dari sini Al, dan jangan muncul lagi dihadapan ku, karena sampai itu terjadi aku gak tahu dengan kata – kata seperti apa lagi aku akan menyakiti kamu dan anak mu, pergilah sejauh mungkin, mulai sekarang carilah kebahagiaan kamu sendiri, dan biarkan aku hidup tenang di sini bersama Maryam dan anak kami” ujar Adler, dengan suaranya yang terdengar melembut saat dia sadar sudah berbicara terlalu kasar kepada Alexa.
Adler mengerutkan dahinya saat dia melihat Alexa tersenyum kecut setelah mendengar perkataan terakhirnya sambil memalingkan wajah. Selama beberapa saat dia terdiam dan menatap Alexa berusaha menebak tentang apa yang sebenarnya yang saat itu sedang dia pikirkan.
“Anak kami kamu bilang, bukankah dia hanya anak Maryam, dia bukan anak mu bukan, Bilqis hanya anak haram yang kamu akui sebagai anak ku, tapi darah yang mengalir dalam diri Bilqis sampai kapanpun tidak akan pernah bisa berbohong, kalau dia hanyalah anak di luar pernikahan, dengan begitu seharusnya kamu sadar kalau aku dan Maryam sama – sama jalang” ujar Alexa, sambil tersenyum kecut diakhir kalimatnya.
“Jaga mulut kamu Alexa !! lebih baik kamu pergi dari sini karena aku benar – benar tidak mau melihat wajah kamu lagi” ujar Adler, sambil menunjuk pintu dengan kilat kemarahan yang terpancar dari wajahnya.
Tanpa banyak bicara, Alexa langsung berlalu pergi meninggalkan Adler begitu saja. Saat itu, baik Adler, Alexa, ataupun Maryam sama – sama terluka. Mereka hidup dalam satu atap yang sama dengan dua jenis hubungan yang berbeda, hingga akhirnya luka itu lebih mudah tercipta, karena sadar atau tidak kebersamaan mereka hanyalah cara yang mereka pilih sendiri untuk saling menyakiti.