Adler tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuju taman rumah saat dia melihat istrinya sedang menyiram bunga, dia langsung melingkarkan tangannya memeluk tubuh Maryam dari belakang tanpa permisi hingga berhasil membuat dia kaget sesaat. Maryam hanya menepuk pelan lengan Adler yang saat itu masih melingkar di perutnya sebagai balasan karena laki – laki itu sudah mengagetkannya.
“Tumben baru nyiram bunga sore – sore” ujar Adler, sambil menempelkan dagunya di bahu Maryam.
“Iya, mumpung Bilqis lagi tidur” ujar Maryam, sambil tersenyum dan kembali fokus menyiram bunga – bunga Azalea yang saat itu tersusun sangat rapih.
“Kakakkan pernah bilang, bunga Azalea ini ada karena Kak Alexa yang tanam, ternyata kayanya dia itu emang beneran suka banget tahu sama bunga ini, tadi dia sampai bawa dua pot bunga Azalea ini buat di simpan di depan jendela kamarnya” ujar Maryam, berhasil membuat Adler terdiam selama beberapa saat.
Sesaat Adler memandang bunga Azalea dihadapannya, kemudian pelan – pelan dia melepas pelukannya pada Maryam. Matanya masih terlihat terpaku menatap beresan bunga Azalea, karena saat itu Adler tiba – tiba teringat pada sebuah masa dimana dia membuatkan taman itu untuk Alexa, hanya saja kini saat orangnya sudah tinggal lagi di rumahnya dia sangat jarang menyentuhnya seperti dulu tepatnya sebelum Maryam datang.
Kemudian, Adler tersenyum kecil sambil memandang bunga – bunga Azalea membuat Maryam yang saat itu ada disampingnya mengerutkan dahinya karena bingung. “Dulu saking Kakak cintanya sama Alexa, Kakak buatin dia taman ini, karena Kakak pikir yang akan menikah dan tinggal di sini bersama Kakak adalah Alexa, tapi ternyata Allah berkehendak lain dengan mendatangkan kamu, mengubah haluan perasaan cinta Kakak dalam sekejap” ujar Adler, sambil mengalihkan tatapan matanya kearah Maryam.
“Sekarang Kakak sadar kalau Kakak emang benar – benar udah sayang dan cinta sama kamu” ujar Adler, sambil menatap Maryam dengan tatapan penuh keseriusan.
“Jadi Kakak harap rasa cinta itu juga bisa kamu usahakan untuk bisa segera datang dan tumbuh di dalam hati kamu, Kakak juga manusia biasa yang masih belajar untuk sabar dan paham, jadi tolong selalu usahakan agar rasa cinta itu segara datang, karena Kakak ingin menyayangi, mencintai dan memiliki kamu seutuhnya layaknya suami istri” ujar Hasan, sambil membelai kepala Maryam yang saat itu masih berdiri mematung mendengar perkataan Adler.
Adler tersenyum kemudian mendaratkan satu kecupan di dahi Maryam lalu pergi meninggalkan Maryam yang saat itu masih mematung di tempatnya. Saat itu, Maryam sadar jika dia sudah membuat Adler menunggu dalam waktu yang lama, tapi saat itu Maryam juga masih belum mampu mengendalikan perasaannya yang masih memilih sosok di masa lalunya. Saat itu, Maryam benar – benar berada dalam sebuah keadaan yang membuat dia merasa terjepit, dia tidak tahu harus berbuat apa, tapi di sisi lain Maryam sadar suaminya sudah mulai lelah menantinya.
Kemudian, dengan terburu – buru Maryam langsung berlari menyusul Adler yang baru pergi masuk ke rumah. Saat itu, Maryam merasa jika dia harus membicarakan semuanya dengan Adler. Dia tidak ingin membuat Adler merasa tersinggung karena menunggu kesiapan, menunggu cintanya tumbuh dalam waktu yang tidak tahu kapan.
“Kak Adler lagi mandi” gumam Maryam, saat dia melihat pintu kamar mandi tertutup dan terdengar ada suara di dalam kamar mandi.
Sesaat Maryam terdiam sambil mendudukan tubuhnya diatas ranjang, dengan tangan yang masih saling meremas jari tangannya sendiri Maryam menunggu Adler keluar dari kamar mandi. Karena, saat itu Maryam sadar jika Adler sudah mulai habis kesabaran menunggu dia untuk mencintainya.
“Kak Adler,” Maryam menoleh saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, tapi sesaat kemudian dia langsung menundukan kepalanya lagi saat melihat Adler hanya menggunakan handak yang melilit dipinggang hingga lututnya.
“Kalau mau liat ya tinggal liat aja jangan nunduk begitu, halal ini” ujar Adler, sambil setengah menahan tawa melihat reaksi Maryam yang terlihat kaget melihat dirinya bertelanjang d**a, karena seumur pernikahan mereka Adler tidak pernah berpenampilan lebih dari menggunakan kaos dan celana selutut selama di rumah.
Mendengar perkataan Adler yang saat itu sedang meledeknya, Maryam bangkit dari posisi duduknya, melangkah menghapiri Adler tanpa laki – laki itu sadari masih dengan kepalanya yang tertunduk. Kemudian, Maryam langsung memeluk Adler dari belakang ketika laki – laki itu sedang berdiri membelakanginya karena sedang memilih pakaian di dalam lemari.
“Aku minta maaf, aku gak maksud mempermainkan Kakak, tapi aku udah berusaha untuk mencintai Kakak, aku udah hapus nomor Kak Hasan supaya gak bisa menghubungi dia, aku udah gak penah bertanya tentang kabar dia, tapi aku masih belum bisa mencintai Kakak” ujar Maryam, saat dia masih memeluk tubuh Adler, membuat laki – laki itu terdiam selama beberapa saat antara karena masih kaget tidak biasanya Maryam memeluknya duluan, atau karena dia sedang mendengarkan perkataan Maryam.
Kemudian, Adler membalik posisi tubuhnya, mengangkat dagu Maryam hingga membuat mata abu – abunya bisa Adler tatap dengan jelas. Adler berusaha melihat keseriusan atas semua ucapan yang baru saja Maryam katakan melalui tatapan matanya. Kemudian, pelan – pelan dia membuka cadar tali yang saat itu Maryam gunakan hingga memperlihatkan wajah yang belakangan sudah sering Adler lihat.
“Lakukan apapun yang ingin Kakak lakukan pada ku, karena saharusnya sebagai seorang istri aku harus mampu melayani suami ku, memenuhi kebutuhan sebagai seorang laki – laki, maka tunaikanlah apa yang seharusnya di tunain Kak” ujar Maryam, sambil menatap Adler yang saat itu masih menarap Maryam tepat dibagian matanya.
Sesaat Adler terdiam mendengar perkataan Maryam, selama beberapa saat Adler menatap mata Maryam berusaha memastikan apakah saat itu Maryam bersungguh – sungguh atau hanya sekedar bohong belaka.
“Kamu ikhlas aku menjadikan kamu sebagai istri seutuhnya hari ini, apakah kamu benar – benar ikhlas ?” tanya Adler, sambil menangkup kedua pipi Maryam dengan jarak yang sangat dekat hingga membuat tubuh Maryam sempat kaget.
Maryam menganggukan kepalanya dengan mata yang saat itu menatap Adler dan terlihat takut, bingung, serta ragu dalam waktu bersamaan. Kemudian, pelan – pelan tanpa melepaskan tatapan matanya pada mata Maryam, Adler melapaskan kerudung yang sedang Maryam gunakan. Akhirnya, rambut Maryam yang terlihat lurus berwarna sedikit pirang terpangpang nyata dihadapan Adler, rambut Maryam yang selama ini tertutup kini terbuka dihadapan Adler.
“Kakak tanya kamu sekali lagi, apakah kamu ikhlas dan siap Kakak jadikan kamu sebagai istri seutuhnya bagi Kakak ?” tanya Adler, sambil menangkup pipi Maryam.
Maryam, untuk yang kedua kalinya menganggukkan kepala, berusaha yakin jika saat itu dia benar – benar siap menyerahkan seluruh hidupnya, membiarkan semua yang ada pada dirinya menjadi milik Adler, suami sahnya di mata hukum dan agama, meskipun nyatanya saat itu Maryam masih merasa ragu dan belum siap melakukannya, tapi dia tidak ingin membuat Adler semakin kecewa.
Perlahan, Adler mendekatkan wajahnya pada Maryam, membuat perempuan itu secara refleks langsung memejamkan matanya rapat – rapat karena saat itu dia masih merasa belum yakin, jadi jika dia membuka mata Maryam takut rasa belum yakin itu akan membuat dia memberontak ketika Adler sudah mulai melakukan pendekatan.
“Jangan memaksakan diri kamu, Kakak minta maaf atas perkataan Kakak tadi sama kamu, Kakak gak maksud, dan Kakak gak mau maksa kamu, karena Kakak tahu kamu belum siap untuk menyerahkan diri kamu untuk menjadi istri seutuhnya Kakak sekarang” ujar Adler, sambil membelai kepala Maryam dengan penuh kasih sayang.
“Tapi Kak,” Adler langsung menempelkan jari telunjuknya dibibir Maryam ketika dia sadar tidak menyukai perkataannya.
“Kakak tidak papa, jangan memaksakan diri kamu, karena Kakak sendiri tidak mau menjadi suami yang egois, percayalah Kakak akan belajar bersabar untuk menanti cinta dan kesiapan kamu” ujar Adler, sambil tersenyum kemudian membawa Maryam ke dalam dekapannya.
Belajar menjadi suami yang sabar dan berusaha tidak egois dengan memikirkan kepuasan sendiri, itulah yang berusaha Adler lakukan. Dia tidak ingin memaksakan Maryam saat perempuan itu sendiri belum siap untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri untuk memenuhi kebutuhan Adler sebagai seorang suami.
***
“Makasih Kak, karena sudah bertahan hingga sejauh ini, terima kasih karena Kakak selalu ada buat aku, dan janji jangan pernah kaya gini lagi, aku takut liat Kakak tidur nyenyak kaya kemarin, liat mulut dan hidung Kakak di tutup masker oksigen, tangan Kakak di pasang infus, kepala Kakak di lilit perban, aku takut” ujar Alina, sambil memeluk Hasan yang saat itu ada di sampingnya.
“Janji, jangan pernah pergi ninggalin aku, karena kalau gak ada Kakak, aku takut menghadapi kehidupan ku sendiri” lanjut Alina, sambil mendongakan kepala, menatap kearah Hasan, dan balas mendekap tubuh adiknya.
Sesaat, Hasan tersenyum sambil mengelus kepala Alina, kemudian dia mengeratkan pelukannya pada tubuh Alina. Saat itu, meskipun Hasan sadar jika Alina menjadi salah satu alasan dia selalu bertahan kuat, alasan dia terus berdiri mengahadapi semuanya walau terasa berat, dan sekarang dalam keadaannya yang bahkan tidak mampu berjalan, Hasan merasa benar – benar tidak berguna sebagai seorang Kakak, karena kini Hasan merasa tidak bisa melakukan apapun selain merepotkan semua orang.
“Maaf ya, sekarang Kakak cuma bisa ngerepotin kamu doang, Kakak gak bisa jaga kamu seperti dulu lagi, kamu jadi harus pulang pergi ke Jerman karena Kakak” ujar Hasan, sambil menunduk menatap kearah Alina.
Sesaat, Alina terdiam sambil mendongakan kepala dan tangan yang belum lepas memeluk tubuh Kakaknya, kemudian dia mendaratkan satu kecupan di pipi Hasan membuat laki – laki itu menolah dan menatap Alina tepat dibagian matanya.
“Sampai kapanpun, Kakak akan menjadi Kakak terbaik untuk ku, ketika tangan Kakak tidak mampu bergerak dan berfungsi dengan baik saat itu aku yang akan menjadi tangan Kakak hingga akhirnya tangan ini sudah kembali membaik, saat ini kaki Kakak masih dalam masa pemulihan, aku yang akan menjadi kaki Kakak, hingga kaki ini nantinya akan berfungsi kembali seperti sedia kala” ujar Maryam, membuat Hasan terdiam selama beberapa saat, kemudian tersenyum dan kembali memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang.
“Ko Ayah jadi iri ya sama kamu, Kak” Alina dan Hasan langsung menoleh kearah kursi pengemudi tempat dimana Angga sedang duduk dan memperhatikan kedua anaknya melalui kaca depan mobil.
Sesaat Alina dan Hasan mengerutkan dahinya bingung sambil menatap Angga, karena sepasang kakak beradik itu masih belum mengerti dengan maksud dari perkataan ayahnya. Sedangkan Risa, hanya mampu terkekeh melihat Angga yang saat itu terlihat benar – benar iri kepada Hasan dan dia tahu alasan irinya, sementara kedua anaknya tidak memahami apa yang ayahnya pikirkan.
“Gak Alin, gak Bunda, semuanya pada manja sama kamu, mereka kelihatan sayang sama kamu tuh kebangetan baget, kayaknya kalau amit – amit Ayah bertengkar sama kamu, dua bidadari ini akan jauh lebih memilih kamu dibandingkan Ayah deh” ujar Angga, yang baru dihapahami oleh Alina dan Hasan hingga membuat keduanya langsung terkekeh.
“Iyalah” jawab Alina, dengan polosnya berhasil membuat wajah Angga semakin masam sedangkan Hasan dan Risa hanya mampu tertawa.
“Tapi Kak, makasih ya udah jadi anak laki – laki terbaik untuk Ayah, terima kasih karena kamu sudah melindungi Bunda dan Alina hingga kini mereka tetap baik – baik saja, terima kasih” lanjut Angga, sambil tersenyum tulus dan menatap kearah Hasan.
“Sama – sama, Yah” jawab Hasan, sambil membelai kepala Alina yang saat itu sudah kembali memeluk tubuhnya.
Terima kasih, tidak tahu sudah berapa kali Angga mengicapkan terima kasih kepada Hasan. Sosok laki – laki kebanggaannya, yang sudah melindungi dan menyayangi Alina dan Risa disaat seharusnya Angga yang melakukan hal itu tidak ada, hingga kini mereka bisa kembali bersama.