Pekerjaan, benar – benar berhasil menyita waktu Adler selama 2 hari terakhir, dia benar – benar di tuntut untuk bertarung dengan keadaan yang membuatnya harus memilih antara pulang menemui anaknya yang sakit, atau menyelesaikan pekerjaannya yang memang sama – sama penting. Hanya saja, ketika Adler sudah memutuskan untuk pulang, justru Maryam yang melarang dan meminta dia menyelesaikan semua pekerjaannya lebih dulu.
Adler langsung menyeret kopernya dengan sedikit terburu – buru menuju rumah saat mobil yang dia tumpangi sudah tiba di depan rumahnya. Saat itu, Adler tidak memikirkan apapun selain rumah sakit, hanya saja malam itu ternyata dia mendapat sebuah kejutan, kejutan yang jika dulu dia dapatkan pasti akan senang, tapi jika Adler mendapatkannya sekarang pasti merasa sangat menjijikan.
“Apa yang kamu lakukan Al dengan berpakaian seperti itu menyambut ku pulang ?” tanya Adler, sambil mengalihkan tatapan matanya tidak berani menatap Alexa yang saat itu hanya menggunakan lingerie saja.
“Bukankah kamu begitu suka ketika aku menggunakan pakaian seperti ini dihadapan mu Ad, maka sekarang aku juga melakukannya untuk mu, aku tahu kamu pasti lelah, dan aku yakin kamu pasti membutuhkan aku untuk sekedar melepaskan rasa lelah kamu dengan sedikit bersenang - senang” ujarnya, sambil menarik Adler yang saat itu masih berdiri diambang pintu sambil memalingkan wajah untuk masuk ke dalam rumah.
Alexa, menarik tubuh Adler menuju ruang keluarga, kemudian dia mendorong tubuh Adler yang saat itu masih kebingungan dengan sedikit kencang hingga akhirnya dia terjatuh di atas sofa. Kemudian, dengan nakalnya Alexa mendudukan tubuhnya tepat diatas pangkuan Adler, dan mulai mencium bibir Adler secara rakus, sedangkan Adler yang saat itu masih kaget hanya bisa diam menerima apa yang Alexa lakukan untuknya.
“Kamu hanya cukup diam dan nikmati semua yang aku lakukan dan berikan untuk kamu” ujar Alexa, sambil tersenyum nakal dan melanjutkan aksinya lagi.
Kemudian, Alexa mulai melancarkan aksinya, melakukan apapun yang ingin dia lakukan pada Adler, dan Adler tidak ada yang bisa dia lakukan saat itu selain menerima. Karena, meskipun pada awalnya Adler diam karena kaget, tapi lama kelamaan dia diam karena memang beraksi pada semua perlakuan yang dilakukan Alexa.
Saat itu, Adler benar – benar terbuai, hingga Alexa yang saat itu yang hanya tinggal menggunakan pakaian dalam diatas tubuhnya saja Adler masih tetap diam. Hanya saja, tepat ketika Alexa hendak membuka celana Adler, laki – laki itu langsung beristigfar kemudian mendorong Alexa secara kesar dari atas tubuhnya hingga dia terjatuh ke atas lantai.
“Kamu bener – bener GILA !” ujar Adler, sambil menekan kata gila diujung kalimatnya.
Kemudian, Adler langsung bangkit dari posisi duduknya dan menatap Alexa yang saat itu masih diam dalam posisinya yang sedang duduk diatas lantai. “Jangan pernah melakukan hal menjijikan itu lagi pada ku Al, tolong hargai pernikahan ku dengan Maryam” ujar Adler, sambil menatap Alexa.
Namun, mendengar perkataan Adler, Alexa langsung bangkit dari posisinya kemudian dia kembali mencium bibir Adler secara paksa hingga pada akhirnya dengan terpaksa Adler kembali mendorong tubuh Alexa secara kasar hingga dia kembali terjatuh diatas lantai.
“Itu yang kamu bilang jiji Ad, bahkan dulu kamu begitu menikmatinya, tapi kenapa sekarang kamu bilang hal itu menjijikan” ujar Alexa, sambil tertawa hambar dan berusaha menahan tangisnya agar tidak tumpah.
“Tolong Al, jangan samakan antara aku yang sekarang dengan aku yang dulu, karena kamu sendiri tahu seperti apa aku dulu dan seperti apa aku sekarang, dan aku mohon sadarlah jika sekarang aku adalah suami sah Maryam, bukan kekasih kamu lagi” ujar Adler, sambil berlalu pergi meninggalkan Alexa yang tanpa Adler sadari sedang menahan sebuah luka.
Kemudian, dengan langkah sedikit terpincang Alexa berjalan menuju kamarnya dengan darah yang tercecer diatas lantai seiring langkah kaki Alexa, karena memang darah itu mengalir dari paha Alexa. Tangannya menyentuh bagian perut bawahnya, yang saat itu terasa sakit.
“Bertahanlah, semua akan membaik, bertahanlah” ujar Alexa, sambil terisak menangis dibawah guyuran shower dengan tangan yang sesekali menyentuh perut ratanya yang saat itu terlihat sedikit membuncit.
“Kamu pasti kuat” ujar Alexa, pada sosok tidak kasat mata tapi perlahan sedang bertumbuh dan sedang ikut berjuang untuk terus bertahan bersamanya, sosok yang masih sangat kecil dan Alexa janji akan menjaganya dengan sangat baik.
Karena nyatanya, saat itu dia hanya mampunyai dirinya sendiri, dia tidak punya siapapun yang bisa dia mintai pertolongan. Karena, kini satu – satunya orang yang dia harapkan yaitu Adler juga sudah pergi, dan akan segera membuangnya, menyadari fakta itu sebenarnya Alexa merasa jika sudah tidak ada lagi alasan bagi dia terus bertahan. Hanya saja, ada sosok baru yang harus dia jaga, sosok yang harus dia pertahankan dengan sebaik mungkin.
***
Adler berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan sedikit terburu – buru karena dia sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana kondisi Bilqis serta ingin bertemu Maryam dan meminta maaf yang sebasar – besarnya karena dia hampir saja tergoda oleh Alexa. Tepat saat dia sampai di sebuah ruangan yang sudah Maryam kabarkan kepadanya, Adler langsung melangkah menghampiri Maryam masih dengan langkah cepat dan memeluk Maryam dengan sangat erat hingga membuat perempuan yang sedang duduk diatas sofa itu kaget.
“Kak Adler ada apa ?” tanya Maryam, sambil mengelus punggung Adler yang saat itu memilih diam.
“Aku minta maaf” ujar Adler, dengan suaranya yang terdengar penuh sesal dan rasa bersalah.
Sesaat, Maryam terdiam, dia melirik kearah Risa yang sedang terlelap disampingnya karena takut pembicaraannya bersama Adler mengganggu tidur Risa. Tangannya membelai punggung Adler berusaha membuat laki – laki itu merasa tenang, karena Maryam merasa jika saat itu keadaan Adler sedang tidak dalam keadaan baik – baik saja.
“Kenapa ?” tanya Maryam, sambil melerai pelukan Adler dan menggenggam tangannya.
“Maaf …” ujar Adler, dengan kepala tertunduk dalam sebagai bentuk rasa sesal yang dia rasakan.
Saat itu, melihat wajah Maryam, Adler merasa sangat berdosa karena hampir saja dia melakukan sesuatu yang sangat di larang agama, dan jika itu sampai terjadi bukan hanya dosa yang Adler dapatkan, tapi kekecewaan dari Maryam karena dia sudah merusak kepercayaan yang dia berikan.
“Maaf karena saya hampir saja terayu oleh Alexa yang tiba – tiba menyambut saya menggunakan pakaian lingerie, maafkan saya yang sudah termakan oleh godaan Alexa” ujar Adler, sambil menatap mata Maryam yang saat itu langsung terdiam setelah mendengar penjelasan Adler.
“Aku minta maaf” ujar Adler, untuk yang kesekian kalinya sambil menggengam tangan Maryam dengan mata yang tidak lepas menatap mata Maryam juga.
Sesaat, Adler mendengar helaan nafas yang keluar dari mulut Maryam, dalam beberapa menit kepalanya tertunduk dalam kemudian kembali mendongak menatap kearah Adler yang saat itu masih bertahan menatapnya dan menunggu jawabannya.
“Mungkin ini adalah salah ku juga Kak, karena selama pernikahan kita, aku tidak pernah menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri untuk memenuhi kebutuhan Kakak diatas ranjang, di sini ada andil aku yang bahkan belum berani terbuka secara sepenuhnya dihadapan Kakak sebagai suami ku, jadi aku akan memahaminya” ujar Maryam, sambil menatap Adler dengan tatapan matanya yang terlihat memancarkan kesedihan.
Memang, setelah pernikahan Maryam dan Adler tidak ingin terburu – buru, mereka berencana kembali memulai semuanya dari awal, mulai dari pendekatan, hingga akhirnya mereka bisa benar – benar menjadi suami istri seutuhnya. Hanya saja, dalam tahap saat ini, dihadapan Adler, Maryam baru berani membuka cadar belum dengan kerudungnya, dan sebagai seorang suami Adler berusaha untuk memahami agar dia tidak menjadi suami yang terkesan egois.
“Kita sudah menyepati ini sejak awal, jadi jangan merasa tidak enak, aku tidak apa – apa” ujar Adler, sambil tersenyum menatap wajah Maryam kemudian mendaratkan satu kecupan di dahi Maryam.
Setelah itu, Adler mendudukan tubuhnya di samping Maryam, hanya saja saat itu dahi Adler tiba – tiba berkerut saat dia baru menyadari jika saat itu dia sedang berada disebuah ruangan tempat dimana ada Hasan juga. Menyadari hal itu, Adler langsung menegakan kembali posisi duduknya, kemudian dia menatap kearah Risa yang masih terlelap di dekat Maryam. Sedangkan Maryam hanya bisa menatap tingkah suaminya itu dengan bingung.
“Kenapa kamu di ruangan ini, kenapa Bilqis di sini ?” tanya Adler, sambil menatap kearah Maryam yang saat itu masih diam.
“Setelah Dokter periksa, keadaan Bilqis itu baik – baik aja, bukan badan dia yang sakit tapi psikisnya, dia rindu seseorang yang dekat dengan dia, dan saat itu Bunda cerita kalau selama di sini ternyata Kak Hasan selalu datang setiap hari, dan akhirnya setelah melakukan pertimbangan Dokter sepakat mencoba memindahkan Bilqis ke ruangan Kak Hasan, dan ternyata setelah pindah keadaan Bilqis memang membaik” ujar Maryam, sambil menatap Adler yang saat itu masih diam dengan wajahnya yang masih sulit ditebak.
Kemudian, secara tiba – tiba Adler bangkit dari posisi duduknya dan berniat pergi, hanya saja dengan cepat Maryam mencekal pergelangan tangannya, karena saat itu Maryam merasa jika dia perlu memastikan kemana suaminya akan pergi.
“Kakak mau kemana ?” tanya Maryam, sambil menatap suaminya dengan tatapan penasaran bercampur khawatir.
“Mau cari Dokter dan minta untuk menyiapkan ruangan baru untuk Bilqis, aku yakin dia bisa sembuh meskipun enggak di rawat di sini, jadi aku mau Bilqis pindah dari ruangan ini sekarang juga !” ujar Adler, sambil berjalan keluar hendak menemui Dokter seperti yang baru saja dia katakan.
Menyadari jika saat itu Adler sedang berada dalam keadaan yang tidak stabil, Maryam langsung menyusulnya keluar. Namun, saat Maryam mencekal pergelangan tangan Adler untuk yang kedua kalinya, laki – laki itu menghempasaknnya dengan kasar sambil berbalik dan menatap Maryam.
“Saya gak suka kamu kembali dekat dengan Hasan, saya gak suka Bilqis di rawat di sini, lebih baik di pindah dan saya akan membayar berapapun harganya, yang penting Bilqis bisa sembuh tanpa harus di ruangan perawatan yang sama dengan Hasan” ujar Adler, sambil menatap Maryam dengan sirat ketegasan yang tergambar di matanya.
“Iya aku tahu Kak dan aku sangat mengerti untuk hal itu, tapi apakah tidak ada sedikit saja toleransi untuk Bilqis demi kesehatan Bilqis Kak, aku mohon” ujar Maryam, sambil menatap kearah Adler.
“Pasti ada jalan lain Maryam, saya yakin untuk hal itu” ujar Adler masih bersikukuh dengan keputusannya, dan hendak kembali berlalu pergi menemui Dokter.
Namun, saat Adler baru melangkah beberapa kali, tiba – tiba Risa keluar dari dalam ruang perawatan Hasan dengan wajahnya yang terlihat panik menahan tangis ditambah suara tangis Bilqis yang yang kencang. Adler dan Maryam langsung sama – sama menoleh dan memastikan apa yang terjadi.
“Tolong … tolong panggilkan Dokter Hasan tiba – tiba kejang – kejang” ujar Risa, dengan sedikit terbata dengan air mata yang tanpa sadar sudah jatuh dari pelupuk matanya.
Adler yang saat itu sedang berdiri paling depan, langsung bergegas mencari Dokter, sedangkan Risa dan Maryam langsung bergegas masuk lagi, saat itu Risa juga terus berupaya memanggil Dokter menggunakan tombol khusus hanya saja tidak kunjung datang, sedangkan melihat Hasan yang terus mengalami kejang berhasil membuat Maryam benar – benar takut.
“Hasan sayang, kamu kenapa buka mata kamu, jangan membuat Bunda takut” ujar Risa, sambil menangis terisak.
Tangis Risa semakin pecah saat dia merasakan tubuh kejang Hasan tiba – tiba melemah di tambah suara mesin EKG yang terdengar mengerikan ditelinga Risa. Hingga akhirnya Dokter datang bersamaan dengan Dokter yang menangani Bilqis, saat itu mereka di minta menunggu di luar dan hal itu tentu semakin membuat keduanya merasa khawatir dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah menunggu selama beberapa saat, akhirnya Dokter keluar “Tadi, detak jantung pasien sempat berhenti, ini berbahaya jika terus terjadi terlebih belakangan pasien sering mengalami kesadaran kemudian tidak, itu akan sangat berbahaya, dan berdasarkan hasil pengamatan yang saya lihat, sepertinya pasien ini mengalami tekanan di dalam bawah sadarnya, dia seperti seseorang yang kehilangan kemauan untuk kembali” jelas Dokter, yang saat itu baru saja melakukan penanganan pada keadaan Hasan.
Setelah berbicara dengan Dokter, Risa masuk ke dalam ruang perawatan Hasan, kakinya melangkah dengan pelan mendekati Hasan yang saat itu masih lelap dalam tidurnya. “Kak, selama ini Bunda memang selalu meminta Kakak istirahat, tapi bukan istirahat dengan cara seperti ini sayang” ujar Risa, sambil terisak menangis dengan dahi yang menempel pada pipi Hasan.
Sementara Maryam, tidak ada yang bisa dia lakukan saat itu, dia hanya diam sambil memandang wajah Hasan yang terlihat sangat tenang dan damai dalam tidurnya. “Aku tidak tahu Kak Hasan bisa mendengar suara batin ku atau tidak Kak, tapi aku minta kembalilah, kembalilah ke sini Kak, aku gak suka melihat Kakak dalam keadaan seperti ini, aku ingin melihat Kakak baik – baik saja” batin Maryam, sambil tertunduk berusaha menyembunyikan tangisnya.
Lelah, hanya itulah yang mungkin Hasan rasakan, dan istirahat adalah cara yang dia pilih, hanya saja dia terlalu terlena hingga tidak tahu caranya untuk kembali. Saat itu, Hasan mungkin sedang berkelana mencoba mencari jalan yang harus dia pilih, antara kembali atau pergi.