Hari – hari terus berlalu, keadaan Hasan perlahan sudah mulai membaik, hanya saja saat itu Dokter masih belum menyarankan untuk pulang. Namun, Hasan dengan sagala sikap keras kepalanya meminta pulang, karena dua minggu setelah kepulangan Bilqis dari rumah sakit selama itu jugalah Hasan berjuang untuk kuat, menyemangati dirinya sendiri agar dia jangan kembali jatuh seperti sebelumnya. Hasan berusaha memaksa jiwanya yang saat itu sudah ingin menyerah agar tetap tegar.
“Bun, aku minta maaf ya udah bikin Bunda dan Ayah malu karena kesalahan aku sama Maryam” ujar Hasan, sambil menatap Risa yang saat itu sedang duduk di sampingnya.
Sesaat Risa menghela nafasnya, kemudian dia membelai kepala Hasan yang saat itu masih berbalut perban bekas operasi yang dia lakukan. “Bunda tahu kamu memang salah, jadi Bunda tidak akan memberikan maaf dengan mudah, Bunda akan memberikan kamu maaf asalkan kamu semangat dan terus kembali berlatih agar kamu bisa beraktivitas seperti biasa lagi, Bunda rindu putra Bunda yang selalu menjalani hari – harinya dengan banyak aktivitas” ujar Risa, sambil membelai kepala Hasan.
“Bunda ingin melihat kamu mengendong anak kamu sendiri Kak, sepertinya akan terlihat menggemaskan saat kamu menggendong Bilqis dengan senyuman kalian yang terlihat mirip” ujar Risa, masih sambil membelai kepala Hasan, dan kekehan diakhir kalimatnya saat dia membayangkan Hasan dan Bilqis yang menurut Risa memiliki senyuman yang mirip, tersenyum secara bersamaan.
“Sepertinya aku sudah benar – benar tidak punya lagi kesempatan bertemu dengan anak ku Bun, semua pintu yang selama ini berusaha aku buka agar bisa leluasa menemui anak ku, benar – benar tertutup rapat” ujar Hasan, dengan suaranya yang saat itu memang masih lemah semakin lemah di tambah pancaran yang biasanya terlihat dimata Hasan saat itu terlihat redup karena saat itu dia merasa sudah kehilangan harapannya.
Mendengar jawaban Hasan, sesaat Risa terdiam karena dia merasa benar – benar prihatin pada keadaan putranya sendiri, terlebih apa yang saat itu Hasan katakan menurut Risa hampir 100% benar.
“Gak ada yang gak mungkin di dunia ini Kak, percaya sama Ayah, kalau kamu masih mengukuhkan hati kamu, meyakini jika kesempatan kamu bertemu anak kamu masih ada, maka Allah akan mengabulkannya dengan cara yang sangat luar biasa” ujar Angga, yang saat itu tiba – tiba masuk dan berjalan menghampiri Hasan.
“Kamu tahu Kak, hal yang dulu Ayah anggap gak mungkin itu adalah mendapat maaf dari kamu, Alina, dan Bunda, ayah merasa sudah terlalu kejam menyakiti kalian hingga rasanya ayah sendiri merasa tidak pantas ada didekat kalian lagi” lanjut Angga, sambil memandang Hasan kecilnya yang dulu pernah tanpa sengaja dia aniaya secara mental kini sudah tumbuh dewasa.
“Tapi, ada setitik rasa yakin dalam hati Ayah kalau Allah pasti akan membuat kalian kembali pada Ayah, setidaknya jika tidak kembali ada kata maaf dari kalian untuk Ayah, dan kini semuanya sudah benar – benar terjadi, keyakinan kecil itu kini sudah benar – benar terjadi” ujar Angga, sambil menepuk pelan lengan anaknya.
“Berdasarkan cerita yang Ayah sampaikan, Ayah harap kamu bisa sadar, jika Allah itu maha mendengar, yakinlah dengan kuasanya maka niscaya dia akan mengabulkan semua doa mu” lanjut Angga, berhasil membuat Hasan terdiam selama beberapa saat.
Saat itu, meskipun Angga tidak bisa meneropong secara jelas menganai bagaimana perasaan Hasan, dan apa yang sedang Hasan pikirkan, tapi Angga mengerti kekhawatiran apa yang putranya rasakan, karena dulu dia juga pernah berada dalam keadaan yang Hasan alami sekarang, menginginkan pertemuan tapi semuanya terhambat oleh keadaan yang tidak memungkin.
“Kamu anak yang kuat Kak, dan pasti kamu bisa kuat untuk anak mu, diusia kamu yang masih remaja, kamu mampu merawat Alina dengan sebaik mungkin, masa iya sekarang kamu akan menyerah pada keadaan padahal kali ini adalah putri mu sendiri yang seharusnya lebih kamu perjuangkan lagi” ujar Angga, sambil menatap putranya yang saat itu masih diam.
“Berjuanglah, Ayah tahu kamu kuat, kamu bisa, masih banyak cara yang bisa kamu tempuh jangan putus asa” ujar Angga, sambil menepuk pundak putranya.
Mendengar perkataan Angga, sesaat Hasan terdiam. Saat itu, Hasan merasa apa yang ayahnya katakan memang benar, dia sudah berjuang hingga sejauh ini maka dia harus terus melanjutkan usahanya hingga dia bisa benar – benar bisa menemui Bilqis. Karena, sejujurnya hadirnya bayi perempuan kecil itu, sudah berhasil membuat hati Hasan yang sebelumnya sudah membeku karena tertampar oleh kerasnya keadaan yang memaksa dia harus terus mengalah ketika akhirnya Maryam menikah, bayi perempuan kecil bernama Bilqis yang tidak lain dan tidak bukan adalah anak kandungnya sendiri itu berhasil mencairkan hatinya lagi.
“Ya, Ayah benar aku harus semangat untuk sembuh, aku harus lebih tangguh menghadapi semua kemungkinan yang akan terjadi” ujar Hasan, lebih terdengar penuh semangat membuat senyuman terbit dari bibir Risa dan Angga saat mendengarnya.
***
Setelah mengucapkan salam saat baru saja tiba dirumah, kebiasaan baru Adler beberapa hari belakangan adalah langsung pergi ke kamar mandi mencuci tangan dan kaki kemudian masuk ke dalam kamar Bilqis yang terhubung dengan kamarnya dan Maryam. Memang, mereka sudah tidur di kamar yang sama, tapi jangan berpikir jika pernikahan mereka sudah menjadi pernikahan yang sempurna, karena semua itu belum terjadi.
“Iiii anak Daddy baik banget gak nangis, sini – sini sayang Daddy gendong ya” ujar Adler, sambil memangku tubuh Bilqis dari ranjang bayi.
Bermain bersama Bilqis setelah pulang kerja, itulah rutinitas Adler setelah Bilqis kembali ke rumah, kini meskipun Bilqis masih sering rewel di jam – jam tertentu tapi setidaknya dia sudah tidak menangis lagi ketika Adler menggendongnya.
“Mommy kemana sayang ? ayo kita cari dia, kemana Mommy” ujar Adler, sambil membawa Bilqis turun ke lantai bawah mencari keberadaan Maryam.
Saat itu, Adler berjalan mengitari area rumah untuk mencari keberadaan Maryam hanya saja dia tidak kunjung menamukannya. Bahkan dihalaman belakang tempat dimana Maryam sering menghabiskan waktunya untuk menyiram bungapun tidak ada. Tepat ketika kaki Adler berniat menaiki anak tangga lagi, tanpa sengaja dia mendengar suara Alexa yang sedikit keras. Penasaran, akhirnya Adler kembali membalik tubuhnya lagi dan berjalan menghampiri kamar Alexa karena Adler merasa dari sanalah asal muasal suara itu.
“Aku hamil atau tidak itu bukan urusan mu, sehat atau tidaknya aku tidak akan memberikan pengaruh apapun pada hidupmu yang berbahagia itu, lebih baik sekarang kamu pergi !!” ujar Alexa, sambil menunjuk pintu kamarnya sendiri.
“Pergilah dari kamar ku, aku tidak ingin melihat wajah mu, karena wajah mu membuat aku merasa semakin mual” ujar Alexa, dari arah kamar mandi kepada Maryam yang saat itu sedang memcoba membantunya.
Adler yang saat itu sedang berdiri di depan pintu kamar Alexa sempat tertegun mendengar perketaan Alexa. Saat itu otaknya sempat berpikir keras mengenai semua kemungkinan yang memang terjadi kepada Alexa, hingga sesaat kemudian karena sudah merasa pensaran akhirnya Adler memutuskan untuk masuk dan memastikan semuanya sendiri.
“Ada apa ? kenapa kamu selalu marah – marah kepada Maryam Al, Maryam hanya berniat baik ingin membantu mu saja, tidak lebih” ujar Adler, yang tiba – tiba datang berusaha menengahi.
Sesaat Alexa menoleh saat mendengar suara Adler ada didalam kamarnya, kemudian dia tersenyum kecut saat melihat Adler membawa Bilqis dalam gendongannya. Karena sejujurnya, setiap kali dia melihat Adler menggendong Bilqis, hati Alexa merasa hancur dan takut. Dia hancur karena Alexa berpikir jika Bilqis adalah anak Maryam bersama Adler, dia takut membayangkan nasib anaknya yang akan terlahir tanpa ada sosok Ayah.
“Urus saja kebahagiaan kalian, aku bisa mengurus diri ku sendiri, karena aku sudah banyak bersyukur bisa tinggal di sini, pergi dan anggap saja aku tidak ada” ujar Alexa, sambil menundukan wajah dengan tangan yang berpegangan erat pada pinggir wastapel untuk mempertahankan tubuhnya agar bisa tetap berdiri karena setelah merasa mual – mual tubuh Alexa selalu lemas.
Saat itu, meskipun Adler sudah sangat jarang berbicara dengan Alexa belakangan, tapi Adler bisa melihat ada sirat kesedihan, kegundahan, dan kegelisahan yang Alexa rasakan dan berusaha dia tutupi dari Adler dan Maryam. Hanya saja, saat itu Adler sudah tidak bisa lagi menebak apa yang membuat perempuan itu merasakan semua tekanan itu.
Kemudian, Adler menyerahkan Bilqis yang saat itu ada dalam gendongannya kearah Maryam, perlahan kaki laki – laki itu mendekat mencoba menggali apa yang sebenarnya terjadi pada Alexa. Meskipun saat itu dia sudah berusaha menjauh, tapi kepedulian Adler untuk Alexa masih ada, karena walau bagaimanapun Alexa pernah menjadi salah satu bagian terpenting di dalam hidupnya.
“Setelah pergi untuk apa kamu datang dan mencoba mendekat lagi, kamu sudah memutuskan untuk pergi maka tetaplah pada kepetusan mu, jangan mendekat dan memberikan aku luka lagi, aku sudah tidak ingin menerima rasa sakit apapun lagi” ujat Alexa, sambil mendongakan wajah menatap wajah Adler melalui kaca wastapel yang saat itu ada dihadapan Alexa.
“Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kamu Al, tolong berbagilah pada ku dan Maryam, selama ini aku menjauh bukan karena aku tidak peduli pada mu Al, tapi karena aku merasa jika jarak memang diperlukan antara kita sekarang” ujar Adler, sambil menyentuh pundak Alexa yang masih dilapisi pakaian.
Sesaat Alexa tersenyum kecut, kemudian dia berbalik hendak meninggalkan kamar mandinya yang saat itu mendadak ramai karena ada Adler dan Maryam. Kemudian, dia mendudukkan tubuhnya dipinggir ranjang menghadap jendela besar yang menyuguhkan pemandangan rentetan bungan Azalea yang tersusun rapi.
“Bayinya baik – baik saja, tapi lain kali saya sarankan jika memang ingin berhubungan sebaiknya lakukan dengan hati – hati, hindari hubungan yang kasar karena hal itu bisa menyebabkan pendarahan seperti ini, dan jika hal itu terjadi dalam waktu dekat bahkan terjadi terlalu sering itu bisa membahayakan janin, untuk malam ini sebaiknya anda melakukan perawatan selama satu malam di rumah sakit”
Ucapan yang disampaikan Dokter ketika Alexa datang ke rumah sakit tepat setelah dia mengalami pendarahan akibat ulah ayah tirinya, membuat tangan Alexa bergerak mengelus permukaan perutnya, karena setidaknya saat itu dia bersyukur anaknya baik – baik saja.
“Semua ini terjadi karena kamu Ad, aku hampir kehilangan anak ku karena kamu, kamu yang tidak ada saat aku butuh pertolongan, saat aku tidak bisa melakukan apa – apa ketika laki – laki bresngsek itu datang dan membuat anak ku hampir tiada, semua karena kamu yang tidak mau mengangkat panggilan telepon saat aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa” ujar Alexa, sambil memeluk lututnya sendiri dengan tatapan mata yang terlihat kosong.
“Jadi cukup jangan memberikan aku harapan apapun, jangan memberikan aku harapan tentang sebuah pertemanan yang akan membuat aku tidak akan kesepian, aku cape” ujar Alexa, dengan tatapan matanya yang terlihat kosong tapi ada air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.
Sesaat Adler tertegun, dia ingat tepat saat Bilqis akan pulang dari rumah sakit Alexa memang sempat menghubunginya beberapa kali, dan karena saat itu dia sedang berbicara mengenai keadaan Bilqis dengan Dokter jadi Adler menolak panggilannya, dan saat itu Adler lupa untuk menghubungi Alexa lagi.
“Bahkan sampai handphone itu sudah tidak dapat dihubungi dan menghubungi siapapun lagi, kamu tidak pernah mengangkatnya, kini aku ucapkan selamat pada mu karena handphone itu sudah di lempar pria b******k itu, jadi kamu tidak akan menerima panggilan lagi dari ku” ujar Alexa, sambil menatap pojok kamarnya tepat dimana ponselnya masih tergeletak setelah ayah tiri Alexa melamparnya.
Saat itu, kaki Adler bergerak melangkah hendak mendekati Alexa, karena saat itu Adler merasa bersalah. “Pergi saja Ad, sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan sikapmu yang seperti itu” ujar Alexa, tanpa menatap menatap kearah Adler.
Saat itu, Adler sadar jika kini dia sering kali memberikan luka kepada Alexa, semua tekanan yang kini dia rasakan salah satu penyebabnya berasal dari dirinya. Adler merasa kecewa pada dirinya sendiri karena Alexa yang dulu begitu terbuka kepadanya, sekarang bahkan dia tidak mau menatap kearahnya sedikitpun.