“Ayaaah … jangan pergi, sini …” Hasan sesaat menoleh kearah Bilqis yang saat itu sedang menangis sambil melambai – lambaikan tangannya.
Namun, saat itu Hasan seakan sudah tidak peduli dengan apapun lagi, dia sudah ingin benar – benar pergi karena sudah terlalu lelah dengan semua kehidupan yang dia jalani. Saat itu, yang Hasan lakukan adalah tersenyum sambil melambaikan tangannya sebagai bentuk perpisahan kepada Bilqis yang saat itu masih menangis.
Kemudian, Hasan menatap persimpangan jalan yang saat itu ada dihadapannya, matanya menatap dua arah jalan tersebut, saat itu dia seakan sedang meyakinkan diri mengenai keputusan yang pada akhirnya sudah dia pilih. Namun, langkah Hasan selalu terasa berat ketika dia melangkah menuju sebuah jalan yang akan membawanya pergi jauh dari orang – orang yang menyayanginya, saat dia mendengar panggilan bundanya dengan isak tangis pilunya.
“Ayaaaaah …” panggil Bilqis lagi, sambil berlari dan memeluk kaki Hasan hingga membuat laki – laki itu benar – benar sulit untuk melangkah.
“Aku mau ikut Ayah …” ujar Bilqis, sambil mendongak dan tangan yang masih memeluk erat kaki Hasan hingga membuat laki – laki itu sulit bergerak.
Sesaat Hasan terdiam sambil menatap mata Bilqis, kemudian dia berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi Bilqis dengan tatapan mata yang belum lepas saling bertatapan. Saat itu, menatap mata Bilqis, menatap air mata Bilqis ada rasa berat yang harus Hasan kesampingkan, karena jika tidak Hasan benar – benar merasa tidak mampu jika harus kembali melanjutkan hidupnya.
“Aku hanya ingin ikut kemanapun Ayah pergi” ujar Bilqis, sambil memeluk Hasan yang saat itu sudah berjongkok dihadapannya.
Pelan – pelan, Hasan melerai pelukan Bilqis, kemudian dengan penuh kelembutan dia menghapus lelehan air mata yang jatuh membasahi kedua belah pipinya. Dengan penuh kelembutan Hasan membawa Bilqis ke dalam dekapannya.
“Bilqis harus tetap menemani Bunda sayang, jika Bilqis ikut pergi bersama Ayah, Bunda akan sedih dan sendiri, jadi Bilqis jangan ikut pergi ya sayang, tetap temani Bunda untuk mewakili Ayah” ujar Hasan, sambil tersenyum penuh kelembutan meskipun ada sesuatu yang terasa menyakitkan di dalam hatinya saat dia berpisah dengan Bilqis.
Namun, saat itu dengan tegas Bilqis menggelengkan kepalanya, dia semakin mengeratkan pelukannya pada Hasan. Seakan hal itu adalah cara yang Bilqis pilih untuk menahan Hasan agar tidak pergi meninggalkannya, dan saat itu tidak ada yang bisa Hasan lakukan selain mengelus punggung Bilqis dan berusaha membuatnya tenang.
“Apakah tangis putri mu tidak cukup untuk menahan mu agar jangan dulu menyerah ? Apakah tangis putri mu tidak cukup membuat hati mu luluh dan kembali kepada mereka ?” Hasan langsung menoleh saat tiba – tiba dia mendengar suara seseorang di dekatnya.
“Kembalilah, cucu ku memang masih sangat membutuhkan mu, jadilah Ayah terbaik untuknya berjanjilah pada ku, Hasan” ujarnya lagi, sambil menyentuh pundak Hasan.
Alaric, dialah sosok yang tiba – tiba hadir di dekat Hasan dan Bilqis, sosok laki – laki yang dulu selalu ada di dekat Hasan ketika masa sulit yang harus Hasan lalui sendirian. Dia datang menawarkan pertolongan dan memberikan Hasan semangat agar tetap kuat. Kali ini, dia kembali datang dan membantu Hasan untuk kembali kuat.
“Obat itu memang pahit, tapi pahitnya bisa mengobati sakit hingga kamu bisa sembuh dengan keadaan lebih baik” lanjut Alaric, sambil menepuk kembali pundak Hasan.
“Aku percaya kamu pasti bisa melalui semuanya dengan sangat baik” ujar Alaric, kemudian berlalu pergi sambil melambaikan tangannya.
“Ayah ayo kita kembali” ujar Bilqis, berhasil membuat Hasan tersadar dan kembali fokus pada putrinya.
Sesaat, Hasan terdiam, kemudian dia bangkit sambil menggendong Bilqis dengan senyum kelegaan yang terpancar dari bibir keduanya. Karena Hasan merasa nasehat Alaric ada benarnya, dia belum berjuang hingga puturan penuh, tapi masih setengahnya, jadi dia harus kembali untuk menyelesaikan semuanya.
Risa, benar – benar tidak bisa berhenti mengucapkan hamdalah saat perlahan mata putranya kembali terbuka setelah hampir 2 hari 2 malam tidak sadar. Risa benar – benar merasa lega karena Hasan sudah bisa kembali membuka mata, meskipun saat itu Hasan masih terlihat lemas.
“Bunda tahu, Kakak anak yang kuat, Kakak pasti bisa melalui semuanya dengan baik, di sini ada Bunda yang akan selalu ada untuk Kakak” ujar Risa, sambil menggenggam sebelah tangan Hasan dengan air mata yang sudah berjatuhan membasahi pelupuk matanya.
Melihat mata Risa yang sudah banjir air mata, tangan Hasan dengan pelan dan masih terlihat lemah itu bergerak menghapus lelehan air mata yang jatuh membasahi pipi Bundanya, dan Risa hanya bisa tersenyum saat dia merasa jika putranya sudah kembali. Putranya yang tangguh, putranya yang kuat, sudah kembali lagi.
“Sebentar Bunda panggilkan Dokter ya” ujar Risa, sambil membelai kepala Hasan.
Namun, pegangan pelan tangan Hasan pada pergelangan tangan Risa seakan mengisyaratkan jika laki – laki itu melarang Risa memanggil Dokter. Hingga akhinya, suara kecil khas bayi terdengar dari arah samping, dan hal itu berhasil membuat Hasan ikut menoleh menatap kearah samping.
Bilqis, yang saat itu seakan sengaja bersuara untuk mencari perhatian Hasan yang sudah bangun dari koma singkatnya, bayi kecil itu seakan tahu jika ayahnya baru saja terbangun. Selama beberapa saat, Hasan dan Bilqis sama – sama saling terdiam, tanpa melepaskan tatapan mata mereka.
“Obat itu memang pahit, tapi pahitnya bisa mengobati sakit hingga kamu bisa sembuh dengan keadaan lebih baik,” kata – kata yang Alaric katakan dalam mimpinya masih memberikan kesan pada Hasan terlebih saat dia menatap wajah putri kecilnya. Kemudian, tanpa sadar air mata jatuh dari pelupuk mata Hasan, karena dia tidak pernah menyangka bisa kembali bertemu Bilqis lagi.
“Beberapa hari lalu dia demam tinggi, setelah dirawat dan diberikan obat panasnya belum juga turun, saat itu Dokter memperkirakan jika yang sakit bukan badannya tapi psikisnya, kemudian Dokter melakukan pembicaraan mengenai siapa orang yang sering bertemu Bilqis kemudian tiba – tiba tidak bertemu lagi dalam waktu dekat, saat itu Bunda ingat kamu, jadi setelah melakukan beberapa pertimbangan rumah sakit mengizinkan Bilqis di rawat di sini bersama kamu” jelas Risa, menceritakan apa yang terjadi selama Hasan sedang tidak sadar.
“Dan kamu tahu setelah di pindah ke sini, Bilqis terlihat menjadi lebih tenang, suhu tubuhnya berangsur menurun meskipun sekarang masih 38 derajat tapi setidaknya sudah lebih baik dari sebelumnya yang mencapai 40 derajat” lanjut Risa, membuat senyuman dan tetesan air mata semakin berjatuhan dari pelupuk mata Hasan.
Kemudian, Hasan kembali menoleh kearah putrinya yang ternyata masih menatapnya dalam diam tapi ada senyuman yang terbit dari bibir kecilnya, saat itu dia seakan ikut merasakan kelegaan yang dirasakan Risa saat melihat keadaan ayahnya yang sudah kembali sadar.
Sementara diluar, Maryam tidak berani masuk ke dalam ruangan perawatan Hasan dan Bilqis setelah dia pulang terlebih dahulu, dia terlalu takut bertemu Hasan, dia takut akan membuat Hasan kembali merasakan tekanan walau hanya melihat kemunculannya saja. Terlebih, saat dia melihat jalinan ikatan cinta yang begitu besar antara Bilqis dan Hasan membuat Maryam merasa sangat berdosa pernah meminta Hasan tidak pernah menemui putrinya.
“Kenapa tidak masuk ? kenapa kamu menangis di sini ?” tanya Adler, yang saat itu sama – sama baru datang dan merasa heran melihat istrinya hanya diam sambil menangis.
Maryam menempelkan jari telunjuknya diatas bibir, kemudian dia menarik Adler untuk duduk di sebuah kursi tunggu. “Aku mohon biarkan mereka hidup bersama untuk saling menguatkan selama mereka masih sakit Kak, karena percaya atau tidak kebersamaan mereka bisa membuat keadaan mereka menjadi lebih baik satu sama lain” ujar Maryam, sambil menggengam tangan Adler, karena laki – laki itu belum juga mengizinkan Bilqis tidur dalam satu ruangan yang sama dengan Hasan.
“Semua ini demi Bilqis, Kak” ujar Maryam, sambil menatap suaminya dengan tatapan penuh permohonan.
“Aku hanya takut, aku takut perasaan kamu semakin tumbuh besar jika kamu terlalu sering berada di dekatnya, aku hanya takut kamu berpaling dari ku dan kembali memilihnya” ujar Adler, sambil menghela nafas, saat dia merasa tidak punya pilihan lain.
“Kak, aku ini istri mu, meskipun aku mengatakan belum mencintai mu bukankah kamu tahu kalau aku sudah berjanjikan hidup ku untuk kamu, jangan khawatir” ujar Maryam, sambil tersenyum penuh ketenangan hingga akhirnya Adler menganggukan kepala sebagai tanda jika dia setuju tidak akan memindahkan ruang perawatan Bilqis hingga dia sembuh.
Saat itu, akhirnya Maryam merasa lega karena suaminya setuju untuk tidak mimisahkan Bilqis bersama Hasan. Karena jika sampai itu terjadi, Maryam merasa jika dia akan kembali memberi luka bukan hanya pada Hasan tapi pada putrinya juga.
***
“Selamat ya, sekarang ada makhluk kecil yang hidup di dalam rahim ibu, di jaga dengan baik ya Bu kandungannya,” Natasya, mengelus permukaan perutnya yang sudah sedikit membuncit saat dia teringat perkatan dari seorang Dokter kandungan ketika Alexa datang ke rumah sakit, selain tempat kerjanya untuk memeriksa keadaan tubuhnya yang saat itu Alexa sendiri merasakan sedikit keganjalan dan saat itu ternyata dia dinyatakan positif mengandung.
Setitik air mata Alexa jatuh dengan senyum getir yang terbit dari bibirnya, tangannya tidak berhenti mengelus permukaan perutnya. Saat itu, jika saja Alexa punya tempat untuk mengadu atau bercerita, dia ingin menceritakan semua keluh kesahnya, dia ingin menangis sejadi – jadinya membayang seperti apa nasib anaknya, karena jelas anak itu hadir bukan dari laki – laki yang Alexa inginkan, tapi dari laki – laki kejam yang sudah berhasil memporak porandakan kehidupannya.
“Usia kehamilan pada trimester 3 memang masih rentan, jadi tolong dijaga dengan sebaik mungkin kandungannya ya Bu, karena jika pendarahan ini sering terjadi akan membahayakan janin ibu” penjelasan Dokter saat Alexa datang ketika dia mengalami pendarahan tepat setelah bertengkar dengan Adler juga kembali terngiang dalam telinga Alexa. Karena sebenci apapun dia pada ayah dari anak yang sedang di kandungnya, Alexa tetap mencintai anaknya, dia takut sesuatu terjadi pada anaknya.
Tiga bulan, adalah usia kehamilan Alexa, dan Alexa tidak pernah menyangka jikan sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu, dan saat itu dalam keadaan hubungannya yang sedang tidak baik bersama Adler, Alexa di tuntut untuk menjalani semuanya sendirian, padahal saat itu dia sangat membutuhkan teman untuk berpegangan.
“Tumbuhlah dengan baik dan sehat sayang, karena ibu mu ini akan selalu memperjuangkan mu apapun yang terjadi, aku akan melakukan yang terbaik untuk kamu” ujar Alexa, sambil mengelus permukaan perutnya kemudian membersit sisa air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
“Tidak peduli sebejad apapun sikap ayah mu, yang penting kamu adalah anak ku darah daging ku” ujar Alexa, dengan lelehan air mata yang pada akhirnya terus berjatuhan dan tidak mampu dia tahan lagi karena semua rasa sakit yang harus Alexa emban benar – benar menyakitkan.
Sendirian, adalah definisi hidup Alexa setelah Adler memutuskan untuk menjauh darinya karena ulah Alexa sendiri yang terus menggodanya padahal Adler sudah memberikan ketagasan pada hubungan mereka. Perempuan itu dituntut kuat oleh keadaan, dan oleh waktu yang terus berlalu, karena saat dia tidak mampu bertahan kuat, saat itulah dia harus menyerah, bukan hanya menyerah pada dirinya sendiri, tapi juga menyerah pada anak yang di kandungnya, anak yang seharusnya bisa hidup dan menikmati indahnya dunia lebih dulu.