Tidak ada usaha yang membohongi hasil, hampir dua bulan berlalu Hasan berjuang melakukan terapi agar kakinya bisa berfungsi dengan baik. Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, waktu yang cukup lama, akhirnya kaki yang selama beberapa bulan terakhir begitu sulit digerakan, begitu berat untuk di gerakan, meskipun hanya sebuah pergerakan kecil tapi hal itu adalah suatu yang sangat membahagiakan bagi Hasan.
“Semangat Hasan, lo pasti bisa, demi Bilqis lo bisa” ujar Hasan, berusaha menyemangati dirinya sendiri saat dia sudah mulai lelah berkali – kali jatuh ketika sedang berlatih di dalam kamarnya.
Siang tadi, saat melakukan terapi diantar oleh Ayahnya, akhirnya Hasan berhasil melangkahkan kakinya sebanyak dua kali, saat itu Hasan yang semula sempat pesimis, Hasan yang semula sempat merasa putus asa, akhirnya seakan menemukan semangat baru yang kembali mengibarkan semangatnya untuk terus berlatih, karena keyakinannya untuk bisa kembali berjalan kembali tumbuh besar lagi.
“Lo bisa Hasan, lo pasti bisa” gumamnya, saat Hasan berhasil melangkahkan kakinya sebanyak tiga langsung meskipun akhirnya kembali terjatuh.
Bibirnya melukiskan senyuman saat dia merasa harapannya sudah benar – benar kembali, saat itu semangat Hasan yang semula meredup kembali berkobar, hingga jatuh berkali – kali dan menyebabkan lututnya sakit serta beberapa bagian kakinya yang membiru tidak Hasan hiraukan sedikitpun, karena yang ada dalam benak Hasan saat itu adalah bisa kembali berjalan.
Hasan menolehkan kepalanya kearah pintu saat mendengar ada seseorang yang mengetuknya dari luar. Tepat setelah Hasan mempersilahkannya masuk, saat itulah sosok Kiano muncul. Melihat Hasan yang sedang terduduk diatas lantai, dia langsung berjalan menghampirinya dan membantu Hasan duduk ke diatas ranjang.
“Jam segini masih latihan ? inikan udah malem, tidur kenapa ?” ujar Kiano, seperti ibu – ibu yang sedang memarahi anaknya.
“Dasar ah bule cerewet, udah ah sana keluar” ujar Hasan, sambil mendorong pelan Kiano hingga membuat laki – laki itu menatap kearah Hasan dengan tatapan tidak suka.
“Baru juga datang masa udah di usir aja” ujarnya, sambil memasang wajah kesal tapi terlihat begitu menggemasakan.
Hasan lebih memilih diam berusaha tidak mempedulikan keberadaan Kiano di kamarnya, dia sibuk memijat kakinya yang saat itu terasa sakit karena terlalu sering terjatuh. Hanya saja, pergerakan Hasan tanpa sengaja terlihat oleh Kiano, hingga pada akhirnya dia juga melihat luka – luka memar di sekitar lutut Hasan. Kemudian, tanpa banyak bicara Kiano langsung berlalu pergi, dan tidak lama kembali sambil membawa obat untuk luka memar Hasan.
“Makannya kalau apa – apa itu minta tolong Kak, lo harus sadar diri kalau lo itu manusia, dan lo tahukan kalau manusia itu adalah makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan pertolongan dari orang lain, jadi stop bersikap belagu dengan cara berusaha ngelakuin semuanya sendirian” ujar Kiano, sambil mengoleskan krim yang dia bawa pada luka – luka memar dilutut Hasan.
Tidak ada yang Hasan katakan saat itu, dia hanya diam sambil menatap Kiano, bukan hanya Kiano yang melakukan protes karena Hasan selalu berusaha hidup dan melakukan semuanya sendirian, tapi hampir semua orang yang dekat dengan Hasan pernah melakukan protes yang sama. Hanya saja, Hasan tidak pernah mau mendengarkannya, karena Hasan tidak ingin mengganggu mereka, selain itu dalam definisi hidup Hasan orang yang tulus sayang dan ingin memberikan bantaun akan datang tanpa perlu minta, kenapa ? karena ada kasih sayang yang mereka miliki untuknya.
“Makasih ya, makasih udah ngasih tumpangan gratis buat gue sama orang tua gue juga, makasih karena lo udah banyak bantu gue selama di sin, makasih” ujar Hasan, sambil menepuk pundak Kiano dan membuat laki – laki itu terdiam sambil menatap Hasan selama beberapa saat.
“Lo itu temennya Om Al Kak, jadi gue rasa Om Al akan sangat senang kalau lo tinggal di sini apalagi sama tante Risa, tapi gue rasa sekarang lo adalah musuhnya Om Al karena lo udah berani – beraninya hamilin anak dia, jadi selama lo masih punya hutang untuk memperjuangkan apa yang udah seharusnya lo perjuangkan, lo memang harus tinggal di sini biar bisa gue pantau sejauh mana lo berjuang” ujar Kiano, berhasil menerbitkan senyuman di bibir Hasan.
Hasan hanya mampu tersenyum mendengar perkataan Kiano, karena saat itu dia tahu jika Kiano hanya sedang becanda, jadi Hasan tidak akan memasukan perkataannya kedalam hati. Meskipun, pernyataan jika kini Alaric pasti akan menjadi musuhnya karena dia sudah berani menghamili Maryam, berhasil menyentil setitik hatinya, karena dia sendiri tidak bisa membayangkan apa yang akan laki – laki itu lakukan jika Alaric masih ada saat keadaan Hasan yang sekarang sudah terlanjur menghamili Maryam.
“Gue gak tahu sesulit apa perjuangan gue kedepannya, tapi yang pasti untuk sekarang gue harus berusaha bisa jalan, karena gue gak mau ketemu Bilqis dalam keadaan masih duduk diatas kursi roda, gue gak mau dia punya ingatan kalau gue lumpuh karena kecelakaan nolongin dia sama Maryam” ujar Hasan, sambil mengalihkan tatapan matanya, karena tidak tahu kenapa belakangan jika dia teringat Bilqis, dia jadi lebih mudah menangis.
“Nih liat, sekarang anak lo udah bisa tengkureb sendiri, dan untuk bisa sampai difase ini dia memerlukan waktu, sama kaya lo yang butuh waktu untuk menormalkan semua seperti semula, jadi berjuang sesuai kapasitas lo, jangan berlebihan apalagi sampai kekurangan” ujar Kiano, sambil menyerahkan sebuah video singkat yang memperlihatkan Bilqis sedang mengubah posisinya menjadi tengkurap.
Mata Hasan benar – benar tidak berpaling dari layar ponsel Kiano, matanya terlihat berbinar melihat anaknya yang kini sudah tumbuh lebih besar dan berkembang. Meskipun selama pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui Bilqis tidak dia lihat setiap saat, tapi Hasan benar – benar bahagia, jika dia yang kini sudah menjadi ayah, akan segera memiliki seorang putri yang cantik, dan Hasan bisa membayangkan jika nanti anaknya akan tumbuh menjadi sosok yang cerewet sama seperti ibunya.
“Gue bahagia, seengganya dia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang harmonis, dan untuk beberapa saat setidaknya dia tidak akan terlalu mempermasalahkan tentang sosok siapa ayahnya, karena gue rasa Adler cukup baik untuk menjadi ayah yang menemani dia” ujar Hasan, sambil menengadahkan kepalanya saat dia merasa air matanya hampir jatuh karena merasa benar – benar terharu melihat perkembangan Bilqis.
Kiano menepuk bahu Hasan saat dia menyadari jika saat itu Hasan sedang berusaha menahan tangis haru yang dia rasakan. “Lo emang harus berjuang Kak, sekalipun lo hanya ayah biologis tapi menurut gue di luar hukum agama Islam yang kalian anut dan masih kurang gue pahami dalam hal itu, lo berhak untuk memperjuangkan kebersamaan lo sama Bilqis karena lo ayahnya, darah lo mengalir dalam tubuh Bilqis” ujar Kiano, sambil menatap Hasan berusaha untuk menyemangati dan menguatkan.
Hasan tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya, saat itu Hasan memang sudah bertekad jika dia akan berusaha memperbaiki semuanya. Setidaknya, jika tidak bisa hidup bersama, Hasan bisa merasakan jika dia mempunyai sosok putri kecil yang akan sangat dia cintai dan mencintainya. Karena, nyatanya sosok Bilqis adalah sosok yang akan menjadi semangat baru bagi hidup Hasan setelah dia mengalami jatuh berkali – kali.
***
Alexa tersenyum menatap kehadiran Adler dan Maryam yang berjalan beriringan menuju dapur. Saat itu, dia berusaha menutupi perasaannya yang masih merasakan luka setiap kali melihat keharmonisan hubungan Adler dan Maryam. Hatinya masih sering kali menjerit dalam diam, ingin menarik Adler agar jangan berdekatan dengan Maryam. Hanya saja, saat itu Alexa berusaha ingat jika dimata Maryam dan Adler, kini dia sedang belajar untuk menerima semuanya.
“Ini aku sudah buatkan teh untuk kalian, semoga kalian menyukainya” ujar Alexa, sambil meletakan dua cangkit teh hangat diatas meja makan, agar sebelum sarapan mereka bisa menikmati teh buatannya terlebih dahulu.
“Terima kasih ya Kak, padahal tidak usah repot – repot Kakakkan harus banyak istirahat” jawab Maryam, sambil tersenyum penuh ketenangan.
“Tidak papa, aku tidak ikut sarapan ya, tadi sudah minum s**u, aku ke kamar dulu” ujar Alexa, sambil tersenyum kemudian berlalu pergi menuju kamarnya.
Sesaat, Alexa tersenyum sambil menoleh kearah belakang, tepatnya pada Maryam dan Adler yang saat itu sedang mengobrol bersama di meja makan. Namun, senyuman yang saat itu dia tunjukan seakan memiliki makna tersirat kala melihat mereka. Baru setelah itu, dia benar – benar masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan sepasang insan itu untuk menikmati waktu kebersamaan mereka.
“Kak, hari ini pulang jam berapa ? agak siangan atau telat ?” tanya Maryam, sambil menyiapkan manakan di piring Adler.
“Kenapa ? baru juga pagi – pagi, udah tanya kapan pulang aja, takut kangen ya” tanya Adler, sambil tersenyum menggoda Maryam dan tangannya yang tidak henti mengelitiki perut Maryam hingga membuat perempuan itu kegelian dan akhirnya tanpa sengaja menyenggol secangkit teh milik Adler.
“Ya Allah, ini Kakak minum yang aku dulu, dan jangan kemana – mana ya tetap diam di sini aku akan membersihkan pecahan kacanya dulu” ujar Maryam, sambil berlalu seteleh memindahkan tehnya kepada Adler.
Saat itu, Adler hanya mampu menggelengkan kepalanya karena merasa tidak habis pikir dengan tingkah Maryam yang ternyata kadang masih menunjukan sisi ke kanak – kanakannya. Contohnya seperti barusan, dia meminta kepada Adler untuk jangan bergerak sedikitpun dari tempatnya layaknya Adler adalah anak kecil yang tidak pernah bisa diam, bisa dibayangkan bagaimana bisa sosok Adler yang biasa selalu dipandang berwibawa di perusahaanya, tiba – tiba diperlakukan layaknya bocah oleh istrinya sendiri.
“Ya ampun Ad, jangan minum teh itu” ujar Alexa, yang tiba – tiba datang berusaha mencegah Adler yang meminum teh milik Maryam.
Namun, saat itu Alexa terlambat, karena teh itu sudah habis di minum Adler dalam satu tegukan tepat setelah Maryam berlalu meninggalkannya. Sedangkan Adler, melihat keadatangan Alexa, hanya menatapnya dengan bingung, karena teh itu sengaja di buat Alexa untuknya dan Maryam, tapi tiba – tiba perempuan itu malah datang dan mencegahnya meminum teh tersebut.
“Ada apa Al ? lihat kakimu menginjak pecahan beling kecil dan berdarah kenapa kamu tidak hati – hati” ujar Adler, langsung terlihat kaget saat melihat kaki Alexa yang berdarah.
Kemudian, Adler langsung membantu Alexa duduk diatas kursi, dan karena panik laki – laki itu langsung mengecek luka dibagian kaki Alexa, tidak lama Maryam datang membawa sapu dan alat pel untuk membersihkan pecahan cangkir. Namun, gadis itu ikut merasa panik saat melihat darah yang mengalir dari kaki Alexa, tidak lama kemudian dia langsung kembali berlari kearah dapur untuk mengambil obat P3K.
“Kamu ini kenapa tidak hati – hati ? lihat kaki kamu sampai berdarah, lagi pula apa yang kamu pikirkan, bukankan teh itu kamu buat untuk aku dan Maryam, kenapa saat aku akan meminumnya kamu malah melarangnya !” ujar Adler, lebih terdengar seperti mengomeli dengan tangan yang sibuk membersihkan serpihan kaca kecil yang masih dia lihat.
“Kamu gak boleh minum teh milik Maryam” ujar Alexa, berhasil membuat pergerakan tangan laki – laki itu seketika terdiam kemudian mendongak kearah Alexa.
Dahi Adler mengerut bingung mendengar jawaban Alexa. karena menurut Adler terasa sedikit aneh ketika Alexa melarangnya meminum teh untuk Maryam, karena yang Adler pikir baik teh miliknya ataupun Maryam akan sama saja.
“Karena teh Maryam aku campurkan jamu penyubuh kandungan resep dari ibuku,” ujar Alexa setelah terdiam selama beberapa saat.
Adler dan Alexa seketika langsung menoleh saat mendengar suara cekikikan dari arah belakang, tepat tidak jauh dari belakang Adler berdiri sosok Maryam yang saat itu baru saja kembali dari dapur, dan gadis itu tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar Alexa mengatakan Adler meminum teh dicampur jamu penyubur kandungan yang seharusnya diminum Maryam.