Terkadang cinta antara seorang ayah dan putrinya memang akan jauh lebih memberikan kesan romantis dibanding kisah – kisah romantis lainnya. Semua itu, mungkin terjadi karena adanya sebuah ikatan cinta yang tulus tanpa adanya kebohongan, cinta mereka tumbuh dengan kemurnian dan ketulusan.
“Hasan sudah terlalu sering menerima luka di dalam hidupnya, dan selama ini dia selalu menanggung semua rasa sakitnya sendirian, dia selalu berpura – pura baik – baik saja, meskipun pada kenyataanya dia sedang hancur, jika dulu perpisahan dengan ayahnya adalah yang paling berat bagi Hasan, maka kehilangan kamu lebih menyakitkan bagi Hasan, dan kehilangan harapan bisa bahagia bersama Bilqis adalah hal yang berhasil membuat hidup Hasan hancur, sayang” ujar Risa, sambil menatap Hasan yang saat itu sedang beristirahat di dalam kamarnya.
Karena setelah Subuh tadi kepalanya kembali merasa sakit bahkan hingga Hasan kembali kehilangan kesadaranya Dokter meminta agar membiarkan Hasan bisa beristirahat lebih tenang dan tidak membuat dia merasa stress apalagi tertekan. Sehingga, hanya Alinalah yang saat itu duduk di dalam untuk menemani Hasan.
“Kali ini, merupakan puncak dari semua pertahanan Hasan, kali ini merupakan saat dimana Hasan benar – benar jatuh dengan semua keadaan yang menuntut dia harus terus tegar, dan sebagai seorang ibu, Bunda sadar harus menjadi orang pertama yang berdiri di sampingnya untuk menjadi penopang, karena dulu itu juga yang Hasan lakukan, dia berdiri kuat menjadi penopang Bunda padahal Bunda tahu Hasan juga merasakan luka yang sama sakitnya seperti Bunda” ujar Risa, dengan suaranya yang sudah kembali bergetar, tapi Risa berusaha tersenyum, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Bunda sendiri, bisa melihat ada banyak luka yang Hasan rasakan tepat setelah dia sadar, kesempatannya bisa bersama Bilqis yang tidak akan dia miliki, setelah itu keadaannya yang sempat membaik kembali mengalami penurunan, bahkan Dokter menyarankan jika kali ini Hasan kembali tidak sadar dalam waktu lebih dari 40 jam, di sarankan untuk kembali masuk ICU” ujar Risa, berhasil membuat Maryam menoleh.
Saat itu, Maryam sadar, jika keputusannya yang meminta agar Hasan tidak perlu datang untuk menemui Bilqis sudah membuat laki – laki itu stress dan tertekan, dan hal itu yang menyebabkan keadaan Hasan kembali memburuk. Perasaan bersalah, tiba – tiba Maryam rasakan, karena saat itu Maryam merasa secara tidak langsung dia sudah menyebabkan keadaan Hasan kembali memburuk.
“Bunda, aku minta maaf, mungkin karena aku yang meminta Kak Hasan untuk tidak pernah datang menemui Bilqis sudah membuat Kak Hasan merasa stress dan pada akhirnya tertekan” ujar Maryam, sambil menatap kearah Risa dengan perasaan bersalah.
Sesaat, Risa tersenyum kecil. Kemudian, dia merengkuh bahu Maryam ke dalam dekapannya. “Bunda tidak bisa mengatakan tidak untuk hal itu sayang, karena nyatanya memang setelah itulah keadaan putra Bunda mengalami penurunan lagi, hanya saja di sini Bunda juga tidak bisa memaksa kamu ataupun Adler karena semua itu urusan rumah tangga kalian, terlebih apa yang Adler katakan memang benar jika nasab Bilqis sudah pasti ikut kamu, jadi Bunda tidak bisa berkata apa – apa, Bunda hanya bisa berdoa untuk kebaikan semuanya terlebih untuk kesehatan anak Bunda sayang” ujar Risa, dengan penuh kelembutan tanpa menyiratkan ada kemarahan di dalam ucapannya padahal Maryam merasa jika dia adalah penyebab dari apa yang terjadi pada Hasan.
Hingga tiba – tiba, kebersamaan Risa dan Maryam yang saat itu sedang memantau Hasan, terusik saat seorang Suster tiba – tiba datang dan meminta Maryam untuk segera datang ke ruang perawatan anaknya karena di sanalah Dokter sedang menunggu. Saat itu, Risa juga tidak tinggal diam, dia ingut mengantar Maryam karena selain keadaan Hasan, keadaan Bilqis juga menjadi salah satu hal yang membuat Maryam merasa khawatir.
“Setelah saya lakukan pemeriksaan secara menyeluruh, keadaan anak ibu sebenarnya baik – baik saja, tidak ada gejala apapun yang ditunjukan selain demam, terlebih demam anak ibu tidak mengalami penurunan meskipun saya sudah memberinya obat penurun panas” ujar Dokter, sambil menatap Maryam dan Risa secara bergantian.
“Kemungkinan besar, sebanarnya anak ibu tidak apa – apa, tapi terjadi sesuatu pada psikisnya, misalnya dia biasa bertemu seseorang yang pada akhirnya membuat dia secara mendadak tidak bertemu, kemudian dia rindu itu bisa menjadi salah satu pemicu, terlebih anak ibu tidak berhenti menangis sekalipun dia tertidur” ujar Dokter, membuat Risa dan Maryam sama – sama berpikir mencoba merenungkan siapakah sosok yang sekiranya berpengaruh pada Bilqis, karena yang Maryam ingat anaknya baru dua hari pulang ke rumah, dan orang yang dia temui baru dirinya, Adler, serta Alexa, tidak ada yang lain.
“Hasan …” ujar Risa, berhasil membuat Maryam seketika menoleh saat Risa menyebut nama Hasan.
“Saat Bilqis masih di rumah sakit dan keadaan Hasan sudah membaik, setiap pagi, siang, dan sore Hasan selalu datang menemuinya, dan setiap Hasan datang, Bilqis pasti sedang terbangun, jadi saat bertemu mereka selalu main bersama di luar kaca inkubator, mereka seperti sedang saling bercerita ketika bertemu Maryam, mungkin Bilqis memang rindu pada Hasan karena setelah pulang ke rumah dia tidak pernah bertemu Hasan lagi kan ?” tanya Risa, sambil menoleh kearah Maryam.
Sesaat, Maryam terdiam mendengar penjelasan Risa, karena sejujurnya mengetahui fakta jika Hasan selalu menemui anaknya, hati Maryam benar – benar merasa sangat tersentuh. “Sebesar itukah Kak Hasan mencintai Bilqis, dan aku sudah begitu kejam berusaha memisahkan mereka” batin Maryam, sambil menghela nafas kecewa pada dirinya sendiri.
***
Setelah melakukan pembicaraan serius mengenai keadaan psikis yang ternyata memang benar di alami oleh Bilqis saat Dokter Psikologi anak sudah melakukan pemeriksaan, akhirnya Dokter yang menanggungjawabi Bilqis meminta izin kepada pimpinan rumah sakit agar mengizinkan Bilqis diruangan Hasan.
Meskipun pada awalnya pihak rumah sakit sempat memberikan penolakan, tapi atas bantuan Dokter yang menangani Hasan, serta pernyataan Risa yang menjelaskan tentang alasan stress yang selalu terjadi pada Hasan, adalah perpisahan dengan Bilqis, Risa merasa jika mereka bisa dibersamakan kembali, kemungkinan mereka bisa saling menguatkan tanpa ada orang yang tahu bagaimana caranya.
“Sayang semoga kebersamaan kalian bisa menumbuhkan kekuatan untuk satu sama lain sehingga bisa membuat keadaan kalian menjadi lebih baik, Bunda berharap kalian bisa kembali sehat” batin Risa, sambil membelai kepala Hasan yang saat itu masih belum juga sadar padahal sudah menjelang makan siang, dengan tatapan yang sesekali memperhatikan Bilqis.
Kemudian, Risa berjalan memutari ranjang Hasan dan berdiri di samping ranjang tempat dimana cucunya sedang berbaring. Tangan Risa membelai kepala Bilqis dengan penuh kasih sayang. Kemudian, sebuah senyuman terbit dari bibir Risa saat dia merasa jika ikatan Bilqis memang sangat kuat, dan kerinduan yang sama – sama mereka rasakan hingga membuatnya sakit terkesan romantis meskipun sakit bukan sesuatu yang bisa disenangi, karena nyatanya melihat Hasan dan Bilqis sama – sama terbaring menjadi suatu hal yang cukup menakutkan bagi Risa.
“Lekas sembuh cucu nenek, Ayah mu juga pasti akan sedih melihat kamu sakit sayang” ujar Risa, sambil tersenyum dan mendaratkan satu kecupan hangat di dahi cucunya yang saat itu sudah jauh lebih tenang.
Lebih tenang, itulah yang memang terjadi pada Bilqis setelah dia dipindah ke ruang perawatan Hasan. Begitupun ketika dia tertidur dan masih terisak kecil, kini dia sudah bisa tidur dengan keadaan tenang meskipun demamnya belum menurun. Setelah dipindahkan, Bilqis seakan merasa aman karena dia tahu ayahnya ada di sampingnya.
“Nenek yakin, kamu pasti akan menjadi putri kecil yang sangat menyayangi ayah mu sayang, semoga kelak kebahagiaan selalu menghampiri kalian” ujar Risa, sambil mengelus kepala Bilqis, dan menatap Hasan yang masih belum menunjukan tanda dia akan bangun dari tidur panjangnya.
“Dan kamu akan menjadi putri kecil kesayangan Ayah kamu sayang, kamu akan menjadi cinta yang Ayah mu miliki, kamu akan menjadi pusat kebahagiaan bagi Ayah mu” lanjut Risa, masih sambil mengelus kepala Bilqis dengan penuh kasih sayang.
“Ayaaaah …” Hasan menoleh saat dia mendengar suara riang dari sosok yang dia tahu adalah putrinya, putri kecil yang selalu membuat hati Hasan yang sedang hancur menjadi kembali menghangat.
“Terima kasih karena sudah memenuhi janji Ayah, sekarang aku senang Ayah ada di dekat aku” ujarnya, sambil tersenyum dan terlihat gambaran kebahagiaan terpancar dengan nyata dari matanya.
Sesaat Hasan terdiam, sambil menatap putri kecilnya, kemudian Hasan membawa Bilqis untuk duduk diatas pangkuannyaa. Selama beberapa saat, masih dalam keadaan diam Hasan membelai kepala Bilqis dengan penuh kasih. Dia berusaha menyalurkan ketenangan untuk putri kecilnya karena dia tahu saat itulah dia bisa melihat senyum kebahagiaan putrinya jadi dia tidak ingin mengusiknya.
“Ayah kenapa ? Ayah gak suka dekat – dekat dengan Bilqis, ko diem aja ?” tanya Bilqis, sambil mendongakan kepalanya menatap kearah Hasan.
Sesaat, Hasan terdiam kemudian menerbitkan senyuman. Dia tidak ingin putrinya menyadari tentang kegundahan hati yang sebanarnya saat itu masih Hasan rasakan. Kemudian, Hasan menggelengkan kepalanya, sebagai tanda jika saat itu dia tidak kenapa – napa.
“Siapa bilang Ayah gak suka dekat dengan putri Ayah yang cantik ini, Ayah tentu sangat senang, Ayah bahagia bisa berdekatan dengan kamu, karena kamu itu adalah kebahagiaan Ayah” ujar Hasan, sambil mencium puncak kepala Bilqis dengan penuh kasih sayang.
“Tapi, saat nanti Ayah tidak bisa terus bertahan di sisi Bilqis lagi, Bilqis harus janji untuk terus baik – baik aja ya sayang, Bilqis harus janji untuk selalu bahagia sama Bunda dan Ayah Adler” ujar Hasan, sambil membelai kepala Bilqis penuh kehati – hatian.
Mendengar perkataan Hasan, Bilqis langsung memeluk perut Hasan menggunakan tangan kecilnya sambil menatap Hasan dengan tatapan matanya yang terlihat takut tapi lebih terlihat menggemaskan di mata Hasan.
“Ayah mau pergi kemana memang ? Ayah gak boleh kemana – mana, tugas Ayahkan teminin aku, peluk aku juga” ujarnya, yang pada akhirnya berhasil menerbitkan satu senyuman di bibir Hasan.
“Ayahkan udah pernah bilang kalau Ayah gak pernah kemana – mana, Ayah selalu ada di hati Bilqis dan akan selalu mengiringi setiap langkah kaki Bilqis, percayalah sayang” ujar Hasan, sambil tersenyum penuh kelembutan, membuat Bilqis semakin mengeratkan pelukannya pada Hasan.
Sementara Hasan, tidak pernah tahu akan sampai kapan dia bertahan, karena semakin dia memaksakan dirinya terus bertahan semakin sakit yang dia rasakan. Saat itu Hasan merasa semuanya sudah terlalu melelahkan, dia sudah ingin menyerah dan mengeluh, tapi melihat tatapan mata Bilqis berhasil membuat Hasan berada di ambang kebimbangan.
Risa tersenyum saat dia melihat mata cucunya yang sudah terbuka, saat itu pancaran mata Bilqis terlihat lebih segar dari sebelumnya, tidak ada tangis yang keluar dari bibir kecilnya, dia hanya bergerak – gerak kecil dan sesekali menoleh kearah Hasan yang saat itu masih lelap dalam tidurnya, tenggelam dalam mimpi yang selalu membuat dia bertemu dengan putri tercintanya.
“Itu Ayah, seneng sekarang udah deket Ayah ?” tanya Risa, sambil menoel – noel pipi Bilqis, yang saat itu justru sedang asik menatap wajah tenang Ayahnya yang masih belum membuka mata.
“Kenapa sayang ? Ayah masih tidur, coba Bilqis bangunin sayang” ujar Risa, saat Bilqis sedang mengeluarkan suara khas bayi, seakan saat itu Bilqis memang sedang memanggil – manggil ayahnya agar bisa segera bangun.
“Ayahnya mungkin masih cape jadi mau bobo dulu, Bilqis lapar ya, sebentar lagi Bunda datang ya, kamu sabar dulu” ujar Risa, sambil mengajaknya bermain.
Saat itu, Bilqis hanya diam sambil sesekali menyesap jempolnya sendiri, sesekali juga kepalanya menoleh kearah Hasan, seakan saat itu dia masih berharap jika Ayahnya bisa segera bangun. Hanya saja, saat itu Hasan masih tetap lelap dalam tidurnya, masih bertahan dalam lelapnya yang mungkin menjadi salah satu cara yang dia pilih untuk menghindari rasa sakit yang kemungkinan akan kembali dia rasakan.