Sepi adalah hal yang paling menakutkan bagi sebagian orang tapi sepi juga bisa menjadi teman bagi seseorang yang sudah terlalu sering sendirian, merasa sakit karena sepi itu pasti. Karena hakikatnya manusia pasti ingin di temani, ingin didengar, dan ingin di sayangi.
Alexa memandang pantulan dirinya sendiri di depan cermin, wajahnya saat itu terlihat datar tanpa ekspresi yang terlihat pucat sehingga membuat dia terlihat sedikit menyedihkan, pipinya yang terlihat tirus karena belakangan dia sulit untuk makan, sekalipun makanan itu masuk ke dalam mulutnya pasti tidak sampai 5 menit makanan itu akan kembali dia muntahkan.
“Hidup mu sekarang terlihat sangat menyedihakan Alexa, bahkan kamu terlihat seperti mayat hidup” gumam Alexa pada dirinya sendiri dengan bibir yang menyungging seakan saat itu dia sedang menertawakan dirinya sendiri.
Pagi itu, Alexa kembali mual – mual setelah dia memaksa dirinya untuk sarapan dan minum s**u, dan untuk yang kesekian kalinya semua makanan yang sudag dia telan hanya sempat masuk ke dalam perutnya tidak kurang dari 5 menit.
Alexa, langsung mematikan saluran air saat dari depan dia mendengar ada yang membunyikan bel tanda ada tamu yang datang. Saat itu karena Maryam dan Adler masih di rumah sakit karena anak mereka yang masih belum juga sembuh, pada akhirnya Alexa terpaksa pergi untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
“Sebentar” ujar Alexa, masih menggunakan bahasa Jermannya yang saat itu dia katakan dengan nada dingin, karena yang memencet bel rumah sangat tidak sabaran.
Namun, tepat saat Alexa membuka pintu saat itulah tamu itu masuk dan langsung membekap mulutnya lalu menyeret tubuh Alexa masuk ke dalam rumah. Saat itu, Alexa tentu berusaha memberontak, tapi apa yang bisa di lakukan jika tenaga yang dia miliki tidak sebanding dengan tenaga orang yang saat itu meyeretnya masuk ke dalam rumah.
Hingga akhirnya, dia menghempaskan tubuh Alexa secara kasar diatas sofa ruang tamu. Saat itu, tubuh Alexa langsung menegang saat dia melihat siapa sosok yang datang menemuinya, tubuhnya langsung beringsut mundur ketika laki – laki itu berjalan melangkah mendekatinya. Saat itu, Alexa benar – benar takut melihat laki – laki itu, dia takut dengan semua kemungkinan yang akan terjadi selama beberapa menit kedepan.
“Di sini ternyata selama ini kamu bersembunyi, akhirnya aku menemukan mu” ujarnya, sambil tersenyum kecil dan hal itu berhasil membuat Alexa merasa takut melihatnya.
Alexa, langsung berlari ke kamarnya saat dia melihat laki – laki itu berjalan semakin mendekatinya, kemudian Alexa langsung menguncinya dari dalam, dengan tangannya yang saat itu sudah gemetar Alexa mencari handphonennya yang saat itu tiba – tiba menghilang. Tepat saat handphonennya di temukan Alexa langsung menghubungi satu nomor milik seseorang yang selama ini selalu dia percayai, seseorang yang selalu datang menjadi penolongnya.
Namun, saat itu tidak ada yang bisa Alexa selain menangis ketika dia sudah menggedor pintu kamarnya lagi, sedangkan panggilan teleponnya di tolak oleh orang yang dia harap bisa menjadi penolongnya.
“Buka jalang, kamu pikir apa yang bisa kamu lakukan saat aku sudah menemukan tempat persembunyian mu, tugas mu adalah menjadi jalang penghangat ranjang ku, bukan duduk diam di sini dan membuat ku harus mencari mu” teriaknya dari luar, membuat Alexa semakin merapatkan tubuhnya pada pojok kamar dengan isak tangis yang berusaha dia tahan agar tidak mengeluarkan suara.
Alexa benar – benar sangat merasa takut saat laki – laki itu mulai mencoba mendobrak pintu kamarnya. Sedangkan di dalam kamar dengan rasa takutnya Alexa masih berupaya untuk menghubungi Adler, hingga akhirnya pintu kamarnya terbuka dan diia merebut handphone Alexa kemudian melemparkannya pada tembok. Setelah itu, dia menarik tubuh Alexa dan mandaratkan satu tamparan mulus di pipi Alexa.
“Jangan coba – coba menyusahkan hidup ku lagi” ujarnya, sambil mencengkram pipi Alexa.
“Diam, menurut dan jalankan tugas mu dengan baik untuk memuaskan ku” ujarnya, sambil menghempaskan tubuh Alexa kearah ranjang.
Alexa kembali beringsut mundur saat dia melihat laki – laki itu perlahan berjalan mendekatinya dan tangannya mulai membuka sabuk yang dia gunakan. Melihat itu, Alexa tentu tidak diam saja, dia hendak kembali melarikan diri, hanya saja dia dengan cepat langsung menarik tangan Alexa dan menghempaskan tubuh Alexa dengan kasar dengan kasar.
“Dasar, laki – laki iblis, kamu bukan manusia, kamu iblis yang sayangnya tuhan pertemukan dengan ku hingga membuat hidup ku hancur berantakan” ujar Alexa, dengan sirat kemarahan dan kekesalan yang tergambar diwajahnya.
Mendengar perkataan Alexa yang terkesan kasar, laki – laki itu langsung memukuli Alexa selama beberapa kali, kemudian dia langsung menjamah tubuh Alexa secara paksa dengan cara yang kasar. Saat itu, tidak ada yang bisa Alexa lakukan selain diam dengan rasa sakit luar biasa yang hatinya rasakan, tidak ada air mata yang saat itu jatuh dari pelupuk matanya karena saat itu rasa sakit yang Alexa rasakan sudah terlalu dalam, hingga membuat air matanya seakan sudah tidak lagi mau menetes.
“Diam dan layani aku dengan baik maka nanti kamu akan baik – baik saja” ujar laki – laki itu, sambil menampar pipi Alexa ketika perempuan itu sedang melakukan pemberontokan saat dia sedang berusaha menjamah tubuh Alexa.
“Ibu ku, pasti akan mengutuk mu dari atas sana b******n” ujar Alexa, sambil memalingkan wajah karena dadanya terasa sesak melihat wajah laki – laki yang saat itu sedang menjamah tubuhnya.
Ayah tiri Alexa, dialah sosok laki – laki yang datang dan kembali melecehkan Alexa seperti biasanya, dialah sosok laki – laki yang sayangnya menjadi ayah dari anak yang Alexa kandung, hanya saja Alexa tidak akan pernah mengakui jika anak yang di kandungnya darah daging dari laki – laki itu. karena anak itu tumbuh tanpa Alexa inginkan, tapi anak itu tumbuh menghadirkan setitik kehangatan di dalam hati Alexa yang saat itu kesepian, jadi saat itu Alexa akui jika itu anaknya tapi bukan anak dari ayah tirinya.
***
Hasan menatap putrinya yang saat itu sedang dalam gendongan Risa, bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyuman karena setelah dia sadar dia bisa melihat ada Bilqis di dekatnya. Hanya saja, Hasan belum bisa menggendong Bilqis karena keadaannya yang masih belum baik, dia masih berada di tahap pemulihan setelah beberapa hari kehilangan kesadarannya.
“Ih Bilqis liatin Ayah ya” ujar Risa, sambil menoel – nole pipi Bilqis yang saat itu sedang tersenyum khas bayi dan menatap kearah Hasan.
“Semoga nanti Bilqis jadi anak yang shalihah, cerdas, lembut hatinya, lembut sikapnya, cantik hati dan fisiknya, serta bisa menjadi anak yang menjadi penyelamat untuk ayah dan bundanya diakhirat kelak” ujar Risa, sambil mendaratkan satu kecupan di pipi Bilqis membuat bayi itu tersenyum kegelian.
Kemudian, bayi kecil itu tiba – tiba terlihat menggapai – gapaikan tanganya kearah Hasan, seakan saat itu dia sedang meminta digendong kepada Hasan yang sedang berbaring dengan masker oksigen yang bahkan masih dia gunakan. Sesaat Risa tersenyum saat menyadari apa yang bayi kecil itu inginkan, kemudian dia kembali mendaratkan satu kecupan hangat di pipi cucunya.
“Ayahnya masih sakit sayang, nanti kalau udah sembuh pasti bisa gendong Bilqis” ujar Risa, sambil menimang – nimang tubuh Bilqis.
Namun, saat itu Bilqis seakan tidak mau mendengarkan alasan apapun, dia masuk terus berusaha menggapai – gapai Hasan dengan wajahnya yang saat itu sudah terlihat ingin menangis. Akhirnya, karena merasa tidak tega Hasan memberanikan diri untuk menggendong Bilqis karena saat itu dia tidak ingin anaknya bersedih dan kembali jatuh sakit.
“Bunda bantu pegangin aja ya” ujar Risa, sambil membantu memegangi Bilqis yang saat itu sudah berpindah ke gendongan Hasan yang berada dalam posisi setengah tidur karena tinggi kasur bagian atasnya sudah di ubah.
Senyuman, itulah yang Bilqis tunjukan saat dia sudah berada dalam gendongan Hasan, bayi kecil itu seakan senang saat apa yang dia inginkan sudah tercapai, dan Hasan hanya bisa ikut tersenyum melihat senyuman sudah terbit dari bibir putri kecilnya.
“Bilqis ini kayak kamu banget ya” ujar Risa, sambil terkekeh. “Kalau mau A ya A, kalau B ya B, gak akan mau berenti sebelum apa yang diinginkan bisa tercapai, tapi Bunda berharap kelakuan gila kerja kamu itu gak akan menurun sama cucu Bunda ini” ujar Risa, sambil mengelus kecil kepala Bilqis membuat Hasan terkekeh melihatnya.
Suara pintu terbuka diiringi ucapan salam membuat Risa dan Hasan menolah, dari arah pintu Maryam datang bersama suaminya, melihat mereka kini Hasan sudah biasa meskipun percikan rasa sakit masih dia rasakan setiap melihat kebersamaan mereka dan menyadiri jika kini mereka sudah memiliki pernikahan yang sah.
“Alhamdulillah, Bilqis udah boleh pulang sore ini sama Dokter, makasih ya Bun, Kak udah bantu jaga Bilqis selama di sini, sekarang mungkin aku akan langsung bawa dia pulang” ujar Maryam, sambil menatap Risa.
Sesaat Hasan terdiam menatap kearah Maryam, kemudian dia menatap kearah Bilqis yang saat itu sudah terlihat nyaman berada dalam gendongan Hasan. Tidak ada kata apapun yang saat itu Hasan sampaikan, karena nyatanya jauh di dalam lubuk hati Hasan yang paling dalam dia bahagia anaknya sudah kembali baik – baik saja, tapi disisi lain Hasan sedih karena dia tidak tahu kapan bisa bertemu Bilqis lagi.
Kemudian, dengan keadaanya yang saat itu masih lemah, Hasan meminta kepada ibunya untuk membantu membuka masker oksigen yang saat itu dia gunakan. “Jangan Kak, keadaan kamu masih belum baik kalau di buka” cegah Risa, hanya saja Hasan dengan segala sikap keras kepalanya tetap memaksa dan akhirnya masker oksigen itu Risa buka.
Kemudian, Hasan mendaratkan satu kecupan dalam jeda yang cukup lama tepat di pipi Bilqis, kemudian dia mendaratkan satu kecupan yang lebih lama di dahi Bilqis. Sebuah kecupan yang terlihat tulus dan penuh kasih, membuat semua orang yang melihatnya merasa terharu.
“Ayah mencintai mu, sayang” bisik Hasan, tepat di dahi Bilqis dengan nada yang sangat pelan.
Setelah itu, dengan senyuman Hasan menyerahkan Bilqis pada Maryam masih tanpa perkataan apapun, bahkan sampai Maryam dan Adler pergi membawa Maryam, tidak ada satu katapun yang Hasan ucapkan, yang dia lakukan hanyalah menatap kepergian Maryam bersama Adler hingga tubuh mereka benar – benar menghilang dibalik pintu.
***
Adler membukakan pintu rumahnya untuk Maryam dan Bilqis ketika mereka baru saja tiba di rumah. Hanya saja, keduanya dibuat heran ketika melihat ruangan tamu yang sedikit berantakan. Kemudian, saat mereka berjalan hendak pergi ke kamar, keduanya sama – sama mengerutkan dahinya saat melihat pintu kamar Alexa yang tanpa terlihat sedikit rusak. Akhirnya, karena tidak melihat Alexa sejak mereka datang Adler masih ditemani Maryam yang berdiri di sampingnya sambil menggendong Bilqis, mengetuk pintu kamar Alexa, hanya saja tidak ada jawaban yang mereka dapatkan.
“Kak, aku masuk ya, Kakak di dalam sedang apa ? kenapa pintunya tidak di kunci ?” ujar Maryam yang akhirnya berbicara.
Karena masih tidak ada jawaban, akhirnya Maryam atas perintah Adler benar – benar membuka pintu kamar Alexa. selama beberapa saat keduanya terdiam menatap apa yang mereka lihat, hingga akhirnya suara Adler yang mengucapkan istigfar berhasil menyadarkan Maryam. Saat itu, mereka kaget melihat keadaan tubuh Alexa yang sedang terbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya dan memperlihatkan bahu telanjangnya.
“Kakak bawa Bilqis saja ke kamar, tidurkan dia dengan hati – hati agar tidak bangun lagi, biar aku yang mengurus Kak Alexa sementara waktu” ujar Maryam, sambil menyerahkan Bilqis kemudian masuk ke dalam kamar Alexa.
Sesaat Maryam kembali beristigfar saat dia melihat beberapa luka memar di wajah Alexa, kemudian dengan pelan dia membangun Alexa hingga perlahan mata perempuan itu terbuka dan menatap Maryam selama beberapa saat, kemudian dia mamalingkan wajahnya kearah lain.
“Keluar,” hanya kata itulah yang Alexa katakan ketika dia melihat Maryam ada di dekatnya.
“Aku ambilkan Kak Alexa pakaian baru ya, setelah itu aku bantu Kak Alexa untuk mengobati lukanya” ujar Maryam, sambil mengambilkan pakaian Alexa.
Kemudian, Maryam membantu Alexa berpakaian tanpa banyak bertanya mengenai apa yang terjadi pada perempuan itu, karena Maryam takut Alexa menjadi tidak nyaman terlebih perempuan itu memang tidak pernah suka kepada Maryam. “Keluar,” ujarnya lagi, sambil berusaha bangkit dari atas ranjang.
Mulut Maryam yang saat itu sudah kembali terbuka hendak menawarkan kembali bantuan langsung terkantup rapat saat Alexa melewatinya berjalan begitu saja menuju kamar mandi, saat itu tidak ada yang bisa Maryam lakukan selain diam. Namun, saat Maryam akan berbalik pergi, telinga Maryam mendengar suara ringisan, tepat saat Maryam menoleh saat itulah dia melihat Alexa sedang meringis kesakitan serta ada darah yang mengalir di kakinya.
“Pergi Maryam, aku bilang pergi, aku bisa mengurus hidup ku sendiri” ujar Alexa, sambil meringis kesakitan saat Maryam kembali mendekat kearahnya.
Alexa langsung mendorong Maryam kemudian dengan sedikit tertatih dia langsung masuk ke kamar mandi. Merasa khawatir dengan keadaan Alexa, Maryam langsung bergegas memanggil Adler dan menceritakan tentang keadaan Maryam, kemudian setelah memastikan Bilqis tertidur dengan aman di ranjang bayinya, Maryam dan Adler langsung bergegas menuju kamar Alexa, hanya saja saat itu mereka tidak langsung masuk melainkan berdiri menunggu Alexa di luar kamar berharap perempuan itu bisa segera keluar dari kamarnya. Ternyata, Alexa keluar dari kamarnya dengan langkah tertatih dan tangan yang dia gunakan untuk memegang perut bawahnya.
“Al, kamu mau kemana ? ayo biar aku antar ? keadaan kamu sedang tidak baik kan ?” ujar Adler, berhasil membuat langkah Alexa yang saat itu hanya melewati mereka begitu saja, langsung terhenti, kemudian berbalik.
“Untuk apa menawarkan bantuan untuk ku sekarang, kemana kamu saat aku sangat membutuhkan pertolongan, hidup bahagia bersama istri dan anak mu yang baru saja sembuh ? lanjutkan dan jangan pikirkan aku” ujar Alexa, dengan wajah dingin dan datarnya yang sejujurnya baru pertama kali Adler lihat.
“Seharusnya, diberi kesempatan tinggal di rumah ini saja aku sudah bersyukur, seharusnya aku sadar posisi ku agar tidak berharap kamu datang saat aku meminta pertolongan” ujar Alexa, sambil melanjutkan langkahnya.
Sementara Adler, seketika langsung terdiam, dia ingat saat sedang metting Alexa memang beberapa kali sempat menelponnya hanya saja Adler tolak karena saat itu merupakan rapat penting. Namun, melihat bagaimana sirat kecewa yang terpancar dari Mata Alexa membuat Adler merasa bersalah.