Hancur, itulah yang Hasan rasakan setelah perjuangan keras yang dia lakukan untuk bisa bangkit dan menata semuanya agar bisa membaik. Namun, kini semuanya kembali hancur karena sebuah harapan yang dia bangun sendiri, kepingan hati Hasan seakan benar – benar kembali patah dan hancur berkeping – keping hingga tidak ada yang mampu membuat dia bangkit dan kembali membaik. Karena, nyatanya luka yang Hasan rasakan kali ini adalah luka yang paling menyakitkan baginya.
“Kak, makan dulu ya, Bunda suapin ya, jangan begini sayang nanti semuanya bisa kita bicarakan dan Bunda yakin Maryam bisa luluh” ujar Risa, yang saat itu sedang berjaga menunggu Hasan, sedangkan Angga sedang berada di perjalanan menuju Jerman setelah pulang dari Indonesia, dan Alina sedang pergi ke kantin untuk mencari makanan.
“Aku gak lapar Bun, aku mau tidur aja udah ngantuk” jawab Hasan, sambil tersenyum kecil tapi tatapan matanya terlihat banyak menyiratkan luka yang sedang dia tahan.
Setelah itu, Hasan benar – benar memejamkan matanya, tidak tahu karena dia memang benar – benar tidur atau hanya pura – pura tidur. Sedangkan Risa, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menghela nafas karena dia sudah benar – benar tidak tahu bagaimana lagi membujuk Hasan agar dia mau makan. Sudah dua hari sejak kedatangan Maryam, dan semenjak itu jugalah Hasan yang semula sudah mulai membaik, Hasan yang sudah mulai tersenyum, kini kembali menjadi Hasan yang diam, bahkan Risa mengetahui cerita tentang Maryam dari Alina.
“Kak, kemarin kamu gak sadar 24 jam lebih, tolong jangan buat Bunda khawatir sayang, Bunda takut kamu kenapa – napa, bahkan tadi pagi kepala kamu sakit lagi” ujar Risa, dengan suaranya yang sudah terdengar bergetar tanda jika saat itu dia sedang menahan tangisnya.
Namun, saat itu Hasan memilih bungkam dengan matanya yang sudah terpajam, hanya saja Risa yakin jika saat itu Hasan belum benar – benar tertidur. Dia hanya pura – pura tidur untuk menghindari Risa, karena seperti itulah Hasan, ketika dia sedang tidak baik – baik saja dia tidak pernah mau bertemu dengan siapapun, dia selalu pergi ke tempat yang menurutnya aman untuk meluapkan semua kesedihannya. Hanya saja, karena saat itu dia sedang berada di rumah sakit jadi pura –pura tidur untuk menghindari semua orang adalah jalan yang bisa Hasan lakukan.
“Bunda gak tahu sayang, kenapa Allah memberikan luka yang bertubi – tubi seperti ini bahkan sejak kamu masih remaja, padahal Bunda tahu kamu adalah anak yang sangat baik meskipun kesalahan yang kamu lakukan pada Maryam berhasil membuat kata baik itu sempat tercoreng. Bunda yakin Allah tidak tidur sayang, Dia pasti mempunyai rencana yang indah setelah ini, dan Bunda yakin kamu kuat, kamu bisa menjalani semuanya dengan baik” batin Risa, sambil tersenyum getir dan mengelus kepala Hasan yang saat itu masih di lilit perban.
***
“Gimana Hasan Bun, kamu kenapa nangis ?” tanya Angga, yang pagi itu baru saja tiba di rumah sakit.
“Tadi, Hasan kesakitan lagi, dia benar – benar kesakitan Yah, aku benar – benar takut melihat Hasan seperti itu, aku takut terjadi sesuatu sama dia Yah” ujar Risa, yang saat itu sedang duduk di depan ruang perawatan Hasan karena saat Hasan tiba – tiba kesakitan Risa langsung memanggilkan Dokter.
Mendengar pernyataan Risa, tidak ada yang bisa Angga lakukan selain menghela nafasnya, kemudian membawa Risa ke dalam dekapannya. Berusaha kuat dan menjadi penenang untuk Risa yang dia yakin lebih khawatir dari pada dirinya, itulah yang berusaha Angga lakukan. Karena, Angga yakin sekhawatir – khawatir dirinya pada Hasan, Risa pasti lebih khawatir dari pada dirinya, karena Risa sendiri yang pernah mengatakan kepada Angga jika bagi Risa, Hasan adalah sosok berharga yang tanpa adanya dia Risa tidak tahu akan bagaimana jadinya, bahkan saat itu dengan sebuah kata maaf Risa mengatakan jika dia di minta memilih antara Angga suaminya atau Hasan maka Risa akan lebih memilih Hasan karena dialah yang ada menjadi penopang ketika Angga tidak ada di dekatnya, dan Angga sadar semua terjadi karena kesalahannya.
“Bunda kenapa nangis ?” tanya Alina, sambil mendudukan tubuhnya di samping tubuh Risa karena merasa khawatir melihat Risa yang menangis.
“Tadi juga Maryam datang ke sini, anaknya nangis – nangis karena sakit demam Bun” jelas Alina, berhasil membuat Risa seketika langsung menegakan tubuhnya dan menatap Alina seakan berusaha meyakinkan apa yang baru saja dia dengar.
“Yah, tolong jaga Hasan sebentar, Bunda mau lihat dulu keadaan Bilqis” ujar Risa, sambil berlalu pergi.
Risa segera bergegas mencari Maryam karena saat itu Risa harus memastikan bagaimana keadaan cucunya, karena jika sampai terjadi sesuatu kepada Bilqis, Risa merasa itu akan membuat Hasan kembali stress lagi. Sampai akhirnya, Risa melihat Maryam yang sedang berdiri di depan sebuah pintu tepat dibagian perawatan anak, saat itu Risa bisa melihat sirat kegelisahan yang terpancar dari sikapnya, karena biar bagaimanapun Risa mengerti sekhawatir apa seorang ibu jika anaknya sedang dalam keadaan sakit.
“Bilqis kenapa lagi, sayang ?” tanya Risa, saat dia sudah sampai di dekat Maryam.
Maryam langsung menoleh dan menatap kearah Risa selama beberapa saat, kemudian dia langsung memeluk Risa dengan tangis yang tidak mampu dia bendung lagi, karena saat itu Maryam benar – benar sangat khawatir pada keadaan anaknya yang tiba – tiba demam tinggi dan sedang diperiksa oleh Dokter.
“Bunda, aku gak tahu kenapa tapi Subuh tadi Bilqis tiba – tiba demam tinggi, dan dia gak berhenti nangis Bun, aku takut dia kenapa – napa” ujar Maryam, dalam pelukan Risa.
Saat itu, tidak ada yang bisa Risa lakukan selain mengelus punggung Maryam berusaha membuatnya merasa jauh lebih tenang. Karena Risa yakin rasa khawatir yang saat ini sedang dia rasakan atas keadaan Hasan, juga sedang Maryam rasakan.
“Kamu tenang kita tunggu apa yang Dokter sampaikan” ujar Risa, sambil menghapus lelehan air mata yang jatuh membasahi pipi Maryam.
“Udah, ayo duduk dulu, kamu sendiri ? suami kamu mana ?” tanya Risa, saat dia melihat Maryam hanya datang sendirian.
“Ada kerjaan kemarin Bun, ke luar kota pulangnya baru besok” ujar Maryam, yang hanya Risa tanggapi dengan anggukan kepala saja.
Setelah itu, dia ikut duduk disamping Maryam, menemani dia yang saat itu sedang menunggu kabar Dokter setelah melakukan pemeriksaan kepada Bilqis. Sampai akhirnya, tidak sampai satu jam Dokter keluar, dan hal itu berhasil membuat Risa dan Maryam secara kompak bangkit dari posisi duduknya menghampiri Dokter.
“Suhu badan anak ibu sangat tinggi, beruntung segera di bawa ke sini untuk mendapat penanganan, sekarang anaknya sudah jauh lebih tenang dan sekarang sedang tertidur, dan saya sarankan agar anak ibu melakukan rawat inap di rumah sakit sampai tiga hari ke depan agar kami bisa memantau kesehatan anaknya” ujar Dokter, yang dijawab anggukan kepala oleh Risa dan Maryam.
Setelah itu, Risa dan Maryam langsung masuk untuk memastikan keadaan Bilqis saat Dokter sudah memberikan mereka izin. Namun, sesaat keduanya sama – sama terdiam ketika melihat Bilqis yang sedang tertidur tapi masih ada air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Jika Maryam merasa heran melihat Bilqis yang menangis sambil tidur, maka Risa justru merasa jika saat dia melihat Bilqis tidur sambil menangis dia seperti melihat Hasan yang juga tidur sambil menangis ketika dia tidak sadar hampir satu harian kemarin.
“Kenapa kamu sama persis seperti papa mu sayang” ujar Risa, sambil menghapus air mata yang saat itu jatuh dari ujung mata Bilqis.
Padahal, jauh di bawah alam sadarnya, tanpa ada banyak orang yang menyadari, meskipun saat itu Bilqis masih bayi dan belum mengerti tapi dia juga sama – sama terluka atas keputusan yang Adler dan Maryam pilih untuk tidak membiarkan Hasan menemuinya. Karena pada hakikatnya ikatan ayah dan anak yang terjalin antara Hasan dan Bilqis saat itu sedang berusaha memberontak pada keadaan yang membuat mereka tidak bisa bersama – sama.
“Ayah, kenapa tidak pernah datang lagi, kenapa Ayah kembali ke sini, Bilqis rindu Ayah,” Hasan langsung menoleh saat dia melihat sosok gadis kecil yang berjalan mengampirinya dengan tangis yang mengiringi langkahnya.
Melihat dia yang terisak menangis, Hasan langsung membawa dia ke dalam pelukannya, karena sejujurnya Hasan juga rindu pada sosok putrinya itu. Hasan rindu hanya saja dia merasa sudah kehabisan cara untuk memperjuangkan apa yang dia inginkan, Hasan merasa jika dia sudah terlalu lelah dan ingin meyerah, tapi saat itu ada banyak hal yang masih menahannya untuk bertahan, salah satunya sebuah kesempatan yang Hasan pikir akan dia dapatkan hanya saja dia belum mengetahui bagaimana cara mendapatkannya.
“Kenapa Ayah diam saja, aku rindu, aku ingin Ayah selalu ada di dekat ku, apakah tidak bisa ?” tanyanya, sambil menatap Hasan dengan tatapan yang berhasil membuat Hasan merasa terluka.
“Bilqis, Ayah tidak pergi, Ayah selalu ada di dekat kamu, selalu menjaga kamu, ketika kamu pergi maka Ayah juga akan selalu megikuti” ujar Hasan, sambil mendaratkan satu kecupan di dahi Bilqis.
“Benarkah ? dimana ? kenapa aku tidak pernah melihat Ayah” tanyanya, berhasil membuat Hasan tersenyum kecil.
“Di sini sayang, Ayah akan selalu ada di dalam hati mu, mengikuti kemanapun kamu pergi, karena Ayah akan selalu hidup di sini” ujar Hasan, sambil menangkupkan tangan Bilqis di dadanya sendiri.
Sesaat, Bilqis terdiam sambil menundukan kepalanya, menatap tangannya yang saat itu sedang menangkup bagian hatinya. Kemudian, dia kembali mendongakan kepalanya, menatap kearah Hasan dan berakhir memeluk Hasan yang saat itu sedang melahun Maryam.
Saat itu, tidak tahu kenapa, jika biasanya Hasan selalu bahagia bertemu dengan Bilqis, tapi saat itu meskipun kebahagiaan ada tapi rasa sakitnya lebih besar dia rasakan. Melihat tangis Bilqis, Hasan merasa ada banyak tanya yang ingin dia sampaikan tapi tidak tahu kepada siapa harus dia tanyakan padahal Hasan sangat menginginkan jawabannya.
“Bilqis tidak meminta banyak Ayah, Bilqis hanya minta Ayah datang dan memeluk Bilqis setiap hari, Bilqis tidak suka Ayah di sini, yang Bilqis inginkan Ayah ada di dekat Bilqis” ujarnya, sambil mengeratkan pelukan kecilnya pada Hasan, membuat rasa perih yang saat itu Hasan rasakan benar – benar semakin menyakitkan.
“Nanti sayang, nanti Ayah pasti akan datang, Bilqis tahukan kalau Ayah sangat sayang Bilqis, jadi Ayah pasti akan datang” ujar Hasan, sambil membelai kepala Bilqis dengan senyum tulus penuh ketenangan yang berusaha Hasan perlihatkan dihadapan putri kecilnya.
Sesaat, Bilqis terdiam menatap kearah Hasan tepat dibagian mata, seakan memastikan jika Ayahnya bersungguh – sungguh ketika dia mengatakan akan segera menemuinya. Kemudian, dia menyodorkan jari kelingkingnya kearah Hasan, membuat Hasan sesaat terdiam tapi kemudian Hasan paham dan menautkan jari kerilingkingnya dengan jari kelingking Bilqis dan hal itu berhasil membuat Bilqsi tersenyum.
“Ayah sudah berjanji, janji ya Ayah” ujarnya, dengan binar keceriaan yang sudah kembali terlihat dari matanya.
Hasan tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban jika saat itu dia benar – benar berjanji. Sebuah janji yang pada kenyataannya Hasan sendiri tidak tahu apakah dia bisa menepatinya atau tidak, karena Hasan sadar keadaannya terlalu berat untuk bisa menemui anaknya seperti yang sudah dia janjikan.